NovelToon NovelToon
Satu Derajat Celcius

Satu Derajat Celcius

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Diam-Diam Cinta / Fantasi Wanita / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gangguan

Malam itu, kamar Amy yang luas terasa lebih sunyi dari biasanya. Kamar itu didominasi warna putih dan abu-abu, dingin dan steril, cerminan dari hidup yang dipaksakan padanya.

Namun, di atas meja belajar yang rapi, terdapat sebuah anomali, secarik kertas kumal berisi tulisan tangan yang berantakan dan bungkus cokelat yang sudah kosong.

​Amy merebahkan tubuhnya di tempat tidur, menatap langit-langit.

Di telinganya, suara berat Zayden terus bergema.

​"Kamu itu seperti suhu satu derajat celcius. Dingin mu membuatku menggigil, tapi keberadaan mu mencegah hatiku membusuk."

​"Dasar bodoh," gumam Amy pelan. "Mana ada hubungan suhu udara sama hati yang membusuk? Analogi macam apa itu?"

​Amy mencoba memejamkan mata, tapi otaknya justru memutar ulang kejadian di perpustakaan. Ia ingat bagaimana Zayden, si singa jalanan yang ditakuti, tampak begitu rapuh saat berbicara tentang rumah.

Ia ingat bagaimana Zayden sangat menghargai ruang pribadinya dengan tidak menyentuhnya sembarangan.

​Ada sesuatu yang hangat mulai merayap di dada Amy, sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana. Perasaan itu menakutkan, sekaligus memabukkan. Ia merasa seperti sedang melakukan pemberontakan besar hanya dengan memikirkan nama pemuda itu.

​Amy bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju cermin besar di sudut kamar.

​Ia menatap pantulan dirinya. Gadis di dalam cermin itu tampak sempurna, rambut tertata, kulit tanpa cela, dan tatapan mata yang terkontrol. Namun, saat ia mengingat bagaimana ekspresi wajah Zayden saat mencoba serius mengerjakan soal matematika, alis yang bertaut dan lidah yang sedikit menjulur karena fokus, pertahanan Amy runtuh.

​Awalnya hanya tarikan tipis di sudut bibir. Lalu, perlahan tapi pasti, sebuah senyuman merekah. Bukan senyum sopan yang ia tunjukkan pada kolega ayahnya, melainkan senyum tulus yang membuat matanya ikut bercahaya.

​Amy tertawa kecil, suara yang hampir tidak pernah terdengar di rumah itu.

​"Zayden Abbey... kamu benar-benar aneh," bisiknya pada bayangannya sendiri.

​Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang keras membuyarkan segalanya. Senyum Amy hilang seketika, berganti dengan topeng dingin dalam hitungan detik.

​"Anastasia? Belum tidur? Kamu tidak sedang memainkan ponsel atau memikirkan hal yang tidak-tidak, kan?" Suara ibunya terdengar dari balik pintu, penuh kecurigaan.

​"Sedang membaca buku, Ma. Ini mau tidur," jawab Amy, suaranya kembali datar, kembali ke suhu satu derajat celcius.

​Amy mematikan lampu kamar. Namun di dalam kegelapan, ia kembali meraba kertas puisi Zayden di bawah bantalnya. Ia menyadari satu hal, Zayden adalah api, dan dia adalah es. Logikanya mengatakan api akan menghancurkannya, tapi hatinya mulai bertanya-tanya... apakah mungkin api itu justru yang ia butuhkan untuk merasa hidup kembali?

​Keesokan paginya, gerbang sekolah kembali gempar. Zayden sudah berdiri di sana, bukan dengan gir motor atau wajah sangar, tapi dengan sebuah kotak susu stroberi dan setangkai bunga matahari yang besar sekali.

​"Bos, serius bunga matahari? Nggak kegedean?" tanya Dio sambil menahan tawa. "Itu bunga atau antena parabola?"

​"Diem lo!" sentak Zayden, meski telinganya memerah. "Gue baca di internet, bunga matahari itu artinya kesetiaan. Amy harus tahu kalau gue ini setia, meski otak gue nggak seberapa."

​Saat mobil Amy masuk ke area sekolah, Zayden langsung berdiri tegak. Gengnya, Dio, Hendi, Bima, dan Gara, berbaris di belakang seperti paspampres.

​Amy turun dari mobil, wajahnya kembali ketat dan tidak terbaca. Namun, saat matanya bertemu dengan mata Zayden, ada kilatan kecil yang hanya bisa ditangkap oleh Zayden.

​"Pagi, Satu Derajat Celcius," sapa Zayden, menyodorkan bunga matahari yang hampir menutupi wajahnya sendiri. "Gue nggak bawa puisi hari ini. Gue cuma bawa bunga yang selalu ngikutin arah matahari. Kayak gue, yang bakal selalu ngikutin ke mana pun lo pergi."

​Amy menatap bunga itu, lalu menatap Zayden.

"Zayden, kamu tahu nggak kalau bunga matahari itu berat?"

​"Nggak apa-apa berat, yang penting cinta gue ke lo nggak jadi beban," jawab Zayden cepat, membuat Gara pura-pura muntah di belakangnya.

​Amy mengambil bunga itu, sebuah tindakan yang membuat seisi sekolah melongo. "Susu stroberinya buat saya juga?"

​Zayden mengangguk mantap. "Biar hidup lo ada manis-manisnya dikit."

​Amy berjalan melewati Zayden, tapi kali ini dia tidak menabrak bahunya. Dia berbisik sangat pelan, hampir seperti desiran angin, "Terima kasih... Cowok Polusi."

​Zayden membatu. Dunia seolah berhenti berputar.

​"Woi! Dia bilang terima kasih! Dia bilang terima kasih!" Zayden berteriak histeris sambil memeluk Dio. "Yo! Gue nggak mau cuci telinga seumur hidup! Suaranya lembut banget kayak malaikat lagi bisikin jawaban ujian!"

​Namun, kebahagiaan itu ter interupsi oleh suara klakson mobil sport merah yang sangat berisik. Chyntia keluar dari mobilnya, menatap adegan itu dengan tatapan benci yang mendalam.

​"Oh, jadi ini alasan kamu nggak pulang semalam, Kak Zayden?" Chyntia berjalan mendekat dengan gaya angkuhnya. "Seleramu rendah juga ya, suka sama cewek yang kelihatannya kayak mayat hidup begini."

​Zayden langsung melepaskan pelukannya pada Dio.

Wajahnya berubah drastis menjadi gelap. "Pergi, Chyntia. Sebelum gue lupa kalau lo itu perempuan."

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading 🥰

1
Marine
mantap kak buat chapter pembukaannya, janlup mampir yaww
Marine
mantap kak buat chapter pembukaannya, janlup mampir yaww
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!