NovelToon NovelToon
Keluarga Meninggalkanku, CEO Itu Memilihku

Keluarga Meninggalkanku, CEO Itu Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: richa dhian p.

Keputusan itu telah final. Keluarga besar Hartono menemukan anak kandung mereka yang tertukar selama 21 tahun. Tanpa ragu, Mama Linda nyonya Hartono menjemput Rhea dan membawanya pulang ke rumah megah Hartono. Kepulangan Rhea disambut hangat, bahkan Reno kakak tertua, memeluknya penuh kasih. Namun tanpa disadari, mereka melupakan Aresha anak yang telah dibesarkan sejak bayi. Sejak saat itu, Rhea memperlakukan Aresha dengan kejam, menyiksa bahkan menyiksa demi memvalidasi statusnya. Hingga sebuah perjamuan investor berakhir tragedi, Rhea mendorong Stefani adik dari Samba CEO terkaya di negara M hingga koma dan menuduh Aresha. Nyonya Linda mengetahui kebenaran, menghapus semua bukti tetap memilih mengorbankan Aresha demi melindungi anak kandungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon richa dhian p., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang Tanpa Nama

“Settt…” mobil itu berhenti.

Dari balik kaca spion, Reno melirik Aresha. Wajahnya datar, nyaris dingin.

“Hems…” Ia menghela napas, menatap Aresha yang sejak tadi membisu di dalam mobil.

Reno turun, melangkah ke sisi penumpang, lalu membuka pintu. Pandangannya sempat tertahan pada gelang di pergelangan tangan Aresha.

"Gelang itu… tidak terasa asing" batinnya.

“Jangan membuat orang tua kita marah saat masuk rumah nanti,” ucap Reno singkat.

“Kalau kamu tidak mendengarkan, jangan salahkan kakakmu kalau harus memberi hukuman.” Nada suaranya berubah, mengeras.

Aresha terdiam sesaat.

Tanpa sepatah kata, ia turun dari mobil. Langkahnya pincang, namun wajahnya tetap kosong. Matanya menatap halaman kediaman keluarga Hartono, tempat yang dulu menjadi pelindung dan rumah ternyaman, kini hanya menyisakan kenangan yang pahit.

Di belakang Reno sibuk mengambil hadiah besar yang telah dia siapkan. Tangannya bergerak cepat, seolah takut momen ini terlewat begitu saja.

Dari pintu depan rumah Hartono, Mama Linda berjalan mendekat, digandeng erat anak kandungnya, Rhea. Langkah Mama Linda tergesa, napasnya sedikit memburu. Wajahnya penuh kecemasan saat pandangannya tertuju pada sosok Aresha yang berdiri tak jauh dari pintu utama kurus, pucat, dan asing.

Bagaimanapun juga, dialah yang telah merawat Aresha selama dua puluh satu tahun. Menggendongnya saat kecil, menunggui saat demam, menyisir rambutnya sebelum sekolah. Ingatan-ingatan itu menyerbu benaknya tanpa ampun.

Di belakang Aresha, Reno masih mengangkat hadiah besar itu dari mobil, tidak menghiraukan  betapa tegang suasana di depan.

“Aresha, nak kamu sudah keluar dari penjara,” Ucap Mama sambil berjalan menghampiri Aresha, tangannya terulur bersiap menggenggam tangan Aresha.

“Biarkan Mama melihatmu,” tambahnya, suaranya bergetar, penuh rindu dan rasa bersalah.

Namun Aresha bergerak cepat.

“Nyonya Linda,” sapa Aresha sigap, sembari menghindari tangan Mama.

Gerakan kecil itu terasa seperti tamparan halus.

Reno yang baru saja menutup bagasi langsung menoleh. Tatapannya menajam, rahangnya mengeras melihat sikap Aresha.

"Aresha… dia memanggilku dengan sebutan Nyonya Linda." Batin Mama Linda terhantam keras. Dadanya sesak.

"Apakah dia masih mempermasalahkan kejadian empat tahun lalu… saat dia dikeluarkan dari kartu keluarga Hartono?" lanjut batinnya, penuh ketakutan.

Rhea berdiri di samping Mama Linda, menatap Aresha dengan wajah sinis dan tidak suka. Namun ekspresi itu cepat ia sembunyikan. Ia justru semakin erat menggandeng tangan mamanya, berpura-pura takut dan polos, seolah Aresha adalah ancaman.

Sementara itu, Mama Linda hanya bisa berdiri terpaku, hatinya hancur perlahan melihat perubahan sikap Aresha yang begitu dingin dan acuh tak acuh.

“Jangan berbuat masalah,” Ucap Reno dengan nada kesal.

Aresha tidak bereaksi.

“Kamu baru saja menatapku dengan dingin, sekarang ketika pulang kamu sangat berlebihan, apakah kamu sedang mengamuk?” tanya Reno, wajahnya semakin tidak suka.

Dia  melangkah lebih dekat, suaranya meninggi.

“Apakah ini belum cukup?” Tambahnya.

“Reno cukup, berhenti bicara!” Ucap Mama Linda dengan keras. Suaranya bergetar, namun tegas.

“Aresha akhirnya kembali, jangan berteriak padanya,” tambah Mama Linda, hampir memohon.

Aresha tetap diam. Wajahnya kosong, sama sekali tidak menunjukkan minat atau rasa hormat. Seolah semua yang ada di hadapannya hanyalah pemandangan asing yang tak lagi ia miliki keterikatan emosional.

“Mama lihatlah sikapnya,” jawab Reno sambil menoleh ke arah Aresha, frustrasi.

“Keluarga Hartono membesarkanmu selama dua puluh satu tahun lebih, apa kamu tidak akan minta maaf?”Tambah Reno.

Tidak ada jawaban.

“Ayah dan Mama selama empat tahun ini selalu memikirkanmu,” Lanjutnya, suaranya semakin tinggi.

“Lihatlah Mama, dia tidak enak makan dan minum, hingga rambutnya mulai memutih.” Nada Reno nyaris meledak. Ia yakin kata-katanya cukup untuk menggugah rasa bersalah Aresha.

Namun Aresha justru melangkah maju.

Langkahnya pincang. Kakinya diseret perlahan, setiap pijakan tampak menyakitkan. Namun wajahnya tetap kosong, tanpa air mata, tanpa amarah.

“Dihukum empat tahun di penjara, totalnya empat puluh delapan bulan,” jawab Aresha akhirnya.

“Bertemu dengan saudara sebulan sekali, saya bisa melihat empat puluh delapan kali, tapi aku belum sekalipun melihat Mama.” Kalimat Aresha  itu jatuh seperti pisau.

Mama Linda terhuyung. Napasnya tercekat, air matanya luruh tanpa bisa ditahan. Tangannya gemetar di udara, ingin meraih Aresha, namun takut ditolak lagi.

Rhea menunduk, menyembunyikan senyum kecil yang nyaris tak terlihat.

Reno terdiam. Untuk pertama kalinya, Dia tidak tahu harus membalas apa.

Aresha berhenti tepat di depan Mama Linda. Jarak mereka begitu dekat, namun terasa lebih jauh dari sebelumnya.

Tatapan Aresha tidak lagi marah. Tidak juga sedih. Hanya kosong seperti seseorang yang telah kehilangan terlalu banyak hingga tak tersisa apa pun.

“Aresha…” suara Mama Linda pecah.

Namun Aresha tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, tubuhnya lelah, jiwanya lebih lelah lagi.

Di halaman besar keluarga Hartono, tempat yang dulu menjadi rumah dan perlindungan, kini hanya tersisa keheningan yang menyakitkan.

Aresha tidak pulang sebagai anak. Dia pulang sebagai orang asing yang pernah ditinggalkan.

“Mama bilang merindukanku?” Ucap Aresha, suaranya datar, nyaris tanpa emosi. Tatapannya tertuju lurus ke depan, tidak benar-benar menatap siapa pun.

“Mama bahkan tidak bisa meluangkan setengah jam untuk melihatku,” Tambah Aresha pelan, namun setiap katanya terasa berat dan jelas.

Mama Linda terdiam. Bibirnya bergetar, matanya berkaca-kaca. Dia ingin membantah, ingin menjelaskan, namun tak satu pun kata mampu keluar. Penyesalan menekan dadanya, membuat napasnya terasa sesak.

“Hiks… hiks…” Tangisan itu memecah keheningan.

“Ini semua salahku,” Sahut Rhea berpura-pura menangis, suaranya dibuat serapuh mungkin. Bahunya bergetar halus, kepalanya sedikit tertunduk.

“Sejak Stefani jatuh dari lantai dua, aku mengalami mimpi buruk setiap hari.” Mama Linda refleks merangkul Rhea. Tangannya mengusap punggung putrinya dengan penuh perhatian.

“Mama dan kakak di sini untuk menemaniku,” Tambah Rhea, suaranya lirih namun jelas terdengar. Ia semakin mendekat, tangannya semakin erat memeluk tangan Mama Linda, seolah takut kehilangan.

Reno yang berdiri tak jauh dari mereka ikut menghela napas panjang. Wajahnya melunak melihat Rhea menangis.

“Sudahlah, Rhea. Semua sudah berlalu,” Ucapnya lembut, jauh berbeda dari nada yang Dia gunakan pada Aresha sebelumnya.

Aresha hanya diam. Pandangannya tertuju pada Rhea, pada cara Rhea menggenggam tangan Mama Linda, pada cara dia  bersandar dengan manja, pada air mata yang jatuh dengan perhitungan rapi. Ada rasa muak yang tak lagi dia sembunyikan. Bukan marah, bukan benci melainkan lelah.

“Maafkan aku, Kak,” Ucap Rhea lagi, suaranya dibuat semakin memelas.

“Karena aku… mereka jadi tidak punya waktu untuk mengunjungimu.” Tambahnya.

Kata-kata itu terdengar seperti permintaan maaf, namun terselip sindiran yang tajam.

Mama Linda menoleh ke arah Aresha, wajahnya penuh rasa bersalah.

“Aresha, Mama..” Namun Aresha tetap diam.

Rhea terus melanjutkan sandiwara itu. “Aku benar-benar ketakutan waktu itu. Setiap malam aku menangis,” Katanya sambil mengusap air matanya.

“Untung Mama dan Kak Reno selalu ada.” Dia mengeratkan kembali genggamannya pada Mama Linda, seolah ingin memastikan Aresha melihat dengan jelas siapa yang kini berada di sisi mereka.

Saat Mama Linda sibuk menenangkan Rhea, Rhea perlahan mengangkat wajahnya. Matanya sekilas bertemu dengan mata Aresha, dan di sanalah senyum licik itu muncul. Hanya sepersekian detik. Cepat. Halus. Tapi cukup jelas bagi Aresha.

Aresha mengalihkan pandangannya. Bibirnya menegang tipis. Tidak ada yang berubah, batinnya. Hanya aku yang akhirnya melihatnya dengan jelas.

Reno tidak menyadari apa pun. Mama Linda tenggelam dalam rasa bersalahnya sendiri. Dan Rhea kembali menunduk, berpura-pura rapuh, berpura-pura terluka.

Sementara Aresha berdiri di sana, sendirian di tengah keluarganya sendiri, menyadari bahwa kepulangannya bukan untuk diterima, melainkan untuk sekali lagi disingkirkan.

Dan kali ini, ia tidak akan menangis.

***

1
Nina Erwina
saya suka.... tqpi gmn.kelanjutannya
sunflower
😭semangat kk thor
Trj Bader
baguss banget
Trj Bader
sukaa, pengen banget gampar muka Reno rasanyaa. sumpah kesel banget.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!