NovelToon NovelToon
Sabar Berujung Bahagia

Sabar Berujung Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Wanita Karir / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Janda
Popularitas:804
Nilai: 5
Nama Author: Sherly

Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.

Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.

Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.

Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar dari Jauh

Mawar yang merasa sudah lelah pun berniat masuk ke dalam. "Kamu masih mau merokok nggak? Kalau mau, aku tinggal sebatang di sini sama koreknya," tawarnya.

"Boleh, sebatang aja Kak. Lagian aku juga mau telepon orang rumah," jawabku.

"Ya sudah, aku masuk duluan ya," pamit Mawar. Aku hanya mengangguk pelan.

Setelah Mawar masuk, aku mulai mengotak-atik ponselku. Aku ingin menghubungi Dek Tiya dan Mas Yadi melalui panggilan grup. Beberapa hari lalu, Tiya mengabarkan bahwa dia sudah keluar dari rumah besar dan kini tinggal di rumahnya sendiri bersama Adi. Di rumah lama kini hanya tinggal Mamak dan Bapak bersama Mas Yadi.

Kemarin Mamak sempat merasa sangat cemas dan terus menanyakan kabarku. Begitu panggilan tersambung dan wajah mereka muncul di layar, aku langsung menyapa.

"Assalamu’alaikum, Mas, Dek Tiya, Adi. Apa kabarnya di sana?" ucapku.

"Wa’alaikumussalam," jawab Mas Yadi, Tiya, dan Adi hampir bersamaan.

"Alhamdulillah kami semua baik, Dek. Kamu sendiri gimana di sana?" tanya Mas Yadi memastikan.

"Iya, Mbak, gimana di sana? Ada yang jahat nggak sama Mbak?" timpal Tiya khawatir.

Aku tersenyum menenangkan. "Alhamdulillah kalau semuanya baik. Aku di sini baik-baik saja, kok. Nggak ada yang perlu kalian cemaskan."

"Ya syukur kalau Mbak baik. Oh iya, kemarin waktu Mbak pergi, Mamak sama Bapak nanyain terus. Iya kan, Mas?" Tiya melirik layar ponselnya ke arah Mas Yadi.

"Iya, Dek. Mamak kepikiran kamu terus," sahut Mas Yadi yang membuat hatiku sedikit terenyuh dan merasa bersalah pada kedua orang tuaku.

"Lalu Mamak sama Bapak ke mana sekarang?" tanyaku.

"Ada tuh di ruang tengah, lagi nonton televisi. Mau ngobrol sama Mamak dan Bapak?" tawar Mas Yadi.

Aku mengangguk cepat sambil tersenyum. Mas Yadi kemudian keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang tengah.

"Mak, Pak! Nih, anaknya yang nggak pulang-pulang mau ngomong!" teriak Mas Yadi sambil menuruni anak tangga.

Heni dan Salman, kedua orang tuaku, langsung tersenyum bahagia. Mereka bergegas menyambar ponsel dari tangan Mas Yadi, tak sabar ingin melihat wajahku.

Wajah Mamak dan Bapak kini memenuhi layar ponsel. Aku bisa melihat gurat kerinduan di mata mereka, sekaligus kelegaan yang luar biasa saat melihat wajahku dalam keadaan sehat.

"Yani... Gusti, kamu ke mana aja, Nduk?" tanya Mamak dengan suara yang sedikit bergetar. Beliau mendekatkan ponsel itu ke wajahnya, seolah ingin memastikan aku benar-benar nyata di sana.

"Yani baik-baik saja, Mak. Maafin Yani ya sudah buat Mamak sama Bapak khawatir," jawabku dengan nada rendah, menahan rasa haru yang tiba-tiba menyesak di dada.

Bapak, yang biasanya pendiam, ikut nimbrung di samping Mamak. "Yang penting kamu sehat di sana, Yan. Jangan lupa makan, jangan telat istirahat. Kamu di sana tinggal sama siapa sekarang?"

"Sama teman-teman, Pak. Orangnya baik-baik semua, tadi malah baru aja becanda bareng," ceritaku berusaha mencairkan suasana agar mereka tidak terlalu cemas.

Mas Yadi, Tiya, dan Adi yang masih terhubung di panggilan itu hanya menyimak sambil sesekali tersenyum melihat interaksi kami. Tiya kemudian menyahut dari layarnya sendiri, "Tuh kan, Mak, Pak... Tiya bilang juga apa. Mbak Yani itu kuat, nggak mungkin kenapa-kenapa. Makanya jangan melamun terus!"

Mamak menyeka sudut matanya. "Ya namanya orang tua, Tiya. Mbakmu ini jauh, nggak kelihatan mata."

"Yani janji nanti kalau ada waktu luang Yani pulang, Mak. Mamak sama Bapak sehat-sehat ya di sana. Mas Yadi, jagain Mamak sama Bapak ya," pesanku.

"Beres, Dek. Tenang aja, mereka di sini aman sama Mas," sahut Mas Yadi sambil mengacungkan jempolnya.

Obrolan kami berlanjut dengan hangat. Aku menceritakan hal-hal ringan yang terjadi hari ini (tentunya tanpa menyebutkan soal rokok dan tingkah ajaib Lala), sementara Mamak menceritakan masakan di rumah yang katanya sengaja disisakan kalau-kalau aku tiba-tiba pulang.

Rasanya beban di pundakku sedikit terangkat setelah mendengar suara mereka. Di tengah remang cahaya teras dan sebatang rokok pemberian Mawar yang masih tergeletak belum kusentuh, aku merasa sangat beruntung masih memiliki tempat untuk pulang, meski hanya lewat suara dan layar kaca.

"Ya sudah, kamu istirahat ya, Nduk. Sudah malam. Jangan lupa berdoa," ucap Bapak sebelum mengakhiri pembicaraan.

"Iya, Pak. Assalamu’alaikum."

"Wa’alaikumussalam."

Layar ponsel itu menggelap. Aku menghela napas panjang, menatap rokok di sampingku. Pikiranku melayang, memikirkan betapa berbedanya duniaku sekarang dengan dunia hangat yang baru saja kutinggalkan di seberang telepon.

Aku terdiam cukup lama setelah panggilan itu berakhir. Suara Mamak yang bergetar dan tatapan teduh Bapak terus terngiang di kepalaku, membuat dadaku terasa sesak.

Di bawah langit malam yang sunyi, pikiranku melayang jauh, memikirkan jalan hidup yang kini kupilih dan betapa jauhnya aku dari pelukan mereka.

Tanpa kusadari, sudut mataku mulai basah. Ada rasa rindu yang hebat, namun ada juga rasa lelah yang sulit kujelaskan. Duniamu sekarang terasa begitu kontras dengan kehangatan di rumah tadi.

Rokok pemberian Kak Mawar masih tergeletak di sana, tak tersentuh sama sekali. Aku merasa kehilangan minat untuk mencobanya lagi.

Rasanya, tawa bersama Lala dan Ratih tadi seolah hanya pelipur lara sementara untuk menutupi kekosongan yang aku rasakan sekarang.

Aku menyeka air mata dengan punggung tanganku, mencoba menguatkan diri. Tubuhku terasa sangat berat, dan kepalaku mulai berdenyut karena terlalu banyak berpikir.

"Sudahlah, Yani... istirahat," bisikku pada diri sendiri.

Aku pun bangkit dari kursi teras, merapikan meja, dan membawa masuk ponselku. Aku berjalan perlahan menuju kamar, berusaha tidak menimbulkan suara agar tidak membangunkan yang lain.

Begitu merebahkan tubuh di kasur, rasa lelah itu seolah tumpah sepenuhnya. Dalam keheningan malam, aku memejamkan mata, berharap esok hari hatiku bisa terasa sedikit lebih ringan.

Namun, ternyata mataku masih sulit terpejam. Saat aku sedang melamun, tiba-tiba ponselku berbunyi. Ternyata ada panggilan grup masuk dari Tiya dan Mas Yadi.

"Kenapa lagi mereka nih?" batinku. Aku pun memutuskan kembali ke balkon depan. Tak disangka, ternyata Kak Mawar juga belum tidur dan masih duduk di sana. Akhirnya, aku duduk di teras bersamanya sambil mengangkat telepon.

"Kenapa lagi, Dek, Mas?" tanyaku begitu panggilan tersambung.

"Entahlah, ini adikmu satu ini. Mas lagi enak tidur malah diajak ngobrol, katanya dia kesepian," jawab Mas Yadi sambil terkekeh.

"Enggak kenapa-kenapa, cuma kangen aja, hehe. Kan sekarang sudah nggak bisa kumpul bareng lagi," sahut Tiya membela diri.

"Tiya, kan bisa lain waktu. Ini sudah malam lho, waktunya kamu istirahat," kataku. Mendengar itu, Tiya memanyunkan bibirnya sampai lima senti. Tiba-tiba, sebuah tangan lewat di layar dan menyambar bibirnya gemas. Itu tangan Adi.

"Sini, biar aku kuncir nih bibir!" seru Adi. Aku dan Mas Yadi yang melihat kelakuan Adi pun tertawa terbahak-bahak.

"Aaahhh! Mas Adi, kamu ini nggak bisa lihat istrinya tenang sedikit apa?" keluh Tiya kesal.

"Ya gimana dong, lihat bibirmu begitu rasanya ingin sekali aku kuncir. Sini, mumpung ada ikat rambut," tawar Adi sambil menunjukkan karet rambut.

"Ah, Mas ini! Mana cukup karet segitu, mana bau lagi!" gerutu Tiya.

"Lho, kan ini ikat rambut kamu sendiri? Berarti rambut kamu dong yang bau," protes Adi tak mau kalah.

"Mana ada rambutku bau!" teriak Tiya tidak terima.

"Sudah, sudah! Kalian ini macam anak kecil saja," omel Mas Yadi. Aku hanya bisa menggelengkan kepala sambil terkekeh geli melihat tingkah mereka.

"Iya, kalian ini kocak banget sih," sahutku.

"Oh iya, Yan. Sebelahmu itu siapa?" tanya Mas Yadi yang menyadari aku tidak sendirian.

"Iya, Mbak. Kayaknya cewek ya?" sambung Tiya sambil menajamkan pandangan ke layar ponselnya.

Aku melirik ke arah Kak Mawar, lalu mengarahkan kamera ponselku ke samping agar dia terlihat. "Aku lagi sama teman, namanya Kak Mawar," ucapku. Kak Mawar pun melambaikan tangan ke kamera.

"Hai!" sapa Kak Mawar ramah.

"Oh, temannya di sana banyak ya, Mbak?" tanya Tiya penasaran.

Aku mengangguk. "Iya, di sini ada lima orang termasuk aku."

"Banyak juga ya, Dek," timpal Mas Yadi.

"He-em, banyak Mas," jawabku sambil tersenyum.

"Berarti Mbak di sana tinggal di mes, ya?" sahut Adi ikut menimpali.

"Betul sekali," jawabku membenarkan ucapan Adi.

"Oalah, kalau begitu hati-hati di sana, ya. Jaga diri baik-baik," ujar Mas Yadi memberi nasihat.

Aku mengangguk-angguk paham. "Iya, Mbak, hati-hati di sana. Kalau ada waktu senggang, kabari kami lagi ya," tambah Tiya yang sepertinya sudah mulai mengantuk.

"Ya sudah, kalian juga jaga kesehatan di sana. Dah... Assalamu’alaikum," ucapku sebelum mematikan panggilan grup tersebut.

Setelah panggilan terputus, suasana di teras kembali sunyi, hanya menyisakan suara embusan napas Kak Mawar yang duduk santai di sebelahku. Aku menarik napas dalam-dalam, merasa sedikit lebih lega setelah melihat keributan kecil Tiya dan suaminya tadi.

"Keluarga kamu seru ya, Yan," ucap Kak Mawar tiba-tiba, memecah keheningan. "Kelihatan banget mereka sayang sama kamu."

Aku tersenyum tipis sambil menatap layar ponsel yang sudah gelap. "Iya, Kak. Begitulah mereka. Kadang berisik, kadang bikin pusing, tapi mereka yang selalu ada."

Kak Mawar mengangguk pelan. "Syukurlah kalau gitu. Di tempat kayak gini, punya sandaran buat cerita itu mahal harganya. Jangan sampai putus komunikasi sama mereka."

Aku hanya terdiam, meresapi ucapan Kak Mawar. Benar katanya, di perantauan dan tinggal di mes seperti ini, suara keluarga adalah obat paling ampuh buat rasa lelah.

"Kamu sendiri kenapa belum tidur, Kak?" tanyaku kemudian. "Tadi bilangnya udah capek mau masuk duluan."

"Biasalah, Yan. Badan udah rebahan, tapi pikiran masih jalan-jalan ke mana-mana. Makanya aku keluar lagi buat cari angin," jawabnya sambil terkekeh pelan. "Eh, malah ketemu kamu lagi dengerin konser gratis dari adikmu."

Aku ikut tertawa kecil. Rasa sedih yang tadi sempat membuat mataku basah kini perlahan memudar, berganti dengan rasa tenang. Ternyata, tidak bisa tidur malam ini membawa hikmah tersendiri.

"Ya sudah, karena obrolannya sudah selesai dan aku sudah tenang melihat keluarga kamu baik-baik saja, mending sekarang kita beneran tidur," ajak Kak Mawar sambil berdiri dan meregangkan otot-ototnya.

"Iya, Kak. Kayaknya sekarang aku sudah bisa tidur nyenyak," balasku.

Kami berdua pun beranjak masuk ke dalam mes dengan langkah yang lebih ringan. Sebelum masuk ke kamar masing-masing, Kak Mawar menepuk bahuku pelan. "Mimpi indah ya, Yan. Besok kita mulai lagi harinya."

"Mimpi indah juga, Kak," sahutku. Begitu merebahkan diri di kasur, bayangan wajah lucu Tiya yang bibirnya mau dikuncir Adi membuatku tersenyum sendiri sampai akhirnya aku benar-benar terlelap.

Bersambung....

1
WinnyLiam
👍🏻
Melsha: terimakasih
total 1 replies
Efan Taga
aku mampirrrr
Melsha: terimakasih udah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!