Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: TAMU TAK DI UNDANG
"Wah, wah! Lihat itu! Dia melihat ke arah kita, Val!" Karin berbisik heboh sambil bersembunyi di balik buku menunya. "Apa aku melakukan kesalahan? Kenapa dia menatap kita seperti ingin memenjarakan kita berdua? Ayo cepat habiskan ramenmu, sebelum dia datang dan menanyakan dasar hukum kita makan di sini!"
Valerie hanya bisa mengangguk pasrah, sementara hatinya bergejolak. Ia merasa ada ikatan rahasia yang manis sekaligus mendebarkan saat ia dan Revan bersikap seolah tak kenal di depan umum, padahal tadi pagi pria itu sempat mengecup keningnya sebelum ia berangkat.
Malam Hari – Apartemen
Revan baru kembali pukul sembilan malam. Ia mendapati Valerie sedang merapikan belanjaan cat minyaknya di ruang tengah. Revan melepaskan jam tangannya dan mendekat, berdiri tepat di depan kantong belanjaan Valerie.
"Menyenangkan jalan-jalan dengan temanmu?" suara Revan rendah, terdengar sedikit nada... cemburu?
"Sangat menyenangkan, Mas. Karin sangat lucu. Dia terus membicarakanmu sepanjang hari," jawab Valerie jujur.
Revan menyipitkan mata. "Membicarakan apa?"
"Dia bilang kau adalah 'Iblis Pemangsa Nilai'. Dan dia kasihan pada istrimu karena pasti hidupnya seperti di penjara militer," Valerie menatap Revan dengan binar jenaka di matanya.
Revan terdiam, lalu perlahan ia melangkah maju, memperkecil jarak hingga Valerie terdesak ke meja. Ia meletakkan kedua tangannya di sisi tubuh Valerie, mengurung gadis itu.
"Jadi... apa istriku merasa sedang di penjara militer sekarang?" tanya Revan, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Valerie.
Valerie menelan ludah. Keberaniannya yang tadi muncul karena candaan Karin seketika menguap berganti dengan debaran jantung yang tak keruan. "Tidak. Istrimu merasa... dia sedang berada di tempat paling aman di dunia."
Revan menatap bibir Valerie yang sedikit terbuka, lalu beralih ke matanya yang bening. Ia bisa melihat bayangan dirinya di sana. Revan tidak bisa lagi menahan diri. Ia menunduk dan mencium puncak kepala Valerie dengan lama, menghirup aroma cat dan sampo buah yang selalu menjadi candunya.
"Jangan pernah terlambat pulang lagi, Erie. Tiga jam tanpamu di apartemen ini... rasanya terlalu sunyi," bisik Revan serak.
Sore itu, langit mendung menggantung di atas Jakarta. Valerie baru saja menyelesaikan kelas studionya ketika Karin tiba-tiba merangkul bahunya dengan semangat yang berlebihan.
"Val! Karena hari ini mendung dan aku sedang malas pulang ke kosan yang sempit, bagaimana kalau aku main ke apartemenmu? Kita bisa pesan martabak sambil lanjut mengerjakan sketsa anatomi!"
Jantung Valerie seolah berhenti berdetak. "Eh? Ta-tapi Karin... apartemenku sedang sangat berantakan. Masih banyak tumpukan cat yang belum kering di lantai!"
"Alasan! Aku tidak peduli mau berantakan atau tidak. Ayo, aku penasaran sekali bagaimana rupa 'istana' mahasiswi Seni sepertimu!" Karin langsung menarik tangan Valerie menuju area parkir taksi, tidak memberi celah untuk protes.
Di dalam taksi, Valerie berkeringat dingin. Ia segera mengetik pesan singkat dengan tangan gemetar di bawah tasnya.
[MAS! JANGAN PULANG DULU! KARIN NEKAT MAU KE APARTEMEN! TOLONG BERESKAN SEMUA BARANG-BARANGMU! KAMI SUDAH DI JALAN!]
Satu menit, dua menit... tidak ada balasan. Revan mungkin sedang berada di tengah persidangan atau rapat senat.
Apartemen – Menit ke-0
Begitu pintu apartemen terbuka, Valerie berdoa dalam hati agar rumah itu kosong. Beruntung, lampu ruang tengah masih padam. Revan belum pulang. Namun, masalah besarnya adalah jejak keberadaan Revan ada di mana-mana.
"Wah! Apartemenmu luas sekali, Val! Gila, ini sih bukan kelas mahasiswi, ini kelas sosialita!" Karin mulai berkeliling dengan mata berbinar. "Tapi... tunggu, kenapa aroma ruangannya maskulin sekali? Seperti bau parfum bapak-bapak dosen..."
Valerie tertawa kaku, suaranya naik satu oktav. "Itu... itu pengharum ruangan aroma Sandalwood! Sedang tren untuk menenangkan pikiran saat melukis!"
"Oh, begitu?" Karin mulai mendekati meja kerja di sudut ruangan. "Lalu, kenapa ada kacamata baca pria di sini?"
Valerie segera menyambar kacamata Revan dan memasukkannya ke dalam saku. "Itu kacamata anti radiasi milikku! Modelnya memang sedang tren yang oversized!"
"Val, kau aneh sekali hari ini," Karin menyipitkan mata, lalu pandangannya tertuju pada satu-satunya pintu kamar yang tertutup rapat. "Itu kamarmu, kan? Aku mau titip charge HP dan sekalian numpang salat ya!"
"JANGAN!" Valerie menghadang pintu kamar dengan tubuhnya. Ia ingat betul, di dalam sana, pakaian Revan dan pakaiannya tergantung di lemari yang sama. Bahkan ada foto pernikahan rahasia mereka di nakas.
"Karin, tunggu sebentar! Di dalam... ada kecoa besar sekali! Aku harus menyemprotnya dulu, nanti kau malah pingsan!" Valerie masuk ke kamar dan membanting pintu, menguncinya dari dalam.
Valerie bergerak seperti kilat. Ia menyambar jam tangan mewah Revan, dasi yang tergeletak di kasur, dan buku hukum tebal di nakas, lalu melempar semuanya ke dalam lemari. Ia merapikan bantal, mencoba menyamarkan bekas kepala Revan di sisi tempat tidur sebelah kanan.
Tiba-tiba, jendela balkon kamar terbuka pelan. Sosok pria jangkung dengan kemeja hitam yang sedikit berantakan muncul dari sana. Revan!
"Mas! Kau lewat mana?!" bisik Valerie setengah berteriak.
"Bimo melihat kalian di lobi. Aku naik lewat tangga darurat dan menyeberang dari balkon ruang kerja," jawab Revan dengan napas sedikit tersengal. Wajahnya yang kaku tampak sangat kontras dengan situasi konyol ini.
"Valerie? Kau bicara dengan siapa di dalam?" suara Karin terdengar dari balik pintu, diikuti putaran kenop yang terkunci.
Valerie panik luar biasa. Ia mendorong Revan ke arah kamar mandi di dalam kamar. "Mas, sembunyi di kamar mandi! Jangan keluar sampai aku bilang aman!"
"Erie, ini apartemenku sendiri, kenapa aku harus..."
"Mas, tolong!" Valerie memelas dengan mata berkaca-kaca.
Revan menghela napas panjang, tampak sangat terhina secara martabat namun akhirnya luluh. Ia masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya tepat saat Valerie membuka pintu kamar untuk Karin.
Karin masuk dan mengendus udara. "Val... kenapa bau kecoanya mirip parfum Pak Revan?"
"Itu... semprotan serangganya aroma Woody!" Valerie mencoba mengalihkan perhatian dengan membentangkan sajadah.
Karin duduk di tepi tempat tidur. Tiba-tiba, matanya tertuju pada sebuah benda di bawah ujung tempat tidur yang tidak sempat disembunyikan Valerie: Sepatu kulit pria ukuran besar.
"Valerie," suara Karin mendadak serius. Ia mengambil sepatu itu. "Jangan bilang kau menyembunyikan pria di sini. Dan melihat dari merek sepatunya... ini sepatu mahal yang sering dipakai para pria berwibawa."
Valerie membeku. Sebelum ia sempat menjawab, ponsel yang tertinggal di atas meja rias bergetar hebat. Bukan ponsel Valerie, melainkan ponsel Revan yang tertinggal. Di layarnya muncul notifikasi panggilan masuk: [BIMO - URGENT].
Karin meraih ponsel itu. "Ponsel ini... kenapa wallpaper-nya foto punggungmu saat melukis, Val?"
Tepat saat itu, terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Revan sengaja menyalakan keran agar suasana tidak terlalu hening, namun hal itu justru membuat Karin semakin curiga.
"Ada orang di kamar mandi?" Karin melangkah menuju pintu kamar mandi. "Val, kau sedang menyembunyikan siapa?!"