NovelToon NovelToon
The Wrong Proposal

The Wrong Proposal

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.

Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Siang itu, sinar matahari New York yang pucat menembus kaca besar sebuah restoran fine dining di kawasan Upper East Side. Alana duduk bersama dua sahabatnya, Vea dan Maya. Di atas meja, tersaji pasta truffle dan jus jeruk segar, namun pikiran Alana masih tertinggal pada insiden siraman kopi kemarin sore.

Saat Alana sedang menyesap minumannya, pintu restoran terbuka. Sosok pria tinggi dengan bahu tegap melangkah masuk. Alana hampir tersedak. Itu dia. Pria urakan kemarin.

Namun, pemandangan kali ini sungguh berbeda. Azkara tidak memakai kaos hitam lusuh. Ia mengenakan kemeja putih yang pas di tubuh atletisnya, lengan kemejanya digulung hingga siku, memperlihatkan tato yang mengintip di pergelangan tangannya. Ia tampak sedang menemui seorang pria paruh baya yang terlihat seperti investor kelas atas. Azkara menjabat tangan pria itu dengan tegas, ekspresi wajahnya sangat profesional, dingin, namun penuh wibawa.

"Ah, mungkin dia bekerja di sini atau sedang ada pertemuan bisnis," gumam Alana dalam hati. Ia memutuskan untuk bersikap cuek, membuang muka dan kembali fokus pada sahabat-sahabatnya. Ia tidak ingin pria sombong itu berpikir bahwa Alana sedang memperhatikannya.

Pandangan Vea mengikuti arah mata Alana tadi. Begitu melihat sosok Azkara, Vea hampir menjatuhkan garpunya.

"Ya Tuhan, Alana! Kau lihat pria itu?" bisik Vea dengan nada antusias yang tertahan.

Alana mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. "Pria bertato itu? Iya, kenapa?"

"Kau tahu, Alana? Dia itu Azkara. Pria paling tampan dan populer di universitas ku dulu," lanjut Vea. "Dulu dia sangat manis, Alana. Benar-benar tipe pria pujaan semua wanita. Tapi melihatnya sekarang... rasanya benar-benar seperti melihat dua orang yang berbeda."

Maya menimpali sambil terkekeh nakal. "Tapi jujur saja, versi dia yang sekarang, yang tampak berandal, maco, dan seksi itu malah membuat jantungku berdebar lebih kencang. Hahaha!"

Alana mengerutkan kening, mengaduk jusnya dengan malas. "Oh ya? Yang kulihat kemarin hanya seorang pria sombong, angkuh, dan tidak punya sopan santun. Dia bahkan tidak meminta maaf setelah mencipratkan lumpur ke gaunku."

Maya menggeleng-gelengkan kepala. "Padahal dulu di kampus, dia itu sangat romantis, iya kan Vea?"

"Sangat romantis!" tegas Vea. "Dia tipe pria yang akan menunggu kekasihnya berjam-jam di depan perpustakaan hanya untuk memberikan sekotak cokelat atau payung saat hujan. Dia benar-benar pangeran idaman."

Alana mulai merasa ada yang aneh. Bagaimana mungkin pria yang disebut pangeran idaman bisa berubah menjadi setan jalanan yang membenci dunia?

"Lalu apa yang terjadi?" tanya Alana, mencoba terdengar tidak peduli padahal rasa ingin tahunya mulai memuncak.

Vea mendekat, merendahkan suaranya. "Semua berubah semenjak dia ditinggal kekasihnya. Mereka sudah berencana menikah setelah lulus, tapi tiba-tiba kekasihnya menghilang dan mengirim kabar kalau dia harus menikah dengan cowok pilihan orang tuanya. Perjodohan kolot, katanya."

Maya menambahkan dengan nada yang lebih serius. "Dan yang paling menyakitkan bagi Azkara... kekasihnya itu dulu seorang wanita berhijab. Sangat taat, sangat lembut, persis sepertimu, Alana."

Deg.

Jantung Alana seolah berhenti berdetak sejenak. Kata-kata Maya menghantamnya lebih keras dari yang ia duga. Pikirannya langsung melayang ke pertemuan mereka kemarin sore. Tatapan penuh kebencian Azkara pada hijabnya, kata-katanya yang menyuruh Alana "diam di balik tembok rumah", dan bagaimana ia menyebut Alana sebagai "Nona Suci".

"Jadi..." Alana bergumam lirih, "dia bukan membenci hijabnya, dia membenci luka yang ditinggalkan oleh wanita di balik hijab itu?"

"Mungkin," jawab Vea. "Sejak saat itu, dia berhenti percaya pada komitmen. Dia mulai merajah tubuhnya dengan tato, balapan liar, dan bersikap dingin pada siapa pun yang mengingatkannya pada masa lalu. Terutama wanita sepertimu."

Tanpa disadari, Azkara sudah menyelesaikan pertemuannya. Saat ia berjalan menuju pintu keluar, jalurnya harus melewati meja Alana. Alana merasa tubuhnya menegang. Ia sudah bersiap untuk adu mulut lagi atau setidaknya menerima tatapan sinis.

Namun, saat Azkara melewati meja mereka, pria itu bersikap seolah Alana hanyalah bagian dari furnitur restoran. Ia berjalan lurus, pandangannya dingin menatap ke depan, aroma parfum musky dan wood yang maskulin tertinggal sejenak di udara saat ia melintas. Tidak ada sapaan, tidak ada cibiran, bahkan tidak ada kerlingan mata. Azkara benar-benar cuek, seolah insiden siraman kopi kemarin tidak pernah terjadi.

Alana merasa sedikit tersentak oleh sikap cuek itu. Ia terbiasa menjadi pusat perhatian di New York, namun pria ini benar-benar memperlakukannya seperti angin lalu.

Setelah Azkara pergi, Alana terdiam cukup lama. Penjelasan sahabat-sahabatnya mengubah perspektifnya sepenuhnya. Manis? Romantis? Pria yang menunggu di depan perpustakaan?

Sangat sulit membayangkan pria bertato yang mengemudikan Lamborghini dengan gila itu pernah menjadi sosok yang selembut itu. Alana menyimpulkan bahwa Azkara adalah seorang pria yang dunianya telah runtuh. Ia membangun tembok tinggi bernama keangkuhan untuk melindungi hatinya yang hancur.

"Dia tidak sombong karena merasa hebat," pikir Alana dalam hati. "Dia sombong karena dia takut disakiti lagi oleh seseorang yang terlihat sepertiku."

Ada rasa sesak yang aneh di dada Alana. Sebagai putri dari Adrian dan Briana, ia dibesarkan dengan cinta yang begitu besar dan tulus. Ia tidak pernah tahu bahwa di luar sana, ada pria yang hidupnya hancur hanya karena mencintai seseorang yang memiliki identitas yang sama dengannya.

Malam itu, saat Alana kembali ke apartemennya, ia tidak lagi merasa marah pada Azkara. Ia justru merasa... penasaran. Penasaran pada pria yang tertidur di balik tato dan kemarahan itu. Dan entah mengapa, Alana merasa takdir New York belum selesai mempertemukan mereka.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
irma hidayat
lancar sukses rencananya alana
chika aprilia
harusnya 23 tahun kemudian bukan 23 tahun lalu, othor nya salah
ros 🍂: makasih kak udah ingatin 😍🙏
total 1 replies
Mei Mei
/Kiss/
Mei Mei
suka cerita nya
ros 🍂: Makasih kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
bagus .. bagus karyamu Thor

tetep sehat
selalu semangat

karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku
ros 🍂: Ma'aciww 😍😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
ditunggu upload nya....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!