Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.
Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.
Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Shelina duduk di kursi makan, tangannya terlipat di atas meja. Pandangannya kosong, tertuju pada sepiring sayur lodeh yang uapnya sudah hampir hilang. Sejak sore tadi ia memasak dengan hati penuh harap, mengaduk santan perlahan, mencicipi kuahnya berulang kali, memastikan rasanya pas. Semua ia lakukan bukan karena lapar, tapi karena ingin melihat Kaisar makan dengan lahap dan mungkin tersenyum.
Hari ini ia sengaja tidak ke kampus. Kelasnya diundur besok. Waktu yang ia miliki seharusnya jadi berkah, pikirnya. Waktu untuk memperbaiki suasana, untuk menyenangkan suaminya.
Shelina menghela napas pelan. Dadanya terasa sesak oleh perasaan yang tak bisa ia beri nama, kecewa, sedih, lelah, semuanya bercampur.
Shelina menunduk, jemarinya gemetar saat menyentuh sendok, tapi ia tak jadi mengambilnya. Tenggorokannya terlalu kering untuk makan.
“Kenapa susah sekali ya…” gumamnya hampir tak terdengar.
“Aku cuma mau bikin kamu nyaman, Kai.”
Matanya berkaca, bukan tangis yang meledak, tapi yang menetes perlahan dan jatuh satu per satu ke meja, nyaris tak bersuara. Ia menghapusnya cepat-cepat, seolah takut ada yang melihat. Padahal rumah itu sepi.
Di dalam kamar, Kaisar merebahkan tubuhnya di atas ranjang tanpa benar-benar berbaring. Satu tangan menutup wajah, yang lain meremas seprai. Dadanya masih naik turun tidak beraturan ketika ponselnya berdering.
Nama Kinara muncul di layar. Kaisar mendengus pelan, lalu mengangkat panggilan itu.
“Ya, Mom…”
Belum sempat ia berkata lebih, suara Kinara sudah terdengar ceria di seberang sana.
[Gimana kabarnya, Kai?] godanya ringan.
[Istri kamu manis ya. Sore tadi nelepon Mommy cuma buat nanya masakan kesukaan kamu.]
Kaisar terdiam, dan kemudian terdengar Kinara yang tertawa kecil.
[Sayur lodeh, kan? Mommy langsung kepikiran, wah … ini tandanya Shelina lagi berusaha bikin kamu nyaman. Jarang-jarang ada menantu mau repot begitu apalagi dia seorang dosen,]
Kaisar menelan ludah, tangannya yang sejak tadi menekan kening kini jatuh ke samping. Ingatannya melayang ke meja makan. Ke piring berisi sayur lodeh. Ke wajah Shelina yang menahan sesuatu saat ia membentaknya.
[Oh ya, Kai,] lanjut Kinara, nadanya masih hangat.
[Kalau istri masak buat suaminya, itu bukan soal makanan. Itu caranya bilang dia peduli pada lelahmu seharian di luar rumah.]
Kalimat itu seperti menghantam tepat di dada Kaisar.
“Iya, Mom,” jawabnya lirih. “Kaisar … ngerti.”
Mereka tak berbincang lama. Kinara menutup telepon dengan pesan sederhana,
[Jaga istrimu baik-baik.]
"Iya, Mom. Kaisar janji akan menjaga Miss Shelina dengan baik,"
Panggilan terputus.
Kaisar menatap layar ponselnya yang menggelap. Kamar terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Ia duduk tegak, lalu mengusap wajahnya kasar, napasnya berat.
“Sial…” gumamnya pelan, kali ini bukan karena marah tetapi melainkan menyesal.
Bayangan Shelina kembali muncul. Duduk sendiri di meja makan. Kaisar mengepalkan tangan, rahangnya mengeras.
“Aku kebangetan,” bisiknya.
Ia bangkit dari ranjang, berjalan mondar-mandir di kamar. Setiap langkah terasa gelisah. Ia ingin keluar, ingin menemui Shelina, tapi kakinya seperti tertahan oleh rasa bersalah yang menumpuk.
Perlahan, ia duduk di tepi ranjang. Bahunya jatuh, seluruh tubuhnya seperti kehilangan tenaga.
“Aku janji berubah … tapi aku malah nyakitin kamu lagi,” ucapnya lirih, seolah Shelina ada di depannya.
Akhirnya, setelah pertimbangan, kaisar membuka pintu kamar dan berniat untuk menemui Shelina di bawah. Setidaknya dia akan berusaha meminta maaf dari pada tidak sama sekali pikirnya.
trs sepupunya yg bawa amira nikah ga thor?
jd penasaran sm kisah mereka
kasian dirimu rico,niat hati ingin menjatuhkan kaisar dan shelin,kamu sendiri yg ketakutan,takut ketahuan kesalahanmu.