Aku hanyalah setetes air di tengah samudra luas.Melangkah di dunia ini semata-mata agar tetap merasa hidup.
Dengan pedang di tanganku, aku menolong mereka yang terjatuh.
Aku menebas musuh, menghabisi iblis, dan menghadang kegelapan.
Namun aku ragu…Mampukah aku menyelamatkan diriku sendiri?
Dengan kekuatan yang bahkan mampu menumbangkan naga,
Akulah legenda yang bangkit dari darah dan luka—Sang Legenda Naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Bertamu
Gerbang megah Klan Matahari Emas yang terbuat dari kayu cendana berlapis emas murni terbuka lebar untuk merayakan festival musim semi.
Namun, suasana pesta yang meriah mendadak mendingin saat sesosok pria melangkah masuk dengan langkah yang sangat santai, seolah-olah sedang berjalan di halaman rumahnya sendiri.
Tian Shan tidak lagi mengenakan caping. Rambut hitam panjangnya yang kini memiliki sedikit helai perak di pelipisnya berkibar mengikuti hembusan angin yang tiba-tiba menjadi tajam.
Wajahnya yang sangat tampan, dengan kulit sehalus porselen dan tatapan mata yang dalam, membuat setiap wanita di perjamuan itu tertahan napasnya, sementara para pendekar senior secara naluriah menyentuh gagang pedang mereka.
Tidak ada yang mengenalinya sebagai Sang Legenda Naga yang hilang 50 tahun lalu, namun aura yang terpancar darinya memberi tahu semua orang bahwa dia adalah penguasa badai yang sedang tenang.
Di panggung utama, duduklah Tuan Besar Zhao dan istrinya.
Di samping mereka berdiri dua orang muda yang sangat memikat: seorang putra sulung yang gagah dan seorang putri bungsu yang kecantikannya dipuji di seluruh negeri.
Inilah anak-anak "sah" yang dibanggakan klan, hasil dari pernikahan yang dianggap suci oleh hukum kekaisaran.
Tian Shan berdiri di tengah-tengah taman, tepat di hadapan meja utama.
Ia mengangkat guci arak yang ia bawa dari kedai sebelumnya, menyesapnya dengan gaya yang sangat acuh tak acuh namun penuh wibawa.
"Siapa kau, anak muda?" tanya Tuan Besar Zhao.
Suaranya berat, mencoba menutupi rasa gelisah yang muncul di lubuk hatinya saat menatap wajah Tian Shan yang entah kenapa terasa sangat familiar. "Kau datang ke rumahku tanpa undangan, namun auramu seolah-olah kau adalah pemilik tempat ini."
Tian Shan menurunkan guci araknya. Ia menatap kedua saudaranya yang menatapnya dengan campuran rasa ingin tahu dan rasa terancam.
"Aku hanyalah seorang pengelana yang ingin melihat, apakah istana yang dibangun di atas tumpukan bangkai masih bisa memberikan rasa hangat." ucap Tian Shan, suaranya pelan namun bergema di seluruh penjuru kediaman.
Nyonya Zhao, ibu biologis Tian Shan yang kini terlihat sangat anggun, mengerutkan kening. "Bicaramu sangat kasar. Jika kau datang untuk menantang klan kami, katakan saja."
Tian Shan tertawa pendek, sebuah tawa yang tidak mengandung keceriaan melainkan rasa dingin yang membekukan. "Haha...Menantang? Tidak. Aku hanya ingin berbincang tentang 'sampah'."
Ia melangkah satu kaki ke depan, dan seketika lantai batu di bawahnya retak membentuk pola naga purba.
"Katakan padaku, Tuan Besar Zhao... bagaimana rasanya tidur nyenyak selama puluhan tahun setelah membuang sesuatu yang kalian anggap sebagai aib? Apakah wajah-wajah cantik anak-anakmu ini sanggup menghapus bau busuk dari dosa yang kalian kubur di Hutan Utara?"
Wajah Tuan Besar Zhao memucat seketika. "Apa maksudmu?! Jangan bicara sembarangan di depan tamu-tamuku!"
"Aku hanya bertanya," sahut Tian Shan sambil menatap tajam ke mata ayahnya. "Seringkali, apa yang dianggap gelap dan kotor justru tumbuh menjadi sesuatu yang sanggup menelan matahari itu sendiri. Aku datang ke sini bukan untuk berperang, tapi untuk melihat apakah kalian sudah siap menghadapi malam yang panjang."
Putra sulung Zhao, merasa harga diri klannya diinjak-injak, menghunuskan pedang emasnya.
"Berhenti menghina orang tuaku! Siapa pun kau, kau akan membayar untuk setiap kata yang keluar dari mulutmu!"
Tian Shan bahkan tidak menoleh ke arah pemuda itu. Ia tetap menatap Tuan Besar Zhao yang kini gemetar hebat—bukan karena marah, tapi karena ingatan puluhan tahun lalu tentang seorang bayi yang ditinggalkan di tengah salju kini menghantam jiwanya.
"Anakmu memiliki semangat yang bagus," ucap Tian Shan datar. "Tapi pedang emasnya hanya perhiasan. Dia tidak tahu bahwa pedang sejati ditempa oleh kebencian dan kesepian."
Tian Shan berbalik badan, jubah hitam-putihnya menyapu udara dengan anggun.
Ia tidak berniat memberi tahu bahwa dia adalah darah daging mereka. Baginya, itu adalah penghinaan bagi dirinya sendiri.
Ia hanya ingin mereka tahu bahwa kegelapan yang mereka buang telah kembali, bukan sebagai putra yang meminta ampun, melainkan sebagai hukum alam yang akan menghancurkan segala kepalsuan mereka.
"Perjamuan ini membosankan," ucap Tian Shan sambil berjalan pergi meninggalkan kerumunan yang membeku dalam ketakutan. "Nikmatilah sisa sinar matahari kalian, karena mulai besok, bayangan naga akan menutupi langit klan ini selamanya."