Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.
Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.
Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.
"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.
"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"Om?"
Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Kesadaran Queen kembali dengan rasa pening yang menghantam di balik kelopak matanya. Bau kloroform yang tajam masih tertinggal di indra penciumannya, memicu rasa mual yang tertahan.
Saat ia mencoba menggerakkan tangannya, sebuah tarikan kasar di pergelangan tangannya menyadarkannya pada kenyataan pahit, ia terikat.
Tangan mungilnya terikat ke belakang dan sebuah kain putih membungkam mulutnya, membuat setiap napas yang ia hela terdengar seperti dengusan tertahan.
Alena, dalam tubuh Queen, membuka matanya lebar-lebar. Ia tidak berada di gudang kumuh atau penjara bawah tanah. Ia berada di sebuah kamar yang sangat luas dengan langit-langit setinggi kastil, dihiasi lampu kristal yang megah.
Dindingnya dilapisi wallpaper beludru merah marun dengan bingkai emas.
Alena memicingkan mata, memindai setiap sudut memori Queen yang tersisa. Ini bukan tempat asing. Ini adalah kamar utama di sayap timur mansion Harley.
Ini adalah rumah kakek dan neneknya. Tempat di mana orang tua Queen dulu sering tertawa sebelum tragedi itu menjemput mereka. Dan sekarang, tempat ini telah berubah menjadi sangkar emas di bawah kekuasaan Sean Harley.
Cklek!
Pintu kamar terbuka perlahan. Sesosok wanita melangkah masuk. Ia membawa nampan berisi sup hangat, buah-buahan, dan beberapa cemilan cokelat yang sangat disukai anak kecil.
Begitu mata wanita itu bertemu dengan mata bulat Queen, nampan di tangannya hampir saja merosot.
"Queen?" bisik wanita itu.
Ia adalah Hyera, adik Sean. Wanita itu meletakkan nampan di meja terdekat dan berlari kecil menghampiri Queen. Dengan tangan gemetar, ia segera melepaskan ikatan kain yang membungkam mulut keponakannya.
"Mmph... Hah! Hah!" Queen menghirup udara sebanyak mungkin begitu mulutnya bebas.
"Oh, Tuhan! Ini benar-benar kau!" Hyera tidak menunggu lama. Ia langsung melepaskan ikatan tali di tangan Queen, lalu menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya yang sangat erat. "Sean bilang kau sudah mati. Dia bilang kau hilang di laut! Aku tidak menyangka, aku tidak menyangka keponakanku masih hidup!"
Hyera menangis di bahu kecil Queen. Alena tertegun. Ia bisa merasakan ketulusan dalam pelukan ini. Di dunia yang penuh pengkhianatan ini, Hyera sepertinya adalah satu-satunya anggota keluarga Harley yang masih memiliki nurani.
"Bibi tidak tahu paman Sean yang membawa Queen ke sini?" tanya Queen dengan suara serak.
Hyera melepaskan pelukannya, menangkup wajah Queen dengan kedua tangannya. Matanya yang sembab menatap Queen dengan penuh rasa bersalah.
"Aku tahu dia sedang mencari aset berharga, tapi aku tidak pernah membayangkan dia akan menculikmu kembali seperti ini. Dia sudah gila, Queen. Obsesinya pada harta peninggalan orang tuamu sudah melampaui batas kewarasan."
"Paman Sean hanya ingin otak Queen, Bi," ucap Queen datar, sorot matanya yang dewasa membuat Hyera sedikit tersentak. "Sama seperti orang lain."
"Jangan katakan itu, Sayang," Hyera mengusap rambut Queen. "Makanlah dulu. Kau pucat sekali. Aku membawakan cemilan cokelat kesukaanmu."
Queen menatap piring di depannya, lalu menatap pintu yang tertutup rapat.
"Kenapa kamar ini dikunci dari luar, Bibi? Jika Bibi menyayangi Queen, kenapa tidak biarkan Queen pergi?"
Hyera tertunduk, bahunya merosot lesu. "Aku tidak bisa, Queen. Di luar pintu ini ada empat pengawal bersenjata. Sean memberikan perintah ketat. Jika aku membantumu lari, dia tidak akan ragu-ragu untuk menyingkirkanku juga. Dia bukan lagi kakak yang kukenal."
Queen mendengus kecil, Alena dalam dirinya mulai menyusun rencana.
"Bibi, paman Sean ingin kode akses itu, kan? Dia tidak akan menyakiti Queen sebelum dia mendapatkan apa yang dia mau."
"Dia ingin kau melakukan peretasan untuknya malam ini, Queen. Dia bilang ada sebuah transaksi besar yang harus ia ambil alih. Apa kau benar-benar bisa melakukannya? Kau masih sangat kecil."
"Queen bisa melakukan lebih dari sekadar peretasan, Bibi," sahut Queen. "Tapi Queen butuh bantuan. Bisakah Bibi memberiku akses ke jaringan Wi-Fi di kamar ini? Queen ingin bermain sebentar."
Hyera mengerutkan kening. "Bermain? Di saat seperti ini?"
"Hanya itu yang bisa membuat Queen tenang, Bibi. Tolonglah," pinta Queen dengan wajah memelas yang dibuat-buat, senjata andalannya sebagai bocah.
Hyera menghela napas, lalu mengeluarkan sebuah ponsel kecil dari sakunya. "Gunakan ini. Tapi sembunyikan jika Sean masuk. Dia akan membunuhku jika tahu aku memberimu alat komunikasi."
Begitu ponsel itu berpindah tangan, Queen langsung membelakanginya. Jari-jari mungilnya bergerak dengan kecepatan luar biasa. Ia tidak mencari game. Ia mencari sinyal enkripsi milik Luca Frederick.
Luca... jika kau benar-benar menganggapku aset berharga, buktikan sekarang, batin Alena.
"Bibi," panggil Queen tanpa menoleh.
"Ya?"
"Berapa lama lagi Luca Frederick akan sampai di sini menurutmu?"
Hyera tertegun. "Luca? Kau berharap dia datang? Queen, tempat ini adalah benteng. Sean sudah menyiapkan ratusan anak buah. Jika Luca datang, ini akan menjadi ladang pembantaian."
"Dia pasti akan datang," ucap Queen dengan keyakinan yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri. "Dan saat dia datang, Bibi harus berada di pihak yang benar."
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar dari lorong. Hyera segera berdiri tegak, wajahnya kembali kaku karena takut.
"Dia datang," bisik Hyera. "Sembunyikan ponselnya!"
Queen menyelinapkan ponsel itu di bawah bantal tepat saat pintu terbuka. Sean Harley melangkah masuk dengan senyum kemenangan yang memuakkan di wajahnya.
"Keponakanku tersayang!" seru Sean, merentangkan tangannya seolah-olah ia adalah paman yang penuh kasih. "Bagaimana tidurnya? Nyenyak? Maaf soal cara menjemputmu yang sedikit kasar, tapi kau tahu... Luca Frederick adalah orang yang sulit diajak berkompromi."
Queen hanya diam, menatap Sean dengan pandangan yang membuat pria itu merasa sedikit tidak nyaman.
"Kenapa diam saja? Hyera, apa kau sudah memberinya makan?" tanya Sean tanpa menoleh pada adiknya.
"Sudah, Kak," jawab Hyera.
"Bagus. Karena setelah ini, Queen, kau punya pekerjaan besar. Kau akan membuka pintu yang selama ini dikunci oleh ayahmu. Dan jika kau menolak..." Sean mendekati tempat tidur, mencondongkan wajahnya ke arah Queen. "...aku akan memastikan Luca Frederick melihat kepalamu di atas nampan besok pagi."
Queen tersenyum. Bukan senyum ketakutan, melainkan senyum tipis yang penuh rahasia. "Paman terlalu banyak bicara. Kenapa tidak cek dulu sistem keamanan gerbang depan?"
Sean menyipitkan mata. "Apa maksudmu?"
Boom!
Tiba-tiba, sebuah ledakan besar terdengar dari kejauhan, membuat seluruh mansion Harley bergetar. Suara sirine tanda bahaya terdengar di seluruh penjuru mansion.
lelaki remaja dgn anak balita 😁😁😁