NovelToon NovelToon
Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Obsesi / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:33.7k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.

Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.

"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.

"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.

Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.

Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.

Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.

Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.

Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 - Sisa yang Tertinggal

[Maaf, Nadira.]

Kalimat itu terdengar sopan, nyaris hangat tapi isinya tetap penolakan.

Nadira duduk di depan layar laptop, membaca email itu sampai akhir, meski sudah tahu isinya sejak baris pertama.

[Setelah mempertimbangkan situasi terbaru, kami memutuskan menunda kerja sama.]

Dia menutup laptop perlahan.

Di kafe kecil dekat tempat tinggalnya, suasana ramai. Orang tertawa, berbicara soal hal-hal ringan. Dunia tidak berhenti hanya karena namanya pernah disebut di artikel.

"Kamu dapat apa?" Tanya Rendi yang duduk di depannya.

"Penundaan." Jawab Nadira singkat.

"Yang ke berapa?"

Nadira berpikir sejenak. "Ketujuh."

Rendi menghela napas. "Sial."

"Tidak." Kata Nadira pelan. "Ini konsisten."

"Kamu masih mau lanjut di jalur ini?"

Nadira menatap cangkir kopinya. "Aku tidak tahu jalur lain."

Rendi terdiam. "Mereka tidak bilang kamu salah. Tapi mereka juga tidak mau ambil risiko."

"Aku tahu."

"Cap ‘bermasalah’ itu lengket."

Nadira mengangguk. "Lebih lengket dari fakta."

Sore itu, Nadira bertemu Dr. Arvin di perpustakaan.

"Kamu mulai dihitung sebagai risiko." Kata Arvin tanpa bertele-tele.

"Padahal tidak ada pelanggaran."

"Reputasi bukan soal benar-salah." Jawab Arvin. "Tapi soal aman atau tidak."

Nadira tersenyum pahit. "Dan aku tidak aman."

"Untuk lembaga besar, tidak." Kata Arvin jujur. "Untuk yang kecil dan independen mungkin."

"Dengan bayaran kecil." Tambah Nadira.

"Dengan ruang gerak lebih jujur."

Nadira terdiam.

"Kamu menyesal?" Tanya Arvin.

Nadira menggeleng. "Aku cuma harus belajar hidup dengan akibatnya."

Arvin menatapnya lama. "Itu kalimat orang dewasa."

***

Raka berdiri di depan papan pengumuman lowongan kerja. Kertas-kertas ditempel seadanya. Tidak ada logo besar. Tidak ada jabatan bergengsi. Dia menyalin nomor di secarik kertas.

"Mas?" Panggil suara di belakang. Seorang pria paruh baya berdiri di pintu bengkel kecil. "Cari kerja?"

"Iya."

"Bisa apa?"

Raka berpikir. "Kerja fisik bisa. Administrasi dasar bisa. Jujur."

Pria itu terkekeh. "Yang terakhir jarang disebut."

"Kebiasaan baru." Jawab Raka.

Pria itu mengangguk. "Datang besok pagi. Kita coba."

Raka pulang dengan langkah ringan bukan karena yakin, tapi karena akhirnya tidak ada yang dipertaruhkan selain tenaga.

Malam itu, Raka duduk di kamar kos, menelpon ibunya. "Kamu dapat kerja?"

"Belum. Tapi ada harapan."

Ibunya tersenyum lewat suara. "Mulai dari bawah tidak apa-apa."

"Aku tahu."

"Kamu terdengar... lebih tenang."

Raka tersenyum kecil. "Karena tidak ada yang bisa aku jatuhkan lagi."

***

"Saudari Aluna Prameswari." Kata suara itu resmi, dingin.

Aluna duduk di ruangan putih dengan meja panjang. Di depannya, dua penyidik dan satu pengacara muda yang baru ia kenal.

"Kami menetapkan Anda sebagai saksi sekaligus pihak yang bertanggung jawab atas pengajuan skema."

Aluna menggenggam tangannya sendiri. "Saya tidak mencuri." Katanya cepat. "Saya hanya menyusun proposal."

"Proposal yang membuka celah." Jawab penyidik. "Dan celah itu dimanfaatkan."

"Aku tidak tahu akan sejauh ini." Suara Aluna bergetar.

"Hukum tidak menilai niat." Kata penyidik datar. "Tapi akibat."

Air mata jatuh ke meja.

Pengacaranya mencondongkan badan. "Kami akan ajukan keringanan. Klien kami kooperatif."

Penyidik mengangguk singkat. "Kami catat."

Di luar gedung, Aluna berdiri lama sebelum berani melangkah. Ponselnya penuh notifikasi. Nama-nama lama. Grup-grup yang dulu ramai. Kini sunyi...

Dia membuka satu pesan lama dari Raka, pesan yang tidak pernah ia balas.

[Kalau kamu butuh bicara jujur, aku ada.]

Aluna menutup layar. "Aku sudah terlambat." bisiknya.

***

Seminggu kemudian, Nadira menerima email berbeda.

[Kami lembaga riset independen. Kami tidak besar, tapi kami transparan.]

Nadira membaca dengan seksama. Bayaran kecil. Durasi pendek. Tidak ada nama besar. Dia tersenyum kecil.

"Mulai dari sini." Gumamnya.

Dia menelepon nomor di email itu.

"Halo, ini Nadira."

"Terima kasih sudah menelepon. Kami tahu reputasi Anda... dan kami tetap tertarik."

Nadira terdiam sejenak. "Kenapa?"

Terdengar suara di seberang terdengar mantap. "Karena kami butuh orang yang berani bilang tidak."

***

Raka datang ke bengkel pagi itu dengan kaus sederhana. Pria paruh baya yang bernama Pak Jaya menyodorkan sarung tangan.

"Kamu mau kerja berat?"

"Tidak apa-apa."

"Gaji harian. Tidak ada kontrak."

"Baik."

Pak Jaya menatapnya. "Kenapa kamu mau kerja di sini?"

Raka berpikir. "Karena di sini saya tidak perlu pura-pura."

Pak Jaya tertawa. "Alasan aneh. Tapi saya suka."

***

Aluna membuka media sosial... kesalahan fatal. Namanya disebut di utas panjang. Ada yang membela. Lebih banyak yang menghujat. Manipulatif... Licik... Pantas... Dia menutup aplikasi, napasnya sesak.

Ibunya menelepon. "Kamu di mana?" Suara ibunya gemetar.

"Aku baik-baik saja."

"Tidak. Kamu tidak sedang baik-baik saja. Tetangga sudah tahu."

Aluna memejamkan mata.

"Pulang." Kata ibunya pelan. "Hadapi ini."

Aluna menahan tangis. "Ibu kecewa?"

Ibunya terdiam sejenak. "Ibu sedih." Katanya akhirnya. "Dan itu lebih berat."

***

Malam itu, Nadira dan Raka duduk di warung sederhana.

"Kamu bau oli." Kata Nadira.

Raka tertawa. "Kamu bau kopi murah."

Mereka tertawa kecil tulus dan jujur.

"Aku mulai dari bengkel." Kata Raka.

"Aku mulai dari lembaga kecil."

"Lucu ya." atanya. "Kita turun kelas."

"Atau naik ke realitas." Jawab Nadira.

Raka menatapnya. "Kamu tidak takut?"

"Aku sudah pernah mati." Jawab Nadira tenang. "Ini tidak seberapa."

Raka terdiam.

***

Malam terakhir sebelum sidang awal, Aluna duduk di kamar lamanya. Dinding penuh poster lama. Versi dirinya yang dulu.

"Aku cuma ingin dicintai." Katanya lirih pada bayangannya sendiri. "Tapi caraku selalu salah."

Tidak ada jawaban...

Hanya sunyi...

Nadira hidup dengan reputasi yang membatasi tapi tidak mematikan.

Raka memulai dari nol, tanpa nama, tanpa pelindung dan untuk pertama kalinya, tanpa kepalsuan.

Aluna berdiri di hadapan hukum dan masyarakat, menyadari bahwa kecerdikan tanpa empati selalu berakhir sendirian.

Tidak ada yang kembali seperti semula. Dan itu bukan tragedi. Itu awal yang jujur...

1
sukensri hardiati
nadira.....jangan keras kepala...semua orang sayang kamu...tp kamu nggak sayang dirimu sendiri
mimief
jujur itu mahal..
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
mimief
walaupun terkesan kaku bahasa nya.
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
mimief
hmmm...
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
mimief
dan berhenti keras kepala untuk sesuatu yg dikira akan memberikan bahagia.ternyata hanya fatamorgana
💞DARRA💞💖
aq baca bab 1-2 udah sesek karna hampir sama dengan yg kujalani
Mamah Kaila
tahu ah dialognya terlalu membosankan, jadi hambar
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐚𝐝𝐢𝐫𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐨𝐛𝐬𝐞𝐬𝐢 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐝𝐢𝐚 𝐤𝐲𝐤 𝐩𝐠𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠𝟐 𝐤𝐥𝐨 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐩𝐝𝐡𝐥 𝐩𝐫𝐜𝐦....


𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚

𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐦𝐛𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐥𝐨 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐛 𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐤𝐢𝐛𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐤𝐞𝐩𝐮𝐭𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐚𝐝𝐚 𝐤𝐨𝐧𝐬𝐞𝐤𝐰𝐞𝐧𝐬𝐢....

𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁

𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐛𝐫𝐬 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐩𝐮𝐢𝐬𝐢 𝐤𝐫𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐜𝐚𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐭𝐨 𝐭𝐡𝐞 𝐩𝐨𝐢𝐧𝐭 𝐭𝐧𝐩 𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝟐 𝐭𝐧𝐩 𝐛𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐬𝐢 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐩𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐢𝐭𝐮😁😁😁 𝐨𝐯𝐞𝐫 𝐚𝐥𝐥 𝐛𝐠𝐬 𝐬𝐢𝐡 😘😘😘
Hari Saktiawan
cerita tak masuk akal
bakpao
/Good/
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐣𝐡𝐭 𝐩𝐝 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐣𝐚𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡, 𝐜𝐩𝐭 / 𝐥𝐦𝐛𝐭 𝐢𝐭𝐮 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 😤😤😤
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭, 𝐭𝐩 𝐲𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝐚𝐝𝐮𝐭 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐩𝐞𝐧𝐨𝐤𝐨𝐡𝐚𝐧 𝐚𝐦𝐛𝐮𝐫𝐚𝐝𝐮𝐥 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐧𝐲𝐤 🤪🤪🤪😤😤😤
Muhammad Azri
certanya bertele tele muter2 d situ2 aja , gk jelas....
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐤 𝐝𝐢𝐭𝐚𝐧𝐠𝐠𝐞𝐩𝐢𝐧 𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐡𝐬 𝐈𝐧𝐠𝐠𝐫𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 " 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐮 𝐥𝐞𝐛𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 " 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐦𝐩𝐢𝐫 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫😊
Asyatun 1
keren thoor
Gristia Pramesti
bagus
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Ana Akhwat
Ceritanya membingungkan dari awal sampai akhir yang bahas tentang mengalah, bertahan, tertekan, trauma dll, tidak ada akhir bahagia serasa hidup drama terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!