Ratu Maharani, gadis 17 tahun yang terkenal bandel di sekolahnya, dengan keempat sahabatnya menghabiskan waktu bolos sekolah dengan bermain "Truth or Dare" di sebuah kafe. Saat giliran Ratu, ia memilih Dare sebuah ide jahil muncul dari salah satu sahabatnya membuat Ratu mau tidak mau harus melakukan tantangan tersebut.
Mau tahu kisah Ratu selanjutnya? langsung baca aja ya kak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Ratu membuka matanya perlahan. lalu Ia berjalan menuju meja rias besar yang terletak di sudut kamarnya. Menatap pantulan dirinya sendiri, ia melihat pipinya yang merona. Senyum kecil menghiasi bibirnya.
"Apa yang barusan gue lakuin?" bisiknya pada pantulan dirinya di cermin. Rasa malu bercampur bahagia menggelayuti hatinya. Ia menyentuh bibirnya, tempat pipi Nathan pernah singgah. Sensasi geli menggelitik perutnya, membuatnya tak berhenti tersenyum.
Kenapa gue jadi berani gini sih? Ih! malu bangat gue, seharusnya gue bisa nahan diri gak usah pakai nyosor duluan, Nathan pasti mikir kalau gue cewek gampangan," batinnya merasa sedikit kesal atas tindakannya sendiri.
Biasanya, ia adalah tipe orang yang lebih suka menunggu, bukan mengambil inisiatif dalam hal ini. Tapi bersama Nathan, ia merasa seperti orang yang berbeda. Lebih bebas, lebih berani, dan lebih bisa menjadi diri sendiri.
Tiba-tiba, getaran dari ponselnya memecah lamunannya. Ratu dengan cepat meraih ponselnya dan melihat notifikasi dari pesan masuk, yang ternyata dari Nathan. Sebuah pesan singkat dengan emoticon hati di akhirnya.
“Makasih buat kecupannya, Ratuku. Bikin semangat di jalan. See you tomorrow.”
Senyum Ratu semakin lebar membaca pesan dari Nathan. Balas gak ya, "Eh, gak usah aja lah, nanti Nathan malah kepedean lagi," gumam Ratu pada diri sendiri.
Setelah membaca pesan Nathan, Ratu meletakkan ponselnya di atas meja rias. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang, Ia berjalan menuju pintu balkon kamarnya dan membuka pintu lalu berdiri di dekat besi pembatas sambil menatap langit.
Langit tampak begitu indah. Warna oranye dan ungu berpadu menjadi satu, menciptakan pemandangan yang menakjubkan. Ratu terpaku menatap langit senja, membiarkan keindahan alam menenangkan hatinya.
Gue harap ini bukan cuma mimpi, batinnya lagi. Ia ingin terus merasakan kebahagiaan ini. Kebahagiaan yang ia temukan bersama hanya bersama Nathan.
Tok!
Tok!
Tok!
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Ratu. Ia gegas menyahut, "Masuk gak di kunci kok!" ujar ratu dengan suara setengah berteriak.
Cklek!
Pintu terbuka pelan, Ratu menoleh ke arah pintu yang ternyata Eyang Rita berdiri di ambang pintu.
"Ratu, Sayang, lagi ngapain? Kok belum belum mandi?" tanya Eyang Rita perhatian.
"Bentar lagi Eyang, nih lagi lihatin senja indah bangat." ujar Ratu menunjukkan langit sore di atas balkonnya.
Eyang Rita gegas masuk dan melangkah pelan menuju balkon kamar Ratu.
"Eyang perhatikan kamu senyum-senyum sendiri dari tadi. Ada apa, nih?" tanya Eyang Rita menyelidik.
Ratu tersipu malu mendengar pertanyaan sang Eyangnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Enggak ada apa-apa kok, Eyang," jawab Ratu sedikit gugup.
Eyang Rita tersenyum maklum melihat tingkah cucu kesayangannya. Ia tahu Ratu sedang menyembunyikan sesuatu.
"Kamu nggak bisa bohong sama Eyang, Sayang. Coba cerita, ada apa?" desak Eyang Rita dengan lembut.
Ratu menghela napas panjang. Ia tahu ia tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Eyangnya.
"Itu ... tadi Nathan pamit pulang, terus Ratu ... udah lah yang Ratu malu," ucap Ratu akhirnya, dengan suara pelan.
Eyang Rita terkekeh kecil mendengar pengakuan Ratu. Ia sudah menduga hal itu.
"Eyang tahu kok. Tadi Eyang tak sengaja lihat dari jendela," ujar Eyang Rita sambil tersenyum menggoda.
Pipi Ratu semakin merona mendengar ucapan Eyangnya. Ia merasa malu ketahuan.
"Ih! Eyang, kenapa mengintip sih!" ucap Ratu dengan memasang wajah cemberut.
Eyang Rita menggelengkan kepalanya. "Kan Eyang sudah bilang tadi, Eyang gak sengaja melihatnya," protes Eyang Rita.
"Tapi, Eyang gak marah?" tanya Ratu ragu.
"Eyang juga pernah muda sayang, dan Eyang percaya kamu bisa jaga diri," jawab Eyang Rita dengan bijak.
Ratu merasa lega mendengar jawaban sang Eyangnya. Ia merasa didukung dan dipercaya. Dan ia berjanji tidak akan mengecewakan kepercayaan yang telah di percaya kan kepadanya.
"Eyang cuman mau bilang, setiap hubungan harus saling percaya, jujur dan terbuka satu sama lain," nasihat Eyang Rita dengan lembut menatap wajah cantik sang cucu dengan penuh kasih.
Ratu menganggukkan kepalanya, menyetujui nasihat Eyangnya. Ia tahu Eyang hanya ingin yang terbaik untuknya.
"Iya, Eyang. Ratu ngerti," jawab Ratu sambil tersenyum tulus lalu memeluk pinggang Eyang Rita dengan hangat.
Eyang Rita tak tinggal diam ia juga membalas memeluk Ratu erat-erat. "Eyang sayang banget sama kamu, Eyang mau lihat kamu bahagia bersama orang yang tepat," bisik Eyang Rita dengan pelan.
Eyang Rita melepaskan pelukannya, menatap Ratu dengan senyum penuh kasih sayang.
"Ya sudah. Sekarang kamu mandi sana. Sebentar lagi makan malam," perintah Eyang Rita sambil menoel gemas hidung mancung Ratu.
"Iya, Eyang. Ratu mandi sekarang," jawab Ratu patuh.
"Eyang keluar dulu ya. Jangan lama-lama mandinya,,unduh sore soalnya," pesan Eyang Rita sambil berjalan menuju pintu.
"Oke, Eyang," jawab Ratu.
Eyang Rita keluar dari kamar Ratu, meninggalkan cucunya yang masih tersenyum-senyum sendiri. Ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ia ikut senang melihat Ratu bahagia dan jatuh cinta. Ia berharap Nathan adalah pria yang tepat untuk Ratu.
Setelah Eyang Rita menghilang di balik pintu, Ratu segera bergegas menuju kamar mandi. Ia menyalakan shower dan membiarkan air hangat membasahi tubuhnya. Ia memejamkan matanya, menikmati sensasi air yang menenangkan.
Tak berapa lama Ratu keluar dari kamar mandi dengan wajah lebih fresh, Ratu mengenakan piyama tidurnya dan keluar dari kamar mandi. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk, lalu berjalan menuju meja rias. Ia memoleskan skincare malamnya tipis-tipis di wajahnya, dan menyemprotkan parfum favoritnya.
***
Di sisi lain, Nathan baru saja sampai di mansion megahnya. Setelah memarkirkan motor di garasi, ia langsung masuk ke dalam mansion.
"Sore, Mam, Pa," sapa Nathan sambil tersenyum. Ia menghampiri sebentar kedua orang tuanya yang sedang duduk di ruang tengah dekat tangga. setelah menyapa singkat gegas menginjak anak tangga hendak menunju kamarnya.
Mama Nadia, yang melihat wajah sumringah sang putra, langsung bertanya dengan nada penasaran, "Eh, tunggu dulu. Kamu kenapa senyum-senyum sendiri gitu? Gak lagi kesambet kan?" tanya Mama Nadia dengan wajah sedikit khawatir.
Nathan langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Mama Nadia.
"Paling kesambet Ratu," cetus Papa Narendra sambil tersenyum menggoda Nathan, yang kini menatap tajam dirinya.
"Apaan sih, Pa. Gak lucu," balas Nathan, pipinya sedikit merona. Ia lalu gegas melarikan diri dengan cepat menuju kamarnya tanpa menjawab pertanyaan sang Mama.
Begitu sampai di depan pintu kamarnya, Ia gegas membuka pintu itu dengan tergesa-gesa. Setelah pintu terbuka ia langsung masuk dan berjalan cepat ke arah kasurnya lalu menjatuhkan dirinya ke atas kasur, kedua tangannya menutupi wajahnya, berusaha meredam senyum yang terus mengembang.
"Gila, Ratu emang bikin aku gila!" gumamnya pelan, dengan nada yang penuh kebahagiaan.
Ia berguling-guling di atas kasur, seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah yang sangat diinginkannya. Bayangan wajah Ratu saat mencium pipinya terus berputar di benaknya, membuatnya semakin salah tingkah.
Setelah puas berguling-guling, Nathan bangkit dari kasur dan berjalan menuju cermin. Ia menatap pantulan dirinya, mengamati pipinya yang masih terasa hangat.