Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.
Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.
Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.
Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.
Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:
Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?
Dan ini adalah kisah nyata.
(±120 kata)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Zidan Mulai Berbisnis Haram
#
Sebulan setelah Naura coba pendekatan yang lebih lembut, ada sedikit perubahan positif dari Zidan. Dia pulang malem dikurangin. Dari seminggu lima kali jadi seminggu dua kali. Dia juga mulai sesekali sholat Jumat lagi. Meski masih jarang sholat lima waktu.
Naura seneng banget liat perubahan kecil ini. Dia makin semangat doa. Makin rajin sholat tahajud. Dia pikir usahanya mulai membuahkan hasil.
Tapi dia nggak tau, di balik perubahan kecil itu, ada perubahan besar lain yang lebih berbahaya.
Hari Kamis sore, Naura lagi jemur baju di halaman belakang. Faris main bola di taman depan. Tiba tiba Ibu Dewi, tetangga sebelah, nyamperin.
"Naura, bisa ngobrol sebentar nggak?"
"Bisa Bu. Ada apa?"
Ibu Dewi ngelirik ke kanan kiri. Pastiin nggak ada yang dengerin. "Aku mau kasih tau sesuatu. Tapi kamu jangan marah ya. Aku cuma khawatir sama kamu."
Naura langsung deg degan. "Ada apa Bu? Bilang aja."
"Gini... kemarin aku lagi di bank. Kebetulan ketemu temen suamimu. Namanya Pak Hendra. Dia ngobrol sama suami aku. Terus dia cerita... cerita kalau suamimu sekarang buka bisnis pinjaman uang. Kayak rentenir. Dengan bunga tinggi."
Naura melotot. "Apa? Mas Zidan buka rentenir? Nggak mungkin Bu. Mungkin Pak Hendra salah orang."
"Nggak. Dia sebut nama Zidan. Bahkan dia kasih liat brosur. Ini, aku fotoin." Ibu Dewi keluarin handphone. Tunjukin foto brosur.
Di sana tertulis jelas. "PINJAMAN CEPAT ZIDAN FINANCE. Bunga 15% per bulan. Proses cepat. Tanpa jaminan untuk pinjaman di bawah sepuluh juta."
Naura ngerasa dunia berputar. Tangannya gemetar pegang handphone Ibu Dewi.
"Ini... ini beneran?"
"Iya. Aku nggak bohong. Makanya aku kasih tau kamu. Soalnya... soalnya itu kan haram Naura. Riba. Dosa besar. Aku khawatir sama suamimu."
Naura nggak bisa ngomong apa apa. Hatinya remuk. Zidan... Zidan sekarang jadi rentenir? Bisnis yang sama yang dulu bikin mereka tersiksa waktu susah dulu?
"Terima kasih Bu udah kasih tau. Aku... aku mau masuk dulu."
Naura langsung masuk rumah sambil gendong Faris yang lagi main. Dia duduk di sofa sambil megang dada. Napasnya sesak.
"Ya Allah... kenapa? Kenapa Mas bisa lakuin ini? Dia tau banget gimana sengsaranya jadi korban rentenir dulu. Kenapa sekarang dia malah jadi rentenir sendiri?"
Sore itu dia nggak bisa masak. Nggak ada nafsu. Dia cuma duduk di sofa sambil ngeliatin jam dinding. Nunggu Zidan pulang.
Jam tujuh malam, Zidan pulang. Bawa tas kerja gedhe. Senyum senyum.
"Naura! Hari ini gue dapet klien baru! Lima orang sekaligus! Masing masing pinjam sepuluh juta! Total gue dapat bunga tujuh setengah juta per bulan! Lumayan kan?"
Naura berdiri dari sofa. Wajahnya datar. "Mas, duduk dulu. Kita harus ngobrol."
Zidan kaget liat wajah istrinya yang serius. "Ada apa? Kenapa mukanya kayak gitu?"
"Mas... Mas buka bisnis pinjaman uang ya? Kayak rentenir?"
Zidan terdiam. Senyumnya ilang. "Siapa yang bilang?"
"Bukan siapa yang bilang. Yang penting itu bener apa nggak?"
Zidan taruh tas kerjanya di meja. Duduk di sofa sebelah. "Iya. Gue buka. Kenapa? Masalah?"
"Masalah? Mas serius tanya masalah apa nggak? Itu RIBA Mas! Haram! Dosa besar!"
"Naura, ini bisnis. Semua orang juga begini kok."
"Semua orang? Mas lupa ya dulu kita jadi korban rentenir? Pak Burhan? Debt collector yang dateng ngancam kita? Mas lupa semua itu?"
Zidan berdiri. Mukanya mulai merah. "GUE INGET! MAKANYA GUE TAU BISNIS INI MENGUNTUNGKAN! Pak Burhan aja bisa kaya raya dari bisnis ini! Kenapa gue nggak?"
"Tapi Mas... ini haram! Allah melarang riba dengan keras! Bahkan di Quran bilang orang yang makan riba seperti orang kerasukan setan!"
"UDAH NAURA! JANGAN BAWA BAWA AGAMA! INI BISNIS! LO NGGAK NGERTI!"
"Aku ngerti Mas! Aku ngerti banget! Ini dosa besar! Mas janji di sajadah dulu akan berbisnis dengan jujur! Akan cari rezeki yang halal! Sekarang kemana janji itu?"
Zidan jalan deket ke Naura. Nunjuk nunjuk wajahnya. "LO TAU DARIMANA REZEKI GUE SEKARANG? LO TAU DARIMANA RUMAH INI? MOBIL MOBIL DI GARASI? BAJU BAGUS LO? MAKANAN ENAK TIAP HARI? SEMUANYA DARI BISNIS GUE! DARI KERINGAT GUE!"
"Tapi kalau bisnis itu haram, aku nggak mau Mas! Aku lebih rela hidup susah tapi halal daripada kaya tapi haram!"
"LO BILANG APA? LO MAU BALIK HIDUP SUSAH? LO MAU BALIK KE KONTRAKAN SEMPIT? MAKAN NASI KECAP? JALAN KAKI KEMANA MANA?"
"Iya! Aku mau! Kalau itu artinya kita nggak berdosa!"
Zidan ketawa sinis. Ketawa yang menyakitkan. "Lo gila Naura. Lo udah gila. Lo pikir gue akan balik jadi orang miskin? NGGAK AKAN! GUE UDAH CAPE JADI ORANG MISKIN! GUE UDAH CAPE DIHINA! SEKARANG GUE KAYA! GUE DIHORMATIN! DAN GUE NGGAK AKAN LEPAS INI SEMUA!"
"Tapi Mas... Allah..."
"ALLAH? MANA ALLAH WAKTU GUE SUSAH DULU? MANA ALLAH WAKTU GUE KERJA TIGA TEMPAT TAPI TETEP NGGAK CUKUP? MANA ALLAH WAKTU ANAK GUE HAMPIR MATI DI INKUBATOR TAPI GUE NGGAK PUNYA UANG?"
Naura melotot nggak percaya dengerin kata kata suaminya. "Mas... Mas ngomong apa? Mas nggak percaya Allah lagi?"
"GUE PERCAYA! TAPI GUE LEBIH PERCAYA SAMA USAHA GUE SENDIRI! ALLAH KASIH OTAK BUAT DIPAKE! BUKAN BUAT DIEM DIEM NUNGGU REZEKI JATUH DARI LANGIT!"
"Mas... tapi ini bukan soal usaha. Ini soal halal haram. Mas nggak bisa..."
"SEMUA PENGUSAHA JUGA BEGINI NAURA! BANK JUGA PAKE BUNGA! KOPERASI JUGA PAKE BUNGA! KENAPA GUE NGGAK BOLEH? JANGAN SOK SUCI LO!"
Naura mundur sedikit. Tangannya gemetar. Air matanya jatuh. "Mas... Mas berubah. Mas udah bukan Zidan yang dulu lagi. Zidan yang dulu takut Allah. Zidan yang dulu selalu inget akhirat. Zidan yang dulu..."
"ZIDAN YANG DULU ITU MISKIN! LEMAH! BODOH! GUE NGGAK MAU JADI DIA LAGI! GUE SEKARANG ZIDAN YANG BARU! YANG KAYA! YANG KUAT! YANG PINTAR!"
Zidan ambil tasnya terus masuk kamar. Banting pintu keras.
BLAM!
Naura jatuh duduk di lantai. Nangis keras sambil memeluk lututnya. Faris yang lagi main di kamar keluar. Liat Ibunya nangis di lantai.
"Ibu kenapa? Ibu sakit?"
Naura langsung lap air matanya cepet. "Nggak sayang. Ibu nggak apa apa. Ayo masuk. Kita tidur."
Dia gendong Faris masuk kamar. Tidurin di kasur sambil peluk erat.
"Faris sayang... maafin Ibu. Maafin Ayah. Kita... kita lagi ada masalah. Tapi Ibu janji akan berusaha benerinnya. Ibu nggak akan menyerah."
Setelah Faris tidur, Naura keluar kamar pelan pelan. Masuk ke kamar dia sama Zidan. Zidan lagi tidur membelakangi pintu.
Naura ambil bantal sama selimut. Keluar lagi. Tidur di sofa ruang tamu.
Dia nggak mau tidur sekamar sama suami yang bisnisnya haram. Sama suami yang udah berani bilang Allah nggak bantuin dia waktu susah.
Dia tidur sambil nangis. Peluk bantal erat.
"Ya Allah... ini udah keterlaluan. Mas Zidan sekarang nggak cuma bolong sholat. Nggak cuma minum alkohol. Tapi sekarang bisnis haram. Riba. Dan dia nggak ngerasa salah. Malah marah waktu aku tegur."
Dia sujud di lantai ruang tamu sambil nangis.
"Ya Allah... aku nggak tau harus gimana lagi. Aku udah coba sabar. Udah coba lembut. Tapi hasilnya malah makin parah. Dia makin jauh dari Engkau. Tolong ya Allah. Tolong kasih aku petunjuk. Aku harus gimana?"
Dia nangis sampai ketiduran di lantai dengan posisi sujud.
Pagi harinya, Zidan bangun. Keluar kamar. Nggak nemu Naura. Dia liat di ruang tamu. Istrinya tidur di lantai dengan posisi sujud. Bantal basah air mata. Wajah pucat.
Sekilas dia ngerasa bersalah. Tapi cuma sekilas.
Dia ambil selimut dari sofa. Tutupin badan istrinya yang tidur di lantai. Terus keluar rumah.
Naik mobil. Pergi ke kantor.
Di mobil dia mikir.
"Naura lebay. Cuma bisnis pinjaman doang kok heboh banget. Semua orang juga begini. Bank aja pake bunga. Kenapa gue nggak boleh?"
Dia nggak ngerasa salah sama sekali.
Bahkan dia bangga dengan bisnisnya.
Karena dalam sebulan, dia bisa dapet puluhan juta dari bunga pinjaman.
Dan uang itu dia pake buat beli barang barang mewah lagi.
Jam tangan Rolex harga seratus juta.
Tas Hermes buat Naura yang Naura nggak pernah pake.
Sepatu branded buat Faris yang kepedean.
Semua dari uang haram.
Dari uang riba.
Dari uang yang dikutuk Allah.
Tapi dia nggak peduli.
Yang dia peduliin cuma uang.
Harta.
Kekayaan.
Dan itu semua pelan pelan membunuh hatinya.
Membunuh imannya.
Membunuh keluarganya.
Dan dia nggak sadar.
Atau mungkin dia sadar.
Tapi dia nggak peduli.
Karena dia udah terlalu jauh.
Terlalu dalam.
Dan nggak ada jalan balik.