"Kau hanyalah pemeran pengganti dalam hidupku, Shena. Jangan bermimpi lebih!"
Shena berhenti bermimpi dan memilih pergi. Tapi justru saat itulah, Devan baru menyadari bahwa rumahnya terasa mati tanpa suara Shena. Sang CEO arogan itu kini rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon satu kesempatan kedua.
Bagaimana jadinya jika sang pembenci justru berubah menjadi pemuja yang paling gila? Masih adakah tempat untuk Devan di hati Shena yang sudah beku di Hati nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB Devan Menemukan Sarah
Malam perayaan ulang tahun pernikahan emas Kakek dan Nenek Adiguna tiba dengan kemegahan yang mengintimidasi. Hotel berbintang milik keluarga itu disulap menjadi ruang dansa bergaya klasik dengan ribuan lampu kristal yang memantulkan cahaya keemasan. Bagi Shena, ini bukan sekadar pesta; ini adalah panggung sandiwara di mana satu kesalahan kecil saja bisa menghancurkan martabatnya—dan mungkin nyawa ayahnya.
Di dalam kamar mewah yang disediakan hotel untuk mereka bersiap, Shena berdiri di depan cermin besar. Gaun biru dongker pilihan Devan melekat sempurna di tubuhnya, mempertegas lekuk tubuhnya yang anggun namun tetap sopan. Krim yang diberikan Devan bekerja dengan ajaib; memar di lengannya telah memudar menjadi warna samar yang mudah ditutupi dengan sedikit concealer.
Pintu kamar terbuka. Devan melangkah masuk dengan setelan tuxedo hitam yang membuatnya tampak seperti pangeran dari negeri dongeng—dingin, tampan, dan tak terjangkau. Langkah kakinya terhenti tepat di belakang Shena. Untuk beberapa detik, ruangan itu diselimuti keheningan. Mata Devan yang biasanya tajam dan menghakimi, kini terpaku pada pantulan Shena di cermin.
"Kau..." Devan menggantung kalimatnya. Ada kilatan kekaguman yang ia tekan dalam-dalam. "Kau terlihat cukup pantas untuk menyandang nama Adiguna malam ini."
Shena berbalik, memberikan senyum tipis yang tulus. "Terima kasih, Mas. Kau juga terlihat sangat tampan."
Devan berdeham, mencoba mengalihkan kegugupannya yang mendadak. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil dari sakunya. Di dalamnya terdapat sebuah kalung safir yang berkilau mewah. Tanpa kata, ia mendekat dan melingkarkan kalung itu di leher Shena. Sentuhan jari Devan yang dingin di kulit lehernya membuat Shena merinding, namun ia tetap diam.
"Ingat," bisik Devan tepat di telinganya, "jangan lepaskan genggaman tanganku. Di luar sana, kita adalah pasangan paling bahagia di dunia."
Saat mereka memasuki ruang dansa, perhatian seluruh tamu langsung tertuju pada mereka. Devan Adiguna, sang pewaris tunggal yang dikenal dingin, berjalan dengan posesif sambil merangkul pinggang seorang wanita cantik yang namanya hampir tidak pernah terdengar di kalangan sosialita.
"Devan! Akhirnya kau membawa istrimu!" Kakek Adiguna, seorang pria tua dengan wibawa yang masih sangat kuat, menyambut mereka dengan tawa lebar. Di sampingnya, Nenek Adiguna menatap Shena dengan mata menyelidik.
Shena membungkuk hormat dengan gerakan yang sangat halus. "Selamat malam, Kakek, Nenek. Suatu kehormatan bagi saya bisa hadir di hari bahagia ini."
Selama satu jam berikutnya, Shena menghadapi hujan pertanyaan dari bibi-bibi dan sepupu Devan yang sinis. Mereka mencoba memancing asal-usulnya, namun dengan kecerdasan dan ketenangan yang luar biasa, Shena menjawab semuanya dengan diplomatis. Ia tidak terlihat seperti wanita yang dinikahi karena hutang; ia terlihat seperti wanita yang memang dilahirkan untuk berada di samping Devan.
Devan yang berdiri di sampingnya tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Ia memperhatikan bagaimana Shena tertawa kecil saat menanggapi lelucon kakeknya, dan bagaimana wanita itu dengan sigap mengambilkan minum untuk neneknya sebelum diminta.
“Dia berbeda,” batin Devan. “Sarah selalu mengeluh jika harus berlama-lama dengan keluarga besarku yang kaku, tapi Shena... dia seolah menyatu dengan mereka.”
Di tengah kemeriahan itu, ponsel di saku Devan bergetar. Ia menepi sejenak ke sudut ruangan yang lebih sepi untuk membacanya.
(Sekretaris):
"Pak, konfirmasi terakhir. Sarah tidak hanya berada di London. Dia sedang dalam penerbangan menuju Jakarta malam ini. Dia meninggalkan apartemennya dengan terburu-buru setelah mengetahui tim kita melacaknya. Dia akan mendarat besok pagi."
Dunia Devan seolah berhenti berputar. Sarah akan pulang? Wanita yang ia cari selama setahun ini, wanita yang membuatnya menciptakan pernikahan pengganti ini, akan kembali besok pagi? Jantungnya berdegup kencang, antara rasa rindu yang meluap dan rasa cemas yang tak beralasan.
Ia menoleh ke arah kerumunan, mencari sosok Shena. Ia melihat Shena sedang berbicara dengan Nenek Adiguna. Neneknya tampak memegang tangan Shena dengan sayang—sebuah pemandangan yang belum pernah terjadi pada kekasih-kekasih Devan sebelumnya.
Namun, amarah dan obsesi masa lalu Devan kembali menguasai pikirannya. Jika Sarah kembali, maka peran Shena harus berakhir.
Saat pesta berakhir dan mereka kembali ke mobil, suasana berubah drastis. Devan tidak lagi menggandeng tangan Shena. Ia duduk bersandar di kursi belakang dengan wajah yang gelap dan rahang yang mengeras.
"Mas, apa ada yang salah?" tanya Shena lembut, merasakan perubahan suhu emosi suaminya.
Devan menoleh, menatap Shena dengan tatapan yang sangat dingin—lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. "Besok, kau tidak perlu lagi menyiapkan sarapan untukku. Dan jangan lagi mencoba menjilat keluarga besarku."
Shena tertegun. "Apa maksudmu, Mas? Bukankah tadi semuanya berjalan lancar?"
"Semuanya berjalan terlalu lancar sampai kau lupa posisi kau yang sebenarnya," Devan mendesis. "Sarah akan kembali besok. Permainan rumah tangga kecilmu ini... sudah selesai."
Kalimat itu menghujam jantung Shena lebih dalam dari sembilu mana pun. Senyum yang ia pertahankan sepanjang malam runtuh seketika. Ia menatap keluar jendela mobil, melihat lampu-lampu jalanan yang kabur karena air mata yang mulai menggenang.
"Begitu rupanya," bisik Shena nyaris tak terdengar. "Pemilik rumah yang asli sudah pulang, jadi penyewa sementara harus bersiap angkat kaki."
Devan tidak menjawab. Ia merasa menang, namun hatinya justru terasa kosong saat melihat bahu Shena yang bergetar kecil karena menahan tangis dalam diam.
Keheningan di dalam mobil mewah itu mendadak terasa mencekik. Kalimat Devan tentang kembalinya Sarah seolah-olah merenggut seluruh oksigen yang tersisa. Shena memalingkan wajah dari jendela, menatap Devan yang masih sibuk dengan ponselnya, seolah keberadaan Shena di sampingnya sudah benar-benar terhapus oleh satu pesan singkat itu.
"Jadi selama ini..." Shena membuka suara, suaranya bergetar namun ada nada ketegasan yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Selama ini kau terus mencarinya, Mas? Kau mengerahkan tim, melacaknya sampai ke London, sementara kau menikahiku?"
Devan tidak menoleh. Jari-jarinya bergerak cepat di atas layar, kemungkinan besar sedang membalas pesan Rian. "Itu bukan urusanmu. Sudah kukatakan, kau hanya pengganti sampai dia ditemukan. Sekarang dia sudah ditemukan. Sederhana, bukan?"
"Sederhana?" Shena tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar seperti pecahan kaca. "Mas, dia meninggalkanmu setahun yang lalu. Dia pergi tanpa kabar, meninggalkanmu di altar, mempermalukan keluargamu, dan membuatmu menjadi pria yang penuh kebencian. Kau mencarinya seolah dia adalah harta yang hilang, padahal dia adalah orang yang dengan sadar membuangmu!"
Mendengar itu, Devan tersentak. Ia menoleh dengan tatapan yang menyala-nyala karena amarah. "Jaga mulutmu, Shena! Kau tidak tahu apa-apa tentang kami. Kau tidak tahu apa yang kami lalui!"
"Aku tahu satu hal," potong Shena, air matanya kini mengalir deras, namun ia tidak menunduk. Ia menatap langsung ke dalam mata gelap Devan. "Aku tahu bahwa selama berminggu-minggu ini, aku adalah orang yang mengobati lukamu. Aku yang menyiapkan kopimu, aku yang merawatmu saat kau mabuk dan hancur, dan aku yang tadi berdiri di sana dipuji oleh kakekmu karena aku menjaga martabatmu!"
Shena menarik napas panjang, dadanya sesak. "Apakah kau sebegitu butanya? Kau mencari wanita yang meninggalkanmu, sementara kau menghancurkan wanita yang ada di depan matamu. Kau mengejar bayangan yang sudah lari, sementara kau membuang seseorang yang memilih untuk tinggal meski kau perlakukan seperti sampah!"
"Cukup!" bentak Devan. "Kau hanya pion, Shena! Jangan pernah merasa kau lebih dari itu. Sarah kembali berarti hutang ayahmu lunas dan tugasmu berakhir. Bukankah itu yang kau inginkan? Kebebasanmu?"
"Kebebasan macam apa?" bisik Shena, suaranya kini melirih. "Kebebasan untuk dibuang setelah kau gunakan untuk menambal lubang di hatimu? Kau bilang dia pemilik rumah yang asli? Baiklah. Tapi satu hal yang perlu kau tahu, Mas... rumah yang dibangun di atas luka orang lain tidak akan pernah terasa hangat."
Devan terdiam, rahangnya mengeras. Kata-kata Shena menghujam bagian dirinya yang paling dalam, bagian yang selama ini ia coba tutupi dengan kesombongan. Ada rasa perih yang aneh saat melihat air mata Shena, namun egonya terlalu besar untuk mengakuinya.
"Keluar dari mobil," ujar Devan dingin saat mobil mereka sampai di pelataran rumah.
"Tanpa kau minta pun, aku akan pergi," sahut Shena. Ia membuka pintu mobil dengan tangan gemetar. Sebelum keluar, ia melepaskan kalung safir yang baru saja dipasangkan Devan di lehernya dan meletakkannya di atas kursi kulit mobil itu.
"Ambil kembali perhiasanmu ini, Mas. Berikan pada Sarah besok pagi. Mungkin dia lebih butuh berlian ini untuk menutupi kenyataan bahwa dia telah menghancurkanmu. Aku tidak butuh apa pun dari pria yang hatinya lebih beku daripada es."
Shena melangkah keluar, gaun biru dongkernya terseret di aspal yang dingin. Ia berjalan menuju rumah, bukan untuk bersantai, melainkan untuk mengemasi barang-barangnya sebelum matahari terbit, meninggalkan Devan yang terpaku di dalam mobil, menatap kalung safir yang kini terasa sangat berat dan asing di matanya.
...****************...