Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.
Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.
Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Kana mengangguk, terinspirasi. "Iya, itu ide bagus! karakter itu bisa jadi teman yang selalu ngingetin dia tentang tunangannya yang baik hati. Tapi, lo percaya nggak, kadang karakter yang nyebelin gini bisa jadi villain-nya."
"Ya, mungkin. Gue juga sering nemu cerita kaya gitu harusnya, kan balance, Ka," Seyra mengingatkan dengan serius.
"Balik lagi ke lo yang paling anti perselingkuhan tapi tukang ghosting. Lo juga harus ingat, kadang konflik itu perlu untuk perkembangan karakter," Kana menjawab, mencoba menyeimbangkan pandangannya.
Mereka terus berdiskusi, saling memberi masukan dan ide-ide segar. Suasana kantin yang ramai tidak membuat mereka terganggu, fokus mereka terpaku pada cerita dan karakter yang sedang dibahas.
Setelah selesai makan, Kana menatap Seyra dengan senyum lebar. "Thanks ya, Sey. Lo selalu bikin gue semangat nulis lagi."
Seyra mengangguk, saat dia hendak menjawab tiba-tiba dia tersedak buah anggur sebanyak dua biji secara bersamaan.
Seyra terbatuk-batuk, wajahnya berubah merah. "Ugh, anggur ini! kenapa sih pake nyangkut segala?" keluhnya sambil mengusap mulutnya yang masih basah akibat anggur yang banyak memiliki air.
Kana segera menepuk punggung Seyra lembut, berusaha menolong. "Santai, Sey! lo baik-baik aja kan?" tanyanya cemas, meski tidak bisa menahan tawanya melihat ekspresi konyol sahabatnya.
Setelah beberapa detik, wajah Seyra semakin pucat. Hingga membuat Kana panik, dia berusaha membantu Seyra mengeluarkan anggur itu dari tenggorokan namun pernapasan gadis itu mulai tidak teratur.
"Sey, Seyra! lo jangan bercanda dong." Teriak Kana cemas.
"S-sakit... Ka..." cicit Seyra, suaranya hampir tak terdengar.
Pandangan Seyra mulai pudar, hembusan napas gadis itu perlahan melambat. Di sela-sela dia sekarat, Seyra masih sempat-sempatnya menyalahkan anggur yang masuk ke dalam tenggorokannya.
'Sialan, nggak keren banget gue meninggalnya, masa tersedak anggur sih.' Batin Seyra, detik berikutnya dia menghembuskan napas terakhirnya di kantin sekolah.
***
Seyra terbangun dengan kebingungan yang mendalam. Dia membuka matanya, dan langsung di sambut oleh cahaya lampu yang menyilaukan, bukan suara hiruk pikuk para murid di kantin.
Saat fokusnya kembali, dia mendapati dirinya sudah duduk di atas motor, yang berada di garis start sebuah arena balapan. Suara bising mesin dan sorak-sorai penonton mengisi udara, menciptakan suasana yang mendebarkan.
Dia menoleh ke sekeliling, mencoba mengingat bagaimana dia bisa berada di tempat ini. Ingatan terakhir yang jelas adalah saat dia tersedak anggur di sekolah dan dia yakin sudah meninggal kala itu, masa iya sekarang jiwanya mau balapan motor sih?
Perasaan panik melanda saat dia merasa dunia sekitarnya berputar. Dia yakin, saat itu, hidupnya benar-benar sudah berakhir. Namun sekarang, di sini, di tengah keramaian dan getaran mesin motor, dia memakai helm full face dan kedua tangannya memegang stang motor tersebut.
"Ini mimpi? Apa gue mau otw ke surga pake motor?" pikirnya konyol, berusaha meyakinkan diri.
Tapi getaran motor di bawahnya dan suara mesin yang meraung keras sangat nyata. Seyra merasakan jantungnya berdegup kencang, antara rasa takut dan rasa ingin tahunya.
Dia melihat para pembalap lain bersiap, mengenakan helm dan pakaian yang mencolok. Semua tampak bersemangat, dan siap untuk melesat di tengah heningnya malam.
"Banyak amat yang mau ke surga pake motor sport?" Gumamnya syok.
Dengan sedikit keraguan, dia menarik gas pelan mesin motornya. Suara gahar dari knalpot membuatnya terkejut, tetapi di saat yang sama, ada dorongan rasa percaya diri yang muncul.
Apa yang terjadi? bagaimana dia bisa berada di sini? pertanyaan-pertanyaan itu melintas di benaknya, namun satu hal terasa jelas, dia tidak bisa hanya duduk diam di tengah arena seperti ini.
Dengan tekad yang tiba-tiba, Seyra bersiap menginjak kopling, dia merasakan getaran di tangannya setelah mesin benar-benar menyala. Mungkin ini adalah kesempatan untuk menemukan jawaban atas misteri yang melingkupinya.
"Bodo amat lah, yang penting balapan dulu mikirnya nanti aja." Ujarnya ceria.
Dalam sekejap, dirinya melaju kencang, meninggalkan kebingungan di belakang. Suara sorakan kian menjauh, Seyra memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Tidak ada sedikit pun keraguan yang muncul di wajah gadis itu.
Hingga sesaat kemudian, dia tiba di garis finis. Seruan dari para penonton semakin bersemangat, mereka menyebut namanya dengan lantang.
"Seyra! Seyra! Seyra!"
Dari kerumunan itu, muncul dua orang pemuda yang membawa helm di tangan masing-masing.
"Wow, gila. Lo makin jago aja, Sey." Cetus pemuda bermata coklat tua.
"Benar, makin hari skill lo makin bertambah." Imbuh pemuda berambut ikal.
Seyra mengernyit bingung, dia tidak mengenali mereka berdua. Namun, dari tata caranya mereka menyapa terlihat akrab sekali dengannya.
"Kalian berdua siapa?" ujarnya polos.
"Nggak usah sok lupa ingatan segala deh, kita sahabat lo. Gue Samuel, dan dia Agha masa lo lupa njir?" ujar Samuel heran.
Mendengar nama itu Seyra semakin bingung, dia merasa tidak asing dengan nama-nama mereka. Hingga sesaat kemudian dia membekam mulutnya sendiri menggunakan telapak tangan, begitu dia menyadari tubuhnya telah berubah.
"Lah, seragam sekolah gue mana?" gumam Seyra bingung.
Dia melihat pantulan dirinya di kaca spion motor, buru-buru Seyra melepas helm dan rambut hitamnya yang sedikit ikal sudah berubah menjadi lurus. Serta kulitnya yang berwarna Tan menjadi putih bersih dan mulus tanpa jerawat di wajahnya, di tambah lagi bola mata berwarna hazel semakin menonjolkan penampilannya.
"Ini g-gue? serius?" Seyra memegang wajahnya dan mencubit pipinya sendiri.
Rasa sakit menyengat di pipi, ketika cubitannya meninggalkan bekas kemerahan. Dia yakin, ini semua bukan mimpi. Seyra menoleh pada dua orang yang mengaku sebagai temannya.
"Nama gue siapa?" tanyanya dengan mimik wajah penasaran.
"Seyra Clara," sahut Agha dia kembali bertanya. "Lo aneh banget, apa ada masalah di lintasan tadi, Sey?"
Sontak Seyra terdiam kaku, nama itu merupakan nama tokoh dari novel sahabatnya yang dia baca sebelum dia meninggal.
'Lah, gue jadi figuran?' batin Seyra cengo.
Seyra masih terpaku di tempatnya, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Bahkan suara Agha terdengar samar, seolah dari kejauhan.
"Sey, lo baik-baik aja?" tanya Agha khawatir.
Dengan perlahan, Seyra menggelengkan kepala. "Gue... gue nggak tahu. Ini gila!"
Dia mengalihkan pandangannya kembali ke spion. Pantulan wajahnya kini terlihat lebih nyata dari pada sebelumnya, seolah dia benar-benar melangkah keluar dari halaman-halaman buku yang dibacanya.
Agha dan Samuel saling pandang, bingung dengan reaksi cewek itu. "Lo yakin lo nggak sakit? mungkin lo butuh istirahat?" Agha mencoba menenangkan.
"Enggak! maksud gue, lo nggak ngerti. Nama gue… nama gue seharusnya Seyra Avalen! bukan Seyra Clara!"
Dia berteriak, membuat beberapa pengendara motor di dekatnya menoleh. "Gue bener-bener jadi karakter dari novel itu!" imbuhnya syok berat.
Agha mengernyit. "Karakter novel? lo kayaknya perlu ke psikolog deh."
Seyra menggelengkan kepala lagi, kali ini lebih tegas. Dia benar-benar tidak menyangka akan terjebak di dalam tubuh figuran seperti ini, Seyra menghela napas berat.
"Kayaknya gue kena karma, gara-gara ngasih kritik jelek sama Kana." Gumamnya sendu.
"Sey, kita anterin lo balik aja deh. Gue takut lo nggak bisa bawa motor." Usul Samuel, terlihat pemuda itu benar-benar khawatir padanya.
Seyra hanya bisa mengangguk pasrah, dia masih belum bisa menerima bahwa dirinya kini mengalami transmigrasi seperti kebanyakan novel yang dia baca.
'Dari banyaknya karakter, kenapa gue justru jadi figuran? kenapa nggak jadi batu aja biar hidupnya tenang.' Batin Seyra menggerutu.