Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Oksigen bagi Sang Pemenang
Ruang di dalam peti itu kini telah menjadi neraka yang mustahil. Jika sebelumnya Maya masih bisa sedikit menggerakkan lengannya, kehadiran Diva Angeline telah menghancurkan sisa-sisa ruang yang ada. Mereka bertiga terjepit dalam posisi yang mengerikan: Maya di paling bawah, mayat Vanya di tengah sebagai pembatas yang dingin dan kaku, dan Diva yang meronta histeris di posisi paling atas, tepat di bawah tutup peti yang tertimbun tanah.
"Keluarin gue! Siapa pun, tolong! Ini nggak lucu! Gue bayar berapa pun, keluarin gue!" Diva menjerit tepat di telinga Maya. Suaranya melengking tinggi, memantul di dinding kayu yang sempit, menciptakan gema yang menyakitkan.
Maya sulit bernapas. Setiap kali Diva meronta, tubuh mayat Vanya semakin menekan dada Maya, menguras sisa-sisa udara dari paru-parunya. "Diva... diam... jangan banyak gerak... oksigennya habis..." bisik Maya parau.
[SYSTEM]: OXYGEN LEVEL: 8%
[WARNING]: CRITICAL CONDITION. STARTING "ELIMINATION MODE".
Layar ponsel yang terjepit di antara dada mereka tiba-tiba berubah warna menjadi ungu gelap yang berdenyut. Sebuah pengumuman baru muncul, dan kali ini, aturan mainnya jauh lebih sadis.
[ELIMINATION MODE]: Peti ini hanya cukup untuk satu orang bernapas. Pilih siapa yang harus 'pergi' agar sisa oksigen dialirkan ke pemenang. Kirim "VOTE" sekarang!
Maya menatap layar dengan ngeri. Di dunia luar, jutaan penonton yang tadinya panik kini kembali terhipnotis oleh tombol interaktif yang muncul di layar mereka. Pilihan muncul: [A] MAYA, [B] DIVA, [C] VANYA.
"Gue! Pilih gue! Kalian semua pengikut gue kan?! Vote gue sekarang!" Diva berteriak ke arah kamera ponsel yang lensanya sudah tertutup keringat dan uap napas. Ia tidak peduli lagi pada citranya. Diva mulai menggunakan sikutnya untuk menekan leher mayat Vanya, yang secara otomatis juga menekan Maya di bawahnya.
"Diva, berhenti! Kita harus cari cara buat hancurin sistemnya, bukan saling bunuh!" Maya berusaha meraih ponsel itu, namun tangannya terkunci oleh berat tubuh Vanya.
Tiba-tiba, mayat Vanya bergerak. Kepalanya yang dingin perlahan menoleh ke arah Diva. Mata putihnya yang tanpa pupil itu seolah menembus kedalaman jiwa sang Diva. Mulut Vanya terbuka, mengeluarkan cairan hitam kental yang berbau busuk, membasahi gaun desainer mahal yang dikenakan Diva.
"Diva... kamu bilang... kamu sayang aku di konten belasungkawamu..." suara Vanya terdengar seperti gesekan ampelas di atas kayu kering. "Sini... ikut aku ke bawah saja..."
Tangan kaku Vanya tiba-tiba melingkar di pinggang Diva, menariknya dengan kekuatan yang tidak manusiawi ke arah bawah—ke arah Maya.
"Aaaaakkkkhhh! Lepasin! Bau! Lo bau bangkai, Vanya! Lepasin!" Diva menendang-nendang liar. Salah satu tendangannya menghantam telak pelipis Maya hingga berdarah.
Di layar, hasil voting mulai terlihat.
MAYA: 45% | DIVA: 52% | VANYA: 3%
Netizen lebih memilih Diva untuk hidup. Popularitasnya sebagai megabintang ternyata masih menjadi senjata paling mematikan. Namun, di saat yang sama, sebuah pesan dari @Anatomi_Maut muncul di kolom komentar, khusus ditujukan untuk Maya.
@Anatomi_Maut: "Maya, kau tahu rahasia Rian, bukan? Di balik casing laptopnya, ada folder berjudul 'PROJECT ORCHESTRA'. Di sanalah semua nyawa ini diuangkan. Jika kau ingin hidup, kau harus membocorkan folder itu secara Live. Tapi ingat, Rian sedang memegang cangkul tepat di atas kepalamu."
Maya tertegun. Project Orchestra. Ia ingat pernah melihat folder itu sekali saat Rian sedang mabuk di apartemen Vanya. Rian selalu bilang itu hanya data analitik, tapi sekarang ia sadar—itu adalah daftar target selebriti yang akan dieksekusi demi kenaikan saham agensi mereka.
"Rian! Aku tahu tentang Orchestra!" Maya berteriak sekuat tenaga, berharap mikrofon ponselnya menangkap suaranya dan menyiarkannya ke jutaan orang. "Kalian semua! Rian yang merencanakan ini! Dia pemilik akun Anatomi Maut!"
Di atas sana, gerakan cangkul Rian tiba-tiba berhenti. Keheningan yang mencekam terjadi selama beberapa detik. Hanya suara hujan yang meredam suara di permukaan.
Tiba-tiba, suara Rian terdengar melalui speaker ponsel, sangat tenang namun mematikan. "Bocoran yang bagus, Maya. Tapi penonton lebih suka kejutan daripada kebenaran."
[SYSTEM]: VOTE CLOSED. WINNER: DIVA ANGELINE.
[ACTION]: ELIMINATING NON-WINNERS.
Seketika, dinding-dinding kayu di sisi kiri dan kanan Maya mulai bergeser masuk. Peti itu mulai menyusut secara mekanis. Maya bisa mendengar tulang rusuknya mulai berderak karena tekanan. Di saat yang sama, sebuah lubang kecil terbuka di bawah punggung Maya, dan ia merasakan tarikan gravitasi yang aneh—seolah ada ruang hampa di bawah peti itu yang ingin menyedotnya keluar dari dunia manusia.
"TIDAK! JANGAN!"
Diva tertawa histeris melihat Maya yang perlahan mulai "terserap" ke dalam dasar peti. "Dada, Maya! Makasih ya dukungannya! Jangan lupa mampir ke channel gue di neraka!"
Namun, saat Maya hampir tertelan sepenuhnya oleh kegelapan di dasar peti, tangan Vanya tiba-tiba melepaskan Diva dan beralih mencengkeram tangan Maya dengan sangat erat. Vanya menarik Maya kembali ke atas dengan sentakan kasar, sementara kaki mayat itu menendang Diva hingga kepala sang Diva menghantam tutup peti dengan keras.
"Bukan Maya... yang pergi..." desis Vanya.
Vanya mengambil ponsel itu dan mengarahkan kameranya ke arah wajah Diva yang sudah berlumuran darah karena benturan. Vanya menekan sebuah tombol tersembunyi di layar yang hanya ia yang tahu sebagai pemilik asli akun tersebut.
[OVERRIDE]: OWNER RIGHTS ACTIVATED. TARGET SWITCHED.
Layar berubah menjadi hitam total, dan suara jeritan Diva Angeline menghilang seketika, digantikan oleh suara vacuum yang sangat kuat. Saat Maya membuka mata dalam keremangan, Diva sudah hilang. Yang tersisa hanyalah Maya dan mayat Vanya yang kini kembali tenang, memeluk ponsel yang layarnya menunjukkan angka oksigen kembali ke 100%.
Maya terengah-engah, air matanya tumpah. Ia hidup, tapi ia terjebak bersama mayat sahabatnya di dalam tanah. Dan di layar ponsel, Rian mulai tertawa lagi.
"Selamat, Maya. Kamu baru saja membunuh aset terbesarku. Sekarang, mari kita buat kematianmu menjadi sangat, sangat lambat."
ok next