Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.
Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.
Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.
Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.
Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?
"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Keajaiban Di Tengah Keputusasaan
Perjalanan itu terasa sangat lama dan menyiksa. Saliha akhirnya tiba di terminal Depok, tepat jam tiga sore lebih sedikit. Kini ia masih harus melanjutkan perjalanan lagi ke RS Anak.
Buru-buru Saliha mencegat sebuah angkot yang arahnya memang ke Rumah Sakit Anak. Saliha tidak peduli dengan keadaannya yang kusut dan lusuh. Yang terpenting buatnya saat ini adalah keselamatan Kaffara.
Saliha tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri kalau sampai terjadi apa-apa dengan bayi itu. "Tunggu Ibu, Nak...Ibu mohon. Selamatkan Kaffara, ya Allah." Saliha membatin, tidak terasa air matanya mengalir deras. Namun, Saliha segera menyekanya, karena ia tidak mau menimbulkan kekhawatiran penumpang lain yang melihatnya.
Perjalanan angkot itu terasa lama bagi Saliha, sementara jeritan mesin alat bantu di dalam ruang rawat Kaffara masih berbunyi saling bersahutan.
Disetiap bunyi itu, ada debar jantung yang semakin tidak karuan. Wajah-wajah kusut dan panik menyelimuti semua yang berada di ruang tunggu.
Papa Arkaffa duduk di samping Mama Davira. Tangannya sibuk mengusap bahu sang istri, untuk membesarkan hatinya. Tangis Mama Davira masih belum berhenti, dia begitu terpukul dengan kondisi Kaffara saat ini yang menurut dokter kecil kemungkinan tertolong lagi.
"Kecuali keajaiban," ujar salah satu tim dokter dengan wajah menyesal lalu berlalu.
Helaan napas berat dan nelangsa disertai wajah panik, jelas terlihat dari mereka semua. Mereka putus asa, terlebih Saliha yang sampai saat ini tidak bisa lagi dihubungi oleh Daviko. Membuat keadaan semakin tidak karuan.
"Daviko, coba hubungi lagi!" desak Papa Arkaffa dengan sorot mata tajam, antara panik dan marah.
Daviko patuh, bahkan sejak tadi jarinya sudah bolak-balik menghubungi nomer Saliha yang tadi pagi sempat aktif. Tapi, sampai sore ini HP Saliha tidak aktif lagi. Hal itu membuat Daviko semakin dilanda panik dan rasa bersalah.
"Gimana?" tanya Papa Arkaffa.
Daviko menggeleng, wajah lelah dan panik Daviko terlihat sangat tidak berdaya.
Semua yang ada di ruang tunggu, kembali menghela napas. Kini helaan napas itu, jelas helaan putus asa.
"Kaffara...jangan tinggalkan nenek, Nak! Nenek tidak sanggup kehilangan kamu. Bertahanlah, Nak...."
Tangis histeris sudah tidak bisa ditahan lagi oleh Mama Davira, membuat suasana ruang tunggu menjadi semakin mencekam.
Papa Arkaffa mencoba menenangkan sang istri yang tubuhnya kini lemah, seperti akan pingsan.
"Mama, Sayang...Mama harus tetap kuat demi Kaffara. Mama jangan lemah, kita harus tetap berdoa untuk kesembuhan Kaffara," bujuk Papa Arkaffa.
Mama Davira mencoba beristighfar. Ucapan suaminya benar-benar menghantam dadanya. Ia memang harus kuat demi Kaffara. Dia harus tetap berdoa, bagaimanapun keadaannya.
"Saliha...datanglah, Nak. Kasihanilah Kaffara. Datang, Nak...." Di sebalik rasa putus asa dan doa, Mama Davira terus memanggil nama Saliha, agar perempuan muda itu datang membawa angin segar untuk Kaffara.
Ruang tunggu itu, berubah menjadi ruangan yang sangat mencekam. Doa-doa dalam kepanikan masih terus digulirkan.
Sementara itu, Saliha baru saja tiba di depan RS Anak. Ia melangkah masuk lobi rumah sakit dengan wajah pucat dan pakaian yang lusuh. Kakinya langsung ia arahkan menuju ruang rawat Kaffara, seperti yang disebutkan Bi Tita kemarin di telpon.
Begitu ia sampai di ruang tunggu perawatan intensif, Saliha melihat pemandangan yang begitu memprihatinkan dan mengiris hati. Terutama ketika melihat Mama Davira terus menangis di samping Papa Arkaffa.
Satu per satu orang yang berada di ruang tunggu itu ia absen dengan matanya. Semua terlihat sangat sedih dan terpukul. Tapi, mereka belum sadar akan kehadiran Saliha.
Saliha terus mendekat, sorot matanya kini beralih pada sosok yang selama ini begitu membencinya. Dia berdiri di depan pintu ruang perawatan intensif milik Kaffara.
Saliha melepaskan tas jinjingnya, ia segera berlari menuju pintu itu yang dari dalam ruangan itu terdengar bunyi-bunyi mesin medis yang saling bersahutan.
"Kaffara...ini Ibuuuu...." jeritnya sambil menerobos masuk ke dalam ruangan itu.
Semua yang berada di ruang tungu terkejut, termasuk Daviko. Mata mereka menatap serentak ke arah datangnya Saliha yang tiba-tiba. Ia langsung menerobos masuk ke dalam ruangan Kaffara, tidak peduli Daviko di sampingnya menatap terkejut sekaligus terharu.
"Saliha...dia datang...Pa" Mama Davira histeris. Tangannya menunjuk ke arah tubuh Saliha. Papa Arkaffa mengarahkan matanya ke arah yang sama.
Rasa panik dan putus asa itu kini berganti dengan rasa haru dan bahagia yang tidak terkira.
Mama Davira mencoba bangkit dengan sisa tenaga yang ada, langkahnya goyah namun matanya tak lepas dari sosok Saliha yang baru saja menerobos masuk.
Tim dokter yang mengetahui keberadaan Saliha, segera bertindak. Mereka heran sekaligus mempertanyakan siapa Saliha.
Saliha langsung menjelaskan bahwa dia adalah ibu susunya. Tim dokter segera melakukan pergerakan dengan cepat, membawa tubuh Saliha mendekati Kaffara.
Kehadiran Saliha yang tiba-tiba, dengan baju lusuh dan wajah penuh peluh, seolah menjadi cahaya terang yang membelah kekalutan di ruangan itu.
Di sudut lain, Bu Ratna dan Tari mematung, lidah mereka kelu melihat wanita yang tempo hari mereka usir kini menjadi satu-satunya jawaban atas doa-doa mereka yang putus asa.
Daviko masih berdiri terpaku di dekat pintu. Dadanya sesak oleh rasa haru yang luar biasa hebat. Ia melihat Saliha mengabaikan semua orang, termasuk mengabaikan dirinya. Bagi Saliha, dunia hanya berisi dirinya dan Kaffara saat ini.
Di dalam ruang intensif, setelah tim dokter mendekatkan posisi Saliha dengan Kaffara. Saliha jatuh terduduk di samping ranjang kecil itu. Tangannya yang gemetar meraih jemari Kaffara yang terasa dingin dan tidak berdaya, seolah tanda kehidupan itu sudah tidak ada.
Isak tangisnya pecah, bercampur dengan suara mesin medis yang masih berbunyi nyaring. Namun, sebuah keajaiban kecil terjadi, garis di layar monitor jantung yang tadinya tidak stabil, perlahan-lahan mulai menunjukkan irama yang lebih tenang tepat saat kulit Saliha bersentuhan dengan kulit Kaffara.
"Kaffara...Ibu di sini, Nak... Ibu datang untuk Kaffara. Ibu tidak akan pergi lagi," bisik Saliha di tengah tangisnya yang sesenggukan.
Saliha segera memposisikan dirinya, mendekap tubuh kecil itu ke dadanya dengan bantuan salah satu dokter.
Seisi ruangan seolah menahan napas. Suasana yang tadinya penuh keputusasaan, kini berubah menjadi keheningan yang penuh dengan harapan. Mereka semua menyaksikan bagaimana cinta seorang ibu susu mampu menembus batas kontrak dan logika medis, membawa kembali nyawa yang hampir terbang dari raga yang tak berdaya.
Mulut bayi mungil yang tidak berdaya itu, langsung memberi respon saat bibirnya menyentuh puting susu Saliha.
Tubuh Saliha bergetar, saat isapan demi isapan dari mulut mungil bayi itu mulai menyedot ASI-nya yang berlimpah.
Meskipun di setiap isapan itu ada rasa sakit sisa demam dan bengkak semalam. Namun, Saliha tidak peduli. Ia merasa, rasa sakit itu sebuah kenikmatan dan kesyukuran tiada tara. Sebab, kehadirannya kembali di samping Kaffara, bukan kesia-siaan. Bayi itu ternyata sangat menantikan kehadirannya.
semangat ya😚