NovelToon NovelToon
Warisan Saudara Kembar

Warisan Saudara Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Janda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Kegelapan di dalam rumah itu terasa begitu mencekam. Suara alarm di depan gerbang masih melolong nyaring, bersahutan dengan teriakan-teriakan perintah dari tim keamanan Awan. Di dalam ruang tengah yang remang, Jasmine berdiri mematung. Napasnya pendek-pendek, telinganya menajam mencoba menangkap suara sekecil apa pun di tengah kesunyian interior rumah yang mati lampu.

Tiba-tiba, ia mendengar langkah kaki yang cepat namun berat mendekat dari arah koridor samping—jalur rahasia dari garasi yang langsung menembus ke ruang tengah.

Jantung Jasmine seolah melompat ke tenggorokan. Itu pasti mereka, batinnya ketakutan. Ia teringat peringatan Awan bahwa ada orang-orang yang mungkin ingin mencelakainya. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia mengangkat botol semprotan berisi larutan cabai pekat itu. Ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh bayi di rahimnya.

Begitu sesosok bayangan pria muncul di balik pilar ruang tamu, Jasmine tidak menunggu sedetik pun.

CROT! CROT! CROT!

Ia menekan tuas semprotan itu berkali-kali dengan membabi buta ke arah wajah sosok tersebut. Cairan merah pekat yang mengandung hawa panas luar biasa itu menyembur tepat sasaran.

"ARRGGHHH!! SIALAN! PERIH BANGET!!"

Suara itu. Jasmine membeku. Suara bariton yang kasar, berat, dan sangat ia kenal.

"K-Kak Awan?" Jasmine berbisik kaget, tangannya lemas dan hampir menjatuhkan botolnya.

Pria itu berlutut di lantai, menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Ia mengerang kesakitan, napasnya tersengal karena uap cabai yang tajam juga terhirup masuk ke tenggorokannya. "Aduh... mata gue... Jasmine, lo semprot apaan ke muka gue?! Perih banget, brengsek!"

Tepat di saat itu, jeglek! Suara sakelar otomatis berbunyi. Lampu-lampu kristal di ruang tamu kembali menyala terang, menyilaukan mata. Sinyal ponsel yang tadi sempat hilang juga kembali penuh karena alat pengacak sinyal (jammer) yang dipasang penyusup di luar telah dihancurkan oleh tim keamanan.

Jasmine terbelalak melihat Awan yang sedang meringkuk di lantai. Kemeja kantornya berantakan, dan wajahnya merah padam terkena cairan cabai buatan Jasmine.

"Ehh... Kak! Aku nggak sengaja beneran!" Jasmine panik. Ia segera meletakkan botol itu di meja dan berlutut di samping Awan. "Aku kira Kakak itu penculik! Kenapa Kakak tiba-tiba ada di sini? Bukannya tadi Kakak berangkat kantor?"

"Gue... gue balik karena firasat gue nggak enak!" seru Awan sambil terus memejamkan matanya yang terasa terbakar. "Gue liat dari CCTV jalanan ada mobil mencurigakan muter-muter komplek! Aduh, Jas... ini perihnya nggak masuk akal!"

Belum sempat Jasmine mengambilkan air untuk membasuh wajah Awan, sebuah suara keras terdengar dari arah dapur. Pintu kaca yang tadi pecah ditabrak oleh seorang pria berbadan kekar yang mengenakan penutup wajah. Pria itu memegang sebilah pisau lipat, matanya menatap tajam ke arah Jasmine.

"Itu dia! Ambil perempuannya!" teriak pria itu kepada temannya yang muncul dari balik jendela.

Jasmine tersentak. Ketakutannya kembali menyerbu. Awan, meski matanya masih merah dan sulit dibuka, mencoba berdiri tegak. Ia merentangkan tangannya di depan Jasmine, melindungi perempuan itu meski penglihatannya masih buram dan berair.

"Lari ke belakang gue, Jas!" perintah Awan dengan nada rendah yang berbahaya.

Penyusup itu menyeringai. "Bos besar lagi buta rupanya. Gampang banget urusan kita."

Pria itu melangkah maju dengan cepat, mengayunkan piringan besi ke arah Awan. Namun, insting Jasmine bergerak lebih cepat dari logika. Ia teringat senjatanya yang masih tergeletak di meja samping. Dengan gerakan secepat kilat, ia menyambar kembali botol semprotan cabai itu.

"Jangan sentuh Kak Awan!" teriak Jasmine.

Begitu si penyusup berada dalam jarak jangkau, Jasmine mengarahkan moncong botol itu tepat ke celah lubang mata di penutup wajah pria tersebut.

CROT! CROT! CROT!

"AARRGGHHH! MATAKU! SETAN!" Pria itu langsung menjatuhkan pisaunya. Ia memegangi wajahnya yang terasa seperti disiram air keras. Larutan cabai yang dibuat Jasmine jauh lebih pekat daripada pepper spray komersial mana pun. Rasa panasnya menembus pori-pori dan membuat selaput mata membengkak seketika.

Penyusup itu merintih, berguling-guling di lantai ruang tamu sambil mencakar wajahnya sendiri karena rasa perih yang tak tertahankan.

Melihat temannya tumbang, satu penyusup lagi yang baru saja masuk dari arah dapur ragu-ragu untuk mendekat. Namun, Awan yang sudah sedikit bisa membuka satu matanya, menggunakan kesempatan itu. Ia melayangkan satu pukulan telak ke rahang penyusup kedua hingga pria itu tersungkur pingsan.

Suara derap sepatu lari mendekat dari arah depan. Lima pengawal Awan masuk dengan senjata lengkap. Mereka langsung meringkus kedua penyusup yang sudah tidak berdaya karena ulah Jasmine dan pukulan Awan.

"Tuan! Maafkan kami, mereka mengalihkan perhatian kami dengan ledakan kecil di gerbang depan," lapor kepala keamanan dengan wajah penuh penyesalan.

Awan tidak menjawab. Ia hanya memberikan kode agar mereka membawa para penculik itu pergi. Ia kemudian terduduk di sofa, menyandarkan kepalanya yang berdenyut. Wajahnya masih terlihat merah dan bengkak akibat "serangan" Jasmine tadi.

Jasmine segera datang membawa baskom berisi air dingin dan handuk kecil. Dengan tangan gemetar, ia mulai membasuh wajah Awan dengan sangat hati-hati.

"Maaf ya, Kak... benar-benar maaf. Aku takut banget tadi," bisik Jasmine, air matanya mulai menetes karena rasa bersalah dan sisa trauma.

Awan membuka matanya perlahan. Meskipun masih sangat merah dan perih, ia menatap Jasmine dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia melihat botol semprotan yang tergeletak di meja, lalu kembali menatap Jasmine.

"Lo... lo bikin larutan itu sendiri?" tanya Awan, suaranya sedikit parau.

Jasmine mengangguk pelan. "Aku dapet firasat nggak enak setelah Kakak berangkat. Jadi aku giling cabe rawit yang ada di dapur... aku campur cuka sedikit."

Awan terdiam sebentar, lalu tiba-tiba sebuah tawa pendek keluar dari mulutnya—tawa yang jarang sekali didengar Jasmine.

"Gila lo, Jas. Gue sewa pengawal mahal-mahal, ternyata pelindung paling ampuh malah botol cabe lo itu," ucap Awan sambil meringis menahan perih di kulit wajahnya. "Gue nggak tahu harus marah karena muka gue jadi korban, atau bangga karena lo pinter jaga diri."

Jasmine sedikit tersenyum mendengar pujian aneh itu. Ia terus membasuh wajah Awan dengan lembut. Keheningan yang terjadi di antara mereka kali ini terasa berbeda. Bukan lagi keheningan yang kaku, melainkan keheningan yang penuh dengan rasa saling menjaga.

"Tapi Kak, kenapa Kakak bisa balik secepat itu?" tanya Jasmine lagi.

Awan menatap lurus ke mata Jasmine. "Gue udah bilang, kan? Lo itu warisan Hero yang paling berharga. Dan gue bukan tipe orang yang mau kehilangan warisan gue dua kali."

Awan mengulurkan tangannya, mengelus rambut Jasmine sebentar sebelum tangannya turun menyentuh perut Jasmine. "Lo hebat hari ini. Anak lo pasti bangga punya Bunda yang galak kayak gini."

Jasmine merona merah. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa Awan bukan lagi sekadar bayang-bayang Hero. Awan adalah pelindungnya yang nyata, yang rela menembus bahaya (bahkan terkena semprotan cabai) demi memastikan ia dan bayinya tetap bernapas.

Celine yang mendengar rencananya gagal total mulai panik karena polisi sudah melacak persembunyiannya. Sementara itu, Awan memutuskan untuk membawa Jasmine pindah ke apartemen pribadinya yang lebih aman.

1
pdm
semangat lanjutkan💪
Reni Anjarwani
lanjutt thorrr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut trs thor makin seru ceritanya
Reni Anjarwani
lanjut thorr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
Siti Dede
Ungkapin aja atuh Waaan...daripada senewen nggak keruan
pdm
aduh ini potongan bwg merahny bikin mata berair/Cry//Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!