Katya dan Donny dipertemukan bukan oleh cinta, melainkan oleh keputusan orang dewasa, norma, dan takdir yang berjalan terlalu cepat. Mereka datang dari dua dunia berbeda—usia, cara pandang, dan luka—namun dipaksa berbagi ruang paling intim: pernikahan.
Novel ini bukan sekadar kisah beda usia.
Ia adalah cerita tentang pertumbuhan, batas, rasa bersalah, dan kemungkinan cinta yang datang paling tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan di Balik Jendela Kaca
Suasana kantor pusat pagi itu tampak lebih sibuk dari biasanya. Beberapa koper kecil berjajar di lobi, menandakan adanya perjalanan dinas penting. Katya berdiri dengan gelisah, menggenggam tali tas bahunya erat-erat. Ia baru saja mendapatkan instruksi mendadak untuk ikut serta dalam tim asistensi audit lapangan ke sebuah pabrik pengolahan di Bandung. Namun, yang membuatnya kehilangan konsentrasi bukan jumlah dokumen yang harus ia bawa, melainkan fakta bahwa ia akan pergi dalam satu mobil yang sama dengan CEO perusahaan pusat: Donny.
"Siap, Katya?" Suara berat itu memecah lamunannya.
Donny muncul dengan gaya kasual yang jarang ia tunjukkan; celana chino gelap dan kaos polo yang dibalut jaket harrington. Tanpa jas formal, Donny tampak sepuluh tahun lebih muda, namun otoritasnya tetap terasa pekat.
"Siap, Om... eh, Pak," jawab Katya gugup.
Perjalanan itu dimulai dalam diam yang tebal. Sopir kantor mengemudikan mobil dengan tenang menembus kemacetan tol Cipularang. Di kursi belakang, Katya dan Donny duduk bersisian, dipisahkan oleh jarak satu kepalan tangan yang terasa seperti jurang tak berdasar. Katya mencoba menyibukkan diri dengan membaca laporan di tabletnya, namun sudut matanya terus mencuri pandang pada Donny yang sedang memejamkan mata, menyandarkan kepalanya pada headrest.
"Kalau kamu pusing membaca di mobil, berhenti saja. Jalanan ini banyak tikungan," ujar Donny tanpa membuka mata.
Katya tersentak. "Eh, nggak kok, Pak. Saya cuma mau memastikan data ini benar."
"Katya," Donny membuka matanya, menoleh perlahan. "Di luar kantor, panggil Om saja. Saya merasa seperti orang asing kalau kamu memanggil Pak terus-menerus."
"Tapi ini kan perjalanan dinas, Om."
"Anggap saja ini perjalanan keluarga yang kebetulan ada mampir ke pabriknya," Donny tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat perut Katya terasa seperti diaduk-aduk oleh ribuan kupu-kupu.
Setibanya di Bandung, cuaca mulai tidak bersahabat. Langit berubah kelabu dan hujan turun dengan derasnya, menciptakan tirai air yang membatasi pandangan. Jadwal peninjauan lapangan terpaksa dipersingkat karena area pabrik yang licin. Donny terus berada di dekat Katya, sesekali memegang sikunya untuk memastikan gadis itu tidak terpeleset saat melewati tangga besi yang basah. Sentuhan singkat itu, meski bersifat protektif, memberikan efek ledakan di batin Katya.
Malam harinya, tim menginap di sebuah hotel butik di daerah perbukitan yang dingin. Karena hujan yang tak kunjung reda dan adanya gangguan pada beberapa kamar, terjadi kekacauan administrasi.
"Maaf Pak Donny, kamar untuk asisten Pak Donny baru tersedia dua jam lagi karena ada kebocoran akibat hujan deras," lapor staf hotel dengan wajah pucat.
Donny menghela napas, melirik Katya yang tampak menggigil dengan sweter tipisnya. Bibir gadis itu sedikit pucat karena udara pegunungan yang menusuk.
"Bawa dia ke suite saya dulu. Biarkan dia istirahat di sana sampai kamarnya siap. Saya akan menunggu di lounge sambil menyelesaikan beberapa surel," perintah Donny tegas.
Namun, lounge hotel sedang penuh oleh grup wisatawan, suasananya bising dan tidak kondusif untuk bekerja. Akhirnya, mereka berdua berakhir di dalam suite luas milik Donny. Ruangan itu hangat dengan aroma terapi sandalwood dan lampu kuning temaram yang menciptakan suasana intim.
"Duduklah, Katya. Jangan berdiri seperti sedang dihukum," Donny melepas jaketnya, menyisakan kaos polo yang mencetak jelas bentuk tubuh tegapnya.
Katya duduk di tepi sofa, tangannya saling meremas. "Maaf ya Om, jadi merepotkan."
"Berhenti minta maaf untuk hal yang bukan kesalahanmu." Donny berjalan menuju bar kecil, menuangkan air hangat ke dalam gelas. "Minum ini. Kamu tampak pucat. Kamu sakit?"
"Cuma kedinginan sedikit, Om."
Donny mendekat, secara alami meletakkan punggung tangannya di dahi Katya. Gerakan itu begitu cepat hingga Katya tidak sempat menghindar. Kulit mereka bertemu. Dinginnya tangan Katya beradu dengan hangatnya telapak tangan Donny.
"Kamu demam, Katya," suara Donny berubah berat, penuh kecemasan.
"Enggak, Om, cuma..."
"Jangan membantah. Tidurlah di ranjang itu. Saya akan minta resepsionis membawakan obat dan sup hangat."
"Tapi itu ranjang Om—"
"Tidur, Katyamarsha. Itu perintah."
Nama itu. Donny menyebut nama lengkapnya dengan nada yang begitu lembut namun posesif. Katya menyerah. Ia berbaring di atas ranjang besar yang sangat empuk, menarik selimut hingga ke dagu. Aroma Donny tertinggal di bantal dan selimut itu, membuatnya merasa seperti sedang didekap oleh pria itu sendiri.
Dalam keadaan setengah sadar karena pengaruh demam yang mulai naik, Katya melihat Donny duduk di kursi kerja di sudut ruangan, hanya beberapa meter darinya. Cahaya dari lampu meja membentuk siluet wajah Donny yang tampak sangat lelah namun waspada.
"Om," panggil Katya lirih.
Donny menoleh, segera bangkit dan mendekati ranjang. "Ya? Ada yang sakit?"
"Kenapa Om Donny baik banget sama Katya? Kenapa Om selalu ada buat Ayah, buat Katya... apa Om nggak merasa terbebani?"
Donny duduk di sisi ranjang. Ia menatap Katya dengan tatapan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat. Tatapan seorang pria yang sedang menatap pusat semestanya.
"Menjaga kamu adalah satu-satunya hal yang membuat saya merasa hidup saya memiliki tujuan, Katya," bisik Donny. Tangannya bergerak ragu, namun akhirnya ia memberanikan diri mengelus rambut Katya yang tersebar di atas bantal. "Sejak hari saya memberikan nama itu di kontrakan sempit ayahmu, saya sudah berjanji pada Tuhan. Nama itu adalah doa saya. Dan doa itu harus saya jaga dengan nyawa saya sendiri."
Air mata menetes di sudut mata Katya. "Tapi Katya bukan anak kecil lagi, Om. Katya sudah dewasa."
"Saya tahu," suara Donny merendah, hampir seperti bisikan angin. "Justru karena kamu sudah dewasa, menjaga kamu menjadi tugas yang jauh lebih sulit. Karena sekarang, musuh terbesar saya bukan lagi orang asing yang mungkin menyakitimu, tapi diri saya sendiri."
"Diri Om sendiri? Maksudnya?"
Donny menarik tangannya, seolah tersadar ia baru saja membocorkan rahasia besar. "Tidurlah. Obatnya akan segera sampai."
Namun Katya tidak melepaskannya. Dengan keberanian yang muncul dari rasa pening dan luapan emosi, ia meraih tangan Donny, menggenggamnya erat. "Jangan pergi. Katya takut kalau Om pergi."
Donny terpaku. Ia menatap genggaman tangan mungil itu. Ia tahu ia harus pergi ke kamar mandi atau keluar ruangan untuk mendinginkan kepalanya. Namun, melihat wajah Katya yang rapuh, benteng pertahanannya yang ia bangun selama lima tahun terakhir runtuh berkeping-keping.
Donny tidak pergi. Ia justru membenarkan posisi duduknya, membiarkan tangannya tetap digenggam oleh Katya. Ia menunduk, mencium kening Katya dengan sangat lama dan penuh perasaan. Sebuah ciuman yang melampaui batas hubungan paman dan keponakan. Itu adalah ciuman seorang pria yang sedang menyerahkan hatinya sepenuhnya.
"Saya tidak akan ke mana-mana, Katya. Saya di sini. Selalu di sini," bisik Donny di depan wajah Katya.
Di luar, hujan semakin menderu, petir menyambar di kejauhan, namun di dalam ruangan itu, waktu seolah berhenti. Katya perlahan terlelap dengan tangan yang masih tertaut pada Donny. Sementara Donny terjaga sepanjang malam, menatap gadis yang ia beri nama itu dengan perasaan campur aduk antara cinta yang sangat besar dan rasa bersalah yang menghujam jantungnya.
Ia tahu, setelah perjalanan dinas ini berakhir, segalanya tidak akan pernah sama lagi. Persahabatannya dengan Arman akan dipertaruhkan. Karier Katya akan menjadi sorotan. Namun, menatap wajah tenang Katya di pelukannya, Donny menyadari bahwa ia siap menghadapi badai apa pun, asalkan ia tidak harus kembali ke dunia di mana Katya hanya memanggilnya "Om".
Pagi harinya, saat sinar matahari Bandung yang tipis masuk melalui celah gorden, Katya terbangun dan menemukan Donny tertidur di kursi di samping ranjangnya, masih memegang tangannya. Katya tersenyum, menyadari bahwa perjalanan ini bukan sekadar tugas kantor, melainkan perjalanan menemukan pelabuhan yang selama ini ia cari dalam diam.
Namun, kejutan menanti mereka saat ponsel Donny bergetar. Sebuah pesan masuk dari Arman: "Don, Katya bisa pulang cepat hari ini? Ada keluarga teman lama Ayah yang mau datang melamar Katya malam ini."
Donny membeku membaca pesan itu. Dunia yang baru saja terasa begitu indah, seketika berubah menjadi medan perang.