Niat melamar sang kekasih malah dijebak, membuat Raymond seolah-olah menjadi seorang pembunuh. Rupanya dia telah dijadikan kambing hitam oleh sang kekasih dan selingkuhan kekasihnya.
Disaat Raymond akan segera mendapatkan hukuman mati, tiba-tiba sebuah sistem datang menyelamatkan hidupnya. Sehingga Raymond terpaksa harus mengganti identitasnya agar terlepas dari kejaran para polisi.
Raymond bertekad ingin membalaskan dendamnya kepada orang-orang yang sudah menghancurkan hidupnya. Sehingga dia harus menjalankan misi dari sistem untuk menolong wanita-wanita cantik dengan membuka sebuah usaha jasa sebagai pria bayaran. Membuatnya menjadi pria yang tampan, kuat, kaya raya, dan dikelilingi oleh banyak wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DF_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Mereka sedang berada di hotel ini. Aku sengaja menyewa kamu, karena aku ingin kamu memberikan pelajaran kepada mereka. Apakah kamu sanggup melakukannya?" Tanya Shireen kepada Raymond dengan tatapan matanya yang serius.
Rupanya Shireen ingin menyewa Raymond untuk memberikan pelajaran kepada Kevin dan Fhanny secara fisik, mungkin karena Shireen sudah sangat putus asa, dan ingin balas dendam kepada mereka.
Raymond segera membawa foto yang Shireen berikan, dia memandangi foto Kevin dan Fhanny yang sedang berduaan di dalam mobil.
"Suamiku telah berselingkuh. Sayangnya aku tidak punya bukti apapun untuk membuktikan ucapanku." Bahkan foto yang dimiliki oleh Shireen pun tidak bisa dijadikan sebagai bukti, karena di foto tersebut hanya memperlihatkan Kevin dan Fhanny yang sedang berada di dalam mobil yang sama.
Shireen tahu bahwa Kevin berselingkuh dengan Fhanny karena dia pernah memergoki Kevin dan Fhanny yang baru keluar dari kamar hotel. Sayangnya dia tidak sempat mengabadikannya dalam bentuk video ataupun foto, saat itu dia tidak bisa berpikir jernih.
"Bukan hanya itu saja. Suamiku sudah merebut perusahaan ayahku menjadi miliknya. Malam ini dia akan menyelenggarakan sebuah pesta peresmian pemilik perusahaan yang baru." Shireen bercerita dengan mata berkaca-kaca.
Timbul rasa kasihan di hati Raymond terhadap wanita itu. Dibalik sikapnya yang dingin, rupanya telah menyimpan kesedihan yang mendalam. Raymond ingin mencoba untuk menenangkannya, tapi dia menahan tangannya. Tidak boleh lancang. "Jadi kamu ingin aku melakukan apa pada mereka?"
"Aku ingin kamu mewakili aku untuk memukul mereka. Setidaknya walaupun hidup aku hancur, aku bisa merasa puas melihat wajah mereka babak belur. Bahkan mungkin Kevin akan tampil dengan wajah babak belur di pesta nanti." Shireen bercerita sambil duduk di samping Raymond. Rupanya Shireen ingin menyewa jasa Raymond sebagai preman bayaran.
Shireen merasa hidupnya sudah hancur. Dia hanya ingin melihat wajah Kevin dan Fhanny babak belur. Karena tidak mungkin ada orang yang sanggup untuk membuat perusahaan Platinum kembali ke tangan Shireen, sedangkan Kevin sudah memiliki bukti surat penyerahan perusahaan atas tanda tangan ayahnya Shireen.
Raymond pun tersenyum smirk, "Hanya itu?"
Shireen mengerutkan keningnya, dia langsung menoleh ke arah Raymond. Mungkin karena dia merasa bahwa Raymond mengaggap permintaannya terlalu mudah.
"Aku bisa saja mengikuti permintaan kamu untuk memukuli mereka sampai babak belur. Tapi saat ini semua itu bukanlah solusi." Raymond berkata sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Dia memang selalu terlihat keren di depan semua wanita.
"Lalu apa rencanamu?" Tanya Shireen.
"Bagaimana kalau kita hancurkan acara pestanya?" Raymond malah balik bertanya sambil mengedipkan matanya.
Shireen merasa ragu, mungkin karena di aula pesta pasti banyak sekali anak buahnya Kevin yang berjaga. Mereka tidak akan membiarkan sembarangan orang untuk masuk ke dalam.
"Tidak segampang itu. Kevin memiliki anak buah yang cukup banyak. Apalagi aku tidak memiliki bukti apapun untuk tentang kejahatan yang dilakukan oleh Kevin."
Raymond tersenyum smirk. "Aku bisa melakukannya."
Mata Shireen sangat normal, tentu saja dia sangat menyadari betul bahwa pria disampingnya itu sangat tampan. Sehingga Shireen segera mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika Raymond sedang tersenyum kepadanya. Jangan sampai Shireen terpesona padanya.
Sebenarnya Shireen pun tidak paham, bagaimana caranya Raymond menghancurkan pesta peresmian pemilik perusahaan yang baru itu, karena resikonya terlalu berat.
Raymond menjadi teringat sesuatu, dia segera berpamitan kepada Shireen untuk pergi ke kamar mandi. "Aku harus ke kamar mandi dulu."
Sepertinya Raymond harus berdiskusi dengan sistem. Di depan wanita dia selalu ingin terlihat keren, padahal sebenarnya dia pun masih bingung bagaimana caranya menghancurkan acara pesta tersebut.
...****************...
Terlihat Kevin yang sedang merapikan pakaiannya, setelah puas bercinta dengan Fhanny.
"Jangan sampai ada yang curiga kalau kita ini memiliki hubungan spesial. Jadi biar aku duluan yang berangkat ke pesta, nanti kamu menyusul." Pinta Kevin.
Mereka sengaja menyewa kamar hotel yang ada disana karena posisi hotel tersebut berdekatan dengan perusahaan Platinum.
Sebenarnya Fhanny sangat merasa kecewa, karena dia sudah tidak ingin menjalani hubungan dengan Kevin secara sembunyi-sembunyi lagi. Tapi mau bagaimana lagi, Kevin belum resmi bercerai dengan Shireen. Walaupun Kevin harus memakai jalan pintas dengan cara menyuruh anak buahnya untuk membunuh Shireen.
"Hm, ya sudah. Aku harap suatu hari nanti aku bisa berada disamping kamu, menemani kamu untuk memimpin perusahaan." Ucap Fhanny dengan penuh harap.
Kevin tidak langsung menjawab perkataan Fhanny, dia mengecup bibir wanita itu sekilas. "Tentu saja, harapan kamu akan segera kenyataan, sayang."
"Tapi apa kamu yakin anak buah kamu sudah membunuh istrimu?"
Kevin terdiam. Dia tidak menjawab pertanyaan dari Fhanny, dia harus memastikan apakah Shireen sudah mati atau belum. Kemudian Kevin segera menyambar ponselnya di atas nakas. Dia harus menghubungi anak buahnya.
(Bagaimana? Apa kalian sudah berhasil membunuh Shireen?)
Namun, tak kunjung dapat balasan. Membuat Kevin merasa tidak enak hati. Dia takut jikalau misinya untuk membunuh Shireen malam ini telah gagal.
"Kenapa dia tidak membalas pesanku? Apakah mungkin mereka gagal membunuh Shireen?" Kevin berkata dengan nada kesal. Walaupun rasanya tidak mungkin, dia sudah membuat Shireen tidak memiliki apa-apa, Shireen tidak mungkin bisa melindungi dirinya sendiri. Dia bukan seorang wanita yang pandai berkelahi.
Kevin memutuskan untuk segera menelpon anak buahnya tersebut, tapi tiba-tiba ponselnya berdering.
Beep...
Beep...
Beep...
Rupanya ada sebuah pesan balasan dari anak buahnya Kevin.
(Sudah, Tuan.)
Kevin pun tertawa kecil ketika membaca balasan pesan dari anak buahnya. Akhirnya Shireen sudah mati. Itu artinya tidak akan ada lagi orang yang berusaha untuk menjatuhkannya sebagai pemilik perusahaan Platinum yang baru.
...****************...
Terlihat empat anak buahnya Kevin yang sedang disekap di dalam sebuah gudang kuno, dalam keadaan kedua tangan dan kedua kakinya terikat dengan tali, bahkan mulut mereka telah ditutup dengan lakban berwarna hitam.
"Mmmhh...."
"Mmmhh..."
Keempat orang preman itu sedang berusaha untuk melepaskan diri. Tapi sayangnya mereka tidak mampu untuk melakukannya, ikatan tali pada kedua tangan dan kakinya sangat kuat sekali.
Di dalam gudang tersebut terlihat ada Raymond yang sedang membalas pesan dari Kevin sambil tersenyum licik. Dia telah berhasil membawa ponsel milik salah satu preman yang ada disana.
Rupanya Raymond telah melakukan teleportasi untuk pergi ke tempat berkumpulnya keempat preman yang hampir saja akan membunuh Shireen. Walaupun tidak gratis.
Saat ini Shireen masih mengira bahwa Raymond sedang berada di kamar mandi hotel, padahal sebenarnya saat ini Raymond telah berpindah tempat, sedang berada di dalam sebuah gudang kuno.
SEMANGAT Thor 🤗
SEMANGAT Thor 🤗