Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.
Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.
"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.
"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.
Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.
Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.
Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.
Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.
Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 - Sisa yang Tertinggal
[Maaf, Nadira.]
Kalimat itu terdengar sopan, nyaris hangat tapi isinya tetap penolakan.
Nadira duduk di depan layar laptop, membaca email itu sampai akhir, meski sudah tahu isinya sejak baris pertama.
[Setelah mempertimbangkan situasi terbaru, kami memutuskan menunda kerja sama.]
Dia menutup laptop perlahan.
Di kafe kecil dekat tempat tinggalnya, suasana ramai. Orang tertawa, berbicara soal hal-hal ringan. Dunia tidak berhenti hanya karena namanya pernah disebut di artikel.
"Kamu dapat apa?" Tanya Rendi yang duduk di depannya.
"Penundaan." Jawab Nadira singkat.
"Yang ke berapa?"
Nadira berpikir sejenak. "Ketujuh."
Rendi menghela napas. "Sial."
"Tidak." Kata Nadira pelan. "Ini konsisten."
"Kamu masih mau lanjut di jalur ini?"
Nadira menatap cangkir kopinya. "Aku tidak tahu jalur lain."
Rendi terdiam. "Mereka tidak bilang kamu salah. Tapi mereka juga tidak mau ambil risiko."
"Aku tahu."
"Cap ‘bermasalah’ itu lengket."
Nadira mengangguk. "Lebih lengket dari fakta."
Sore itu, Nadira bertemu Dr. Arvin di perpustakaan.
"Kamu mulai dihitung sebagai risiko." Kata Arvin tanpa bertele-tele.
"Padahal tidak ada pelanggaran."
"Reputasi bukan soal benar-salah." Jawab Arvin. "Tapi soal aman atau tidak."
Nadira tersenyum pahit. "Dan aku tidak aman."
"Untuk lembaga besar, tidak." Kata Arvin jujur. "Untuk yang kecil dan independen mungkin."
"Dengan bayaran kecil." Tambah Nadira.
"Dengan ruang gerak lebih jujur."
Nadira terdiam.
"Kamu menyesal?" Tanya Arvin.
Nadira menggeleng. "Aku cuma harus belajar hidup dengan akibatnya."
Arvin menatapnya lama. "Itu kalimat orang dewasa."
***
Raka berdiri di depan papan pengumuman lowongan kerja. Kertas-kertas ditempel seadanya. Tidak ada logo besar. Tidak ada jabatan bergengsi. Dia menyalin nomor di secarik kertas.
"Mas?" Panggil suara di belakang. Seorang pria paruh baya berdiri di pintu bengkel kecil. "Cari kerja?"
"Iya."
"Bisa apa?"
Raka berpikir. "Kerja fisik bisa. Administrasi dasar bisa. Jujur."
Pria itu terkekeh. "Yang terakhir jarang disebut."
"Kebiasaan baru." Jawab Raka.
Pria itu mengangguk. "Datang besok pagi. Kita coba."
Raka pulang dengan langkah ringan bukan karena yakin, tapi karena akhirnya tidak ada yang dipertaruhkan selain tenaga.
Malam itu, Raka duduk di kamar kos, menelpon ibunya. "Kamu dapat kerja?"
"Belum. Tapi ada harapan."
Ibunya tersenyum lewat suara. "Mulai dari bawah tidak apa-apa."
"Aku tahu."
"Kamu terdengar... lebih tenang."
Raka tersenyum kecil. "Karena tidak ada yang bisa aku jatuhkan lagi."
***
"Saudari Aluna Prameswari." Kata suara itu resmi, dingin.
Aluna duduk di ruangan putih dengan meja panjang. Di depannya, dua penyidik dan satu pengacara muda yang baru ia kenal.
"Kami menetapkan Anda sebagai saksi sekaligus pihak yang bertanggung jawab atas pengajuan skema."
Aluna menggenggam tangannya sendiri. "Saya tidak mencuri." Katanya cepat. "Saya hanya menyusun proposal."
"Proposal yang membuka celah." Jawab penyidik. "Dan celah itu dimanfaatkan."
"Aku tidak tahu akan sejauh ini." Suara Aluna bergetar.
"Hukum tidak menilai niat." Kata penyidik datar. "Tapi akibat."
Air mata jatuh ke meja.
Pengacaranya mencondongkan badan. "Kami akan ajukan keringanan. Klien kami kooperatif."
Penyidik mengangguk singkat. "Kami catat."
Di luar gedung, Aluna berdiri lama sebelum berani melangkah. Ponselnya penuh notifikasi. Nama-nama lama. Grup-grup yang dulu ramai. Kini sunyi...
Dia membuka satu pesan lama dari Raka, pesan yang tidak pernah ia balas.
[Kalau kamu butuh bicara jujur, aku ada.]
Aluna menutup layar. "Aku sudah terlambat." bisiknya.
***
Seminggu kemudian, Nadira menerima email berbeda.
[Kami lembaga riset independen. Kami tidak besar, tapi kami transparan.]
Nadira membaca dengan seksama. Bayaran kecil. Durasi pendek. Tidak ada nama besar. Dia tersenyum kecil.
"Mulai dari sini." Gumamnya.
Dia menelepon nomor di email itu.
"Halo, ini Nadira."
"Terima kasih sudah menelepon. Kami tahu reputasi Anda... dan kami tetap tertarik."
Nadira terdiam sejenak. "Kenapa?"
Terdengar suara di seberang terdengar mantap. "Karena kami butuh orang yang berani bilang tidak."
***
Raka datang ke bengkel pagi itu dengan kaus sederhana. Pria paruh baya yang bernama Pak Jaya menyodorkan sarung tangan.
"Kamu mau kerja berat?"
"Tidak apa-apa."
"Gaji harian. Tidak ada kontrak."
"Baik."
Pak Jaya menatapnya. "Kenapa kamu mau kerja di sini?"
Raka berpikir. "Karena di sini saya tidak perlu pura-pura."
Pak Jaya tertawa. "Alasan aneh. Tapi saya suka."
***
Aluna membuka media sosial... kesalahan fatal. Namanya disebut di utas panjang. Ada yang membela. Lebih banyak yang menghujat. Manipulatif... Licik... Pantas... Dia menutup aplikasi, napasnya sesak.
Ibunya menelepon. "Kamu di mana?" Suara ibunya gemetar.
"Aku baik-baik saja."
"Tidak. Kamu tidak sedang baik-baik saja. Tetangga sudah tahu."
Aluna memejamkan mata.
"Pulang." Kata ibunya pelan. "Hadapi ini."
Aluna menahan tangis. "Ibu kecewa?"
Ibunya terdiam sejenak. "Ibu sedih." Katanya akhirnya. "Dan itu lebih berat."
***
Malam itu, Nadira dan Raka duduk di warung sederhana.
"Kamu bau oli." Kata Nadira.
Raka tertawa. "Kamu bau kopi murah."
Mereka tertawa kecil tulus dan jujur.
"Aku mulai dari bengkel." Kata Raka.
"Aku mulai dari lembaga kecil."
"Lucu ya." atanya. "Kita turun kelas."
"Atau naik ke realitas." Jawab Nadira.
Raka menatapnya. "Kamu tidak takut?"
"Aku sudah pernah mati." Jawab Nadira tenang. "Ini tidak seberapa."
Raka terdiam.
***
Malam terakhir sebelum sidang awal, Aluna duduk di kamar lamanya. Dinding penuh poster lama. Versi dirinya yang dulu.
"Aku cuma ingin dicintai." Katanya lirih pada bayangannya sendiri. "Tapi caraku selalu salah."
Tidak ada jawaban...
Hanya sunyi...
Nadira hidup dengan reputasi yang membatasi tapi tidak mematikan.
Raka memulai dari nol, tanpa nama, tanpa pelindung dan untuk pertama kalinya, tanpa kepalsuan.
Aluna berdiri di hadapan hukum dan masyarakat, menyadari bahwa kecerdikan tanpa empati selalu berakhir sendirian.
Tidak ada yang kembali seperti semula. Dan itu bukan tragedi. Itu awal yang jujur...
Perlu aku cium dulu supaya sadar kayanya.
maaf kak author, aku geregetan sama Nadira 🤭🙏🙏
lebih memain kan isi hati... memberikan sudut pandang berbeda d tiap perasaan pemeran nya...
kamu hanya menemukan sedikit dialog tapi dengan detail perasaan yg lengkap.... hingga.... kamu bahkan bisa merasakan bagaimana isi hati tokoh meski hnya diam... good job Thor.... 🤗
jd gimana nih Nadira yg pernah mati dn pertunangannya sm Raka,,juga si Aluna yg ngeselin🤣
Hanya berserah pada sang penciptalah yg membuat saya tetap waras 💪
Semangat Thor mohon dilanjut🙏👍