Di dunia di mana Peringkat Bakat adalah hukum tertinggi, Lu Chen hanyalah sebutir debu. Saat Upacara Penentuan Takdir, dia dipermalukan di depan seluruh sekte karena hanya memiliki bakat F-Rank dengan afinitas spiritual nol. Dunia mencapnya sebagai sampah, namun mereka tidak tahu bahwa Lu Chen menyembunyikan sistem SSS+ "Omnipotence Mask" yang mampu menutupi keberadaan aslinya dari mata dewa sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEASON 2 SANG PENJINAK SEMUT BAB 31: SISA ABU DI GERBANG NAGA
Bau belerang dan besi yang terbakar menusuk indra penciuman Lu Chen. Di sekelilingnya, reruntuhan Gerbang Naga bukan lagi simbol kemegahan yang ditakuti, melainkan onggokan batu yang pecah berantakan. Lu Chen berdiri mematung. Napasnya pendek, tersengal, meninggalkan kabut tipis di udara dingin yang mulai menyelimuti tempat itu.
Dia menatap telapak tangannya sendiri. Masih ada sisa getaran kecil di ujung jarinya, sisa dari energi penghancur yang baru saja ia lepaskan. Rasanya aneh. Ada kemenangan yang meledak di dadanya, namun di saat yang sama, lubang kosong yang menganga terasa kian lebar.
"Sudah berakhir," bisik Lu Chen. Suaranya serak, nyaris tenggelam oleh deru angin yang menyapu debu-debu sisa tubuh Tetua Kuang.
Di atas bahunya, Ignis mendengkur halus. Naga kecil itu melingkarkan ekornya lebih erat ke leher Lu Chen, sebuah gestur protektif yang terasa hangat di tengah suasana yang mencekam ini. Lu Chen bisa merasakan detak jantung Ignis yang selaras dengan miliknya, sebuah pengingat bahwa dia tidak benar-benar sendirian di dunia yang baru saja ia hancurkan ini.
Yue Bing melangkah mendekat. Langkah kakinya terdengar ragu di atas serpihan batu kristal yang hancur. Dia berhenti tepat tiga langkah di belakang Lu Chen. Matanya menatap punggung pemuda itu dengan tatapan yang sulit diartikan, ada pemujaan, namun ada juga secercah ketakutan yang berusaha ia sembunyikan di balik bulu matanya yang lentik.
"Tuan," suara Yue Bing lembut, namun cukup untuk memecah keheningan.
Lu Chen tidak segera berbalik. Dia memejamkan mata sejenak, membiarkan angin dingin membelai wajahnya yang berlumuran jelaga. Bayangan wajah Tetua Kuang yang ketakutan di detik-detik terakhirnya terus berputar dalam benaknya.
Seharusnya dia merasa puas. Pria itu adalah orang yang menganggapnya sampah, yang menertawakan takdirnya. Namun, melihat musuh bebuyutannya menjadi abu ternyata tidak membawa kedamaian yang ia bayangkan.
"Kenapa kau masih memanggilku begitu, Yue Bing?" Lu Chen akhirnya bersuara tanpa menoleh. "Lihatlah sekelilingmu. Tidak ada lagi sekte, tidak ada lagi aturan. Aku hanya seorang pembunuh sekarang."
Yue Bing terdiam. Dia mengambil satu langkah lagi ke depan, tangan kanannya terangkat ragu sebelum akhirnya mendarat di lengan baju Lu Chen yang robek. Jari-jarinya sedikit gemetar.
"Dunia mungkin melihat reruntuhan ini sebagai akhir," ucap Yue Bing, suaranya kini lebih mantap meskipun ada sedikit getaran emosi di dalamnya. "Tapi bagiku, ini adalah tempat di mana matahari akhirnya terbit tanpa tertutup bayang-bayang mereka."
Lu Chen perlahan memutar tubuhnya. Tatapan mereka bertemu. Di mata Yue Bing, Lu Chen tidak melihat monster yang ditakuti Han Xiao. Dia melihat pantulan seorang pemuda yang lelah, yang memikul beban dunia di pundaknya yang masih terlalu muda.
Keheningan kembali merayap di antara mereka, namun kali ini terasa lebih ringan. Lu Chen menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara yang mulai bersih dari asap. Dia menoleh ke arah Gerbang Naga yang terbuka lebar, menyingkap kegelapan yang menanti di dalamnya.
Jantung Naga ada di sana. Kekuatan yang akan mengubah segalanya ada di sana.
"Kita tidak bisa berlama-lama di sini," kata Lu Chen, nada suaranya berubah menjadi lebih dingin dan waspada. "Sekte-sekte lain akan segera menyadari hilangnya aura Tetua Kuang. Mereka akan datang seperti burung hering yang mencium bau bangkai."
Dia melirik ke arah Han Xiao yang masih meringkuk di sudut, matanya kosong menatap kehampaan. Lu Chen merasakan dorongan untuk menghabisinya saat itu juga, namun ia menahan diri. Membiarkan Han Xiao hidup dalam kegilaan dan penyesalan adalah hukuman yang jauh lebih kejam daripada kematian.
Lu Chen mulai melangkah menuju kegelapan gerbang, langkahnya kini terasa lebih berat namun pasti. Setiap pijakan kakinya di atas abu seolah menjadi tanda bahwa babak baru telah dimulai. Dia bukan lagi semut yang bisa diinjak.
Namun, tepat saat kakinya melewati ambang pintu batu, sistem di kepalanya berdenging. Bukan suara notifikasi yang biasa, melainkan suara statis yang menyakitkan, seperti kuku yang menggaruk papan tulis.
[Peringatan: Stabilitas jiwa inang menurun. Proses sinkronisasi Topeng Kedua diperlukan segera.]
Lu Chen tersentak, tangannya mencengkeram dadanya yang tiba-tiba terasa panas terbakar. Dia bersandar pada dinding batu yang dingin, mencoba mengatur napasnya yang kembali memburu. Di bawah sana, di dalam kegelapan makam, sesuatu yang purba sedang memanggilnya. Sesuatu yang lapar.
"Ada apa, Tuan?" Yue Bing tampak panik, ia segera menahan tubuh Lu Chen agar tidak jatuh.
Lu Chen hanya menggeleng, meskipun wajahnya kini pucat pasi. Dia memaksakan sebuah senyum tipis yang terasa pahit.
"Hanya... harga yang harus dibayar untuk menjadi naga," gumamnya lirih.
Dia menatap lurus ke depan, ke arah lorong gelap yang seolah tak berujung. Di luar sana, Benua Tengah mungkin sedang bersiap untuk memburunya, tapi di sini, di jantung kegelapan ini, Lu Chen tahu bahwa musuh terbesarnya bukanlah para kultivator itu.
Musuh terbesarnya adalah kekuatan yang kini mengalir di dalam darahnya sendiri.
aku mau mengajak kalian untuk berpetualang ke dunia yang baru aja aku buat. di tunggu kedatangannya ya.
terkhusus untuk Autor. semangat ya.💪