NovelToon NovelToon
DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tama Dias

Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5~Antara janji dan waktu

Waktu terasa berjalan cepat.

Seolah baru kemarin aku dan Raka pertama kali bicara di taman sekolah, dan sekarang sudah hampir akhir semester. Taman hidroponik kami yang dulu cuma sekadar proyek kecil, kini tumbuh subur di belakang sekolah — jadi tempat favorit banyak siswa buat duduk santai.

Semua berjalan baik… sampai pagi itu.

Raka datang ke sekolah agak terlambat, dengan ekspresi yang tidak seperti biasanya. Biasanya dia selalu tersenyum atau minimal menyapa singkat, tapi hari itu dia hanya duduk diam di kelas, menatap kosong ke arah papan tulis.

Aku menghampirinya saat jam istirahat. “Raka, kamu kenapa?”

Dia menatapku lama, seolah sedang mencari kata yang tepat. “Ly, aku mau ngomong sesuatu.”

Nada suaranya serius, dan itu bikin dadaku ikut tegang. “Ngomong apa?” tanyaku pelan.

“Aku… mungkin harus pindah sekolah.”

Dunia seperti berhenti berputar. “Apa?”

“Papa dipindahkan kerja ke Surabaya. Dan kayaknya aku harus ikut.”

Aku tidak langsung menjawab. Yang bisa aku lakukan cuma menatapnya, berusaha memastikan kalau dia nggak sedang bercanda. Tapi tatapannya jujur — terlalu jujur untuk dianggap lelucon.

“Kapan?” tanyaku akhirnya.

“Minggu depan.”

Aku terdiam. Cuma seminggu. Seminggu buat mencerna kenyataan bahwa orang yang selama ini jadi bagian dari hari-hariku… akan pergi.

Hari-hari setelah itu berjalan seperti mimpi yang cepat. Kami berusaha bersikap biasa, tapi ada jarak tak terlihat di antara kami. Setiap kali aku menatapnya, aku merasa waktu berjalan terlalu cepat.

Di taman hidroponik, kami duduk berdua setelah jam pelajaran selesai. Suasana sore itu tenang, hanya suara gemericik air dan burung di kejauhan.

“Aku nggak mau pergi,” katanya tiba-tiba.

Aku menatapnya. “Tapi kamu harus, kan?”

Dia mengangguk pelan. “Iya. Tapi rasanya… berat banget. Aku baru nemuin sesuatu yang penting di sini, terus harus ninggalin.”

Aku tahu apa maksudnya. Tapi aku juga tahu aku nggak boleh egois. “Raka, kamu harus ikut orang tua kamu. Itu tanggung jawab juga.”

Dia menghela napas. “Aku tahu. Tapi aku nggak janji bisa nggak kangen kamu.”

Aku tersenyum kecil, menatap daun selada yang tumbuh subur di pot. “Nanti kalau kamu kangen, liat aja tanaman kayak gini. Ingat aku.”

Dia tertawa pelan. “Oke, tapi itu berarti aku bakal inget kamu tiap hari.”

“Bagus dong,” jawabku pura-pura santai. Tapi dalam hati, aku sedang menahan air mata.

Beberapa hari kemudian, sekolah seperti tahu suasana hatiku. Ujian, tugas, dan gosip semua terasa nggak penting lagi. Satu-satunya hal yang kupikirkan hanyalah bagaimana caranya memanfaatkan waktu yang tersisa.

Di hari terakhirnya di sekolah, Raka menemuiku di depan taman hidroponik. Kami berdiri di antara deretan tanaman hijau yang tumbuh rapi — hasil kerja kami berdua.

“Ly,” katanya sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah gelang anyaman sederhana, warna hijau tua dengan manik kecil di tengah. “Aku bikin ini buat kamu. Dari tali taman yang sisa waktu proyek dulu.”

Aku mengambilnya pelan. “Buat apa?”

“Supaya kamu inget aku. Dan supaya aku punya alasan buat balik.”

Aku memandang gelang itu lama, lalu mengenakannya di pergelangan tangan. “Janji, ya? Kamu balik.”

Dia tersenyum kecil. “Janji.”

Lalu dia menatapku dengan mata yang tenang tapi penuh makna. “Kamu tahu, Ly… waktu pertama dijodohin, aku pikir ini cuma permainan orang dewasa. Tapi setelah kenal kamu, aku sadar — beberapa hal memang udah ditulis jauh sebelum kita tahu.”

Aku berusaha menahan air mata. “Kamu ngomongnya kayak film aja.”

Dia tertawa kecil. “Tapi kamu tahu kan, aku serius?”

Aku mengangguk pelan. “Aku tahu.”

Hening sesaat. Angin sore berembus, membuat daun-daun bergetar lembut.

“Raka,” panggilku pelan. “Kalau nanti kamu ketemu orang lain di sana, yang lebih baik dari aku… kamu bakal gimana?”

Dia menatapku dalam, tanpa senyum kali ini. “Aku nggak nyari yang lebih baik. Aku nyari yang bisa bikin aku ngerasa kayak waktu bareng kamu.”

Aku menggigit bibir, berusaha keras menahan tangis.

“Dan kalau aku nggak nemu,” lanjutnya, “berarti aku tahu siapa yang harus kucari balik.”

Kata-kata itu menancap dalam di dadaku.

Keesokan harinya, Raka benar-benar pergi. Pagi-pagi sekali, aku berdiri di depan gerbang sekolah, melihat mobil keluarganya melaju perlahan keluar. Dia sempat menurunkan kaca jendela dan melambaikan tangan.

Senyumnya masih sama — tenang, hangat, tapi kali ini ada sedikit perpisahan di dalamnya.

Aku tersenyum balik, meski mataku basah.

“Selamat jalan, Raka,” bisikku pelan. “Sampai ketemu lagi.”

Hari-hari berikutnya terasa sunyi. Aku masih datang ke sekolah, masih melewati taman hidroponik kami setiap pagi, tapi rasanya ada yang hilang.

Lina kadang mencoba menghiburku. “Tenang aja, Ly. Kalau jodoh, pasti ketemu lagi.”

Aku hanya tersenyum. “Iya, mungkin.”

Tapi di malam-malam sepi, aku masih sering menatap gelang hijau di pergelangan tanganku. Setiap kali aku memutar maniknya, aku bisa mendengar suara Raka di kepalaku:

|“Aku janji bakal balik.”

Dan entah kenapa, aku percaya.

Dua bulan berlalu. Aku mulai terbiasa tanpa Raka di sekolah. Hidup terus berjalan — ujian akhir, kegiatan ekstrakurikuler, semua terasa normal lagi. Tapi setiap kali ada pesan masuk, aku selalu berharap itu darinya.

Sampai suatu malam, saat aku sedang belajar, ponselku bergetar.

Satu pesan baru muncul di layar.

|Raka: “Hei, calon partner proyek. Tebak siapa yang akan pindah balik bulan depan?”

Tanganku langsung gemetar.

|Alya: “Kamu serius?!”

|Raka: “Iya. Papa pindah lagi ke Jakarta. Kayaknya… takdir nggak mau kita kejauhan.”

Aku menatap layar ponsel sambil tersenyum lebar. Pipiku panas, mataku berkaca-kaca, tapi kali ini karena bahagia.

|Alya: “Kamu inget janjimu.”

|Raka: “Aku kan bilang, aku nggak akan lupa.”

Malam itu, aku memandangi gelang hijau di tanganku sekali lagi.

Dan untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, aku merasa tenang.

Mungkin memang benar — beberapa pertemuan bukan sekadar kebetulan.

Beberapa hati memang ditakdirkan untuk saling menemukan… bahkan setelah waktu memisahkan.

✨ Bersambung ke Bab 6

1
dias lobers
baguss
dias lobers
gimana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!