NovelToon NovelToon
Doa Bersama Cahaya

Doa Bersama Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Keluarga / Mantan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.

Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.

Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wajah Cerah yang Bertahan

🕊

Enam bulan.

Tidak ada kembang api. Tidak ada garis penutup dramatis seperti di film. Tapi pagi itu, Alea bangun dengan perasaan yang berbeda—ringan, utuh, dan tidak lagi berisik di dalam kepala.

Ia berdiri di depan cermin kamar, menatap bayangannya sendiri. Seragam baru itu jatuh rapi di tubuhnya, dengan jilbab hitam yang dimasukkan ke dalam seragamnya. Tidak berlebihan, tidak mencolok. Sederhana, bersih, dan terasa pas—seperti hidupnya sekarang.

Alea menghembuskan napas pelan. Bukan napas gugup. Bukan napas cemas.

Ini napas orang yang siap. “Enam bulan,” gumamnya lirih sambil merapikan kerah. “Akhirnya.”

Dulu, pagi seperti ini akan diisi dengan jantung berdegup terlalu cepat, telapak tangan dingin, dan pikiran yang sibuk membayangkan kemungkinan terburuk. Salah ngomong. Salah sikap. Salah langkah.

Tapi hari ini tidak.

Hari ini pikirannya jernih.

Ia mengambil tas, melirik sekilas ke arah tempat tidur yang berantakan semalam. Ada versi dirinya yang tertinggal di sana—Alea yang mudah meledak, mudah tersinggung, terlalu sering merasa kecil. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu menyesalinya.

“Terima kasih,” katanya dalam hati. “Tapi gue jalan sendiri sekarang.”

Di dapur, suasana pagi berjalan seperti biasa. Aroma kopi Papa menyebar. Ayu sedang menyiapkan bekal sambil sesekali mengecek jam. Ara duduk di meja, menyeruput teh, masih setengah mengantuk. Dika bersandar di pintu, memainkan ponsel.

“Wah,” Dika mengangkat kepala lebih dulu. “Kak Alea keliatan… beda.” Alea mengangkat alis. “Beda gimana?”

“Tenang,” jawab Dika jujur. “Biasanya keliatan mau perang.” Ara terkekeh. “Iya. Sekarang keliatan kayak… orang yang tau dia ngapain.” Alea tertawa kecil. Bukan tawa keras, bukan juga tawa canggung. Tawa yang nyaman. “Mungkin karena gue emang udah tau.”

Papa menurunkan korannya, menatap Alea sejenak. Tidak lama. Tapi cukup. “Jalan pelan-pelan,” katanya singkat. “Nikmati.” Alea mengangguk. “Iya, Pa.” Tidak ada wejangan panjang. Tidak ada drama. Tapi dadanya terasa hangat.

Di luar rumah, matahari belum terlalu tinggi. Udara masih bersih. Saat Alea melangkah, ia sadar—tidak ada lagi rasa ingin menunduk. Bahunya lurus. Langkahnya mantap. Bukan karena sok kuat, tapi karena ia tidak lagi merasa perlu membuktikan apa pun.

Tempat baru itu ramai, tapi tidak mengintimidasi. Suara orang berbicara, langkah kaki, tawa kecil, semuanya bercampur. Dulu, keramaian seperti ini membuatnya ingin menghilang. Sekarang, Alea menarik napas dan masuk ke dalamnya. Seorang perempuan menyapanya di depan. “Kamu Alea, ya?”

“Iya,” jawab Alea, tersenyum sopan. “Selamat datang. Nanti kamu satu tim sama kita.”

“Siap,” ucap Alea ringan.

Di dalam ruangan, beberapa pasang mata melirik. Ada yang ramah, ada yang biasa saja, ada juga yang menilai—Alea bisa merasakannya. Tapi kali ini, ia tidak bereaksi berlebihan. Tidak merasa ditantang. Tidak merasa terancam.

Seseorang berkata dengan nada agak meremehkan, “Oh, kamu yang baru? Semoga betah ya. Di sini tekanannya lumayan.”

Alea menoleh. Tatapannya tenang. Senyumnya tetap ada, tidak berkurang, tidak bertambah. “Terima kasih,” katanya. “Tekanan bikin gue belajar fokus.” Tidak ada nada tinggi. Tidak ada pembelaan berapi-api. Tapi cukup jelas—ia tidak mudah digoyahkan.

Dalam hati, Alea tersenyum kecil. “Gue bisa begini sekarang.”

Hari berjalan cepat. Ada hal yang membingungkan, ada juga yang melelahkan. Tapi tidak ada yang terasa menghancurkan. Saat sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, Alea tidak meledak. Ia berhenti sejenak, berpikir, lalu melangkah lagi.

Saat istirahat, ia duduk sendiri sebentar, menatap jendela. Cahaya siang masuk lembut. Dan di sana, tanpa drama, tanpa sorak sorai, Alea merasa bahagia.

Bukan bahagia yang berisik.

Tapi bahagia yang tinggal.

“Gue baik-baik aja,” bisiknya pada diri sendiri. “Dan gue kuat.”

Hari itu, Alea pulang dengan wajah cerah. Bukan karena segalanya sempurna, tapi karena untuk pertama kalinya, ia benar-benar berdiri sebagai dirinya sendiri—tegak, santai, dan tidak lagi takut menghadapi dunia.

Dan ia tahu, ini bukan akhir cerita.

Ini versi baru Alea.

Versi yang akan bertahan.

Hari pertama itu tidak datang dengan sambutan hangat atau tepuk tangan. Ia datang dengan tatapan singkat, nada datar, dan suasana kerja yang bergerak cepat tanpa menunggu siapa pun siap.

Alea berdiri di area belakang, mengenakan seragamnya dengan rapi, jilbab rapi sederhana. Ia memperhatikan sekeliling—meja stainless, rak bahan, suara oven, dan aroma adonan yang masih hangat. Semua terasa asing, tapi tidak menakutkan. Ia sudah terlalu sering berdiri di tempat seperti ini untuk merasa gentar.

“Yang baru, ya?” Suara itu datang dari samping. Seorang perempuan dengan name tag agak pudar menatap Alea dari ujung kepala sampai kaki. Sikapnya santai, tapi sorot matanya penuh penilaian.

“Iya,” jawab Alea tenang. “Alea.” Perempuan itu mengangguk kecil. “Gue Rina. Gue di sini dari awal buka. Jadi kalau ada apa-apa, biasanya lewat gue.” Nada suaranya tidak kasar. Tapi cukup jelas menunjukkan posisi.

Alea tersenyum tipis. “Siap. Makasih infonya.” Tidak ada sikap defensif. Tidak ada nada menantang. Alea hanya mencatatnya di kepala—oh, ini tipe senioritasnya—lalu membiarkannya lewat begitu saja.

Di sudut lain, dua orang rekan kerja sedang berbincang pelan.

“Dia baru, tapi kayaknya udah biasa kerja,” bisik salah satunya.

“Iya, tapi tetep aja, di sini beda,” sahut yang lain.

Alea mendengar. Ia memilih tidak menoleh.

Baginya, tidak ada yang berubah. Mau siapa pun yang merasa lebih dulu masuk, lebih lama bertahan, atau merasa punya hak lebih karena ikut membangun tempat ini—itu tidak mengubah satu hal pun, pekerjaannya tetap sama. Melayani dengan benar. Bekerja dengan rapi. Menjaga sikap.

Saat jam operasional dimulai, ritme langsung terasa. Pesanan masuk, pelanggan berdatangan. Alea bergerak tanpa tergesa, tapi sigap. Senyumnya tidak dibuat-buat. Tangannya cekatan. Ia tahu kapan harus menyapa, kapan harus diam, kapan harus meminta maaf tanpa berlebihan.

“Selamat siang, mau pesan apa?” ucapnya ramah pada pelanggan pertama hari itu. Nada suaranya stabil. Tidak terlalu manis. Tidak dingin. Seorang pelanggan sedikit cerewet soal pesanan. Dulu, hal kecil seperti itu bisa membuat Alea panas. Tapi sekarang, ia mendengarkan sampai selesai.

“Baik, saya ulangi ya pesanannya biar nggak salah,” katanya sabar. Pelanggan itu mengangguk. Selesai tanpa drama. Dari kejauhan, Rina memperhatikan. Tidak berkomentar, tapi alisnya terangkat sedikit.

Di sela waktu senggang, seorang rekan laki-laki mendekat. “Lo sebelumnya kerja di mana?”

“Beberapa tempat,” jawab Alea jujur. “Kafe, resto kecil, sama tempat yang shift-nya lumayan keras.”

“Pantesan,” gumamnya. “Gerak lo rapi.” Alea hanya tersenyum. Ia tidak merasa perlu menceritakan semuanya.

Di balik apron, di saku kecil dekat pinggang, ada notes tipis yang selalu ia bawa. Saat istirahat singkat, Alea duduk sebentar, mengeluarkan notes itu bersama pulpen. Ia menulis cepat, singkat, tapi penuh makna.

Hari pertama.

Tetap tenang.

Jangan reaktif.

Kerja benar, bukan cari benar.

Ia berhenti sejenak, menatap tulisan itu. Ada rasa asing yang menyenangkan. Dulu, Alea hampir tidak pernah menuliskan apa pun selain keluhan. Sekarang, setiap perilaku jadi target. Setiap hari jadi bahan evaluasi. Ia memasukkan kembali notes itu ke saku, berdiri, lalu kembali ke area kerja.

Sore mendekat, tekanan meningkat. Pesanan menumpuk. Ada rekan kerja yang mulai berbicara agak ketus. “Cepet dikit dong.”

“Jangan salah taruh!” Nada itu menusuk, tapi tidak memicu ledakan. Alea menoleh, menatap orang itu sebentar, lalu menjawab singkat dan jelas. “Siap. Gue perbaiki.” Tidak ada nada tinggi. Tidak ada wajah tersinggung.

Dan di detik itu, Alea menyadari sesuatu—dirinya benar-benar sudah berubah. Ia bukan lagi Alea yang mudah tersulut, yang merasa semua sikap orang lain adalah serangan. Ia bukan Alea yang “senggol bacok”, yang bereaksi dulu baru berpikir belakangan.

Sekarang, ia memilih.

Memilih diam saat perlu.

Memilih bicara saat waktunya.

Memilih menulis agar tidak lupa pada dirinya sendiri.

Saat jam kerja berakhir, tubuhnya lelah, tapi kepalanya ringan. Alea melepas apron, menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil. “Hari pertama selesai,” gumamnya.

Bukan tanpa tantangan.

Bukan tanpa ego orang lain.

Tapi ia berdiri utuh.

Dan di saku seragamnya, notes kecil itu menjadi pengingat, bahwa perubahan tidak datang dari teriakan, melainkan dari konsistensi yang pelan tapi bertahan.

☀️☀️

1
mama Al
seperti lingkungan alea baik semua
Skngwr20: Terima kasih sudah berkunjung kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!