Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
MELAWAN PEMBULLYAN
Bel jam istirahat berbunyi dengan suara yang cukup keras di halaman sekolah SMAN 3 Makassar. Khatulistiwa mengeluarkan bekal yang dibungkus rapi dari tasnya – ibunya telah menyediakan nasi bakar dengan lauk ayam bakar dan keripik singkong, disertai beberapa buah mangga harum yang masih segar. Dia berjalan menuju tempat duduk biasa di sudut halaman belakang yang cukup sepi, ingin menikmati makanannya dengan tenang sebelum jam pelajaran dimulai kembali.
Namun sebelum dia bisa duduk, tiga orang siswi berjalan menghampirinya dengan wajah yang menunjukkan niat tidak baik. Yang berada di depan adalah Jesika, seorang siswi kelas yang sama yang dikenal sering menyakiti teman-temannya dengan kata-kata yang menyakitkan atau tindakan yang tidak menyenangkan. Dua temannya, Lina dan Maya, mengikuti di belakangnya dengan ekspresi wajah yang sama saja.
"Lihat saja, si 'anak penjual kukis' lagi mau makan sendirian," ucap Jesika dengan nada yang menyindir sambil berdiri menghadang jalan Khatulistiwa. "Mungkin makananmu itu tidak seberapa saja, ya? Dari uang hasil jualan kukis yang murahan."
Khatulistiwa merasa dada sedikit tertekan mendengar kata-kata itu, namun dia mencoba tetap tenang. "Silakan saja kamu pergi jika tidak ada hal penting yang ingin kamu katakan, Jesika. aku mau menikmati makananku dengan tenang."
"Tidak usah sombong dong!" teriak Lina dengan suara yang cukup keras hingga menarik perhatian beberapa siswa di sekitarnya. "Kamu pikir kamu hebat karena bisa membuat tugas sejarah bagus? Sudah tahu kan kamu pasti mencontek dari orang lain!"
Khatulistiwa merasa darahnya mulai mendidih. Mereka tidak hanya menghina usaha keluarga nya, namun juga menyalahkan dirinya dengan tuduhan yang tidak benar.
"Aku tidak mencontek apapun!" ucapnya dengan suara yang lebih tegas.
"aku mendapatkan bantuan dari temanku yang benar-benar paham tentang sejarah daerah, dan semua pekerjaan itu hasil kerja keras ku sendiri."
Jesika mendekat lebih jauh dan mulai mencoba menyentuh tas Khatulistiwa yang masih tergantung di bahunya. "Biar aku lihat saja buku catatanmu kalau benar kamu tidak mencontek. Kalau ada bukti, kamu pasti akan mendapat hukuman dari guru!"
Saat Jesika hendak meraih tasnya, Khatulistiwa dengan cepat menjauh dan menarik tasnya ke arah dirinya. "Jangan menyentuh barang ku! Kalau kamu tidak percaya, silakan saja kamu bertanya langsung pada Bu Dewi atau bahkan pada teman kuyang membantu .Jangan hanya menyebarkan omong kosong!"
"Aduh, kok marah ya?" canda Jesika dengan wajah yang semakin menyebalkan. "Mungkin kamu memang merasa bersalah sehingga jadi marah seperti ini. Atau mungkin temanmu itu bukan teman sungguhan, tapi orang yang kamu bayar untuk membantu kamu!"
Pada saat itu, Khatulistiwa merasa sudah tidak bisa menahannya lagi. Dia menginjakkan kaki dengan kuat dan menatap langsung ke mata Jesika. "Cukup sudah, Jesika! Kamu sudah terlalu sering menyakiti teman-teman sekelas dengan kata-kata dan tindakanmu. Aku tidak akan pernah membiarkan diriku atau orang lain lagi diperlakukan seperti ini!"
Beberapa siswa sudah mulai berkumpul melihat peristiwa ini, termasuk Safira dan Rina yang segera berlari menghampiri Khatulistiwa.
"Apa yang sedang terjadi di sini?" tanya Safira dengan nada yang tegas sambil berdiri berdampingan dengan Khatulistiwa.
"Jesika lagi menyakitinya dengan kata-kata, Fira," jawab Rina dengan wajah marah. "Dia bahkan menyalahkan Khatu telah mencontek padahal tidak benar!"
Seiring dengan datangnya teman-teman Khatulistiwa, beberapa siswa lain juga mulai bersuara membela dia. "Benar saja, Jesika sudah terlalu sering melakukan hal seperti ini!" ucap salah satu siswa dari belakang kerumunan. "Kita semua tahu bahwa Khatu adalah siswa yang baik dan tidak akan pernah melakukan kecurangan!"
Jesika mulai merasa tidak nyaman dengan dukungan yang diberikan teman-teman kepada Khatulistiwa. Wajahnya yang tadinya penuh dengan kesombongan mulai berubah menjadi sedikit malu. "Aku hanya mau memastikan saja kalau dia tidak kecurangan," ucapnya dengan suara yang sudah tidak sekuat tadi.
"Kalau kamu ingin memastikan, ada cara yang benar untuk melakukannya," ucap Khatulistiwa dengan nada yang tetap tegas namun tidak lagi marah.
"Kamu bisa bertanya pada guru atau bahkan padaku secara langsung, bukan dengan menyebarkan omong kosong dan menghinaku serta keluargaku Usaha kukis keluargaku adalah hasil kerja keras orang tuaku dan akusangat bangga bisa membantu mereka!"
Mendengar kata-kata Khatulistiwa, memberikan dukungan padanya. Jesika dan kedua temannya merasa semakin tidak nyaman dan akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan kerumunan dengan wajah malu.
"Kamu hebat banget, Khatu" puji Safira sambil menepuk bahu Khatulistiwa. "Kita sudah lama tidak bisa menahannya, tapi kamu berhasil melawannya dengan cara yang benar."
"Terima kasih sudah membela ku," ucap Khatulistiwa dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi. "Aku tidak bisa menahan diri lagi ketika dia menghina usaha keluarga dan menyalahkanku dengan hal yang tidak benar.
Bel jam pelajaran kembali berbunyi, dan mereka segera bergegas ke dalam kelas. Meskipun hatinya masih sedikit berdebar karena kejadian tadi, Khatulistiwa merasa bangga telah bisa berdiri untuk dirinya sendiri dan keluarga. Dia juga merasa bersyukur memiliki teman-teman yang selalu ada untuk membela dan mendukungnya dalam setiap situasi.