NovelToon NovelToon
Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas dendam pengganti / Dunia Lain
Popularitas:593
Nilai: 5
Nama Author: indri sanafila

Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.

Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".

Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.

Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Menyiram Kamar yang Berdebu

Begitu bunker "Akar Sejati" tersedot masuk ke pusaran di puncak menara, Sekar sudah menutup mata, siap buat ngerasain guncangan hebat yang bakal bikin badannya remuk. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Suasana mendadak jadi sunyi banget sunyi yang tipe "tuli", di mana suara napas sendiri pun kerasa kenceng banget.

Bunker mereka mendarat dengan suara dent pelan, bukan ledakan. Pas Sekar ngebuka mata, dia nggak liat kabel, pipa, atau mesin alien yang ribet. Dia justru ngelihat sesuatu yang bikin hatinya mencelos.

Mereka ada di sebuah ruangan yang persis banget kayak kamar tidur. Tapi bukan kamar tidur mewah di apartemen Jakarta, melainkan kamar masa kecil Adrian. Ada kasur dengan sprei gambar robot yang udah pudar warnanya, meja belajar kayu yang penuh coretan, dan tumpukan buku gambar di pojokan.

Tapi, semuanya dalam keadaan menyedihkan. Dindingnya retak-retak, debunya tebel banget, dan ada bau apek kayak ruangan yang udah dikunci selama puluhan tahun.

"Ini... puncak menara?" Aris keluar dari kokpit sambil garuk-garuk kepala. Dia megangin radiatornya yang masih berasap. "Gua pikir kita bakal nemu server raksasa atau apa, taunya malah gudang kenangan."

Adrian kecil turun dari punggung Sekar. Kakinya yang mungil nginjek lantai kayu yang berderit. Dia jalan pelan nuju ke arah meja belajar itu, jarinya ngusap debu di atas sebuah foto lama. "Ini aku... dulu," bisiknya.

Tiba-tiba, pintu kamar yang terbuat dari kayu jati tua itu terbuka dengan bantingan keras. BRAAAK!

Sesosok pria masuk. Dia nggak lagi setinggi gunung atau bawa sabit raksasa. Dia adalah Adrian. Tapi bukan Adrian yang tadi lemes di Kawah Putih. Ini adalah Adrian "CEO" yang sempurna.

Jasnya hitam licin tanpa debu selerah pun, jam tangannya berkilau mahal, dan rambutnya tersisir rapi banget. Tapi, matanya... matanya hitam pekat, sedingin es di kutub.

Si Raksasa Bayangan udah mengecil, berubah jadi ego murni yang paling kuat.

"Lihat dirimu,"ucap Adrian CEO sambil natap Adrian kecil dengan jijik. "Kamu meringkuk di pelukan wanita kebun ini, gemetar ketakutan di kamar yang sampah ini. Apa ini yang kamu mau? Kembali jadi bocah yang lemah?"

"Dia nggak lemah!" bentak Sekar, dia berdiri di depan Adrian kecil, melindunginya.

Adrian CEO ketawa sinis. Dia jalan muterin ruangan itu, jarinya ngetuk-ngetuk dinding yang retak.

"Sekar, bangunlah. Di luar sana, semesta ini lagi mau di-flush, mau dibuang ke tempat sampah galaksi. Kalau kita nggak bersatu sekarang, kita bakal ilang. Tapi kalau dia si sari jiwa yang nggak berguna ini nyerahin dirinya ke gua, gua bakal punya kekuatan buat ngebajak sistem The Watchers.

Kita nggak cuma bakal balik ke bumi, kita bakal kuasai galaksi ini, Sekar. Kamu mau kebun teh? Aku bisa kasih kamu satu planet yang isinya cuma teh!"

"Gua nggak butuh satu planet teh!" bales Sekar. "Gua cuma butuh satu orang yang gua sayang, yang tau artinya hidup!"

Menyiram yang Layu

Sekar sadar, ruangan ini bukan cuma sekadar memori. Ini adalah "Inti" dari eksistensi Adrian. Kamar ini layu karena Adrian udah lama banget ninggalin sisi kemanusiaannya demi ngejar ambisi. Dinding yang retak-retak itu adalah tanda kalau jiwa Adrian udah nggak sanggup nahan beban egonya sendiri.

"Dri, liat tanaman ini," Sekar ngambil botol kecil berisi "Teh Pemulih" yang tadi dia bawa dari gua karang. Daun teh pelangi itu masih bersinar di dalem air perak.

"Jangan konyol, Sekar. Air rendaman daun nggak bakal bisa benerin retakan realitas,"ejek Adrian CEO. Dia ngulurin tangannya ke arah Adrian kecil. "Kemarilah, Nak. Berikan kekuatanmu padaku. Kita akan jadi dewa."

Adrian kecil kelihatan bimbang. Dia natap Adrian CEO yang kelihatan sangat kuat dan berkuasa, terus dia natap Sekar yang kelihatan lelah tapi matanya penuh kasih sayang.

"Jangan, Dri! Kalau lu ke dia, lu bakal jadi mesin yang nggak punya perasaan selamanya!" teriak Aris dari balik bunker. "Ingat cara kita benerin radiator tadi! Kita butuh kerja sama, bukan penguasaan!"

Sekar langsung jongkok di tengah ruangan. Dia numpahin air Teh Pemulih itu ke atas lantai kayu yang retak. "Adrian... kamar ini butuh disiram. Lu nggak butuh kekuatan buat nguasai galaksi. Lu butuh kekuatan buat ngerasain lagi."

Begitu air perak itu nyentuh lantai, cahaya pelangi langsung ngerambat ke dinding. Retakan-retakan itu mulai tertutup bukan oleh semen, tapi oleh jalinan akar teh yang halus. Kamar yang tadinya bau apek mendadak wangi segar, persis kayak Malabar setelah hujan badai.

Adrian CEO ngerasa badannya kesakitan. Dia megangin dadanya. "Apa yang kamu lakukan?! Kamu ngerusak tatanan kekuasaan yang udah gua bangun!"

"Gua lagi ngingetin lu siapa lu sebenernya," bisik Sekar. Dia narik tangan Adrian kecil dan maksa tangan mungil itu buat nyentuh bayangan Adrian CEO.

Pertarungan Dua Sisi

Begitu tangan Adrian kecil nyentuh jas licin Adrian CEO, ledakan energi terjadi di dalem kamar itu. Aris sampe terpental masuk ke dalem bunker lagi.

Sekar tetep bertahan di tengah-tengah mereka. Dia ngerasa ditarik ke dua arah. Di satu sisi, ada amarah dan ambisi yang luar biasa gede dari si CEO. Di sisi lain, ada kepolosan dan cinta yang sangat murni dari si bocah.

"Kalian berdua adalah Adrian!" teriak Sekar di tengah badai cahaya. "Jangan saling bunuh! Bersatu! Jadilah akar yang kuat buat Malabar!" Adrian CEO mulai luntur. Jas mahalnya mulai sobek, nampilin cahaya emas di baliknya. Matanya yang hitam mulai kemasukan warna biru air terjun. Sementara Adrian kecil mulai tumbuh besar, raganya memanjang, wajahnya makin dewasa.

"Aku... aku nggak mau sendirian lagi di kegelapan,"suara Adrian CEO mulai bergetar, egonya mulai runtuh. "Aku juga ingin jadi kuat buat jagain Kak Sekar," suara Adrian kecil menyahut.

Sekar ngelihat pemandangan yang nggak masuk akal. Dua sosok itu mulai lebur. Cahaya emas dan bayangan hitam muter-muter kayak tornado di dalem kamar kecil itu. Sekar ngerasain energi yang sangat padat, lebih kuat dari ledakan di Kawah Putih.

Tapi di saat yang sama, dinding kamar itu mulai rontok satu-satu. Bukan karena teh Sekar, tapi karena di luar sana, proses The Flush udah dimulai. Suara gemuruh pembuangan dimensi kedengeran makin kenceng, kayak suara air terjun raksasa yang mau nelan mereka semua.

"ARIS! WAKTUNYA HABIS!" teriak Sekar sambil terus megangin jalinan cahaya itu.

"GUA TAHU! TAPI GUA NGGAK BISA JALANIN BUNKER KALAU KEKUATANNYA LAGI PADA BERANTEM DI SITU!" Aris nyoba nahan pintu bunker biar nggak terbang kebawa angin vakum yang mulai masuk lewat retakan dinding.

Bangkitnya Sang Penjaga Baru

Tiba-tiba, cahaya itu meledak dalam satu titik putih murni. Kamar tidur itu mendadak jadi tenang lagi, meskipun dinding-dindingnya udah hampir ilang, nampilin pemandangan lubang hitam di luar sana yang makin deket.

Di tengah ruangan, berdiri satu sosok.

Dia bukan anak kecil lagi. Dia juga bukan Adrian CEO yang sombong. Dia adalah Adrian. Wujudnya pria dewasa, badannya tegap dan tangguh, pake zirah yang warnanya hitam metalik tapi punya ukiran akar emas yang hidup di sepanjang lengannya.

Tapi yang paling beda adalah matanya. Matanya sekarang emas murni yang bersinar, tenang banget, kayak telaga yang sangat dalem. Nggak ada lagi amarah, nggak ada lagi ketakutan. Cuma ada ketegasan yang didasari oleh empati.

"Adrian?" Sekar manggil dengan suara lirih.

Pria itu nengok. Dia jalan nuju Sekar, langkah kakinya kerasa sangat berwibawa tapi lembut. Dia ngulurin tangannya, dan kali ini Sekar nggak ngerasa kesetrum. Dia ngerasa hangat yang sangat nyata.

"Gua balik, Kar," ucap Adrian. Suaranya berat, mateng, dan punya wibawa yang bikin siapa pun bakal tunduk, tapi ada getaran kasih sayang di dalemnya. "Sari dan ampas... sekarang mereka udah nemuin akarnya."

"Adrian! Lu keren banget, Bos!" Aris lari keluar dari bunker, mau meluk tapi ragu liat zirah Adrian yang kelihatan sangat canggih. "Tapi sori banget nih ganggu reuni, kita bener-bener mau dibuang ke tempat sampah galaksi nih! Liat tuh, pintunya udah kebuka!"

Adrian ngelihat ke arah langit-langit kamar yang udah ilang, digantiin sama pusaran hitam raksasa The Flush. Dia nggak panik. Dia ngangkat tangan kanannya, dan Jantung Emas yang tadi melayang di pojokan langsung melesat ke telapak tangannya.

"Aris, masuk ke bunker. Sekar, pegang tangan gua," perintah Adrian.

"Kita mau ke mana?" tanya Sekar.

"Kita nggak lari dari pembersihan ini," Adrian natap langsung ke arah pusat lubang hitam itu. "Kita bakal nembus dia.

Gua baru sadar, The Flush ini bukan portal pembuangan... ini adalah jalan pintas menuju pusat sistem The Watchers. Mereka pikir mereka lagi buang sampah, padahal mereka lagi masukin 'virus' ke dalem jantung mereka."

"Virus?" Aris melongo.

"Iya. Virus itu adalah kita. Kesadaran manusia yang nggak bisa mereka hapus," Adrian tersenyum tipis. "Ayo, saatnya kita panen balik apa yang mereka ambil."

Detik-Detik Terakhir

Adrian meluk Sekar kenceng banget pake satu tangan, sementara tangan satunya dia arahin ke arah bunker Aris. Sebuah jalinan akar emas raksasa keluar dari telapak tangannya, ngiket bunker itu biar nggak lepas.

Dunia di sekitar mereka bener-bener hancur. Kamar masa kecil itu ilang, pasir putih ilang, yang ada cuma kegelapan total dan suara angin yang ngerobek apa aja.

"Eksperimen 17.4 telah menyatu,"suara entitas purba itu kedengeran lagi, tapi kali ini ada nada panik yang jelas banget. "Batalkan pembersihan! Segel pintu dimensi! Jangan biarkan dia masuk!"

"Terlambat," gumam Adrian.

Dia nendang lantai menara yang udah hancur, dan mereka bertiga bareng bunker "Akar Sejati" melesat masuk ke dalem lubang hitam The Flush.

Rasanya kayak ditarik melewati lubang jarum. Sekar ngerasa badannya ditarik ke segala arah, tapi pelukan Adrian bikin dia tetep ngerasa ada di tanah. Di dalem kegelapan itu, Adrian terus ngebisikin satu kata yang bikin Sekar tetep sadar.

"Malabar... Malabar... Malabar..."

Tiba-tiba, cahaya putih yang sangat menyilaukan muncul di ujung lubang. Mereka keluar dari kegelapan dan mendarat di sebuah tempat yang bener-bener nggak masuk akal.

Mereka ada di sebuah ruangan putih luas tanpa ujung. Di lantai ruangan itu, ada ribuan mungkin jutaan botol kaca kecil yang melayang. Dan di dalem setiap botol itu, ada pemandangan sebuah kota, sebuah desa, atau sebuah hutan di bumi.

"Ini... ini gudang data bumi?" bisik Aris sambil ngusap matanya.

Adrian turun dari udara, nurunin Sekar pelan-pelan. Dia jalan nuju ke salah satu botol kaca yang ukurannya paling gede. Di dalemnya, Sekar liat perbukitan hijau, kabut tipis, dan pohon teh yang sangat indah.

"Itu... Malabar," Sekar nutup mulutnya pake tangan. "Kita ada di pusat penyimpanan data The Watchers."

Tapi kegembiraan mereka nggak lama. Di tengah ruangan putih itu, muncul sesosok makhluk yang bentuknya nggak punya rupa. Dia cuma kumpulan cahaya yang ngebentuk siluet manusia raksasa. Dan di tangannya, dia megang sebuah palu besar yang siap dihantamkan ke botol kaca Malabar.

Siapakah sosok raksasa cahaya yang menjaga gudang data bumi tersebut? Mengapa dia berniat menghancurkan botol kaca Malabar saat Adrian dan Sekar baru saja sampai di sana?

Dengan kekuatan barunya, mampukah Adrian menghentikan penghancuran total memori bumi, ataukah dia harus membuat pilihan yang lebih pahit: Menyelamatkan Malabar tapi membiarkan sisa dunia lainnya hancur selamanya?

Dan yang paling penting, di manakah posisi The Architect dalam hirarki baru yang baru saja ditembus oleh Adrian ini?

1
Arifa
menarik ceritanya bisa di bilang mind blowing.
semangat update terus tor..
indri sanafila: terima kasih semangatnya dan sudah setia mengikuti perjalanan Adrian🙏
total 1 replies
~($@&)~%
bang,ga di kontrak kah ,novel nya
indri sanafila: lagi proses pengajuan kontrak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!