Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.
Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.
Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.
Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.
Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Sang Guru
Gudang Pelabuhan Sektor 7.
Hujan deras menyamarkan suara musik bass berat yang berdentum dari dalam gudang tua itu. Dari luar, tempat ini tampak seperti rongsokan industri yang ditinggalkan. Namun, bagi mereka yang memegang "tiket hitam", ini adalah koloseum modern.
Jay melangkah melewati penjagaan ketat. Ia mengenakan topeng setengah wajah berwarna putih polos tanpa ekspresi menutupi hidung hingga dahinya, hanya menyisakan mulut dan rahang tegasnya yang terlihat.
"Satu penonton masuk," lapor penjaga berbadan raksasa ke earpiece nya setelah memindai kartu yang diberikan Vanko.
Pintu baja berat bergeser terbuka.
Gelombang suara teriakan, aroma keringat, alkohol murah, dan bau besi darah langsung menerjang indra penciuman. Di tengah gudang luas itu, sebuah sangkar besi oktagon (segi delapan) berdiri diterangi lampu sorot yang menyilaukan.
Di dalam sangkar, dua manusia sedang saling menghancurkan.
Jay berdiri di balkon lantai dua, tempat para VIP dan pengamat berdiri dalam bayang-bayang. Matanya bukan menatap darah yang muncrat, melainkan menatap teknik.
Di bawah sana, seorang petarung bertubuh kecil sedang didesak oleh lawan yang dua kali lebih besar. Namun, saat si raksasa melayangkan tinju kanan, si kecil menunduk, memutar pinggul, dan menyapu kaki lawan dengan sudut 45 derajat yang sempurna.
Brak!
Raksasa itu jatuh. Si kecil langsung mengunci leher lawan dengan teknik cekikan guillotine.
"Hancurkan dia!" teriak penonton haus darah.
Namun, di balik topengnya, Jay mengernyitkan dahi.
"Sikunya terlalu terbuka. Kuda-kudanya kurang rendah dua sentimeter. Jika lawannya punya pisau di sepatu, dia sudah mati," batin Jay mengkritisi.
Itu bukan pikiran seorang penonton. Itu adalah pikiran seorang Guru.
Selain identitas rahasianya sebagai Panglima Zero yang hanya diketahui segelintir Presiden dan Jenderal Bintang Lima, Jay memiliki reputasi lain yang lebih "membumi" di kalangan prajurit akar rumput.
Selama sepuluh tahun, ia menjabat sebagai Kepala Instruktur Taktis di Kamp Pelatihan Neraka.
Ia adalah orang yang merancang kurikulum pertarungan jarak dekat (CQC) yang kini dipakai oleh seluruh pasukan khusus Negara Arvanta. Ribuan perwira, mulai dari letnan hingga kolonel yang kini memimpin pasukan, pernah merasakan "didikan kasih sayang" berupa patah tulang dan muntah darah di tangan Jay.
Bagi para elit militer itu, Jay bukan sekadar atasan. Dia adalah 'Ayah' yang mengajarkan mereka cara bertahan hidup. Loyalitas mereka pada Jay bersifat fanatik, melebihi loyalitas pada bendera negara.
"Teknik militer standar," suara seorang pria terdengar di samping Jay.
Jay menoleh sedikit. Seorang pria berjas rapi dengan pin emas berbentuk matahari hitam di lapel jasnya berdiri di sana. Seorang perekrut Black Sun.
"Anak itu," tunjuk si perekrut pada pemenang di ring. "Dia mantan Kopral di Unit 303. Dipecat karena insubordinasi. Sayang sekali, potensinya besar."
"Tekniknya kasar," komentar Jay dingin. "Dia ragu saat mengunci. Instrukturnya pasti gagal mengajarinya tentang 'niat membunuh'."
Si perekrut tertawa kecil. "Kau bicara seolah kau paham standar militer, Tuan Topeng Putih. Tapi kau benar. Standar militer kita menurun sejak 'Sang Legenda' pensiun tiga tahun lalu."
Jay diam.
"Kau tahu ceritanya?" lanjut si perekrut, mencoba basa-basi. "Dulu, ada satu instruktur hantu di kamp pelatihan utara. Tidak ada yang tahu nama aslinya. Para prajurit hanya memanggilnya 'Instruktur Z'. Kabarnya, dia bisa melumpuhkan satu peleton dengan tangan kosong dalam simulasi gelap gulita. Jika dia masih ada, Black Sun pasti akan membayar triliunan untuk merekrutnya."
Jay menatap ke arah ring. "Aku tidak mendidik mereka untuk menjadi anjing aduan di tempat sampah seperti ini," batinnya kecewa melihat mantan anak didiknya bertarung demi uang judi.
Tiba-tiba, lampu sorot utama berubah warna menjadi merah darah.
Suara pembawa acara menggema lewat pengeras suara.
"Hadirin sekalian! Malam ini kita kedatangan tamu istimewa! Sang Juara Bertahan dari Distrik Selatan... THE BUTCHER (TUKANG JAGAL!)"
Pintu sangkar terbuka. Seorang pria setinggi dua meter dengan otot seperti beton masuk. Ia menyeret sebuah gada besi berduri.
"Dan penantangnya... Siapa pun yang berani masuk ke dalam sangkar ini dan bertahan selama 3 menit, akan mendapatkan hadiah 1 Miliar Tunai!"
Hening. Tidak ada yang berani turun. The Butcher dikenal suka mematahkan tulang belakang lawannya dan menjadikannya cacat permanen.
Si perekrut di samping Jay menggeleng. "Tidak ada yang bodoh. Kecuali ada orang gila yang butuh uang cepat."
Jay melihat ke arah Vanko yang berdiri di sudut seberang. Vanko memberikan kode tangan kecil: Targetmu ada di ruang VIP kaca di atas ring.
Jay melihat ke arah ruang kaca itu. Ada sosok bayangan yang duduk di sana, mengamati arena. Itu petinggi Black Sun. Satu-satunya cara mendekati ruang kaca itu adalah dengan memenangkan pertarungan dan diundang masuk.
Jay menghela napas panjang. Ia membuka kancing jaket hoodie nya.
"Pegang ini," kata Jay, melempar jaketnya ke arah si perekrut yang kaget.
"Hah? Kau mau ke mana?"
Jay melompati pagar pembatas balkon, terjun bebas setinggi lima meter, dan mendarat dengan mulus di tengah sangkar baja tanpa suara sedikit pun. Debu di lantai bahkan tidak beterbangan.
Pendaratan yang sempurna. Pendaratan seorang master.
Seluruh arena hening sejenak, lalu meledak dalam sorakan.
Jay berdiri tegak di hadapan The Butcher. Di balik topeng putihnya, mata sang Instruktur menatap lawannya bukan sebagai musuh, tapi sebagai materi ujian.
"Pelajaran pertama," gumam Jay pelan, hanya untuk dirinya sendiri. "Ukuran tubuh hanyalah target yang lebih besar."
Sementara itu, 500 Kilometer di Utara. Pangkalan Militer Kamp Serigala Hitam (Markas Pasukan Khusus Elit).
Angin malam di perbatasan utara menusuk tulang. Di tengah lapangan upacara yang luas, ribuan prajurit baret merah berdiri tegap dalam formasi sempurna. Hening, disiplin, dan mematikan.
Di atas podium, diterangi lampu sorot, berdiri seorang pria tegap dengan seragam Kolonel penuh lencana. Wajahnya keras, dihiasi bekas luka memanjang dari mata kiri hingga pipi.
Ini adalah Kolonel Dante, Komandan Pasukan Khusus saat ini. Salah satu orang paling ditakuti di militer.
"Kalian pikir kalian sudah hebat?!" teriak Dante, suaranya menggelegar tanpa microphone. "Kalian pikir karena sudah lulus seleksi neraka minggu ini, kalian sudah jadi prajurit terbaik?!"
"TIDAK, PAK!" jawab ribuan prajurit serempak.
Dante berjalan mondar-mandir di podium. Matanya menatap para prajurit baru itu dengan tatapan meremehkan.
"Dulu..." Dante memelankan suaranya, menciptakan suasana sakral. "Dulu, aku pernah merasa hebat sepertimu. Sampai aku bertemu Beliau."
Dante berhenti di depan sebuah tiang bendera kosong. Bukan bendera negara, melainkan tiang tempat biasanya lambang kesatuan digantung.
"Instrukturku... Komandanku... Dia tidak pernah membawa senjata api saat latihan. Dia hanya membawa ranting pohon. Dan dengan ranting itu, dia mengalahkan kami satu kompi bersenjata lengkap dalam waktu sepuluh menit."
Para prajurit baru menelan ludah. Legenda itu lagi.
"Dia mengajarkan kami bahwa rasa sakit hanyalah informasi. Bahwa menyerah adalah satu-satunya kecacatan sejati," lanjut Dante, matanya berkaca-kaca karena rasa hormat yang mendalam.
Dante berbalik menghadap pasukannya, mengangkat tangan kanannya membentuk hormat militer ke arah kursi kosong di tengah podium kursi yang sengaja dibiarkan kosong sebagai simbol penghormatan abadi.
"Namanya tidak tertulis di buku sejarah. Wajahnya adalah rahasia negara. Tapi darah keberanian yang mengalir di nadi kalian sekarang... adalah warisan darinya."
"Panglima Zero mungkin sudah pensiun. Dia mungkin sudah menghilang menjadi debu," teriak Dante berapi-api. "Tapi ingat ini! Jika suatu hari dia memanggil... jika suatu hari Sang Guru membutuhkan pedangnya kembali..."
Dante menghunus pisau komandonya, mengangkatnya ke udara.
"APAKAH KALIAN SIAP MENJAWAB PANGGILANNYA?!"
"SIAP! DARAH DAN NYAWA! UNTUK ZERO!"
Teriakan ribuan prajurit itu mengguncang langit malam perbatasan, menciptakan gema yang mengerikan.
Dante tersenyum tipis. Ia tahu, di mana pun Sang Guru berada sekarang, pasukannya selalu setia menunggu perintah. Satu jentikan jari dari Jay Ares, dan kudeta militer bukanlah hal yang mustahil.
"Semoga Anda baik-baik saja, Komandan," bisik Dante pada angin malam. "Kami merindukanmu."