"Aku adalah saksi dari setiap cintamu yang patah, tanpa pernah bisa memberitahumu bahwa akulah satu-satunya cinta yang tak pernah beranjak."
Pricillia Carolyna Hutapea sudah hafal setiap detail hidup Danesha Vallois Telford
Mulai dari cara laki-laki itu tertawa hingga daftar wanita yang pernah singgah di hatinya.
Sebagai sahabat sejak kecil, tidak ada rahasia di antara mereka. Mereka berbagi ruang, mimpi, hingga meja kuliah yang sama. Namun, ada satu rahasia yang terkunci rapat di balik senyum tenang Pricillia, dia telah lama jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.
Dunia Pricillia diuji ketika Danesha menemukan ambisi baru pada sosok Evangeline Geraldine Mantiri, primadona kampus yang sempurna. Pricillia kini harus berdiri di baris terdepan untuk membantu Danesha memenangkan hati wanita lain.
Di tengah tumpukan buku hukum dan rutinitas tidur bersama yang terasa semakin menyakitkan, Pricillia harus memilih, terus menjadi rumah tempat Danesha pulang dan bercerita tentang wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Pagi harinya, drama baru dimulai. Evangeline, yang tidak bisa tidur sepanjang malam karena amarah dan rasa penasaran, melacak keberadaan Danesha melalui fitur share location yang sempat Danesha aktifkan secara ceroboh beberapa hari lalu.
Emosinya meledak saat melihat titik merah itu berhenti tepat di koordinat rumah Pricillia sejak pukul satu dini hari.
Pukul tujuh pagi, bel rumah keluarga Hutapea ditekan secara brutal. Pricillia, yang sudah bangun dan tampil segar dengan daster sutranya, membukakan pintu dengan wajah tenang, seolah dia memang sudah menunggu kedatangan badai ini.
"Mana Danesha?!" Evangeline merangsek masuk tanpa permisi. Matanya merah dan riasannya sedikit luntur, kontras dengan Pricillia yang terlihat sangat berkuasa di rumahnya sendiri.
"Masih tidur. Capek sepertinya," jawab Pricillia santai sambil melipat tangan di dada. "Semalam dia langsung ke sini setelah dari apartemenmu. Katanya... dia nggak bisa tidur kalau bukan di kamarku."
Wajah Evangeline memucat. "Nggak mungkin! Kami baru saja jadian! Dia seharusnya bersamaku!"
"Silakan lihat sendiri kalau nggak percaya," Pricillia memberi jalan dengan gerakan tangan yang anggun.
Evangeline berlari menuju lantai dua, menuju kamar yang pintunya terbuka sedikit. Di sana, di atas tempat tidur yang berantakan, ia melihat Danesha sedang tidur telentang dengan sangat lelap. Dan yang membuat hati Evangeline hancur berkeping-keping adalah melihat baju Danesha yang tersampir di kursi belajar Pricillia, sementara laki-laki itu tidur hanya mengenakan kaus dalam pemandangan yang menunjukkan tingkat kenyamanan yang sangat intim.
Evangeline berbalik, menatap Pricillia yang berdiri di ambang pintu dengan senyum kecil yang mematikan.
"Kamu... kamu sengaja melakukan ini, kan?" desis Evangeline. "Kamu sengaja menjebaknya agar dia selalu bergantung padamu!"
Pricillia melangkah maju, memperkecil jarak hingga ia bisa berbisik tepat di telinga Evangeline. "Aku nggak perlu menjebak seseorang yang memang nggak pernah berniat pergi, Vang. Kamu tadi malam menawarkan tubuhmu, kan? Dan dia tetap memilih untuk tidur di pelukanku tanpa menyentuhku sama sekali. Kamu tahu artinya?"
Pricillia menjeda kalimatnya, menatap mata Evangeline yang mulai berkaca-kaca.
"Artinya, nafsu dia mungkin bisa kamu miliki sesaat. Tapi jiwanya? Jiwanya sudah lama aku kunci di kamar ini. Jadi, mau buat keributan sekarang dan bangunkan dia? Silakan. Tapi aku jamin, saat dia bangun dan melihatmu membentakku di rumahku sendiri, saat itu juga hubungan kalian berakhir."
Evangeline terdiam seribu bahasa. Dia baru menyadari bahwa kecantikan dan popularitasnya di kampus tidak ada artinya melawan sejarah dua puluh tahun yang dimiliki Pricillia.
Pricillia tertawa kecil, suara tawa yang sama dengan yang ia keluarkan di telepon semalam. "Jangan menangis, Vang. Setidaknya kamu lebih lama bertahan daripada Clarissa atau mantan Danesha yang lain. Kamu mau kopi sebelum pergi? Anggap saja ini sebagai salam perpisahan dari sahabat kecil-nya."
Setelah Evangeline pergi dengan isak tangis yang tertahan, Pricillia menutup pintu depan dengan tenang. Dia kembali ke kamar, mendekati tempat tidur, dan duduk di samping Danesha yang mulai menggeliat bangun.
"Hmm... Pris? Tadi ada suara siapa?" gumam Danesha dengan suara serak khas bangun tidur, langsung meraih tangan Pricillia dan menempelkannya di pipinya.
"Nggak ada siapa-siapa, Dan. Cuma tukang paket," bohong Pricillia dengan sangat halus.
Dia mengusap rahang Danesha dengan ibu jarinya, menatap pria itu dengan tatapan predator yang puas. "Tidur lagi aja. Gue di sini."
Danesha tersenyum, kembali memejamkan mata, merasa benar-benar aman. Dia tidak tahu bahwa baru saja, Pricillia telah menghancurkan satu lagi ancaman di hidup mereka. Dan dia sangat menikmatinya.
Siang itu, sebuah mobil mewah berhenti di halaman rumah. Papa dan Mama Hutapea baru saja mendarat dari perjalanan bisnis sekaligus cek kesehatan rutin mereka di Singapura.
Dengan koper-koper yang masih dipegang supir, mereka melangkah masuk ke dalam rumah yang suasananya selalu hangat terutama karena mereka tahu siapa yang pasti ada di dalam.
"Pris! Papa pulang!" seru Papa Hutapea sambil melepaskan jasnya.
Pricillia turun dari tangga, diikuti oleh Danesha yang hanya mengenakan kaus oblong dan celana pendek, rambutnya masih sedikit berantakan karena baru bangun tidur siang.
"Loh, Om, Tante? Sudah sampai?" Danesha menyapa dengan santai, tanpa rasa canggung sedikit pun. Dia langsung maju, menyalami tangan kedua orang tua Pricillia, bahkan memberikan pelukan singkat kepada Papa Hutapea.
Mama Hutapea tertawa, mengusap bahu Danesha dengan sayang.
"Kamu ini, Dan, nggak berubah ya. Kalau Om sama Tante nggak ada, kamu benar-benar jadi penunggu rumah ini."
"Danesha kan memang sudah jadi inventaris tetap di sini, Ma," celetuk Pricillia sambil membantu membawakan tas jinjing Mamanya.
Bagi keluarga Hutapea, kehadiran Danesha bukan lagi hal yang asing. Sejak kecil, Danesha sudah sering ikut dalam liburan keluarga mereka, makan malam bersama, bahkan punya sikat gigi sendiri di kamar tamu. Mereka sudah lama memberikan restu tak tertulis. Bagi mereka, tidak ada pria yang lebih pantas menjaga putri tunggal mereka selain Danesha.
Sambil menikmati oleh-oleh cokelat dari Singapura, mereka duduk di ruang makan. Papa Hutapea menatap Danesha dengan pandangan menyelidik namun jenaka.
"Dan, dengar-dengar di kampus lagi sibuk ngejar mahasiswi populer ya? Siapa itu... yang marganya Mantiri?" tanya Papa Hutapea sambil menyesap kopinya.
Danesha tersedak sedikit, wajahnya merona. "Eh... Om tahu dari mana?"
"Dunia ini sempit, Dan. Tapi Papa cuma mau bilang satu hal," Papa Hutapea meletakkan cangkirnya, tatapannya berubah serius namun hangat. "Mau sejauh apa pun kamu pergi, jangan lupa jalan pulang. Kamu tahu kan siapa yang selalu ada di sini buat kamu?"
Danesha melirik Pricillia yang sedang sibuk mengupas buah, lalu mengangguk pelan. "Iya, Om. Pris selalu ada buat saya."
Mama Hutapea menimpali sambil mengelus tangan Pricillia. "Tante sama Om sih sudah tenang kalau ada kamu, Dan. Kami nggak perlu khawatir meninggalkan Pricillia sendirian kalau kamu yang jaga. Tapi ya itu, jangan sampai kamu malah bikin dia sedih gara-gara perempuan lain yang cuma lewat."
Pricillia hanya tersenyum manis ke arah Mamanya. Ada sebuah pengertian rahasia yang lewat di antara mata kedua wanita itu. Mama Hutapea tahu betul perasaan putrinya, dan dia sepenuhnya berada di pihak Pricillia.
"Sudah, Ma, jangan digodain terus Danesha-nya," bela Pricillia, pura-pura bersikap dewasa. "Dan, antar Papa ke depan gih, supir butuh bantuan angkat koper yang besar."
"Siap, Tuan Putri!" Danesha bangkit dengan patuh.
Begitu Danesha menjauh, Mama Hutapea berbisik pada Pricillia. "Gimana? Si Evangeline itu sudah menyerah?"
Pricillia terkekeh pelan, sangat kontras dengan wajah polosnya di depan Danesha tadi.
"Tadi pagi dia ke sini, Ma. Mukanya kacau sekali. Sepertinya sebentar lagi Danesha bakal pulang sepenuhnya."
Mama Hutapea mengangguk puas. "Bagus. Karena Mama nggak sudi punya menantu selain Danesha, dan Papa nggak mau punya anak laki-laki selain Danesha. Biarkan saja dia main sebentar, nanti juga dia sadar kalau cuma kamu oksigennya."
Pricillia menyesap tehnya dengan tenang. Dengan dukungan penuh dari kedua orang tua dan penguasaan wilayah yang mutlak, dia tahu bahwa mahkota kemenangan sudah ada di tangannya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
masih nyimak 🤣