Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jurus Pamungkas
Mobil sport Gavin berhenti tepat di depan gerbang kosan gue. Mesinnya masih menderu, seirama dengan napas Gavin yang masih memburu menahan cemburu. Dia menatap setir mobilnya, berharap gue bakal kasih penjelasan atau sekadar menenangkan hatinya setelah telepon dari Rizky tadi.
Tapi gue bukan Odelyn yang dulu.
Gue langsung membuka pintu mobil tanpa menunggu dia membukakannya. "Makasih buat malam ini, Vin. Dimsumnya enak," ucap gue datar. Suara gue sedingin es, tanpa ada binar kekaguman sedikit pun di mata gue.
Gavin menoleh cepat, wajahnya kelihatan frustrasi. "Mey—maksud gue, Lyn... lo nggak mau bilang sesuatu soal Rizky?"
Gue cuma menatapnya kosong sambil membenahi clutch bag gue. "Bilang apa? Dia cuma rekan kerja yang sopan. Gue masuk ya, udah malem. Bye, Vin."
Gue jalan masuk ke gerbang tanpa menoleh ke belakang sekali pun. Gue bisa dengar decitan ban mobil Gavin yang melesat pergi dengan emosi. Dia pasti lagi mukul setir sekarang.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, gue yakin Gavin sudah sampai di rumahnya. Gue bayangkan dia lagi duduk di pinggir tempat tidur, masih pake kemeja hitamnya, sambil natap jaket jeans yang gue balikin tadi pagi.
Sekarang saatnya gue kasih "racun manis". Gue ketik pesan dengan nada yang sangat polos, seolah-olah gue nggak tahu kalau dia lagi cemburu buta.
Odelyn: "Vin, lo udah sampe rumah? Sori ya tadi gue buru-buru masuk. Tiba-tiba GERD gue agak kerasa tadi pas di mobil, mungkin karena kena angin malam pas atapnya kebuka. Makanya gue nggak fokus pas lo ajak ngobrol terakhir."
Gue menjeda semenit, lalu kirim lanjutannya.
Odelyn: "Makasih ya udah repot-repot beliin makan dan ajak jalan-jalan. Lo baik banget malem ini, beda banget sama Gavin yang biasanya galak di kampus. Gue seneng liat sisi lo yang ini. Have a rest, Vin."
Gue langsung matikan lampu kamar dan taruh HP di meja nakas. Gue nggak perlu liat balesannya sekarang. Gue tahu persis apa yang terjadi di sana.
...
Pagi-pagi sekali, HP gue sudah bergetar heboh. Bukan cuma satu pesan, tapi tiga pesan beruntun dari Gavin. Sepertinya dia nggak tidur nyenyak setelah gue kasih "racun manis" semalam.
Gavin: "Sori, gue nggak tahu kalau GERD lo kambuh. Harusnya gue tutup atapnya tadi. Sekarang gimana? Masih mual?"
Gavin: "Oiya, soal proyek sama Rizky itu. Jam berapa lo ketemu dia hari ini? Gue ikut."
Gavin: "Nggak ada penolakan. Gue juga bagian dari kelompok tugas lo, gue berhak tahu progres yang lo kerjain sama senior itu supaya nggak ganggu tugas utama kita."
Gue tersenyum miring sambil mengoleskan lip tint tipis. Alasan tugas kelompok? Klasik banget, Vin. Bilang aja lo takut posisi lo digeser sama Rizky.
Gue sengaja nggak membalas chat-nya sampai gue sampai di kampus. Dan bener aja, begitu gue turun dari ojek online di depan lobi gedung, sosok Gavin sudah berdiri di sana dengan gaya yang sangat mencolok. Dia bersandar di pilar, kacamata hitam bertengger di hidungnya, dan di tangannya ada satu kantong plastik berisi obat lambung dan air mineral.
"Lama banget," ketusnya begitu gue mendekat. Dia langsung menyodorkan plastik itu. "Minum dulu obatnya sebelum lo ketemu 'si paling senior' itu."
Gue menerima plastiknya dengan santai. "Makasih, Vin. Tapi nggak perlu ikut ke ruangan dekanat, gue cuma bentar kok sama Kak Rizky."
"Nggak bisa," Gavin langsung berdiri tegak, langkahnya mengikuti gue dengan protektif. "Gue perlu pastiin kalau diskusi kalian itu murni soal proyek, bukan hal lain. Gue nggak suka ada orang luar yang ikut campur urusan akademik temen sekelompok gue."
Tepat saat itu, Rizky keluar dari pintu dekanat sambil membawa map. Begitu melihat gue—dan Gavin yang mengekor di belakang seperti bodyguard—senyum Rizky langsung mengembang.
"Pagi, Olyn," sapa Rizky dengan nada lembut yang bikin telinga Gavin panas. "Wah, Gavin rajin banget ya pagi-pagi udah nemenin lo."
Gavin langsung maju selangkah, sedikit menghalangi jarak antara gue dan Rizky. "Gue cuma nggak mau rekan kerja gue drop lagi gara-gara kecapekan proyek orang lain, Ky. Jadi, apa yang perlu dibahas sekarang? Gue bakal dengerin."
Tensi di koridor dekanat mendadak naik. Rizky menatap Gavin dengan pandangan yang tenang namun meremehkan, sementara Gavin menatap Rizky dengan api cemburu yang berkobar.
Gue cuma berdiri di tengah-tengah mereka, menikmati pemandangan dua cowok paling berpengaruh di kampus ini yang sedang memperebutkan perhatian gue.
Gavin berdiri di sana dengan wajah yang siap meledak, tapi gue nggak kasih dia panggung sedikit pun. Gue sengaja memutar tubuh gue sepenuhnya ke arah Rizky, memberikan punggung gue ke arah Gavin seolah-olah dia cuma patung pajangan.
"Jadi gimana, Kak Rizky? Bagian infrastruktur digital tadi, kalau kita pakai model Open-Loop, menurut Kakak lebih efisien nggak?" tanya gue dengan nada suara yang sangat lembut dan antusias.
Rizky tersenyum, menyadari kalau gue lagi kasih dia perhatian penuh. Dia mulai menjelaskan dengan detail, dan setiap beberapa detik gue mengangguk sambil sesekali menyentuh lengan Rizky pelan—sebagai tanda gue sangat setuju dengan idenya.
"Olyn, gue juga punya ide buat bagian itu—" Gavin mencoba memotong, suaranya terdengar mendesak.
Gue cuma melirik dia lewat bahu, ekspresi gue datar. "Nanti ya, Vin. Gue lagi fokus sama Kak Rizky. Ini poin krusial yang nggak bisa asal-asalan dibahas. Lo dengerin dulu aja biar belajar."
Gue bisa denger Gavin menggeram rendah. Dia bener-bener dicuekin di tempat dia biasa jadi pusat perhatian. Mukanya merah padam, matanya terus menatap tangan gue yang masih ada di dekat Rizky.
"Tapi Lyn, Pak Burhan kan mintanya—"
"Gavin, please," potong gue lagi, kali ini dengan nada sedikit tegas seolah dia adalah anak kecil yang mengganggu. "Bisa diem bentar nggak?"
Gavin terdiam seribu bahasa. Dia kelihatan sangat terhina tapi nggak bisa pergi gitu aja karena rasa penasarannya lebih besar dari egonya.
Setelah sekitar sepuluh menit diskusi intens yang sengaja gue buat-buat, gue merasa ini saatnya mengeluarkan kartu terakhir. Gue memejamkan mata perlahan, menarik napas panjang yang terdengar berat, lalu meletakkan tangan gue di kening.
Gue membiarkan tubuh gue sedikit limbung ke arah samping.
"Olyn? Kamu nggak apa-apa?" Rizky langsung sigap memegang bahu gue.
Gue menggeleng lemah, mata gue sayu. "Nggak tahu, Kak... tiba-tiba kepala gue pusing banget. Mungkin karena semalam kurang tidur dan GERD gue kambuh lagi..."
"Gue bilang juga apa!" Gavin langsung melompat maju, menepis tangan Rizky dari bahu gue dengan kasar. Kali ini dia nggak pakai basa-basi lagi. Dia langsung merangkul pinggang gue, menarik tubuh gue supaya bersandar sepenuhnya di dada bidangnya.
"Gue bawa lo ke UKS sekarang," ucap Gavin dengan suara yang bergetar antara marah dan panik. Dia menatap Rizky dengan pandangan membunuh. "Urusan proyek ini nanti aja. Kesehatan Odelyn lebih penting dari sekadar riset lo."
Rizky tampak khawatir tapi dia nggak bisa berbuat banyak karena Gavin sudah mengunci gue dalam dekapannya.
"Vin... jangan galak-galak sama Kak Rizky..." gumam gue pura-pura lemas di pelukannya.
"Diem, Odelyn! Lo udah sakit masih aja belain dia," bentak Gavin pelan, tapi dia malah makin erat memeluk gue, seolah takut kalau dia lengah sedikit saja, gue bakal hilang atau diambil Rizky.
Gavin langsung membopong gue—lagi—di sepanjang koridor kampus yang ramai. Kali ini dia nggak peduli lagi sama citra cool-nya. Semua orang melihat gimana si pangeran kampus panik setengah mati ngebopong cewek yang selama ini dia panggil "Memey".
Gue menyembunyikan wajah gue di ceruk lehernya, menghirup aroma parfumnya yang maskulin dan tercampur keringat dingin karena panik. Gue tersenyum tipis yang nggak bisa dia liat.
Panik kan, Vin? Takut kan kalau gue lebih milih Rizky? Sekarang, lo bener-bener udah ada di genggaman gue.