NovelToon NovelToon
PLEASURE AND PUNISHMENT

PLEASURE AND PUNISHMENT

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Kriminal dan Bidadari / Misteri / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:884
Nilai: 5
Nama Author: lanasyah

"Satu tubuh dicumbu, satu jiwa diburu; saat kehormatan dicuri, kenikmatan adalah hukuman mati yang paling sunyi."
​Dunia Valerie adalah logika. Sebagai psikolog forensik, ia terbiasa membedah kegelapan. Namun, insiden misterius melempar jiwanya ke raga yang paling ia benci: Zura, bintang film dewasa yang baru saja dieksekusi rapi. Valerie terbangun di hotel pengap, menyadari ia terjebak dalam raga seorang "pendosa".
​Ia terpaksa memasuki "Klub 0,1%", lingkaran elit berisi penguasa dengan fantasi gelap. Valerie harus memerankan Zura demi membongkar konspirasi pembunuhannya. Namun,kejutan mengerikan menanti; tubuh asli Valerie telah bangun, dihuni jiwa Zura yang licik. Zura sengaja menukar nasib untuk mencuci masa lalunya, menjadikan Valerie tumbal bagi musuh-musuhnya. Kini, Valerie harus bertarung melawan waktu dan adiksi fisik sebelum identitasnya hancur total. Dalam dunia noir ini,kehormatan dan kehancuran hanya setipis kulit yang mereka kenakan. Kesucian mati,kini waktunya pembalasan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lanasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: ADIKSI TUBUH

Keluar dari pintu belakang The Abyss, udara malam menghantam wajahku seperti tamparan dingin yang basah. Aku berjalan menuju van hitam Julian yang terparkir di sudut remang-remang, memaksa setiap otot di kaki raga Zura untuk tidak goyah. Di depan para penjaga Adrian tadi, aku adalah pemenang. Namun, begitu pintu geser van tertutup dengan dentuman logam yang berat, pertahananku runtuh seketika.

Aku jatuh terduduk di lantai van yang dingin, dikelilingi oleh peralatan pengintai dan tumpukan kabel. Tubuh Zura, yang selama beberapa jam terakhir kupaksa bekerja melampaui batasnya, kini mulai melakukan pemberontakan brutal.

Tremor yang tadinya hanya getaran kecil di ujung jari kini menjalar menjadi kejang halus di seluruh tungkai. Keringat dingin membanjiri gaun merahku hingga kain sutranya menempel lengket di kulit, memperlihatkan betapa kurusnya raga ini akibat gaya hidup yang merusak. Jantungku berdentum tidak keruan, suaranya menggema di telingaku seperti genderang perang yang tak beraturan. Paru-paruku terasa mengecil, seolah oksigen di dalam van ini telah habis.

"Valerie? Hei! Bernapaslah, Sialan!" Julian melompat dari kursi kemudi, berlutut di sampingku dengan wajah yang memucat.

"Jangan... jangan panggil bantuan," desisku di sela gigi yang gemeletuk hebat. Aku mencengkeram lengan jaket kulit Julian begitu kuat hingga kuku-kukuku mungkin meninggalkan bekas luka. "Ini... hanya sakau. Aku tahu fase ini. Withdrawal akut... sedang menghantam sistem saraf pusat."

"Kau terlihat seperti orang yang akan mati kejang, bukan sedang diagnosa medis!" geram Julian. Ia merogoh laci dasbor, mengeluarkan kantong plastik kecil berisi bubuk putih yang tadi kutolak. "Gunakan ini. Sedikit saja, Valerie. Hanya untuk menstabilkan sarafmu agar kau tidak mati sebelum sampai ke kediaman Walikota. Kau tidak akan bisa melakukan apa pun jika otakmu meledak sekarang."

Aku menatap plastik itu. Di bawah lampu neon van yang berkedip, serbuk itu tampak seperti kristal penyelamat. Bayangan kesenangan instan, rasa tenang yang akan menyapu semua rasa sakit ini, menggoda insting primitif raga Zura yang haus akan dopamin. Sel-sel saraf di otak ini seolah memiliki mulut sendiri, berteriak memintaku untuk merobek plastik itu dan menghirup isinya.

Hanya sekali, Valerie. Agar kau bisa berpikir jernih. Agar kau bisa membalas dendam.

"Tidak!" aku menghantam tangan Julian, membuat kantong itu terjatuh ke lantai. "Jika aku... menyerah pada zat ini sekarang, maka Zura menang. Dia mengendalikan raga ini melalui adiksi, dan aku tidak akan membiarkan sisa-sisa nafsunya mendikte logikaku. Aku adalah seorang psikolog forensik, bukan budak kimiawi!"

Aku merangkak menuju pojok van, menjauh dari godaan itu. Aku meringkuk, memeluk lututku erat-erat. Sebagai ilmuwan, aku sangat paham apa yang sedang terjadi di dalam diriku. Reseptor dopamin dan opioid di otak Zura sedang mengalami kelaparan ekstrem. Tanpa pasokan zat, sistem saraf otonomku mengalami arus pendek. Tekanan darahku melonjak, suhu tubuhku tidak stabil, dan perutku terasa seperti diremas oleh tangan raksasa.

"Beri aku air. Dan sesuatu untuk... digigit," perintahku dengan suara yang nyaris hilang.

Julian, yang biasanya bersikap sinis, kini tampak bingung menghadapi keras kepalaku. Ia memberikan botol air mineral dan sepotong kayu kecil—entah bagian dari apa itu—yang ia temukan di bagasi. Aku menggigit kayu itu kuat-kurut, meredam erangan yang ingin meledak dari tenggorokanku.

Selama satu jam berikutnya, van itu berubah menjadi ruang penyiksaan pribadiku. Aku mulai mengalami halusinasi visual. Dinding-dinding van seolah mencair, berubah menjadi cairan hitam pekat yang merayap menuju leherku. Aku melihat wajah ibuku di sudut gelap, menatapku dengan tatapan kecewa. Lalu, wajah pasien-pasien kriminalku muncul satu per satu, menertawakan kondisiku yang kini lebih rendah dari mereka.

Dan yang paling menyakitkan: aku melihat diriku sendiri. Valerie yang asli. Ia berdiri di depanku, mengenakan blazer putih bersih, memegang buku catatan, dan menatap raga Zura dengan jijik.

"Kau gagal, Valerie," halusinasi itu berbisik, suaranya adalah suaraku sendiri. "Kau yang selalu merasa paling suci dan rasional, kini membusuk dalam raga seorang pendosa. Kau tidak lebih dari sampah yang mencoba menjadi berlian. Menyerahlah. Pakailah obat itu, dan jadilah Zura seutuhnya. Itu lebih mudah daripada menjadi pahlawan yang sekarat."

"Diam!" aku berteriak, namun kayu di mulutku meredamnya menjadi suara parau yang menyedihkan.

Aku memejamkan mata, mencoba melakukan teknik meditasi mindfulness yang sering kuajarkan pada pasien trauma di penjara. Fokus pada napas. Tarik dari hidung, buang dari mulut. Hitung detak jantungmu. Rasakan lantai van yang dingin di bawah kulitmu. Ini hanya sinyal elektrik yang salah di otak. Ini bukan diriku. Ini hanya raga yang sedang protes.

Pelan-pelan, badai itu mulai melandai, meski tidak hilang sepenuhnya. Rasa sakitnya masih ada—ngilu yang luar biasa di setiap sendi dan sakit kepala yang terasa seperti dipukul palu godam—tapi kabut halusinasi itu mulai menipis. Kesadaranku kembali tajam, murni, dan penuh amarah.

Aku meludah, kayu itu jatuh ke lantai van, hancur oleh gigitanku. Aku menyeka keringat dingin di dahiku dengan punggung tangan yang gemetar.

"Sudah selesai?" tanya Julian pelan. Ia sudah menghabiskan tiga batang rokok selama menungguku.

"Belum," jawabku, suaraku terdengar seperti gesekan logam. "Tapi aku sudah memegang kendalinya kembali."

Aku melihat jam di dasbor. Pukul 23.15. Pertemuan di kediaman Walikota akan dimulai dalam waktu singkat. Aku harus tampil sempurna. Klub 0,1% tidak boleh melihat kelemahan ini. Mereka harus melihat Zura yang biasa mereka kenal, tapi dengan sesuatu yang berbeda di matanya—sesuatu yang akan membuat mereka merasa tidak nyaman.

"Bantu aku berdiri," kataku pada Julian.

Ia membantuku bangun dengan hati-hati. Aku tertatih menuju cermin kecil yang terpasang di dinding van. Wajah yang menatapku balik adalah wajah hancur seorang wanita yang baru saja kembali dari kematian. Mataku merah, riasanku luntur total membentuk garis-garis hitam yang mengerikan di pipi.

"Kau tidak bisa pergi dengan wajah seperti itu. Mereka akan langsung tahu kau sedang sakau," kata Julian.

"Berikan aku kotak rias Zura. Dan air es yang banyak."

Aku merendam kain dengan air es, menempelkannya ke wajahku berkali-kali untuk mengecilkan pori-pori dan mengurangi bengkak akibat dehidrasi. Kemudian, dengan tangan yang kupaksa untuk tenang melalui kehendak jiwa yang murni, aku mulai melukis kembali topeng Zura.

Aku menggunakan concealer tebal untuk menyembunyikan lingkaran hitam di bawah mata. Aku memulas bibirku dengan warna merah darah yang sangat gelap, memberikan kesan dominansi dan bahaya. Aku membetulkan rambut bob kasarku, membiarkannya sedikit berantakan namun tetap terlihat berkelas.

Saat aku selesai, Zura telah kembali. Cantik, rapuh, namun mematikan. Tapi di balik matanya, ada kecerdasan Valerie yang kini terkristalisasi menjadi tekad untuk menghancurkan setiap orang yang ada di pesta itu.

"Adiksi ini tidak akan menghentikanku," bisikku pada pantulan itu. "Tubuh ini mungkin miliknya, kecanduannya mungkin nyata, tapi kehendak di dalamnya adalah milik Valerie. Dan Valerie tidak pernah kalah."

Aku menoleh pada Julian. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—ada sedikit rasa ngeri, tapi juga rasa hormat yang baru tumbuh di matanya. "Bawa aku ke sana, Julian. Aku punya pesta yang harus kuhancurkan, dan seorang pencuri jiwa yang harus kuhadapi."

Van itu meluncur membelah malam menuju kawasan elit, membawa seorang wanita yang baru saja menaklukkan raga pecandunya sendiri, siap untuk membakar surga palsu milik para penguasa kota.

1
ayin muPp
SEMANGAT KAKK, isi novel yang kamu buat berbobot banget ga cuma cinta'an gitu. anw ga ada niatan buat up di apk lain gituu? biar lebih ramee
XXAURORA: apaaaa terimakasih yaaa, ada rekomendasi apk apa kira²?/Slight/
total 1 replies
Rani Saraswaty
sbg pembaca agaknya ikut mikir lama nih, penuh dg analisa utk menambah ilmu
XXAURORA: biar ikut mikir, jadi author ada temen🤭
total 1 replies
pocong
semangat
XXAURORA: terimakasih, terus ikutin ceritanya yaaa/Kiss/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!