Saat Jepang berada diambang kepunahan karena krisis populasi, cinta bukan lagi pilihan, melainkan tugas negara yang menekan. Pemerintah membuat ulang kurikulum SMA bernama Sistem Dua Kekasih. Semua murid dipaksa berpasangan dengan lawan jenis, duduk berdampingan, tinggal bersama, dan semuanya dihitung berdasarkan poin.
Cerita berfokus pada Naruse Takashi, seorang remaja tanpa tujuan hidup yang hanya ingin mengabdi kepada seorang gadis biasa, yang dia percaya sebagai belahan jiwanya.
Kira-kira, siapakah yang akan menjadi belahan jiwa Naruse?
Genre: Drama, Psychological, Romance, School, System.
Catatan:
1. Cerita ini fiktif belaka.
2. Update satu Minggu 3-5 Kali.
3. Ada BAB Spesial tiap 20 BAB.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yapari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 — Keluhan —
Setelah berbelanja di Mall, kami kembali ke asrama kelas satu atau Kamar Nomor 25. Ini tempat tinggal kami satu-satunya.
Kalau tidak salah, kami menghabiskan kurang lebih 250 Poin Pasangan untuk belanja. Tidak ada Poin Pribadi yang berkurang, karena Miyazaki sendiri yang bilang kalau semua kebutuhan lebih baik digabung.
Dia kini memasak di dapur, sementara aku menunggu di ruang tengah. Tentu saja aku merebahkan diri di sofa, rasanya begitu melelahkan.
Ada banyak hal yang terjadi. Dan aku harus bersiap menghadapi satu keluhan yang tertunda dari Miyazaki.
Saat kami beristirahat di Mall sebelumnya, aku dengan penuh kesadaran mengelus kepalanya tanpa izin. Tapi, aku tidak tahu keluhan apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan.
Dia bilang ingin menunda itu sampai makan malam tiba. Perasaanku jadi campur aduk.
Ketidaktahuan memang menakutkan. Ada begitu banyak masalah yang disebabkan oleh orang bodoh di dunia ini.
Tidak, lupakan saja. Yang bodoh di sini adalah aku.
Sembari menunggu, aku memainkan jam tanganku. Bukan untuk menampilkan layar hologram, tapi benar-benar dimainkan... karena aku melemparnya ke udara beberapa kali lalu menangkapnya.
Waktunya mungkin tersisa lima belas menit. Tidak ada yang tahu, apa yang akan terjadi jika melepas jam tangan melebihi batas waktu yang ditentukan?
Aku tidak berniat melakukan itu, dan aku akan berhenti ketika waktunya tersisa lima menit.
Karena tidak ada layar hologram yang menampilkan sisa waktu, aku hanya mengandalkan perhitungan dari asumsi.
"Takashi-kun, berisik!"
Suara Miyazaki terdengar dari dapur. Nadanya datar seolah dia hanya ingin mengatakan sesuatu ketimbang diam.
Dia cuma mengeluh dan tidak memintaku berhenti, jadi aku tetap lanjut memainkannya.
Secara perlahan, aroma masakan mulai tercium. Baunya begitu menggugah selera.
"Kau masak apa, Miyazaki-san?"
"Omurice."
"Oh, pantas saja ada bau telur."
Kalau sudah begini, aku menantikan hasil masakannya. Tidak masalah jika rasanya tidak enak, karena aku tetap bisa menghabiskannya jika itu dari Miyazaki.
Karena sudah puas memainkan jam tangan ini, aku memasangnya kembali.
Rasanya membosankan sekarang. Kami tidak bisa membeli sesuatu sebagai hiburan karena fokus ke kebutuhan hidup.
"Miyazaki-san, apa ada yang bisa kubantu?"
"Kau kira kenapa aku menyuruhmu tiduran di sofa?"
"Ah, maaf."
Dia benar. Aku hanya akan mengacaukannya kalau membantu. Bahkan, aku hampir memecahkan piring sebelumnya.
Kini aku memperhatikan Miyazaki yang sedang memasak untuk mengusir kebosananku. Jadi, begini pemandangan suami istri ketika sudah menikah?
Tunggu, apa yang kupikirkan?
Dia belum menerimaku sepenuhnya. Walau aku benci mengakuinya, hubungan kami masih sekadar paksaan dari sistem.
Dan menurutku, rasanya tidak realistis menemukan cinta sejati dalam waktu tiga hari. Tapi, apa pun itu... aku bersyukur kalau gadis yang bersamaku sekarang adalah Elena Miyazaki.
Mataku memandangnya lekat-lekat, memperhatikan setiap gerakan yang dia buat untuk memasak. Gerakannya begitu terampil, dan entah kenapa tampak elegan.
"Kenapa kau tersenyum?"
Ah, tidak. Dia sadar kalau sedang ditatap. Namun...
"Aku... senyum?"
"Kenapa malah nanya balik? Bantu aku bawa makan malamnya ke tatami!"
"..."
"Hei, kenapa bengong? Kau tidak mau makan?"
Aku pun berdiri, beranjak dari sofa sembari menahan senyumku. Langkahku bergerak pelan menuju dapur.
Bau telur khas omurice yang terhidang di dua piring semakin tercium, dengan susu sapi murni yang juga tertuang di dua gelas.
"Kau kenapa, sih?"
"Terima kasih, Miyazaki-san. Kau memasak ini dengan sungguh-sungguh, kan?"
"Eh?! Ya, ini... a-aku yakin masakanku tidak biasa."
"Tidak biasa?"
"Ma-maksudku... kau akan... sangat menyukainya."
Begitu, ya?
Mendengar nada bicaranya yang terbata-bata, aku mengerti sekarang. Senyumku muncul karena aku sedang bersemangat.
Melihat kesungguhannya dalam memasak, aku yakin dia ingin menyetarakan dirinya denganku, setelah sebelumnya merasa tidak percaya diri.
Kini aku mengangkat dua piring yang menghidangkan omurice ke tatami, disusul oleh Miyazaki yang membawa dua gelas berisi susu.
Setelah itu, kami duduk di tatami dan bersiap untuk makan. Secara harfiah kami makan di lantai sekarang.
"Kau tidak keberatan makan hanya di atas alas, kan? Meski bisa membelinya, kita tetap tidak mampu membawa meja ke sini."
"Tidak apa-apa, lagipula masih ada tatami."
"Baiklah, selamat makan!"
Perlahan, aku menatap piring yang sudah ada di hadapanku. Uap tipis naik, membawa wangi mentega bercampur dengan wangi telur yang lembut. Lalu aku mulai makan.
Hmph...
Apa ini?
Enak sekali.
Benarkah ini masakan Miyazaki?
Rasanya terlalu enak. Aku jadi mengerti kenapa dia tampak tersinggung ketika kemampuan masaknya diremehkan. Padahal, dia sendiri sudah sering dianggap biasa-biasa saja.
Tanpa sadar, aku sampai mengecap dan mengeluarkan suara seolah benar-benar menikmati makanannya.
Pantas saja dia percaya diri kalau masakannya tidak biasa, yang artinya aku akan terkesan dan sangat menyukainya.
"Jadi, Takashi-kun. Karena kau tampak menikmati masakanku, bisa lanjutkan perbincangan di Mall tadi?"
Miyazaki bertanya di tengah makan. Dan tibalah saatnya untuk momen keluhan yang tertunda.
Aku menghentikan makanku, lalu meneguk sedikit susu. Mataku perlahan menghadap ke Miyazaki, bukan ke makanan.
"Ya, silakan. Kau ingin mengeluh tentang apa? Aku akan memperbaikinya. Tolong beri aku kesempatan!"
"Memperbaiki apa?"
"Eh? Bukannya kau marah, ya?"
"Kenapa aku harus marah padamu?"
Tunggu dulu. Sepertinya topik pembicaraan kami berbeda, dan kami malah saling bertanya ketimbang melanjutkan obrolan.
Membaca ekspresinya jelas tidak membantu, jadi lebih baik aku mengandalkan mulutku.
"Umm... Miyazaki-san, sekadar memastikan... keluhan apa yang kau maksud?"
"Makanya dengarkan dulu. Kau seperti menebak-nebak segalanya, padahal kalau kau diam, kita tidak akan berbelit-belit."
Kata-katanya tepat sasaran. Aku terlalu banyak berpikir. Terlalu banyak berasumsi. Dan rasanya sulit menghilangkan kebiasaan ini.
"Ma-maafkan aku."
"Tidak apa-apa. Aku ingin mengeluhkan tentang Sera Nanashi, bagaimana kalian bisa bertemu? Dia tampaknya mengenalmu."
"Oh, jadi itu maksudmu?"
Astaga, kukira dia marah karena aku terus menyentuhnya tanpa izin. Ternyata aku salah, dia hanya penasaran kenapa aku bisa bertemu Sera Nanashi.
"Aku bertemu dengannya di lorong lantai dua, tepat setelah kau masuk kamar sendirian. Dia menolongku dari para murid yang penasaran. Walau tidak bisa dikatakan menolong juga, sih."
"Apa maksudmu?"
"Kau lihat pasangannya yang besar itu, kan? Dia menarik kerah seragamku dengan kasar, sampai-sampai aku kesulitan bernapas."
Mendengar jawabanku, kepala Miyazaki tertunduk sedikit. Dia sedikit gemetar.
"Kau tidak penasaran kenapa aku menamparnya?"
"Aku akan pura-pura tidak melihatnya, tenang saja."
"Bukan itu maksudku."
Tubuhnya semakin gemetar, sampai aku bisa mendengar suara dentingan piring dari sendok yang dipegangnya.
"Hei, Takashi-kun. Aku benar-benar marah saat di Mall tadi."
"Kenapa?"
"Itu karena... gadis itu memanggil nama depanmu seenaknya!"
Suaranya meninggi, aku yakin ada banyak emosi terpendam di sana. Kepalanya menegak, dengan matanya yang sedikit berkaca.
"Sebentar, Miyazaki-san... nama depanku? Bukan nama depanmu? Kau tidak salah ucap, kan?"
"Menurutmu?"
Aku kehabisan kata-kata. Otakku seolah dipaksa bekerja, dan hanya ada satu hal yang terpikirkan olehku sekarang.
Aku paham inti keluhannya. Dan mungkin tidak ada salahnya melakukan konfirmasi.
"Umm... haruskah kita saling memanggil nama depan mulai sekarang?"
Wajah Miyazaki berubah drastis, dan ini kedua kalinya aku melihat senyumannya. Pertanyaan itu tampaknya berhasil memengaruhinya.
"Ya, Naruse-kun. Maaf karena membuatmu banyak kesulitan hari ini!"
"Kau sudah membayarnya dengan masakanmu, Elena."
Aku pun mengelus kepalanya lagi. Aku melakukannya karena yakin kalau dia tidak akan marah.
Keadaannya sedang tersenyum, dan dia tampak sangat manis. Jantungku tidak aman ketika melihatnya.