Maxime Brixtone adalah seorang mafia yang sepanjang hidupnya terjebak dalam perselisihan kelam dengan ibu tirinya. Di tengah hidupnya yang penuh duri dan misteri tentang bagaimana konflik itu akan berakhir, Max berada di ambang kematian akibat rencana pembunuhan yang dirancang oleh sang ibu tiri.
Tak disangka, hidupnya di selamatkan oleh seorang wanita yang telah bersuami. Max bersembunyi di kediaman wanita tersebut, hingga mereka tanpa sengaja menyaksikan sang suami melakukan perselingkuhan.
Dari titik itu, batas antara rasa terima kasih, kemarahan, dan obsesi kepada wanita penyelamat hidupnya mulai kabur.
Max pun memiliki sebuah ide gila untuk menjadikan wanita yang telah menyelamatkan nyawanya menjadi seorang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 11
Max pun berdiri, diikuti oleh semua orang yang di dalam ruangan. Tanpa banyak kata, Max membenarkan jasnya dengan gerakan tenang namun penuh wibawa. Drake spontan mengulurkan tangannya, berniat mengajak berjabat tangan.
Namun Max, yang sudah mengetahui dengan jelas siapa Drake, memilih tidak menyambut uluran itu. Max hanya melirik sekilas, lalu berbicara dengan nada dingin sambil tetap merapikan jasnya.
“Aku harap kalian memiliki latar belakang yang bersih.” Ucap Max datar.
“Tidak ada skandal apa pun.” Sekali lagi Max mengatakannya dengan penekanan.
Senyum lebar di wajah Drake seketika memudar. Tangannya yang terulur perlahan turun, jemarinya menegang.
Wajah gelap Drake tertangkap jelas oleh mata Max, begitu pula oleh Ezme. Gadis muda itu mendadak gemetar, firasat buruk merayap di dadanya.
Cedric buru-buru maju dan mengulurkan tangannya, berusaha menutup kecanggungan yang menggantung di udara.
“Anda tidak perlu ragu, Tuan Max.” Katanya mantap dengan senyum selebar mungkin.
“Keluarga Genevra selalu menjaga harkat dan martabat. Tidak akan ada kesalahan, tidak ada skandal apa pun. Kami sangat bersih.”
Sudut bibir Max terangkat tipis, senyum yang lebih mirip ejekan daripada kehangatan.
Tanpa menyambut uluran tangan Cedric, Max berbalik dan melangkah pergi.
“Sombong dan sok suci sekali.” Gumam Ezme lirih.
“Hussh!” Cedric langsung menegurnya dengan suara tertahan.
“Sudah Ayah bilang berkali-kali, jaga ucapanmu! Kita bisa mati kapan saja dan di mana saja kalau kau tidak menjaga mulutmu.”
“Ayah!” Bantah Ezme. “Aku tidak suka cara dia memandang kita. Seolah-olah kita ini serangga penghisap darah.”
“Ini semua demi perusahaan kakakmu.” Pinta Cedric.
Ezme hanya membalas dengan cemberut, dan Drake membelai bahu kecil Ezme dengan lembut.
Sementara itu, Max yang telah melangkah keluar gedung tanpa sengaja berpapasan dengan seorang pria bertubuh jangkung. Langkahnya terhenti beberapa detik.
“Beliau Darwin, Tuan.” Bisik Bleiz. “Anak tertua Cedric.”
Max menoleh, ia melihat Darwin sedikit berlari masuk ke dalam ruangan tempat ayah dan adiknya berada.
“Selidiki semuanya.” Perintah Max pelan namun tegas.
“Jangan ada yang terlewat. Aku tidak asing dengan wajah itu.”
“Baik, Tuan.”
“Dan satu lagi.” Lanjut Max.
“Sebisa mungkin buat pria bernama Drake itu sibuk. Sangat sibuk. Pastikan Cedric menempatkan Drake di posisi perusahaan yang cukup bagus. Tenggelamkan dia dalam kehidupan barunya. Buat kehidupan itu terasa jauh lebih menyenangkan dibandingkan kehidupan lamanya.”
Max masuk ke dalam mobil.
Bleiz berdiri terpaku. Perintah itu membuatnya terkejut.
“Dia tahu sesuatu…” Gumam Bleiz pelan.
Bleiz yakin, Max menginginkan sesuatu dari Drake. Dan Max adalah pria yang selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
Bahkan jika ia harus membakar seluruh dunia untuk itu. Dengan cara apa pun apa yang Max ingin genggam, pasti akan tergenggam.
*****
Restoran kecil itu awalnya dipenuhi suara wajan dan aroma minyak panas. Zayna sibuk kesana kemari membersihkan meja dan mencuci semua peralatan masak serta peralatan makanan yang sudah kotor sisa-sisa pelanggan, meski demamnya belum juga turun, Zayna masih tetap bekerja demi membayar segunung hutang yang ia miliki, dengan tangan gemetar dan tubuh nya sedingin es, wajah Zayna juga pucat, ia tetap memaksakan diri bekerja menggunakan energi yang tersisa.
Malam itu pukul 11, pelanggan semakin sepi, tiba-tiba pintu restoran terbuka keras.
“BRAKK!”
Dua pria datang, satu bertubuh besar memakai jaket hitam, satu lagi bertubuh kurus memakai kemeja bermotif norak, mereka masuk tanpa permisi dan tak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitar.
Jaket kulit lusuh, tato di lengan, dan tatapan mata yang kasar, cukup sekali lihat untuk tahu mereka bukan pelanggan.
Zayna yang berada di bagian belakang langsung menyadari, tubuhnya menegang.
Pemilik restoran yang sedang menyusun piring langsung berhenti bergerak.
“Dimana wanita itu!” Ujar salah satu pria dengan suara berat yang memakai jaket hitam.
“Mana orangnya!”
Langkah kaki berat mendekat ke meja kasir. Zayna menelan ludah, lalu memberanikan diri maju selangkah.
“Saya… Sudah menyiapkannya.” Ucap Zayna lirih.
”Kita keluar dulu…” ajak Zayna tak ingin terjadi sesuatu di dalam restoran.
Belum sempat Zayna berjalan, salah satu rentenir menyapu gelas-gelas di meja terdekat hingga jatuh berantakan.
PRANG!
Pemilik restoran tersentak.
“Tolong… jangan bikin masalah di sini. Ucap pemilik restoran tersebut dengan gemetar.
“Ini tempat usaha saya.”
“Diam!” Bentak pria kurus, dan mengambil makanan lalu melahapnya, sedangkan pria berjaket hitam masih menendangi kursi hingga terguling.
Zayna refleks maju.
“Saya akan bayar. Saya sudah menyiapkan uangnya.”
Zayna berlari dan merogoh tas lusuhnya lalu mengeluarkan amplop yang berisi lembar-lembaran uang, yang ia dapatkan dari Taylor tadi pagi. Tangannya bergetar saat menyerahkannya.
Pria itu mengambil uang tersebut, menghitungnya dengan kasar.
Wajahnya langsung berubah gelap.
“Cuma segini?” Katanya dingin.
“Itu… itu semua yang saya punya hari ini, itu gaji saya di Cafe yang seharusnya saya dapatkan di akhir bulan.” Jawab Zayna dengan suara bergetar. “Saya janji minggu depan akan…”
“Minggu depan?!” Bentak pria bertubuh besar itu.
Si pria kurus tertawa sambil makan.
”Sudah kita bawa saja wanita itu.”
“Tolong… Jangan…” Suara Zayna yang lemah nyaris tak terdengar. Tubuhnya juga semakin lemah.
”Saya benar-benar sudah berusaha…”
Pemilik restoran berdiri kaku di sudut ruangan, wajahnya pucat pasi, ia takut tempat usahanya hancur, dan takut nyawanya ikut melayang.
Si pria besar itu kembali melihat ke arah Zayna, tatapannya penuh ancaman. Zayna terdiam. Napasnya tersengal. Di dalam dadanya, rasa takut dan putus asa bercampur jadi satu.
Dan ia tahu, ini tidak akan berakhir begitu saja dengan mudah.
Pria bertubuh besar kemudian mencengkram dagu Zayna dengan sangat kuat.
“Aku benar-benar sudah kehabisan kesabaran, kau akan ku nikmati sampai aku bosan, dan akan ku jual semua organ tubuhmu.”
Pikiran Zayna kacau, berputar tanpa arah. Air matanya meleleh. Wajah Drake terus muncul di benaknya, senyum yang dulu terasa hangat, janji-janji yang pernah ia percayai sepenuh hati. Pria itu berselingkuh, meninggalkannya dengan luka dan hutang yang bahkan bukan sepenuhnya miliknya. Drake pergi begitu saja, seolah semua beban itu bukan urusannya. Seolah Zayna hanyalah bayangan yang bisa ditinggalkan tanpa rasa bersalah.
“Kenapa aku yang harus menanggung semuanya.” Batin Zayna.
Zayna menggigit bibirnya hingga terasa perih. Hutang itu atas nama Drake, tapi para rentenir datang mencarinya. Mengancamnya. Menghancurkan tempat ia bekerja. Sementara Drake? Bahkan untuk sekadar membantu membayar, pria itu tak pernah peduli.
Namun, anehnya, di balik rasa sakit dan amarah itu, Zayna masih merindukannya.
Di sudut hatinya yang paling rapuh, ia berbisik lirih pada Tuhan.
“Tuhan… Kembalikan Drake padaku…
Aku mohon… Hanya dia yang aku punya. Aku takut menghadapi semua ini sendirian.” Tangis Zayna memuncak tanpa suara.
Zayna tahu doa itu terdengar bodoh, ia tahu Drake telah mengkhianatinya. Tapi ketakutan lebih besar daripada harga diri, ia takut menghadapi para rentenir sendirian. Takut pada ancaman mereka. Takut pada malam-malam tanpa perlindungan. Takut pada kenyataan bahwa dunia begitu kejam pada perempuan yang sendirian dan tidak punya siapa-siapa.
Tangannya gemetar.
“Kalau Drake ada di sini… Aku tidak sendirian…”
Air mata mengalir tanpa bisa ia cegah. Zayna bukan meminta cinta yang utuh lagi, ia hanya meminta seseorang berdiri di sampingnya. Siapa pun. Bahkan pria yang telah menghancurkan hatinya, karena sendirian, terlalu menakutkan bagi Zayna.
Bersambung
penguntit suruhan nevari belum tuntas yg kemarin 🤣🤣🤣
hemmm mau ketemu istri orang aja adaaa saja gangguannya😏
ceritanya nggantung lagi dah kayak kates
sombonge ndhisek ajooorrre kari wkwkwk