Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.
Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.
Masih Mencinta namun tak dapat bersama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan di Tengah Mendung
Dua minggu setelah kunjungan Luna berlalu dengan ritme yang sudah mapan. Karya Amara di studio berkembang pesat; tiga panel besar kini hampir selesai, menceritakan sebuah narasi abstrak tentang keterpisahan, koneksi, dan harapan.
Setiap malam pukul 19.00 adalah ritual yang tak tergoyahkan: video call dengan Luna. Mereka membicarakan hal-hal remeh, tapi itu adalah suara kehidupan yang menjaga Amara tetap waras.
Hingga tiba hari Rabu malam. Pukul 19.00 lewat. Ponsel Amara diam. Tidak ada panggilan masuk. Pukul 19.30. Amara mengirim pesan: "Luna, mau video call?"
Tidak ada balasan. Kecemasan kecil mulai merayap. Mungkin Luna sedang ada tugas sekolah kelompok di rumah teman. Mungkin baterai ponselnya habis.
Pukul 21.00, saat Amara sudah tidak bisa berkonsentrasi pada jahitannya, ponselnya berdering. Bukan panggilan video biasa. Itu adalah panggilan video dari Rafa.
Jantung Amara langsung berdegup kencang. Rafa hampir tidak pernah menelepon video, apalagi di jam seperti ini.
Dia menerima panggilan. Layar menunjukkan wajah Rafa yang pucat dan tegang. Latar belakangnya bukan ruang tamu, tapi dinding putih dengan lemari logam di belakang. Sebuah ruangan rumah sakit.
"Rafa? Apa yang terjadi?" tanya Amara, suaranya langsung serak oleh ketakutan.
"Amara," suara Rafa terdengar lelah dan berat.
"Luna... Luna dirawat."
"APA?!" Amara berdiri begitu cepat sehingga kursi kayunya terjungkal ke lantai dengan suara keras. "Kenapa? Apa yang terjadi?"
"Dia demam sejak kemarin. Aku kira biasa. Tapi tadi sore suhunya naik drastis, dia mengigau. Aku bawa ke UGD." Rafa menghela napas, mengusap wajahnya.
Kamera bergerak, menunjukkan ke samping. Di sana, di atas tempat tidur rumah sakit dengan pagar pembatas, terbaring Luna.
Wajahnya merah padam, mata tertutup, selang oksigen tipis di hidungnya. Tangannya yang kecil tergeletak di atas selimut putih, terpasang infus.
"Dokter bilang infeksi berat. Mereka sudah ambil sampel darah, baru besok pagi hasilnya keluar. Mereka coba turunkan demamnya dulu." Suara Rafa pecah. "Dia... dia sempat bilang 'Mama' sebelum dia tidur karena obat."
Air mata Amara mengalir deras, tangannya gemetar memegang ponsel. Dia ingin meraih melalui layar, ingin menyentuh dahi Luna yang pastinya panas. "Rumah sakit mana? Di mana?"
"RSIA Bunda. Di Kuningan. Ibu juga di sini, nemenin."
"Baik. Aku... Aku akan..." Amara ingin bilang 'Aku akan segera ke sana', tapi kalimat itu terhenti. Dia berada di Jogja. Residensinya. Karyanya. Komitmennya.
"Jangan buru-buru," kata Rafa, seolah membaca pikirannya. "Tunggu hasil lab besok. Mungkin cuma infeksi biasa. Doakan saja dulu."
"Tapi dia kelihatan..."
"Aku tahu," potong Rafa, suaranya penuh upaya untuk mengendalikan diri. "Aku tahu. Tapi kita harus tenang. Untuk Luna. Aku akan update terus. Kamu coba tidur."
"Tidur? Bagaimana aku bisa tidur?"
"Kamu harus. Besok mungkin hasil lab nya keluar. Istirahat dulu. Aku janji akan telepon jika ada perubahan." Rafa menatapnya melalui kamera. Di matanya yang lelah, ada keteguhan yang sama seperti dulu, tapi kali ini untuk sebuah tujuan yang berbeda: menjaga mereka semua tetap kuat.
Panggilan berakhir. Amara terpaku di tempatnya berdiri, menatap layar gelap. Studio yang biasanya terasa seperti ruang suci kreatif, tiba-tiba terasa seperti sangkar yang jauh dan tidak berguna.
Di luar, mendung menutupi bintang-bintang, dan udara pegunungan yang biasanya menyejukkan kini terasa menusuk tulang.
Malam itu adalah mimpi buruk yang terjaga. Amara tidak bisa menutup mata. Dia memandangi foto-foto Luna di ponselnya: tertawa di Malioboro, tidur di studionya, membuat wajah konyol saat video call. Setiap tawa di foto itu seperti menusuknya. Dia memeriksa ponselnya setiap lima menit, takut melewatkan pesan dari Rafa. Tidak ada.
Pukul 03.00 dini hari, dia tidak tahan. Dia mengirim pesan pada Edo: "Edo, ada keadaan darurat keluarga. Luna sakit dirawat. Aku mungkin perlu pulang besok. Maaf."
Balasan datang hampir seketika, meski larut: "Amara, jangan pikirkan residensi. Urus keluarga dulu. Beri tahu apa yang bisa saya bantu. Kesehatan Luna yang utama."
Kata-katanya melegakan, tapi juga mengukuhkan realitas: ini serius.
Pagi hari Kamis datang dengan langit kelabu dan gerimis ringan. Amara masih duduk di lantai, memeluk lututnya, menatap ponsel yang seperti bom waktu. Pukul 09.00. Tidak ada kabar. Pukul 10.00. Masih diam.
Pukul 10.47. Ponselnya berdering. RAFA ADITYA.
Amara menyambar, jarinya hampir tidak bisa menekan tombol hijau. "Halo? Rafa? Gimana?"
Suara di seberang terdengar sangat jauh, hampa, seperti orang yang baru saja dipukul.
"Hasil lab... tidak bagus, Mara."
Dingin menyebar dari ujung kaki Amara ke seluruh tubuhnya. "Apa... apa katanya?"
"Infeksinya sangat berat, seperti yang diperkirakan. Tapi... tapi ada beberapa indikator lain yang tidak biasa. Jumlah sel darah putih sangat tinggi tapi aneh polanya, ada tanda-tanda peradangan sistemik yang masif.
Dokter bilang ini bukan infeksi bakteri atau virus biasa yang sederhana." Rafa terdiam, tarikan napasnya berat di telepon.
"Mereka butuh pemeriksaan lebih lanjut. Spesialis imunologi dan reumatologi sudah dikonsultasikan. Mereka bicara tentang kemungkinan... penyakit autoimun."
"Penyakit autoimun?" Amara mengulang, pikirannya berputar. "Seperti apa?"
"Seperti... lupus. Atau juvenile arthritis. Tapi mereka belum bisa diagnosa. Harus observasi, tes darah lebih spesifik, mungkin sampai seminggu." Suara Rafa pecah.
"Mereka bilang, kalau ini autoimun, ini penyakit kronis, Mara. Pengobatan seumur hidup."
Dunia berhenti berputar. Kata-kata "penyakit kronis" dan "seumur hidup" menggema di kepalanya seperti lonceng kematian. Ini tidak mungkin terjadi pada Luna. Pada anaknya yang aktif, ceria, baru saja berlari-larian di Malioboro dua minggu lalu.
"Tapi... tapi baru kemungkinan, kan?" desis Amara, berusaha mencari secercah harapan.
"Ya. Tapi dokter bilang gejalanya mengarah ke sana. Demam tinggi, ruam yang samar di pipinya kemarin, dan hasil lab ini. Mereka mulai beri antibiotik spektrum luas dan steroid dosis tinggi untuk tekan peradangan."
Rafa terdiam lagi. "Ibu di sini sudah hampir tidak bisa berhenti menangis. Aku... aku cuti dari kantor. Aku tidak akan ke mana-mana."
"Aku akan segera ke sana," kata Amara, kali ini dengan keyakinan. "Aku akan ambil penerbangan terdekat."
"Tunggu dulu," Rafa membalas, cepat. "Pikir dulu. Kamu di tengah residensi. Karyamu."
"Rafa, itu anak kita! Apa yang lebih penting dari ini?"
"Tidak ada! Tapi..." Rafa terdengar berjuang untuk tetap rasional.
"Kalau ternyata ini memang jangka panjang, kita butuh rencana yang matang. Kamu perlu pikirkan apakah membatalkan residensi secara total adalah keputusan terbaik."
"Mungkin... mungkin kamu bisa pulang beberapa hari, lihat kondisinya, lalu putuskan."
"Aku dan Ibu bisa jaga dulu. Kita harus kuat untuk jangka panjang, Mara. Secara finansial, secara emosional. Kalau kamu membatalkan segalanya sekarang, lalu apa?"
Pertanyaan itu menggantung, berat. Amara melihat sekeliling studionya. Karyanya yang hampir selesai. Panel-panel besar yang merupakan jerih payah dan pengakuan profesionalnya. Kontrak residensi. Janji pada Edo. Impian untuk pameran tunggal.
Tapi di layar ponsel, dalam ingatannya, ada gambar Luna yang lemah di tempat tidur rumah sakit.
Dia terjebak di persimpangan yang paling kejam: antara kewajiban sebagai seorang ibu dan komitmen pada dirinya sendiri yang baru saja ditemukan.
"Aku tidak tahu, Rafa," bisiknya, air mata menetes tanpa suara. "Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan."
"Ambil penerbangan untuk besok," usul Rafa, suaranya lebih lembut. "Lihat Luna. Pegang tangannya. Lalu kita bicara berempat—kamu, aku, Ibu, dan mungkin dokter. Kita buat keputusan bersama. Jangan sendirian di sana."
"Baik," jawab Amara, lemah. "Aku cari tiket."
"Amara," panggil Rafa sebelum menutup. "Dia tadi terbangun sebentar. Bibirnya komat-kamit. Aku dengar dia bilang... 'Mama datang nggak?'."
Tendangan terakhir. Amara menutup telepon, tubuhnya tergelincir ke lantai kayu yang dingin.
Dia menangis, suara isaknya memenuhi studio yang sunyi, diserap oleh kain-kain yang menggantung, oleh karya-karya yang tiba-tiba terasa tidak berarti sama sekali.
Hujan mulai turun lebih deras di luar, mengetuk atap seng dengan suara yang berisik dan monoton. Amara memandang melalui jendela kabur ke arah Gunung Merapi yang tersembunyi di balik kabut. Gunung itu begitu besar, kokoh, abadi. Tapi dia merasa lebih kecil dan rapuh dari debu.
Dia membuka aplikasi pemesanan tiket. Penerbangan terdekat ke Jakarta: besok pagi pukul 06.45. Jari hatinya menunjuk layar, bersiap memesan.
Tapi jarinya membeku di atas tombol "KONFIRMASI PEMESANAN".
Jika dia menekannya, dia akan meninggalkan segalanya di sini. Karyanya yang belum selesai. Komunitas yang baru dia kenal.
Peluang yang mungkin tidak akan datang kedua kali.
Tapi jika dia tidak menekannya, dia akan meninggalkan putrinya yang sedang bertarung antara hidup dan sakit kronis, sendirian di tempat tidur rumah sakit, bertanya-tanya apakah ibunya akan datang.
Angin berdesir melalui celah-celah jendela, membawa aroma tanah basah dan kesepian. Di dinding, karya "jarak dan kerinduan"-nya menatapnya balik, seolah mengejek: Kau pikir kau memahami jarak? Kau pikir kau memahami kerinduan? Lihatlah sekarang. Ini dia ujian yang sebenarnya.
Amara menutup mata, menekan pelipisnya. Di satu sisi, ada suara Sari: "Urus keluargamu dulu!" Di sisi lain, suara Edo: "Kesehatan Luna yang utama." Dan suara Rafa yang rasional namun hancur. Dan suara hatinya sendiri yang berteriak histeris: "Aku ingin bersama anakku!"
Tapi di sudut paling gelap, suara kecil yang egois dan penuh rasa bersalah berbisik: "Jika kau pergi sekarang, kau mungkin tidak akan pernah menjadi 'Amara sang seniman' lagi.
Kau akan kembali menjadi 'Amara, ibu dari anak yang sakit', dan itu mungkin selamanya."
Dia membuka mata. Air matanya sudah kering. Wajahnya pucat di refleksi jendela yang gelap.
Dia mengangkat ponsel lagi. Tidak untuk memesan tiket. Tapi untuk mengirim pesan pada Edo: "Edo, saya akan pulang besok pagi. Saya tidak tahu kapan akan kembali. Saya minta maaf."
Lalu, dengan napas yang dalam dan penuh beban, jarinya akhirnya menekan tombol "KONFIRMASI" pada aplikasi tiket.
Tiket terkonfirmasi. Penerbangan CG 202. Jogja-Jakarta. 06.45.
Keputusan telah diambil. Tapi keraguan tidak serta merta hilang. Ia hanya berubah menjadi sebuah beban berat yang akan dia bawa dalam penerbangan pulang, bersama dengan rasa bersalah yang akan menghantuinya: rasa bersalah karena meninggalkan residensi, dan rasa bersalah yang lebih dalam karena tidak berada di sisi Luna sejak awal.
Dia berdiri, perlahan mulai membereskan barang-barang penting ke dalam tas ransel. Karyanya di dinding akan tertinggal, terbengkalai, menunggu—seperti dirinya sendiri—untuk mengetahui apakah ada kelanjutan, atau apakah ini akan menjadi karya terakhirnya sebagai Amara yang bebas.
Malam itu, di studio yang sunyi, hanya ada suara hujan dan suara seorang wanita yang bersiap untuk perang yang sama sekali tidak pernah dia antisipasi, sambil bertanya-tanya apakah seni dan impiannya harus menjadi korban pertama dalam pertempuran ini.
sambil ☕ thor
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.