NovelToon NovelToon
SIRIUS : Revenge Of Pain

SIRIUS : Revenge Of Pain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dark Romance
Popularitas:569
Nilai: 5
Nama Author: Lucient Night

Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 : Aroma Dendam

Di saat genting setelah pemuda asing itu menjawab dengan ambigu, pemuda itu kembali mendekatkan dirinya pada Lunaris.

"Kau bisa memanggilku Sirius," bisik pemuda itu tepat di telinga Lunaris, suaranya sedingin es namun lembut. "Salam kenal ya, Lunaris Skyler."

Lunaris membeku saat merasakan hembusan dingin menerpa telinganya ketika namanya disebut begitu saja oleh pemuda itu sebelum ia sempat memperkenalkan diri.

"G-gimana Lo bisa tau nama gue?"

Pemuda itu—Sirius—menyunggingkan senyum miring, terlihat angkuh dan meremehkan. "Mengetahui semua yang kau pikirkan saja sangat mudah bagiku. Maka bukan hal sulit untuk mengetahui siapa namamu," Ucap Sirius. Suaranya rendah dan mengalun, seolah angin malam ikut membawa ancaman di setiap suku katanya.

"Lagipula namanya terpampang jelas di seragam sekolahmu yang aneh itu." Lanjut Sirius dengan suara pelan nyaris seperti bisikan.

Lunaris terpaku. Bulu kuduknya merinding hebat. Otaknya dengan cepat merangkai fakta-fakta mengerikan yang belakangan ini menghantui kota. Kuil terkutuk, bunuh diri massal, mayat wanita yang ditemukan mengambang, dan kematian ibunya yang tidak wajar.

Mata Lunaris membelalak, napasnya tercekat. Ia menunjuk wajah tampan itu dengan jari gemetar.

"Jangan-jangan lo... lo monster itu, kan?" Tuduh Lunaris, suaranya naik satu oktaf karena panik. "Kematian ibu gue bukan ulah perampok! Tapi lo. Lo dalang di balik semua ini! Lo yang membunuh wanita yang ditemukan di Sungai Khanzaz dua hari lalu! Dan... dan lo juga yang ngebunuh ibu gue, kan?!"

Sirius mengerutkan kening, ekspresinya berubah dari angkuh menjadi tersinggung. Namun Lunaris tidak memberinya kesempatan bicara.

"Jawab gue! Jadi mitos itu bener. Kenapa lo lakukan itu?! Ibu gue gak bersalah! Wanita di sungai itu juga mungkin punya keluarga! Dan semua orang yang ditemukan bunuh diri di sini itu ulah lo yang menarik mereka ke sini, menghisap kehidupan mereka untuk kepuasanmu sendiri! Kau iblis!" Lunaris mundur selangkah demi selangkah, air mata kemarahan dan ketakutan bercampur di pipinya. Legenda tentang monster penghisap darah di Kuil Kematian terasa begitu nyata sekarang.

"Tutup mulutmu, Manusia," Potong Sirius tajam. Suaranya menggema di dinding kuil, menghentikan racauan Lunaris seketika.

Sirius menghela napas kasar, terlihat sangat jengkel. "Bagaimana bisa aku membunuh ibumu atau wanita di sungai itu ataupun orang-orang yang bunuh diri disini, kalau aku saja baru bebas dari peti mati sialan itu lima menit yang lalu? Dan kalau kau lupa kau yang membuka petiku. Kau pikir aku bisa membunuh orang sambil tidur dalam keadaan tersegel?"

Lunaris terdiam, logikanya beradu. Benar juga, peti itu baru saja hancur. Tapi...

"T-tapi legenda itu... orang-orang yang mati di sini..."

"Mereka datang sendiri," Sela Sirius dingin. Ia menatap Lunaris dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku tidak menarik siapa pun. Tempat ini memang memiliki energi gelap, tapi yang membunuh mereka yang datang untuk mati disini adalah keputusasaan mereka sendiri."

Sirius berjalan mendekat, membuat Lunaris terpojok ke dinding. "Mereka yang datang ke sini adalah pengecut yang memilih menyerah. Mereka membiarkan kegelapan menelan hati mereka. Lagi-lagi manusia membuat Dewi Selene harus bersedih, menangisi jiwa-jiwa malang yang menyia-nyiakan hidup pemberian-Nya."

"Dewi Selene?" Cicit Lunaris.

"Lupakan," Kibas Sirius tak acuh. "Jadi apa kau kesini juga untuk mengakhiri hidup? Kulihat kau sudah menggores tanganmu dan hampir mengenai nadi."

Lunaris segera menarik tangannya yang terluka, mencoba menyembunyikannya dari Sirius, meskipun hal itu sia-sia.

Tiba-tiba, mata Sirius menyipit. Ia tidak lagi menatap fisik Lunaris, melainkan menembus jauh ke dalam, melihat esensi jiwa gadis itu.

Di mata Sirius, jiwa Lunaris tampak seperti kaca yang retak parah. Nyaris hancur, tidak lagi memiliki harapan, suram, dan basah oleh air mata keputusasaan.

Gadis ini memang datang untuk mati. Batin Sirius. Namun, saat Sirius menelusuri retakan itu lebih dalam, ia menemukan sesuatu.

Di dasar hati Lunaris yang paling gelap, terkubur jauh di bawah rasa takut dan sedih, ada sebuah gumpalan energi hitam pekat.

Itu adalah Dendam.

Meskipun gadis itu mencoba menguburnya, mencoba menjadi anak baik yang pasrah, dendam itu nyata adanya. Energinya sangat kuat, panas, dan berdenyut menunggu waktu untuk meledak.

Dendam pada mereka yang menghancurkannya, atau mungkin dendam pada dunia yang tidak adil.

Sudut bibir Sirius terangkat. Ia menyeringai, kali ini bukan senyum meremehkan, tapi senyum lapar. Energi dendam sepekat ini... sangat langka. Jika dibiarkan, gadis ini akan mati sia-sia. Tapi jika dibentuk... ah, ini akan sangat menarik.

"Kau punya sesuatu yang menarik, Lunaris," gumam Sirius.

Detik berikutnya, mata Sirius yang berwarna perak berubah menjadi amber keemasan dengan kilau merah rubi. Iris matanya memanjang vertikal seperti reptil buas. Dari kedua sudut bibirnya, muncul taring tajam yang berkilat. Sepasang telinga serigala menyembul dari sela rambut hitamnya yang panjang.

"AAAAAAAAAAAAAAAA!" Jerit Lunaris ketika melihat wujud mengerikan pemuda di depannya. Gadis itu mundur dalam posisi duduknya, sekujur tubuhnya lemas seperti jeli.

"L-lo beneran monster! Vampir? Manusia serigala?!"

Mata dengan iris vertikal itu menyorot tajam. "Aku memiliki wujud keduanya, tapi aku bukan bagian dari keduanya. Kau bisa menyebutku Karma, entitas abadi yang terlahir atas kesalahan takdir."

Sirius berjongkok, kuku tajamnya menelusuri rahang Lunaris. "Dendammu... aromanya sangat lezat. Sayang sekali kalau kau mati sekarang. Bagaimana jika aku memberimu kesempatan?"

Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan verbal —karena Sirius tahu gadis ini tidak punya pilihan lain— ia meletakkan telapak tangannya di dahi Lunaris.

"A-apa yang mau lo lakuin?!"

"Diamlah. Aku sedang berinvestasi."

Sinar keemasan menyilaukan muncul dari telapak tangan Sirius, menembus kulit dahi Lunaris, mengikatkan benang takdir di antara mereka secara paksa.

Lunaris merasakan sensasi hangat yang aneh menjalar ke seluruh tubuhnya, seolah ada sesuatu yang masuk dan mengunci jiwanya.

Saat Lunaris membuka mata, Sirius sudah kembali ke wujud manusianya yang tampan. Taring dan telinga itu lenyap, matanya kembali menjadi perak.

"Sudah selesai," Ucap Sirius santai. "Mulai sekarang, hidupmu milikku. Dan sebagai gantinya, aku akan memastikan dendammu terbalaskan."

Lunaris masih shock. "Apa... apa yang baru saja terjadi?"

"Ikatan. Sekarang bangunlah, aku butuh tempat istirahat. Rumahmu sepertinya cocok."

"Hah? Rumahku?!" Lunaris melongo tak percaya. "Kau gila? Ibuku baru saja meninggal dan kau mau menumpang di rumah anak yatim piatu yang sedang berduka?!"

"Justru karena ibumu sudah mati, rumahmu jadi sepi, kan? Tidak ada yang akan protes aku tinggal di sana," Jawab Sirius tanpa dosa.

"Lo benar-benar gak punya hati!"

"Aku memang tidak punya, kalaupun punya itu udah lama mati. Ayo jalan jangan buang waktu."

Sirius mulai berjalan, tapi Lunaris tetap diam di tempat. Gadis itu mencoba berdiri, namun kakinya yang terkilir parah membuatnya kembali terjatuh sambil meringis.

"A-aduh!"

Sirius berbalik, menatapnya datar. "Kenapa lagi?"

"Kaki gue sakit, bodoh! Lo pikir gue duduk di sini karena lagi santai?!" Lunaris berteriak frustrasi. Rasa sakit fisik, mental, ketakutan, dan kesedihan bercampur jadi satu, membuat emosinya meledak-ledak.

Sirius memutar bola matanya malas. Ia kembali menghampiri Lunaris, berjongkok, dan tanpa permisi menarik kaki kanan gadis itu.

"Apa lagi yang mau lo lakuin?!"

"Diam."

Tangan Sirius memijat pergelangan kaki Lunaris dengan gerakan cepat dan keras.

"AAAAAAA SAKIT!" Teriak Lunaris, air matanya kembali tumpah. "Lo ini setan gak berperasaan banget sih! Pelan-pelan!"

"Sekarang aku tanya, memang ada setan yang punya perasaan, hah?" balas Sirius sengit.

"Iya juga ya hiks hiks... setan gak ada yang punya perasaan... hiks, tapi kaki gue sakit! Jahat banget lo menganiaya orang yang lagi terdzalimi! Gimana kalo kaki gue sampe harus diamputasi?!"

"Kakimu cuma terkilir, sudah kupijit, besok juga sembuh. Gak usah lebay." Sirius melepaskan kaki Lunaris dengan kasar. "Aku heran, untuk ukuran orang yang tadi mau bunuh diri karena putus asa, tenagamu buat marah-marah besar juga ya."

Lunaris menghapus air matanya kasar. "Terserah! Pokoknya gue gak bisa jalan! Gendong!"

Wajah Sirius berubah datar. "Kau memerintahku?"

"Kau yang maksa ikut ke rumahku! Dan kau juga yang bikin aku lari-lari tadi sampai kakiku makin parah! Tanggung jawab!" Entah keberanian dari mana, Lunaris justru melompat naik ke punggung Sirius dan melingkarkan tangannya erat-erat di leher pemuda itu.

Sirius terdiam kaku. Ia bisa saja membanting gadis ini ke tanah. Tapi, energi dendam yang hangat dari tubuh Lunaris terasa menyenangkan di dekatnya.

Sambil menghela napas panjang—mencoba bersabar menghadapi 'investasi'-nya—Sirius akhirnya berdiri, menggendong Lunaris di punggungnya, dan memungut sebelah sepatu gadis itu.

"Kok jalan kaki? Gak teleportasi kita?" tanya Lunaris polos di dekat telinganya.

"Kau lebih baik diam atau aku akan benar-benar meminum darahmu sampai kering."

Lunaris langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

Di bawah sinar bulan yang pucat, bayangan mereka memanjang menjauhi Kuil Kematian. Lunaris tidak menyadari bahwa malam ini, ia tidak hanya membawa pulang seorang pria asing, tapi juga membawa takdir baru yang akan mengubah seluruh hidupnya.

"Selama ribuan tahun, belum pernah aku merasa sangat terhina jadi kuli angkut manusia seperti ini," gumam Sirius jengkel sepanjang jalan.

1
falea sezi
ada apa dengan aroon
falea sezi
lanjut
falea sezi
sumpah tolol diem aja lawan bego bawa pisah lipAt bunuh
tamara is here
keren bgt narasinya
tamara is here
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!