Gu Yanqing hidup miskin, tanpa latar belakang, tanpa peluang.
Hingga suatu hari, Sistem Peningkatan Kekayaan aktif—memberinya kesempatan untuk naik kelas, selama semua yang ia peroleh masuk akal dan sah.
Dari nol ke kaya, dari diremehkan ke dikelilingi orang-orang yang terlihat tulus.
Tapi di dunia uang dan status, kepercayaan punya harga.
Dan saat harga itu terlalu mahal, tidak semua orang sanggup membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : Orang yang Takut
Kedai itu tidak punya nama.
Papan kayu di depan hanya bertuliskan mie panas dengan cat yang sudah mengelupas. Lampu neon di dalam berkedip setiap beberapa menit, seperti kelelahan menahan usia. Bau minyak bekas dan air rebusan tulang bercampur dengan asap rokok yang menggantung rendah.
Tempat seperti ini tidak tercatat di peta kota.
Namun bagi para buruh lama Dongkou, kedai itu adalah titik singgah yang tak pernah benar-benar hilang. Setelah shift malam. Setelah gajian. Atau setelah seseorang menghilang dari daftar kerja.
Gu Yanqing duduk di kursi plastik biru yang sedikit retak di salah satu kakinya. Ia tidak memesan apa pun. Tangannya diletakkan di atas meja, jari-jari tenang, tidak saling mengait.
Ia datang lebih awal.
Chen Baojun biasanya muncul sekitar pukul enam sore. Jadwal itu tidak pernah berubah sejak bertahun-tahun lalu. Kebiasaan lama buruh jarang berubah, bahkan ketika dunia di sekitarnya sudah berganti.
Jam di dinding menunjukkan 18.07 ketika pintu kedai terbuka.
Chen Baojun masuk sambil menepuk-nepuk jaketnya. Pria itu bertubuh sedang, bahu sedikit turun, rambut mulai memutih di pelipis. Langkahnya melambat ketika melihat seseorang duduk sendirian di sudut kedai.
Tatapan mereka bertemu.
Chen Baojun berhenti setengah langkah.
Bukan karena kaget.
Lebih seperti ragu.
Ia mengenali wajah itu. Tidak sepenuhnya, tapi cukup untuk membuat alisnya mengerut dan pikirannya bekerja cepat.
Gu Yanqing berdiri.
“Paman Chen,” katanya, suaranya rendah dan stabil. “Aku Gu Yanqing.”
Nama itu mendarat pelan, tapi berat.
Chen Baojun menelan ludah. Ia menoleh sekilas ke arah dapur, lalu ke pintu, seolah menghitung jarak jika harus pergi. Akhirnya ia menarik kursi dan duduk, tapi tidak langsung menghadap penuh.
“Sudah lama,” katanya pendek.
“Sudah lama,” Gu Yanqing mengulang.
Pelayan kedai datang tanpa bertanya dan meletakkan dua cangkir teh. Airnya keruh, panasnya tipis. Chen Baojun menyentuh cangkir itu, lalu menarik tangannya kembali, seperti tersadar sesuatu.
Hening turun.
Di meja lain, dua buruh muda tertawa keras. Suara sumpit beradu. Radio tua memutar lagu lama yang nadanya sumbang.
Di antara semua itu, percakapan mereka terasa seperti berada di ruang terpisah.
“Ayahmu…” Chen Baojun memulai, lalu berhenti. Ia mengusap lututnya dengan telapak tangan. “Sudah lama.”
Gu Yanqing mengangguk. “Aku tahu.”
Nada jawabannya tidak memberi ruang nostalgia.
Chen Baojun mengangkat pandangannya, menilai ulang anak di depannya. Tidak ada amarah. Tidak ada permohonan. Hanya ketenangan yang terasa tidak sesuai dengan tempat ini.
“Kau datang ke sini,” kata Chen Baojun pelan, “bukan untuk minum teh.”
“Tidak.”
Jawaban itu terlalu cepat untuk disangkal.
Chen Baojun menghela napas pendek. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, lalu kembali menyandarkan diri. Gerakan ragu itu terulang beberapa kali.
“Aku dengar ibumu sakit,” katanya akhirnya.
“Ya.”
“Berat?”
“Operasi.”
Chen Baojun memejamkan mata sesaat. Ujung jarinya mengetuk meja sekali. Hanya sekali.
“Aku sudah tua, Yanqing,” katanya. “Aku tidak kuat urusan-urusan itu lagi.”
Gu Yanqing tidak langsung merespons.
Ia membiarkan jeda bekerja.
“Aku hanya ingin bertanya,” katanya kemudian. “Tentang kecelakaan di dermaga sepuluh tahun lalu.”
Udara di sekitar meja mereka berubah.
Chen Baojun membuka mata. Tatapannya tidak lagi mengambang. Ia menatap Gu Yanqing lurus, tapi pupil matanya mengecil.
“Kecelakaan apa?” tanyanya.
“Yang melibatkan Gu Wenhai.”
Nama ayahnya disebut tanpa penekanan. Seperti fakta administratif.
Chen Baojun menarik kursinya sedikit ke belakang. Suara gesekan plastik dengan lantai terdengar lebih keras dari seharusnya.
“Itu sudah lama,” katanya. “Sudah selesai.”
“Tidak pernah selesai,” jawab Gu Yanqing tenang. “Ayahku tidak pernah dapat kompensasi.”
Chen Baojun tertawa kecil. Tertawa tanpa suara. “Kompensasi?” Ia menggeleng. “Nak, kau tahu siapa yang mengurus dermaga itu?”
Gu Yanqing menunggu.
“Dongkou Port Group,” kata Chen Baojun akhirnya, suaranya turun satu tingkat. Nama itu tidak diucapkan dengan keras. Seperti kata terlarang.
Beberapa meja di sekitar mereka tiba-tiba terasa lebih dekat.
Gu Yanqing mengangguk. “Aku tahu.”
Kalimat itu membuat Chen Baojun menatapnya lebih lama.
“Kau tahu, tapi tetap datang?”
“Aku datang karena tahu.”
Chen Baojun menghela napas lebih panjang. Bahunya turun. “Dulu ada banyak orang yang tahu,” katanya. “Sekarang tinggal sedikit. Dan yang sedikit itu… memilih lupa.”
“Karena takut,” kata Gu Yanqing.
Chen Baojun tidak menyangkal. Ia hanya mengaduk teh yang tidak ia minum.
“Kau masih muda,” katanya. “Kau tidak mengerti.”
“Aku mengerti,” jawab Gu Yanqing. “Takut berarti hidup masih bisa dipertahankan.”
Kalimat itu tidak menghakimi. Justru terlalu rasional.
Chen Baojun menutup mata lagi. Lama.
“Ada laporan,” katanya akhirnya, hampir berbisik. “Dulu. Setelah kecelakaan itu.”
Gu Yanqing tidak bergerak. Ia hanya memperhatikan setiap perubahan napas.
“Semua kecelakaan kerja harus ada laporan,” lanjut Chen Baojun. “Itu aturan. Tapi laporan itu… tidak pernah sampai ke pengadilan.”
“Kenapa?” tanya Gu Yanqing.
Chen Baojun membuka mata. Tatapannya keras. “Karena ada yang tidak ingin sampai.”
Nama itu tidak disebut, tapi bayangannya jelas.
“Apakah laporan itu palsu?” tanya Gu Yanqing.
“Tidak.” Chen Baojun menggeleng cepat. “Kecelakaan itu nyata. Ayahmu… dia ada di sana.”
Nada suaranya berubah. Lebih cepat. Lebih tegang.
“Lalu di mana laporannya sekarang?” tanya Gu Yanqing.
Chen Baojun terdiam.
Tangannya yang memegang sendok bergetar halus. Ia meletakkan sendok itu kembali ke cangkir, terlalu keras.
“Aku tidak tahu,” katanya. “Aku sungguh tidak tahu.”
Gu Yanqing mengamati ekspresinya. Tidak ada tanda kebohongan yang disengaja. Lebih seperti seseorang yang sudah lama memutuskan untuk tidak tahu.
“Siapa yang mengurus laporan itu dulu?” tanya Gu Yanqing.
Chen Baojun menelan ludah. Ia menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada yang mendengar.
“Jangan tanya terlalu jauh,” katanya. “Itu tidak baik.”
“Aku tidak bertanya untukmu,” jawab Gu Yanqing. “Aku bertanya untuk diriku.”
Kalimat itu membuat Chen Baojun terdiam lebih lama.
“Ada orang,” katanya akhirnya. “Buruh lama. Senior. Dia yang paling keras waktu itu.”
“Namanya?”
Chen Baojun ragu. Ujung jarinya menekan meja, lalu melepas.
“Liu Haifeng,” katanya pelan.
Nama itu jatuh seperti batu kecil ke air tenang. Tidak besar, tapi meninggalkan riak.
“Dia masih hidup?” tanya Gu Yanqing.
“Masih.” Chen Baojun mengangguk. “Tapi jangan bawa namaku.”
“Aku tidak akan.”
Chen Baojun menghela napas lega, tapi hanya sesaat.
“Kau harus tahu,” katanya. “Mendatangi orang-orang lama seperti ini… tidak aman.”
“Aku tahu.”
“Dongkou tidak suka masa lalu diungkit.”
“Aku juga tahu.”
Chen Baojun menatapnya lama. “Kalau begitu kenapa?”
Gu Yanqing tidak menjawab segera.
Ia memandang cangkir teh di depannya. Airnya sudah dingin.
“Karena waktu ayahku mati,” katanya akhirnya, “tidak ada yang berani bicara.”
Chen Baojun menunduk.
“Dan sekarang,” lanjut Gu Yanqing, “ibuku hampir mati karena itu.”
Hening kembali turun.
Chen Baojun mengangguk pelan. “Hati-hati, Yanqing.”
“Aku selalu hati-hati.”
Gu Yanqing berdiri. Ia mengangguk sopan, lalu berbalik menuju pintu.
Saat tangannya menyentuh gagang, suara Chen Baojun terdengar dari belakang.
“Orang seperti Liu Haifeng,” katanya, “takutnya lebih dalam dari yang kau kira.”
Gu Yanqing berhenti sejenak.
“Aku tahu,” katanya tanpa menoleh. “Karena yang mereka takuti bukan aku.”
Ia membuka pintu dan melangkah keluar.
Di dalam kedai, Chen Baojun duduk diam, menatap cangkir teh yang tak tersentuh. Di luar, langit senja Linhai menggantung rendah, seolah menekan kota dengan berat yang tak terlihat.
Penolakan pertama telah terjadi.
Dan satu nama telah muncul.
...
Rumah Liu Haifeng berada di ujung gang sempit yang nyaris tidak dilalui kendaraan. Dinding-dindingnya kusam, cat terkelupas seperti sisik tua. Lampu jalan di mulut gang berkedip-kedip, membuat bagian dalam gang jatuh ke dalam bayangan panjang.
Gu Yanqing berhenti dua langkah dari pintu.
Ia tidak langsung mengetuk.
Di tempat seperti ini, suara terlalu keras bisa menjadi kesalahan. Terlalu lembut bisa dianggap ragu. Ia memilih ritme yang datar—tiga ketukan, jarak sama, tanpa emosi.
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada jawaban.
Gu Yanqing mengetuk lagi. Kali ini lebih pelan.
Dari balik pintu terdengar suara gesekan kursi. Langkah kaki menyeret. Kunci diputar setengah, lalu berhenti.
“Siapa?” suara di balik pintu terdengar kasar, waspada.
“Gu Yanqing,” jawabnya. “Aku ingin bicara.”
Sunyi kembali turun. Lebih lama.
Pintu terbuka sedikit. Celah sempit memperlihatkan wajah pria berusia lima puluhan, rambutnya memutih di banyak bagian, mata cekung dan tajam. Tatapannya langsung memeriksa dari atas ke bawah.
“Aku tidak kenal kau,” kata Liu Haifeng.
“Aku anak Gu Wenhai.”
Celah pintu membeku.
Liu Haifeng tidak langsung menutup pintu. Itu sudah jawaban.
“Kau salah alamat,” katanya akhirnya.
“Tidak,” jawab Gu Yanqing. “Aku datang ke alamat yang tepat.”
Liu Haifeng menggeram pelan. Tangannya mengencang di gagang pintu. “Aku sudah tidak kerja di dermaga.”
“Aku tidak datang soal pekerjaanmu sekarang.”
“Kalau begitu tidak ada yang bisa kita bicarakan.”
Pintu mulai ditutup.
Gu Yanqing mengulurkan tangan, tidak menyentuh pintu, hanya menahan dengan jarak yang sopan. “Aku tidak minta kesaksian,” katanya. “Aku hanya ingin memastikan satu hal.”
Gerakan pintu berhenti.
Liu Haifeng menatapnya tajam. “Hal apa?”
“Apakah dulu ada laporan kecelakaan.”
Jawaban itu membuat Liu Haifeng menarik napas tajam. Ia menoleh ke dalam rumah, lalu kembali ke Gu Yanqing.
“Kau seharusnya tidak bertanya itu,” katanya.
“Pertanyaan tidak melanggar hukum,” jawab Gu Yanqing datar.
“Jawabannya bisa.”
Sunyi menegang di antara mereka.
“Aku tidak membawa perekam,” lanjut Gu Yanqing. “Aku tidak membawa dokumen. Aku juga tidak membawa siapa pun.”
Liu Haifeng tertawa pendek, tanpa humor. “Justru itu yang berbahaya.”
Ia membuka pintu lebih lebar, cukup untuk berdiri menghalangi, lalu menutupnya kembali dari luar. Keputusan itu cepat dan terlatih.
“Masuk,” katanya. “Cepat.”
Di dalam, rumah itu sempit dan bersih secara berlebihan. Tidak ada foto keluarga di dinding. Tidak ada kalender. Hanya meja kayu, dua kursi, dan termos air panas.
Liu Haifeng tidak menawarkan duduk. Ia berdiri bersandar di dinding, tangan bersilang.
“Aku tidak akan bicara lama,” katanya. “Dan apa pun yang kau dengar di sini, kau tidak dengar dari aku.”
Gu Yanqing mengangguk. Ia duduk tanpa disuruh.
“Ada laporan,” kata Liu Haifeng akhirnya. Kalimat itu keluar seperti beban yang terlepas terlalu cepat. “Itu kewajiban. Kecelakaan kerja harus dilaporkan.”
“Siapa yang membuatnya?” tanya Gu Yanqing.
“Tim keselamatan.” Liu Haifeng menghela napas. “Tapi sebelum laporan itu naik… ada yang memeriksanya.”
“Siapa?”
Liu Haifeng menggeleng. “Aku tidak ingat.”
Jawaban itu terlalu cepat.
“Apakah laporan itu salah?” tanya Gu Yanqing.
“Tidak,” jawab Liu Haifeng tegas. “Cedera ayahmu nyata. Semua orang melihat.”
“Lalu kenapa tidak ada proses hukum?”
“Karena laporan itu tidak pernah sampai.”
Gu Yanqing menatapnya tanpa berkedip. “Tidak sampai ke mana?”
“Ke mana pun yang bisa membuat masalah.”
Liu Haifeng mengambil termos dan menuang air ke cangkir, tapi tangannya sedikit bergetar. Air tumpah ke meja.
“Laporan itu dipindahkan,” katanya. “Disimpan sementara. Lalu… hilang.”
“Siapa yang memindahkannya?”
“Orang yang punya wewenang.”
“Nama?”
Liu Haifeng mengangkat kepala, tatapannya mengeras. “Aku sudah bilang. Aku tidak ingat.”
Gu Yanqing tidak mendesak.
Ia mengubah sudut.
“Apakah ada salinan?” tanyanya.
Liu Haifeng terdiam lebih lama kali ini.
“Ada,” katanya akhirnya. “Dulu.”
“Sekarang?”
“Tidak di tanganku.”
“Di tangan siapa?”
“Entah.” Liu Haifeng mengusap wajahnya. “Aku tidak mau tahu.”
Kalimat itu bukan kebohongan. Itu keputusan bertahun-tahun lalu.
Gu Yanqing mengangguk. “Terima kasih.”
Ucapan itu membuat Liu Haifeng terkejut.
“Untuk apa?” tanyanya.
“Untuk tidak berbohong.”
Liu Haifeng tertawa pendek. “Kejujuran tidak membuat hidup lebih aman.”
“Kadang membuatnya lebih jelas.”
Sunyi kembali mengisi ruangan.
Pada saat itu, sesuatu bergetar pelan di kesadaran Gu Yanqing.
Bukan suara. Bukan cahaya.
Sebuah panel muncul dengan tenang, rapi, tanpa efek berlebihan.
Wealth Ascension System
Status: Passive Analysis
提示: Evidence node detected.
Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada instruksi. Hanya satu penanda dingin.
Gu Yanqing menutup pandangannya dari panel itu.
“Ada satu hal lagi,” katanya.
Liu Haifeng menghela napas lelah. “Aku sudah bicara terlalu banyak.”
“Nama Wang Jicheng,” kata Gu Yanqing.
Perubahan itu instan.
Liu Haifeng membeku. Wajahnya mengeras, rahangnya mengencang. Cangkir di tangannya berhenti di udara.
“Kau kenal dia,” lanjut Gu Yanqing, nadanya tetap datar.
Liu Haifeng meletakkan cangkir perlahan. “Kenal.”
“Dia terlibat?”
Sunyi kali ini lebih berat.
“Dia mandor,” kata Liu Haifeng akhirnya. “Banyak yang lewat tangannya.”
“Itu bukan jawaban.”
“Itu satu-satunya yang akan kau dapat.”
Nada Liu Haifeng berubah. Tidak lagi defensif. Lebih seperti peringatan.
“Kalau kau mengejar ini,” katanya, “kau tidak hanya melawan perusahaan. Kau melawan orang-orang yang masih ada.”
Gu Yanqing berdiri. “Aku tahu.”
Liu Haifeng menatapnya lama. “Kau berbeda dari ayahmu.”
“Ayahku percaya janji,” jawab Gu Yanqing. “Aku percaya catatan.”
Ia melangkah menuju pintu.
“Yanqing,” panggil Liu Haifeng tiba-tiba.
Gu Yanqing berhenti.
“Takut itu bukan karena kami pengecut,” kata Liu Haifeng. “Takut itu karena kami tahu harga yang harus dibayar.”
Gu Yanqing tidak berbalik. “Aku juga tahu.”
Ia membuka pintu dan keluar.
Malam Linhai terbentang di depan, lampu-lampu kota berkilau dingin. Angin laut membawa bau asin dan karat.
Di kepalanya, satu garis pemikiran menjadi jelas.
Kebenaran tidak hilang.
Ia dipindahkan. Disembunyikan. Dijaga oleh ketakutan.
Dan orang yang memecatnya hari itu—
adalah bagian dari rantai yang sama.
Di kesadarannya, panel sistem muncul sekali lagi, singkat.
Petunjuk: Cari saksi hidup.
Gu Yanqing menatap jauh ke arah kota.
Wajahnya tenang.
Namun di balik ketenangan itu, sesuatu telah terkunci pada targetnya.
Wang Jicheng.