Seorang gadis kecil yang dipaksa menjadi 'ibu' bagi kakaknya di tengah reruntuhan rumah tangga orang tuanya, harus berjuang melawan kemiskinan dan rahasia kelam pelecehan demi menemukan arti kesucian yang sesungguhnya."
Maya tidak pernah memilih untuk dewasa lebih cepat. Namun, aroma toge di dapur ibunya dan tamparan keras ayahnya adalah guru pertama yang mengajarinya tentang pahitnya dunia. Ditelantarkan di rumah nenek yang dingin dan paman yang ringan tangan, Maya bertahan hidup dengan memungut besi tua dan menjual biji jambu monyet. Di balik ketangguhannya, ia menyimpan rahasia keji yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun: sebuah pengkhianatan dari tetangga yang menghancurkan persepsinya tentang harga diri.
Tahun-tahun berlalu, Maya tumbuh menjadi wanita sukses yang mandiri secara finansial. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia harus menjawab pertanyaan paling menyakitkan dalam hidupnya: Setelah semua yang terjadi, apakah aku masih suci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keringat Yang sia sia
Waktu berputar seperti roda pedati yang dipaksa melintasi jalanan berlumpur; lambat, berat, dan penuh hambatan. Memasuki bangku SMP, duniaku seharusnya mulai meluas. Seharusnya aku mulai mengenal apa itu persahabatan, hobi, atau sekadar obrolan ringan tentang masa depan. Namun, bagiku, seragam putih-biru yang kukenakan hanyalah kostum sementara sebelum aku kembali menjadi "buruh" bagi keluargaku sendiri.
Secara perlahan, badai yang menghancurkan rumah tangga Ayah dan Ibu mulai mereda. Selingkuhan Ayah yang dulu menjadi sumber keretakan telah pergi setelah menguras sebagian besar harta dan tenaga Ayah. Ibu pun mulai lebih sering berada di rumah Nenek, mencoba menambal luka-luka lama yang sudah menganga. Mereka mencoba "utuh" kembali, namun keutuhan itu tidak gratis. Harga yang harus dibayar untuk kembalinya keharmonisan itu adalah masa mudaku yang ludes terbakar kerja keras.
Aku ingat betul, setiap kali lonceng sekolah berbunyi pukul satu siang, ada rasa sesak yang menghimpit dadaku. Saat teman-teman sekelasku bersorak gembira, merencanakan pergi ke warung internet atau sekadar duduk-duduk di pinggir lapangan, aku hanya bisa menatap lantai kelas dengan pandangan kosong. Aku tidak pernah punya rencana selain bekerja.
Belum sempat aku melangkah keluar dari gerbang sekolah, atau terkadang saat aku baru saja meletakkan tas di pundak, ponsel tua di sakuku akan bergetar hebat. Itu bukan pesan dari teman yang mengajak bermain. Itu adalah panggilan dari Ayah.
"May, sudah pulang? Jangan mampir-mampir! Langsung ke tempat kerja Ayah sekarang. Barang baru datang, Ayah butuh tenaga!"
Kalimat itu selalu sama. Tegas, dingin, dan tidak menerima bantahan. Perutku seringkali melilit luar biasa. Sejak pagi aku hanya terisi air putih dan mungkin sepotong gorengan sisa tadi malam. Namun, di rumah ini, rasa lapar adalah hal tersier. Rasa lelah adalah hal yang tabu.
Tanpa sempat pulang untuk mencuci muka atau sekadar mengganti baju, aku akan berjalan cepat, terkadang berlari, menuju tempat Ayah banting tulang. Di sana, aku langsung dilempar ke tengah tumpukan pekerjaan. Aku mengangkat barang-barang berat, membantu Ayah merapikan stok, hingga melayani pelanggan dengan sisa tenaga yang kumiliki. Tidak ada kata istirahat. Aku bekerja di bawah terik matahari sore yang membakar seragam sekolahku, mengabaikan pusing yang sesekali membuat pandanganku berkunang-kunang.
"Ayo cepat, May! Jangan lelet!" bentak Ayah jika gerakanku mulai melambat karena lemas.
Baru setelah senja menyapa, sekitar pukul setengah enam sore, Ayah akan memberiku izin untuk pulang. Di saat itulah, aku baru bisa memasukkan suapan nasi pertama ke mulutku. Rasa lapar yang sudah lewat puncaknya terkadang membuatku mual, namun aku memaksanya masuk. Makan dalam kesunyian adalah kemewahan singkatku, sebelum shift malam yang lebih menyiksa dimulai.
Rumah Nenek di malam hari bukanlah tempat untuk belajar. Begitu piring makanku bersih, Ibu atau Nenek sudah menunggu di ruang tengah dengan karung-karung goni yang berbau menyengat. Bisnis Nenek telah berkembang. Ia tidak lagi hanya menjual toge mentah, tapi juga bumbu-bumbu dapur lainnya.
"Ayo, May, Bayu... bantu kupas bawangnya. Besok subuh harus sudah di pasar," ujar Nenek dengan nada yang seolah-olah sedang memberikan bantuan, padahal ia sedang meminta tenaga kami tanpa upah.
Aku dan Bayu akan duduk melingkar di atas lantai semen yang dingin. Di depan kami, gunungan bawang merah dan putih siap untuk dikuliti. Bau bawang yang menyengat langsung menyerang mata, membuatnya perih, panas, dan berair. Seringkali aku menangis saat mengupas bawang. Bukan hanya karena perihnya getah yang terbang ke mata, tapi karena perihnya kenyataan bahwa hidupku hanya berkutat di antara kulit-kulit sampah ini.
Kami harus mengupas berkarung-karung bawang hingga bersih, memisahkan tomat yang busuk dari yang segar, dan memetik tangkai cabai sampai jari-jari kami terasa terbakar oleh pedas yang meresap ke dalam kuku. Belum lagi urusan toge. Toge-toge yang sudah dipanen harus dibersihkan dari kulit kacang hijau yang menempel. Tanganku yang keriput karena air dan perih karena getah bawang menjadi saksi bisu betapa kerasnya malam-malamku sebagai siswi SMP.
Di tengah tumpukan bawang itu, aku sering mencoba mengingat masa kecilku yang indah. Namun, ingatanku seolah-olah sudah disaring oleh waktu. Aku lupa kapan terakhir kali aku merasa benar-benar bahagia tanpa beban. Sebagian besar ingatanku tentang masa kecil adalah fragmen-fragmen yang menyakitkan: aroma keringat tetangga pria itu di siang sunyi, tamparan Paman, dan rasa lelah yang kronis.
Aku tumbuh menjadi remaja yang sangat "nggak enakan" atau people pleaser. Aku terlalu takut untuk menolak permintaan Ayah. Aku terlalu takut untuk membantah perintah Nenek. Di dalam benakku yang masih rapuh, aku merasa bahwa jika aku tidak bekerja keras, jika aku tidak berguna, maka keluargaku akan kembali berantakan. Aku merasa bahwa keberadaan "utuh" Ayah dan Ibu bergantung pada seberapa rajin aku membantu mereka.
Aku membiarkan diriku diperas. Aku membiarkan hak-hak remajaku dirampas. Dan di balik semua kerja keras itu, sebuah pertanyaan besar tetap menghuni sudut gelap kepalaku: Setelah semua keringat ini, setelah semua pengabdian ini, apakah aku akan tetap dianggap 'kotor' karena kejadian di rumah panggung dulu?
Aku menatap tanganku yang berbau bawang merah yang tak kunjung hilang meski sudah dicuci dengan sabun berkali-kali. Bau itu seolah-olah sudah menyatu dengan darahku. Bau kemiskinan, bau kerja keras yang dipaksakan, dan bau trauma yang tak pernah bisa kuceritakan pada siapapun.
Malam semakin larut, Bayu di sampingku sudah mulai menguap namun tetap memaksakan jemarinya mengupas bawang. Kami adalah dua anak yang dipaksa menjadi dewasa di tengah reruntuhan rumah tangga orang tua kami.Kami adalah residu dari sebuah sistem keluarga yang tidak sehat, yang mencoba tetap tumbuh tegak seperti toge di tengah kegelapan kolong dapur.
mirisss tpi in sring terjadi... bhkn kita yang membantu tak ditengok sma skli..