NovelToon NovelToon
Doll Controller

Doll Controller

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Summon / Spiritual
Popularitas:531
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

kekuatannya menyebabkan dia bisa mengendalikan boneka tapi semakin sering ia menggunakannya ia pun mulai di Kendalikan oleh kekuatan sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Era Kaelen dan Lyraea: Ujian Kehendak Bebas

Dengan Benang Asal yang aktif dan Benang Jiwa Elara yang damai bersemayam di dalam boneka, Aethelgard memasuki sebuah era baru. Raja Kaelen dan Ratu Lyraea, dengan Ryo dan Lyra sebagai penasihat senior mereka, memimpin kerajaan dengan perpaduan antara kebijaksanaan kuno dan visi baru. Kaelen, dengan kepekaan eteriknya yang luar biasa, mampu merasakan anyaman global dengan ketepatan yang hampir sama dengan ayahnya, namun ia membawa pendekatan yang lebih terbuka dan kolaboratif. Lyraea, di sisi lain, memimpin Ordo Penjaga Benang dengan empati dan wawasan, menekankan pentingnya komunikasi antar-benang dan resolusi konflik melalui pemahaman.

Di era ini, dengan kehendak bebas sebagai fondasi realitas, tantangan tidak lagi datang dari musuh yang ingin melahap atau memanipulasi. Sebaliknya, tantangan muncul dari kebebasan itu sendiri. Dengan setiap benang yang kini menyadari sepenuhnya potensinya untuk menenun takdirnya sendiri, konflik ideologi, perbedaan pandangan, dan ambisi pribadi menjadi lebih menonjol. Tidak ada lagi ancaman yang jelas seperti Kekosongan atau Kresna, namun ada ribuan benang kusut kecil yang memerlukan perhatian dan penyelesaian yang bijaksana.

Salah satu tantangan terbesar muncul dari Koloni Gurun di selatan. Selama berabad-abad, koloni-koloni ini telah hidup di bawah sistem hierarki yang ketat, dipimpin oleh seorang Tetua yang dianggap memiliki koneksi khusus dengan Benang Asal. Namun, dengan Benang Asal yang kini aktif dan menyebarkan pemahaman tentang kehendak bebas, rakyat jelata di koloni gurun mulai mempertanyakan otoritas Tetua mereka. Mereka menuntut hak untuk menenun takdir mereka sendiri, di luar batasan tradisi dan interpretasi Tetua.

Tetua Gurun, seorang Dalang dengan kekuatan yang patut diacungi jempol, merasa terancam. Ia melihat gerakan ini sebagai anarki, sebagai ancaman terhadap tatanan yang telah menjaga rakyatnya tetap bersatu di lingkungan gurun yang keras. Ia meminta intervensi Aethelgard, memohon agar Ryo dan Kaelen menggunakan kekuatan mereka untuk memulihkan "ketertiban" dan membungkam "benang-benang pembangkang" yang mulai menyebar di antara rakyatnya.

"Yang Mulia," Tetua Gurun berkata kepada Kaelen dalam sebuah audiensi, ekspresinya tegang. "Benang-benang mereka telah lepas kendali. Mereka tidak lagi menghormati hierarki. Jika ini terus berlanjut, koloni akan hancur oleh kebebasan yang tidak terkendali."

Kaelen mendengarkan dengan saksama, merasakan benang-benang ketakutan dan keinginan untuk mengendalikan dari Tetua Gurun. Ia juga merasakan benang-benang hasrat akan kebebasan dan keadilan dari rakyat koloni gurun.

"Kehendak bebas bukanlah anarki, Tetua," Kaelen menjelaskan dengan sabar. "Ini adalah hak setiap benang untuk memilih jalannya. Tugas kita bukan untuk membungkam benang-benang itu, melainkan untuk membantu mereka menemukan harmoni dan tanggung jawab dalam kebebasan mereka."

Lyraea menyarankan sebuah misi mediasi, dipimpin olehnya dan Kaelen, untuk pergi ke koloni gurun dan membantu kedua belah pihak memahami satu sama lain. Ryo dan Lyra, yang mengamati dari pertapaan mereka, menyetujui pendekatan anak-anak mereka. Ini adalah ujian nyata dari warisan mereka, sebuah kesempatan untuk menunjukkan bagaimana filosofi kehendak bebas dapat diterapkan dalam konflik nyata.

Perjalanan ke koloni gurun adalah pengalaman yang berbeda bagi Kaelen dan Lyraea. Mereka tidak berhadapan dengan kegelapan kosmik atau manipulasi berbahaya, melainkan dengan benang-benang emosi manusia: tradisi yang mengakar, ketakutan akan perubahan, kerinduan akan kebebasan, dan rasa sakit karena ketidakadilan.

Di sana, Lyraea menggunakan kepekaan empatinya untuk memahami benang-benang setiap individu, baik dari pihak Tetua maupun dari pihak rakyat. Ia menemukan bahwa Tetua Gurun sebenarnya sangat mencintai rakyatnya, dan ia percaya bahwa hierarki adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup di gurun. Di sisi lain, rakyat hanya ingin didengar, ingin hak-hak mereka diakui.

Kaelen, dengan pemahamannya tentang Benang Asal, membantu Tetua Gurun untuk melihat bahwa benang-benang kehendak bebas rakyatnya bukanlah ancaman, melainkan sumber kekuatan baru. "Tradisi dan kehendak bebas tidak harus saling bertentangan, Tetua," Kaelen menjelaskan. "Mereka bisa teranyam menjadi satu, membentuk anyaman yang lebih kuat dan lebih adaptif. Sebuah benang yang memilih untuk menghormati tradisi karena pengertian, bukan karena paksaan, adalah benang yang jauh lebih kuat."

Setelah berminggu-minggu berdialog, meditasi bersama, dan mempraktikkan "Anyaman Pemahaman" yang dipelopori Ryo, sebuah solusi akhirnya ditemukan. Tetua Gurun setuju untuk melonggarkan hierarki, memberikan lebih banyak suara kepada rakyatnya dalam pengambilan keputusan, dan mendirikan sebuah dewan yang dipilih oleh rakyat. Sebagai gantinya, rakyat setuju untuk menghormati kebijaksanaan Tetua yang berpengalaman, dan memastikan bahwa perubahan tidak akan membahayakan kelangsungan hidup koloni di gurun yang keras.

Ini adalah kemenangan yang berbeda dari yang pernah Ryo dan Lyra raih. Bukan dengan mengalahkan musuh, melainkan dengan membantu dua pihak yang berseteru untuk menemukan harmoni dalam perbedaan mereka. Ini adalah bukti bahwa warisan Benang Asal, dari kehendak bebas, bukanlah tentang menghilangkan konflik, melainkan tentang mengubah cara kita menghadapinya.

Kaelen dan Lyraea kembali ke Aethelgard, membawa serta pemahaman yang lebih dalam tentang kompleksitas kebebasan. Mereka tahu bahwa ini hanyalah salah satu dari banyak ujian yang akan datang. Dunia yang menghargai kehendak bebas adalah dunia yang terus-menerus bernegosiasi, terus-menerus menenun kembali benang-benangnya.

Ryo, yang telah mengamati seluruh proses dari pertapaannya, tersenyum bangga. Ia melihat benang-benang anak-anaknya, kuat dan bijaksana, melanjutkan warisannya dengan cara mereka sendiri. Boneka Elara di sampingnya memancarkan cahaya keperakan yang hangat, seolah menyetujui. Anyaman kehidupan terus berkembang, terus menenun takdir yang tak terbatas, dan generasi baru Dalang siap untuk membimbingnya.

1
anggita
like👍 iklan. moga novelnya lancar.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!