Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror Tanduk dan Karma Sepatu Ardiles
Hidupku memang dibentuk oleh didikan keras dan perjuangan ekonomi, tapi Tuhan itu sangat adil. Dia tidak membiarkan masa kecilku kering kerontang oleh air mata rindu atau rumus matematika saja. Ada sisi jenaka yang sering kali muncul sebagai penyeimbang. Dan jika ditanya soal trauma, aku punya satu, tapi bukan pada manusia. Musuh bebuyutanku adalah seekor kambing jantan milik tetangga yang sepertinya sudah menobatkan aku sebagai target seruduk nomor satu di desa ini.
Setiap hari, berangkat dan pulang sekolah bagiku adalah misi spionase tingkat tinggi. Aku harus melewati kandangnya, dan kambing itu dengan tanduknya yang kokoh dan matanya yang seolah selalu mengawasi dan selalu siap siaga. Begitu dia mencium aroma tasku, dia akan keluar dari kandang, bersiap memasang posisi tempur. Entah karena apa sebabnya, mungkin karena saat itu tasku berwarna biru dan kambing itu menyangka itu adalah rumput segar, Aku tidak tahu juga pastinya.
Suatu pagi, aku mengintip dari balik pohon nangka. Napas kumelirih, jantungku berdegup kencang melebihi saat aku menghadapi ujian perkalian.
"Dimana dia? Aman?" bisikku pada diri sendiri.
Setelah memastikan si kambing sedang sibuk mengunyah daun lamtoro, aku segera mengambil posisi start bak atlet lari maraton tingkat nasional. Aku menarik napas dalam, mengencangkan tali tas hijau ku, lalu... Wush! Aku berlari sekuat tenaga, melewati kandang itu dengan kecepatan penuh.
Setelah merasa sudah berada di jarak aman, aku berhenti dan menoleh ke belakang dengan napas terengah-engah. Benar saja, si kambing berdiri di tengah jalan, menatapku dengan ekspresi "kecewa" karena mangsanya lolos lagi.
"Wleeee! Nggak bisa ngejar aku, kan?!" teriakku sambil berkacak pinggang, memamerkan kemenangan kecilku pada seekor binatang.
Namun, kegembiraanku mendadak sirna saat aku menunduk. "Aaaa! Sepatuku... Kambing!!! Hih kamu ya!!!" makiku penuh kekesalan.
Karena terlalu fokus menghindari serudukan, aku tidak memperhatikan jalanan yang becek. Sepatu putih polosku kini ternoda lumpur cokelat. Aku segera jongkok, membersihkannya dengan rumput basah secara telaten. Ini bukan sembarang sepatu, ini adalah Ardiles putih pemberian Ayah yang dibelikan di pasar minggu lalu. Bagiku, sepatu ini adalah simbol kemewahan dan kasih sayang Ayah yang tak boleh ternoda setitik pun.
Sesampainya di depan masjid tempat teman-temanku berkumpul untuk berangkat sekolah bersama, aku berjalan dengan langkah yang dibuat-buat agar mereka memperhatikan kakiku.
"Wah, sepatunya pasti baru ya?" tanya salah satu temanku, wajahnya tampak kagum.
Aku langsung membusungkan dada, senyum sombongku terukir lebar. "Iya dong, bagus kan? Ini Ardiles asli! Pokoknya tidak boleh kotor sama sekali, soalnya warnanya putih bersih!" kataku dengan nada tinggi, sengaja pamer di depan mereka semua.
Namun, semesta sepertinya tidak suka dengan kesombonganku pagi itu.
Baru saja kalimat "tidak boleh kotor" itu selesai kuucapkan, aku melangkah mundur satu langkah untuk memberikan pose yang lebih meyakinkan. Tiba-tiba... Pluk! Ada sesuatu yang lembek dan lengket menyentuh sol sepatuku. Aroma tajam yang sangat menusuk hidung seketika menyeruak.
"Hahahaha! Nok, itu lihat!" teman-temanku pecah dalam tawa yang sangat riuh.
Aku menunduk dengan jantung yang rasanya mau copot. Nasib malang menimpa sepatu baruku. Setelah lolos dari lumpur karena kejaran kambing, kini aku justru telak menginjak kotoran kucing yang sangat subur tepat di depan teman-temanku.
"Aduh, baunya!" seru mereka sambil menutup hidung dan lari menjauh.
Aku mematung sendirian di sana. Kesombonganku runtuh seketika, berganti dengan rasa malu yang membakar pipi. Sambil memegang ranting pohon untuk membersihkan kotoran itu, aku menggerutu dalam hati. Ternyata benar kata Ayah, hidup itu harus rendah hati. Kalau tidak, Tuhan punya cara unik untuk "menegur" lewat kaki, entah itu lewat kambing yang mengejar, atau kotoran kucing yang menunggu di balik langkah yang sombong.
Pagi itu, di depan masjid dengan aroma yang "ajaib" menusuk hidung, aku belajar satu bab kehidupan yang tidak ada di buku paket sekolah, bahwa kesombongan adalah jalan paling cepat menuju kesialan. Aku yang baru saja merasa menjadi pahlawan karena lolos dari serudukan kambing, kini harus bertekuk lutut di depan kotoran kucing hanya karena ingin dipuji.
Sambil berusaha mengikis sisa-sisa kotoran itu dengan daun kering, aku tertawa kecil meratapi nasibku sendiri. Lucu sekali. Aku yang selalu diajari Ayah untuk memiliki "mental baja" menghadapi hinaan orang lain, justru tak berdaya menghadapi hal sekecil ini. Ternyata, musuh terbesarku hari itu bukanlah kambing jantan galak atau teman-teman yang mengejek, melainkan rasa banggaku yang berlebihan.
Aku pun berangkat sekolah dengan langkah yang jauh lebih pelan dan hati-hati. Tidak ada lagi busung dada atau nada suara yang tinggi. Aku hanya seorang anak kecil dengan sepatu Ardiles yang sedikit berbau, namun dengan kepala yang kini jauh lebih dingin. Aku sadar, barang mewah pemberian Ayah ini bukan untuk dipamerkan agar orang lain merasa kecil, tapi untuk dijaga sebagai bentuk syukur atas kerja kerasnya di ladang.
Sesampainya di kelas, saat teman-temanku masih sesekali terkikik mengingat kejadian tadi, aku hanya tersenyum. Biarlah. Kejadian ini seperti krim Segar Snow yang dioleskan Ayah ke wajahku, awalnya terasa dingin dan sedikit aneh, tapi tujuannya adalah agar aku tidak menjadi "kasar". Tuhan benar-benar punya cara yang humoris untuk mendidikku agar tetap menapak di bumi.
Kini, setiap kali aku melihat sepatu putih di etalase toko, aku selalu teringat pada pagi yang penuh aroma itu. Kejadian itu menjadi pengingat abadi bagiku. Sehebat apa pun kita berlari menghindari "serudukan" masalah, jangan pernah lupa untuk selalu melihat ke bawah, ke tanah tempat kita berpijak. Karena di atas bukit ini, bukan ketinggian yang membuat kita dihargai, melainkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita hanyalah manusia yang terkadang bisa terpeleset oleh hal-hal yang paling konyol sekalipun.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰