Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.
Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.
Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.
Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Siang itu dapur rumah Pak Ramlan ramai oleh bunyi peralatan masak. Aroma pesmol ikan menyebar ke seluruh ruangan, asam, gurih, pedas, bercampur wangi daun jeruk yang baru saja diiris tipis. Uap hangat masih mengepul dari wajan besar di atas kompor, sementara Kayla berdiri di depan wastafel, membilas piring satu per satu dengan gerakan cepat namun rapi.
Cahaya matahari masuk melalui jendela dapur, memantul di permukaan meja marmer dan menyorot wajah Kayla yang tampak serius. Meski tangannya sibuk bekerja, pikirannya tidak sepenuhnya di situ. Ada sesuatu yang sejak pagi mengganjal di hatinya.
Kayla menarik napas pelan. Ia mengelap tangannya di celemek sebelum berbalik menghadap Bu Aisyah yang sedang memeriksa susunan lauk di meja makan.
“Bu…,” panggil Kayla pelan, hampir ragu.
Bu Aisyah menoleh, senyum tipis masih tersisa di bibirnya. “Iya, Kayla? Ada apa?”
Kayla menunduk sejenak, jemarinya meremas kain celemeknya sendiri. Suasana dapur yang tadinya hangat mendadak terasa kaku. Bau pesmol ikan seolah memudar, tertelan oleh kegugupan yang menguasai udara.
“Bu, hari Minggu nanti, apa aku boleh libur bekerja?” tanya Kayla akhirnya.
Kalimat itu meluncur dengan suara tertahan, hampir seperti bisikan. Kayla takut. Takut dianggap terlalu banyak meminta. Takut mengecewakan majikannya. Takut kehilangan pekerjaan yang susah payah ia dapatkan.
Bu Aisyah meletakkan sendok sayur di atas meja, menatap Kayla dengan penuh perhatian. “Kenapa? Apa ada sesuatu?” tanyanya lembut, tetapi penuh rasa ingin tahu.
Kayla menggigit bibir bawahnya, ragu-ragu sebelum menjawab. “Kebetulan kedua adik kembarku ulang tahun. Mereka ingin pergi main bersama.”
Ada nada malu dalam suaranya. Juga ada harap yang terselip halus.
Wajah Bu Aisyah langsung berubah lebih hangat. Senyumnya melebar.
“Oh … boleh, dong!” katanya tanpa ragu. “Si kembar ulang tahun ke berapa?”
“Kesebelas tahun, Bu,” jawab Kayla pelan, tetapi ada kilau bangga di matanya.
Bu Aisyah mendekat, meletakkan tangannya di bahu Kayla dengan penuh kasih. “Semoga mereka menjadi anak-anak yang pintar, saleh, dan selalu sayang sama saudaranya.”
Dada Kayla menghangat. Matanya berkaca-kaca tanpa ia sadari.
“Alhamdulillah… Terima kasih, Bu, untuk doanya.”
Bu Aisyah mengangguk, lalu kembali menata lauk di meja. Menu makan siang sudah selesai dimasak, pesmol ikan, tumis kangkung, sayur bening, dan sambal terasi yang aromanya menggoda. Kayla sudah meletakkan semuanya rapi di atas meja makan, tinggal membawa piring dan gelas.
Kayla berbalik hendak mengambil piring dari rak. Namun, begitu tubuhnya berputar—
“Awas!”
Kayla terpekik kecil. “Aaaa!”
Tanpa ia sadari, Ashabi sudah berdiri tepat di belakangnya. Refleks, ia hampir kehilangan keseimbangan. Namun, tangan Ashabi cepat melingkar di pinggangnya, menahannya agar tidak terjatuh.
Tubuh mereka begitu dekat. Sampai hampir menempel
Kayla spontan berpegangan pada bahu Ashabi, napasnya tertahan. Jantungnya berdetak kencang, seperti hendak melompat keluar dari dada.
Mereka berdua terdiam, saling menatap dalam jarak yang sangat sempit. Mata Kayla berwarna amber yang selalu menyimpan banyak rahasia, bertemu dengan tatapan hangat Ashabi. Untuk sesaat, dunia seolah berhenti.
Baru setelah beberapa detik, keduanya tersadar. Cepat-cepat mereka saling melepaskan dan mundur beberapa langkah, kikuk.
“Maaf … tidak sengaja,” ucap Ashabi, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Kayla menunduk, wajahnya terasa panas. Ada sensasi aneh di perutnya, seperti kupu-kupu yang beterbangan.
“Tidak, kamu tidak salah. Aku yang kurang berhati-hati.” Ia tidak berani menatap Ashabi lebih lama. Dengan tergesa, Kayla berbalik dan hampir berlari kembali ke dapur.
Bu Aisyah tersenyum kecil melihat adegan itu, tetapi tidak berkomentar.
“Abi, tumben pulang jam segini,” ujar Bu Aisyah sambil menerima uluran tangan putranya.
Ashabi tersenyum. “Kebetulan ada waktu senggang, Bu. Jadi, makan siang di rumah saja.”
Bu Aisyah menghela napas, tetapi nadanya lembut.
“Ibu tuh inginnya kalau waktunya makan, kamu pulang ke rumah. Kan, enggak ada yang larang kamu telat masuk kerja. Beda sama Dalfa yang suka diuber-uber jadwal rapat dan pertemuan penting dengan klien.”
Ashabi terkekeh pelan.
“Sama saja, Bu. Kerja aku juga terikat sama banyak orang, walau tidak seketat Kak Dalfa.”
Tak lama kemudian, pintu utama terbuka. Pak Ramlan masuk, baru pulang dari masjid. Wajahnya tampak cerah ketika melihat Ashabi sudah duduk di meja makan.
“Abi?” katanya terkejut, tetapi senang. “Tumben kamu di rumah jam segini.”
Ashabi bangkit dan menyalami ayahnya. “Lagi senggang, Yah.”
Pak Ramlan tersenyum lebar. Dalam hati, ia selalu senang jika bisa berkumpul dengan anak-anaknya, meski mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing.
Mereka mulai duduk di meja makan. Kayla kembali dari dapur membawa piring dan gelas, lalu mulai menuangkan air minum satu per satu.
Saat itulah, suasana percakapan berubah.
“Semalam, Pak Yudi menghubungi ayah,” kata Pak Ramlan sambil mengambil nasi. “Katanya kamu tidak pernah lagi datang ke sana.”
Ashabi mengangkat alis, tampak cuek. “Untuk apa datang ke sana?” Nada suaranya santai, tetapi ada ketegangan tipis yang terselip.
Pak Ramlan meletakkan sendoknya.
“Pak Yudi menanyakan hubungan kamu dengan Zahira. Sekarang kalian sudah dewasa, sudah saatnya membina rumah tangga.”
Gelas yang sedang dipegang Kayla hampir terlepas dari tangannya. Kayla membeku. Detik berikutnya—
PRANG!
Teko berisi air jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Air menyebar, pecahan kaca berserakan di bawah kaki Kayla.
Semua orang terkejut. Bu Aisyah langsung berdiri. “Astaghfirullah!” ucapnya.
Kayla pucat, tangannya gemetar. “Ma-maaf, aku tidak sengaja,” katanya dengan suara bergetar.
Pak Ramlan mengangkat tangan. “Sudah, tidak apa-apa.”
Namun, wajah Bu Aisyah jelas khawatir. “Apa ada yang luka, Kayla?”
Sebelum Kayla sempat menjawab, Ashabi sudah berdiri dan menarik lengannya agar tidak menginjak pecahan kaca. Ashabi langsung jongkok, berniat memunguti pecahan kaca.
Kayla panik. “Jangan! Nanti bisa kena pecahan kaca.”
Matanya berkaca-kaca saat menatap Ashabi, nadanya penuh kepedulian yang spontan.
Ashabi menatapnya sejenak, lalu berkata pelan, “Aku akan hati-hati.”
Kayla bergegas ke dapur, mengambil kain lap basah dan kantong kresek. Ia ikut memunguti pecahan kaca di lantai, meski tangannya masih gemetar. Tiba-tiba—
“Awww!”
Darah mengalir tipis dari ujung jarinya. Pecahan kaca kecil melukai kulitnya.
Ashabi langsung menoleh. “Lihat! Malah tangan kamu yang tergores.”
Tanpa berpikir panjang, pemuda itu menarik jari Kayla dan refleks mengemutnya.
Kayla terbelalak.
Ashabi juga tersadar seketika apa yang baru saja ia lakukan.
Keduanya sama-sama kaku. Lalu, cepat-cepat menarik diri. Wajah Kayla memerah, jantungnya berdebar tak karuan. Ashabi tampak salah tingkah, menatap ke arah lain.
“Aku… aku ambilkan kotak P3K dulu,” kata Ashabi cepat-cepat, lalu berdiri dan melangkah pergi.
Di meja makan, Pak Ramlan dan Bu Aisyah saling beradu pandang. Tanpa sepatah kata pun, mereka seolah sama-sama memahami ada sesuatu yang sedang berubah, walau pelan, tetapi nyata.
up LG Thor