Season 2 dari Novel Sang Penakluk.
Hi Cesss, Novel Sang Penakluk kembali lagi ni. Semoga klean suka dengan alur ceritanya Cesss.
Jangan Lupa Like, Komen dan Supportnya Cesss. Karena setiap like, komen dan support dari kalian akan sangat berguna bagiku yang pemula ini.
Selamat Membaca...,,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RantauL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3. Hal yang Mengejutkan
Hingga akhirnya satu bulan yang lalu, Ratu Siluman Ular memberanikan diri keluar dari sarangnya, untuk menyelamatkan beberapa pasukan siluman ular yang di tawan oleh pasukan Kekaisaran Awan Hijau.
Ia dengan beberapa pasukan siluman ular lain, masuk kedalam lingkungan istana pada malam hari. Membunuh ribuan pasukan yang berjaga dan melukai dengan parah salah satu Jendral-nya.
Upaya penyelamatan pasukan siluman ular itu berhasil, namun harga yang di bayar terlalu mahal. Kaisar Kekaisaran Awan Hijau sangat murka dan mengadakan sayembara untuk menangkap Ratu Siluman Ular hidup atau mati.
“Aku tahu kehadiran kami mengganggu keseimbangan dunia manusia ini,” kata Virdrax menatap Ray Zen lurus. “Tapi aku tidak akan menyesal melindunginya, Ray Zen.”
Navhara menunduk dalam-dalam. “Jika hukuman harus dijatuhkan… jatuhkan saja padaku. Jangan padanya, Ray Zen.”
Keheningan menyelimuti hutan yang semakin indah tertimpa cahaya senja.
Ray Zen menutup matanya sejenak, lalu menghembuskan napas panjang.
“Baiklah, sekarang aku mengerti,” katanya akhirnya. “Itu sebabnya dari awal aku sudah menduga jika kalian bukan ancaman… kalian hanyalah sisa tragedi yang belum sembuh.”
Ia membuka mata, tatapannya tenang namun tegas. “Namun keseimbangan tetap harus dijaga. Dunia manusia bukan tempat bagi kekuatan seperti kalian.”
Bai Hu dan Bear terdiam. Angin berdesir pelan disekitar mereka.
Ray Zen mengangkat pedangnya—bukan untuk menyerang, melainkan menunjuk ke arah cakrawala.
“Jadilah pengawalku, pengawal Sang Penakluk yang menjaga keseimbangan dunia.” ucapnya tegas dan tenang.
Virdrax dan Navhara saling pandang sejenak, lalu segera berlutut di kaki Ray Zen. Mereka tidak menolak, mereka justru senang dengan tawaran Ray Zen. Bagi mereka, harapan untuk tetap hidup kembali ada saat bersama Ray Zen nantinya.
“Terimakasih tuan Ray Zen. Kami mau menjadi pengawalmu.” jawab mereka berdua serempak, yakin dengan keputusan yang mereka ambil.
Ray Zen sedikit terkejut dengan sikap mereka itu, tidak biasanya orang-orang kuat seperti mereka dengan mudahnya menerima tawaran untuk menjadi pengawalnya. Akan tetapi setelah melihat ketulusan dan kejujuran dari kedua mata mereka itu, Ray Zen pun tersenyum tipis.
“Berdirilah.., aku tidak menyuruh kalian berlutut di hadapanku. Mulai sekarang kalian berdua adalah bagian dari pasukanku.” kata Ray Zen sambil membantu mereka berdiri. “Siapa nama kalian?” lanjutnya.
Virdrax dan Navhara berdiri bersamaan. “Namaku Virdrax tuan Ray, dan ini kekasihku Navhara.” ucap Virdrax memperkenalkan diri seraya menangkupkan tangannya didepan dada.
Bai Hu dan Bear yang berdiri di sebelah Ray Zen ikut tersenyum melihat hal itu. Mereka berdua juga saling memperkenalkan diri.
“Namaku Bear.” Seru Bear semangat, “Selamat bergabung menjadi pengawal tuan Ray Zen. Karena aku lebih senior dari kalian, maka kalian harus memanggilku kakak Bear nantinya.”
Bai Hu yang mendengar perkataan Bear itu hanya menggeleng pelan. “Namaku Bai Hu, pengawal pribadi pangeran Ray Zen.”
“Pangeran Ray Zen?” tanya Virdrax dan Navhara bersamaan.
“Apa ada masalah Virdrax?” tanya Ray Zen.
“Ti.. tidak ada tuan Ray, kami berdua hanya sedikit terkejut mendengar jika tuan adalah seorang pangeran.”
“Apakah wajahku tidak sesuai untuk menjadi seorang pangeran kekaisaran?”
“Bu.. bukan begitu tuan,” kali ini Navhara yang menjawab dengan gugup. “Kami benar-benar tidak bermaksud untuk menyinggung tuan.”
Ray Zen tertawa kecil melihat kepanikan mereka. “Hah sudahlah, jangan di bahas lagi.”
“Oh ya, ada satu hal lagi yang membuatku penasaran,” lanjut Ray Zen tiba-tiba. Ia mengangkat pandangannya, menatap Virdrax dan Navhara secara bergantian. Tatapannya tenang, namun jelas menyimpan rasa ingin tahu yang mendalam.
“Saat pertarungan tadi, kau mengatakan bahwa aku adalah manusia kedua yang mampu melukaimu. Lalu… siapa manusia pertama itu?”
(Cerita tentang perkataan Virdrax tersebut, terdapat pada Chapter 152 di Season 1).
Pertanyaan itu membuat Virdrax terdiam. Naga Hijau itu menutup matanya sejenak, seolah menarik kembali ingatan lama yang telah terkubur oleh waktu. Napasnya terdengar lebih berat saat ia akhirnya membuka mulut.
“Manusia itu…” suara Virdrax terdengar pelan namun jelas, “…manusia itu sangat kuat, tuan.”
Ia mengangkat kepalanya, menatap tanah tandus yang mulai meredup oleh cahaya senja. “Pertarungan kami terjadi sekitar delapan tahun yang lalu.”
Navhara melanjutkan ceritanya, suaranya lembut namun sarat emosi. “Saat itu, seorang pemuda berusia sekitar lima belas tahun memasuki Jantung Hutan Larangan ini. Ia datang bersama seorang pria tua yang merupakan pengawal pribadinya.”
Virdrax mengangguk pelan, menguatkan cerita tersebut. “Aura mereka berdua… sangat kuat. Bahkan bagi makhluk sekelas kami, aura itu terasa menyesakkan. Siapa pun yang merasakannya akan terdorong untuk berlutut ketakutan.”
“Kami tidak mengetahui apa tujuan kedatangan mereka,” lanjut Navhara. “Namun satu hal yang pasti—pemuda itu bertarung dengan kami. Dan ia berhasil melukai dan mengalahkan kami berdua.”
Nada suaranya menurun, seolah masih sulit mempercayai kenyataan itu. “Setelah itu… ia menghilang bersama pengawalnya, tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.”
Ray Zen mengernyit tipis. “Apa kalian mengetahui nama pemuda itu?” tanyanya, kini semakin serius.
Virdrax berpikir sejenak, lalu menjawab, “Jika ingatanku tidak salah… nama pemuda itu adalah Rax Zen, tuan.”
Navhara mengangguk mengiyakan.
“Rax Zen…?” Ray Zen mengulanginya, memastikan.
“Benar, tuan. Rax Zen,” jawab Virdrax. “Itulah sebabnya kami merasa tidak asing saat pertama kali mendengar nama tuan Ray Zen. Apakah… kau mengenalnya, tuan?”
Ray Zen tidak langsung menjawab.
Ia terdiam, matanya menatap kosong ke kejauhan. Potongan-potongan ingatan berkelebat di benaknya—seorang kakak yang selalu berjalan beberapa langkah di depan, seorang pemuda yang memilih meninggalkan istana demi petualangan, dan perpisahan yang terjadi tiga belas tahun yang lalu.
Jika dugaannya benar… maka manusia yang melukai Naga Hijau dan Ratu Siluman Ular delapan tahun lalu itu tak lain adalah kakak kandungnya sendiri.
Di sisi lain, Bai Hu tampak jelas terkejut. Rax Zen—putra mahkota Kekaisaran Awan Putih—telah lama pergi berpetualang, menghilang tanpa kabar. Banyak yang mengira ia telah gugur. Namun setelah mendengar cerita ini, Bai Hu justru semakin yakin: Rax Zen masih hidup. Dan bukan hanya hidup—ia telah menjadi sosok yang luar biasa kuat.
Sementara itu, Bear tetap diam. Wajahnya tak menunjukkan emosi apa pun. Ia memang mengetahui sedikit tentang Rax Zen, kakak kandung tuannya, namun tidak pernah menyangka kisahnya akan muncul kembali dengan cara seperti ini.
“Tuan Ray…?” panggil Virdrax hati-hati, melihat Ray Zen yang belum juga menjawab pertanyaannya.
Ray Zen menoleh, lalu senyum khasnya kembali terukir di wajahnya—tenang, namun penuh makna. “Aku mengenalnya, Virdrax,” katanya. “Rax Zen adalah kakak kandungku.”
Ia menghela napas pelan. “Aku hanya sedikit terkejut mengetahui bahwa ia pernah datang ke Jantung Hutan Larangan ini.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan Lupa Like dan Komennya Cesss.....
Selamat Membaca.....
reader yg setia masih menanti update yg terbaru