NovelToon NovelToon
Jerat Sumpah Sang Mantan

Jerat Sumpah Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Menikahi tentara / Ibu susu / Mantan
Popularitas:20.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.

Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.

Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.

Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.

Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?

"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 Keajaiban Di Tengah Keputusasaan

     Perjalanan itu terasa sangat lama dan menyiksa. Saliha akhirnya tiba di terminal Depok, tepat jam tiga sore lebih sedikit. Kini ia masih harus melanjutkan perjalanan lagi ke RS Anak.

     Buru-buru Saliha mencegat sebuah angkot yang arahnya memang ke Rumah Sakit Anak. Saliha tidak peduli dengan keadaannya yang kusut dan lusuh. Yang terpenting buatnya saat ini adalah keselamatan Kaffara.

     Saliha tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri kalau sampai terjadi apa-apa dengan bayi itu. "Tunggu Ibu, Nak...Ibu mohon. Selamatkan Kaffara, ya Allah." Saliha membatin, tidak terasa air matanya mengalir deras. Namun, Saliha segera menyekanya, karena ia tidak mau menimbulkan kekhawatiran penumpang lain yang melihatnya.

     Perjalanan angkot itu terasa lama bagi Saliha, sementara jeritan mesin alat bantu di dalam ruang rawat Kaffara masih berbunyi saling bersahutan.

     Disetiap bunyi itu, ada debar jantung yang semakin tidak karuan. Wajah-wajah kusut dan panik menyelimuti semua yang berada di ruang tunggu.

     Papa Arkaffa duduk di samping Mama Davira. Tangannya sibuk mengusap bahu sang istri, untuk membesarkan hatinya. Tangis Mama Davira masih belum berhenti, dia begitu terpukul dengan kondisi Kaffara saat ini yang menurut dokter kecil kemungkinan tertolong lagi.

     "Kecuali keajaiban," ujar salah satu tim dokter dengan wajah menyesal lalu berlalu.

     Helaan napas berat dan nelangsa disertai wajah panik, jelas terlihat dari mereka semua. Mereka putus asa, terlebih Saliha yang sampai saat ini tidak bisa lagi dihubungi oleh Daviko. Membuat keadaan semakin tidak karuan.

     "Daviko, coba hubungi lagi!" desak Papa Arkaffa dengan sorot mata tajam, antara panik dan marah.

     Daviko patuh, bahkan sejak tadi jarinya sudah bolak-balik menghubungi nomer Saliha yang tadi pagi sempat aktif. Tapi, sampai sore ini HP Saliha tidak aktif lagi. Hal itu membuat Daviko semakin dilanda panik dan rasa bersalah.

     "Gimana?" tanya Papa Arkaffa.

     Daviko menggeleng, wajah lelah dan panik Daviko terlihat sangat tidak berdaya.

     Semua yang ada di ruang tunggu, kembali menghela napas. Kini helaan napas itu, jelas helaan putus asa.

     "Kaffara...jangan tinggalkan nenek, Nak! Nenek tidak sanggup kehilangan kamu. Bertahanlah, Nak...."

     Tangis histeris sudah tidak bisa ditahan lagi oleh Mama Davira, membuat suasana ruang tunggu menjadi semakin mencekam.

     Papa Arkaffa mencoba menenangkan sang istri yang tubuhnya kini lemah, seperti akan pingsan.

     "Mama, Sayang...Mama harus tetap kuat demi Kaffara. Mama jangan lemah, kita harus tetap berdoa untuk kesembuhan Kaffara," bujuk Papa Arkaffa.

     Mama Davira mencoba beristighfar. Ucapan suaminya benar-benar menghantam dadanya. Ia memang harus kuat demi Kaffara. Dia harus tetap berdoa, bagaimanapun keadaannya.

     "Saliha...datanglah, Nak. Kasihanilah Kaffara. Datang, Nak...." Di sebalik rasa putus asa dan doa, Mama Davira terus memanggil nama Saliha, agar perempuan muda itu datang membawa angin segar untuk Kaffara.

     Ruang tunggu itu, berubah menjadi ruangan yang sangat mencekam. Doa-doa dalam kepanikan masih terus digulirkan.

     Sementara itu, Saliha baru saja tiba di depan RS Anak. Ia melangkah masuk lobi rumah sakit dengan wajah pucat dan pakaian yang lusuh. Kakinya langsung ia arahkan menuju ruang rawat Kaffara, seperti yang disebutkan Bi Tita kemarin di telpon.

     Begitu ia sampai di ruang tunggu perawatan intensif, Saliha melihat pemandangan yang begitu memprihatinkan dan mengiris hati. Terutama ketika melihat Mama Davira terus menangis di samping Papa Arkaffa.

     Satu per satu orang yang berada di ruang tunggu itu ia absen dengan matanya. Semua terlihat sangat sedih dan terpukul. Tapi, mereka belum sadar akan kehadiran Saliha.

     Saliha terus mendekat, sorot matanya kini beralih pada sosok yang selama ini begitu membencinya. Dia berdiri di depan pintu ruang perawatan intensif milik Kaffara.

     Saliha melepaskan tas jinjingnya, ia segera berlari menuju pintu itu yang dari dalam ruangan itu terdengar bunyi-bunyi mesin medis yang saling bersahutan.

     "Kaffara...ini Ibuuuu...." jeritnya sambil menerobos masuk ke dalam ruangan itu.

     Semua yang berada di ruang tungu terkejut, termasuk Daviko. Mata mereka menatap serentak ke arah datangnya Saliha yang tiba-tiba. Ia langsung menerobos masuk ke dalam ruangan Kaffara, tidak peduli Daviko di sampingnya menatap terkejut sekaligus terharu.

     "Saliha...dia datang...Pa" Mama Davira histeris. Tangannya menunjuk ke arah tubuh Saliha. Papa Arkaffa mengarahkan matanya ke arah yang sama.

     Rasa panik dan putus asa itu kini berganti dengan rasa haru dan bahagia yang tidak terkira.

     Mama Davira mencoba bangkit dengan sisa tenaga yang ada, langkahnya goyah namun matanya tak lepas dari sosok Saliha yang baru saja menerobos masuk.

     Tim dokter yang mengetahui keberadaan Saliha, segera bertindak. Mereka heran sekaligus mempertanyakan siapa Saliha.

     Saliha langsung menjelaskan bahwa dia adalah ibu susunya. Tim dokter segera melakukan pergerakan dengan cepat, membawa tubuh Saliha mendekati Kaffara.

    Kehadiran Saliha yang tiba-tiba, dengan baju lusuh dan wajah penuh peluh, seolah menjadi cahaya terang yang membelah kekalutan di ruangan itu.

    Di sudut lain, Bu Ratna dan Tari mematung, lidah mereka kelu melihat wanita yang tempo hari mereka usir kini menjadi satu-satunya jawaban atas doa-doa mereka yang putus asa.

     ​Daviko masih berdiri terpaku di dekat pintu. Dadanya sesak oleh rasa haru yang luar biasa hebat. Ia melihat Saliha mengabaikan semua orang, termasuk mengabaikan dirinya. Bagi Saliha, dunia hanya berisi dirinya dan Kaffara saat ini.

     ​Di dalam ruang intensif, setelah tim dokter mendekatkan posisi Saliha dengan Kaffara. Saliha jatuh terduduk di samping ranjang kecil itu. Tangannya yang gemetar meraih jemari Kaffara yang terasa dingin dan tidak berdaya, seolah tanda kehidupan itu sudah tidak ada.

     Isak tangisnya pecah, bercampur dengan suara mesin medis yang masih berbunyi nyaring. Namun, sebuah keajaiban kecil terjadi, garis di layar monitor jantung yang tadinya tidak stabil, perlahan-lahan mulai menunjukkan irama yang lebih tenang tepat saat kulit Saliha bersentuhan dengan kulit Kaffara.

     ​"Kaffara...Ibu di sini, Nak... Ibu datang untuk Kaffara. Ibu tidak akan pergi lagi," bisik Saliha di tengah tangisnya yang sesenggukan.

     Saliha segera memposisikan dirinya, mendekap tubuh kecil itu ke dadanya dengan bantuan salah satu dokter.

    Seisi ruangan seolah menahan napas. Suasana yang tadinya penuh keputusasaan, kini berubah menjadi keheningan yang penuh dengan harapan. Mereka semua menyaksikan bagaimana cinta seorang ibu susu mampu menembus batas kontrak dan logika medis, membawa kembali nyawa yang hampir terbang dari raga yang tak berdaya.

     Mulut bayi mungil yang tidak berdaya itu, langsung memberi respon saat bibirnya menyentuh puting susu Saliha.

     Tubuh Saliha bergetar, saat isapan demi isapan dari mulut mungil bayi itu mulai menyedot ASI-nya yang berlimpah.

     Meskipun di setiap isapan itu ada rasa sakit sisa demam dan bengkak semalam. Namun, Saliha tidak peduli. Ia merasa, rasa sakit itu sebuah kenikmatan dan kesyukuran tiada tara. Sebab, kehadirannya kembali di samping Kaffara, bukan kesia-siaan. Bayi itu ternyata sangat menantikan kehadirannya.

1
Arin
Takut banget harta Daviko benar-benar jatuh ke tangan Saliha😁😁😁. Padahal kepikiran aja gak Saliha. Dia udah sakit hati banget ke Daviko, Tari. Berarti dirimu yang berusaha deketin kakak iparmu demi hartanya, biar gak jatuh ke orang lain. Kalau bisa ya dirimu yang dilirik Daviko, jadi hartanya aman....
Farid Atallah
di tunggu up selanjutnya 🤪
Farid Atallah
maksih up nya Thor, ceritanya bagus sekali ☺️
semangat ya😚
Farid Atallah: semoga hari ini bisa up lagi 🤭
total 2 replies
Oki Rulianti
alhamdulillah,,up nya bnyak banget..cpet2 di sah kan aja..🤭🤭
Nasir: Ditunggu ya.
total 1 replies
Ai Oncom
Makasi kak dah up banyak, tpi ttp berasa kurang..🤭 ttp semangat di tunggu up selanjutnya..😄
Nasir: Mksh ya Kak... 🥰🥰🥰
total 3 replies
Pipit Rahma
penasaran keluarga saliha kemnh. bukannya ada kakaknya?
Nasir: Orang tuanya sudah meninggal, kakak Saliha yg perempuan setelah menikah, dibawa merantau oleh suaminya ke Pulau Sulawesi. Kisahnya sudah saya selipkan sedikit di bab2 awal. Tapi gak dijabarkan secara gamblang. Begitu Kak... lanjut ya.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
Alhamdulillah.. Terima kasih up nya kak..
Nasir: Sama2 Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Pipit Rahma
lanjut semangat....
Nasir: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
koq blm up kak..?
Farid Atallah
kok blm up sih Thor 😥
Nasir: Besok aja ya Kak. Jam segini idenya msh ngambang.. 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Farid Atallah
semangat selalu 🤭
Farid Atallah
di tunggu up selanjutnya ya Thor 😚
Nasir: Siap Kak... mksh dukungannya.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Mama lilik Lilik
nah,mentingin ego sama kemakan omongan mantan mertua nya,tinggal penyesalan,rasain tuh🤭
Dini Hidayani
lanjut dong lagi ramai nih
Nasir: Iya Kak... nanti ya....
total 1 replies
Ai Oncom
lanjut donk kak..🙏
Nasir: Hehe... nanti sore ya....
total 1 replies
Tini Uje
lanjott thor..tpi ntar dlu deh masih ngos ngosan 😅🫰
Nasir: Hehheeh.... tenang Kak.... 🙏🙏
total 1 replies
Ai Oncom
makin seru ceritanya..
Nasir: Mksh Kak..
total 1 replies
Tini Uje
dipinggirin dlu duo dajjal npa thor..pokus salihah sama daviko aja dlu 🤭
Nasir: Hehehh..... 👍👍👍👍
total 1 replies
Arin
Makanya hati-hati dengan mulut.... Sekali terucap hal yang menyakitkan hati akan terus terasa dan diingat....
Nasir: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Afternoon Honey
sudah saya kirim ☕ tambah 🌹
Nasir: Wahhhh.... mksh byk Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!