NovelToon NovelToon
Karma Suami Durhaka

Karma Suami Durhaka

Status: tamat
Genre:Pelakor / Keluarga & Kasih Sayang / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Miss Ra

​"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."

​Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.

Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.

Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.

Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.

​Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?

Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?

Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

"Tembok yang dibangun di atas keangkuhan akan runtuh oleh satu sentuhan keadilan. Di episode ini, Bima Erlangga harus menelan pil pahit paling mematikan dalam hidupnya, menjadi orang asing di istananya sendiri. Saat pintu perusahaan terkunci dan gembok rumah berdenting dingin, ia baru menyadari bahwa mahkota yang selama ini ia agungkan hanyalah istana pasir yang tersapu ombak kenyataan. Mari saksikan bagaimana sang Tuan Muda kini berdiri di tepi jalan, hanya ditemani bayang-bayang kesalahannya yang menghantui."

.

.

Jakarta menyambut Bima bukan dengan gemerlap lampu gedung yang biasanya membanggakan, melainkan dengan kegelapan yang terasa menekan paru-paru.

Sepanjang perjalanan dari Sukamaju, Bima tak henti-hentinya memacu mobilnya seolah-olah kecepatan bisa memutar balik waktu.

Keringat dingin membanjiri kemeja mahalnya, dan tatapan matanya liar, mencerminkan kekacauan di dalam kepalanya.

Pukul dua pagi, ia sampai di depan gedung kantor pusat Erlangga Group.

Biasanya, petugas keamanan akan membungkuk hormat dan membukakan pintu khusus untuknya. Namun malam ini, suasana mencekam menyambutnya.

Beberapa mobil polisi terparkir di depan lobi, dan lampu sorot dari petugas bank menerangi fasad gedung yang selama ini menjadi simbol kekuasaannya.

Bima melompat keluar dari mobilnya bahkan sebelum mesin benar-benar mati.

"Apa-apaan ini?! Siapa yang mengizinkan kalian masuk ke properti pribadi saya?!" raung Bima, suaranya pecah di keheningan malam.

Seorang pria paruh baya dengan setelan rapi dan tanda pengenal dari bank pemerintah melangkah maju. Di sampingnya, dua petugas kepolisian berdiri tegak dengan tangan di sabuk senjata mereka.

"Pak Bima Erlangga," ucap pria itu dingin, tanpa embel-embel 'Tuan'. "Kami telah mengirimkan surat peringatan ketiga minggu lalu terkait gagal bayar utang operasional dan jaminan aset. Karena tidak ada respon dan adanya indikasi pelarian aset oleh pemegang saham lainnya, kami terpaksa melakukan penyitaan paksa malam ini sesuai perintah pengadilan."

"Pelarian aset?! Mama tidak mungkin lari! Dia hanya sedang ..." Kalimat Bima menggantung. Ia teringat nomor mamanya yang tidak aktif.

"Pak, tolong dengarkan saya!" Bima mencengkeram lengan petugas bank itu dengan putus asa. "Beri saya waktu dua puluh empat jam. Saya akan melunasi semuanya. Saya baru saja kembali dari urusan penting. Tolong!"

Petugas bank itu melepaskan cengkeraman Bima dengan gerakan jijik. "Waktu Anda sudah habis, Pak Bima. Gedung ini resmi dalam pengawasan bank. Seluruh akses komputer dan brankas sudah kami segel."

Bima melihat ke arah pintu kaca besar lobi. Di sana, garis kuning bertuliskan '**Sedang Dalam Pengawasan Bank**' sudah melintang. Panji, asistennya yang setia, berdiri di sudut dengan wajah pucat dan mata sembab.

"Panji! Lakukan sesuatu! Hubungi pengacara kita!" teriak Bima.

Panji hanya menggeleng lemah. "Mereka sudah mengundurkan diri, Pak. Kantor hukum mereka belum dibayar selama dua bulan. Semua orang ... semua orang sudah pergi."

Lutut Bima terasa lemas. Kekuatan yang selama ini ia banggakan, pengaruh yang ia pikir abadi, menguap begitu saja.

Ia jatuh berlutut di atas lantai granit lobi yang dingin. Ia menjambak rambutnya sendiri dengan beringas, meraung tanpa suara.

Pemandangan itu sangat kontras dengan sosok Bima yang beberapa bulan lalu menendang Hana keluar dari rumah dengan angkuh.

Tak mau menyerah pada kehancuran di kantor, Bima segera bangkit. Pikirannya hanya tertuju pada satu tempat, yaitu Rumah. Satu-satunya benteng terakhirnya.

Jika kantor hilang, ia masih punya rumah besar peninggalan ayahnya. Ia masih punya tempat untuk bersembunyi.

Ia mengabaikan panggilan Panji dan melesat menuju kawasan perumahan elit tempat tinggalnya.

Namun, pemandangan di sana jauh lebih menyakitkan.

Gerbang besi raksasa yang biasanya terbuka otomatis itu kini tertutup rapat. Sebuah rantai besar melilit pegangannya, dikunci dengan gembok baja yang berat.

Garis polisi melingkar di sana, berkibar ditiup angin malam yang menusuk.

Bima keluar dari mobil dengan napas tersengal. Di teras depan rumah yang luas, ia melihat pemandangan yang menghancurkan harga dirinya.

Beberapa koper miliknya, kardus-kardus berisi pakaian, dan sepatu-sepatu mahalnya tergeletak begitu saja di lantai teras, terpapar udara malam. Mereka dikeluarkan seperti sampah yang sudah tidak diinginkan.

"Pak Bima..." suara lemah menyapa dari balik pos satpam.

Itu Pak Ujang, satpam tua yang sudah bekerja sejak ayahnya masih hidup. Wajahnya tampak penuh kesedihan.

"Pak Ujang! Buka gerbangnya! Kenapa barang-barang saya di luar?!" perintah Bima, suaranya parau.

"Maaf, Pak... tadi petugas bank datang. Mereka punya surat sah. Saya dilarang membukakan pintu untuk siapa pun, termasuk Bapak. Rumah ini sudah disita atas nama hutang perusahaan," ucap Pak Ujang dengan kepala tertunduk.

Bima mengguncang gerbang besi itu. "Ini rumah saya! Ayah saya yang membangun ini! Kalian tidak bisa melakukan ini!"

"Bapak... mohon tenang," Pak Ujang mendekat ke sela-sela gerbang. "Nyonya Sarah sudah tidak ada. Beliau pergi membawa tas kecil sore tadi dan berpesan agar Bapak menjaga diri baik-baik. Beliau bilang... ini adalah pelajaran terakhir untuk Bapak."

Dunia Bima benar-benar gelap sekarang. Ibunya meninggalkannya. Hartanya disita. Rumahnya dirantai.

"Ini uang apa, Pak Ujang?" tanya Bima saat melihat Pak Ujang mengeluarkan dompetnya yang lusuh.

"Ini... sisa uang keamanan bulan lalu yang Bapak berikan. Saya tahu Bapak sedang sulit. Saya pamit, Pak. Saya tidak bisa bekerja lagi di sini tanpa gaji. Saya juga mau pulang ke kampung," ucap Pak Ujang sambil meletakkan beberapa lembar uang di atas tembok pagar.

Bima menatap uang itu dengan mata memanas. Pria yang dulu melempar segepok uang ke wajah Hana kini harus melihat satpamnya sendiri merasa iba padanya. Rasa malu itu lebih menyakitkan daripada tamparan ibunya.

Bima berdiri mematung di depan gerbang rumahnya sendiri. Ia melihat rumah besar itu, rumah yang dulu penuh dengan tawa Hana sebelum ia ubah menjadi neraka.

Kini rumah itu diam, kosong, dan tak lagi mengenalinya.

Ia teringat satu hal. Apartemen rahasianya.

Apartemen yang ia beli atas nama perusahaan cangkang kecil setahun lalu, tempat yang biasanya ia gunakan untuk urusan-urusan gelap yang tidak diketahui mamanya maupun Hana.

Itu adalah sisa hartanya yang terakhir, selain mobil sport yang kini ia kendarai.

"Aku masih punya tempat," bisik Bima pada dirinya sendiri, mencoba membohongi nuraninya yang sudah hancur.

Ia masuk kembali ke mobil sportnya. Dengan wajah yang kuyu dan mata yang kosong, ia melajukan mobilnya meninggalkan rumah masa kecilnya.

Di spion, ia melihat bayangan rumah itu semakin mengecil, sama seperti hidupnya yang kini mengkerut hingga ke titik nadir.

Bima memacu mobil menuju pusat kota. Ia tidak menyadari bahwa di saku jasnya, ia masih menyimpan kotak anting berlian yang seharusnya ia berikan untuk Hana di Sukamaju.

Berlian itu berkilau di kegelapan laci mobil, sebuah pengingat abadi bahwa ia pernah memiliki kebahagiaan sejati, namun memilih untuk menukarnya dengan sampah yang kini justru menghancurkannya.

Bima sampai di lobi apartemen mewahnya. Ia berjalan menunduk, menghindari kontak mata dengan staf apartemen.

Begitu sampai di dalam unitnya, ia membanting pintu dan merosot di baliknya.

Keheningan di apartemen itu terasa mencekam. Ia sendirian. Tanpa mama. Tanpa pelayan. Tanpa Hana. Dan tanpa harga diri.

"Hana ..." rintih Bima di kegelapan ruangan. "Hana, tolong aku ..."

Tapi suaranya hanya memantul di dinding apartemen yang dingin. Jauh di Sukamaju, Hana mungkin sedang bermimpi indah tentang hari pernikahannya dengan Adrian.

Sementara di Jakarta, Bima Erlangga baru saja memulai malam pertamanya sebagai tawanan dari dosa-dosanya sendiri.

Bagaimana Bima akan bertahan hidup dengan sisa hartanya yang semakin menipis?

Kehancuran sang tuan angkuh baru saja dimulai! Pantengin terus yaaa ....

...----------------...

**To Be Continue** ....

1
Santi Maria Havernandes
semangat bumil hemat, lanjut thor🔥
Kembarr Kembaarr
lacur mcm clarisa kenapa msh berjaya tdk adakah karma untuknya. walaupu cuma cerita jngn biarkn kejahatan dn kejzaliman menang atas sebuh kebenaran
Maria Magdalena Indarti
ancur sudah. Bima bangkit untuk dirimu sendiri
Nur Aulia
bantu bima Hana,, kasian,, bagaimana pun dia ayah dari anakmu
Kembarr Kembaarr
coba clarisa di beresin sedari dia bangkrut di jkrt mungkin gak kn semena2 si lacur berhti iblis itu. kayak gitu msh ada yg mau. apa iya dunia ini segak ada nya kaum wanita yg lbh baik dr iblis betina mcm clarisa. smg di dunia nyata gak ada lacur mcm ini
Niza Neza
nadin sebegitu sombongnya jd cewek
Maria Magdalena Indarti
Rasakan neraka dunia krn zolim sm istri
Maria Magdalena Indarti
Bima ngapain msh kepo sm Hana. sdh cerai bok
Maria Magdalena Indarti
wah dr Adrian jodo sm Hana
Niza Neza
di apusi maneh n seng tuku mobile . berarti memang si bima ini hanya mengandalkn warisan ortu belaka dirinya memang bodoh teramat bodoh
Niza Neza
mobil laku 2m. itu sabgat banyak bisa buat modal usaha lg. itu pun kalau sibima berotak pinter. tp sayang dia ini kan pria yg sangat bodoh tp sombongnya selangit. jd gak mungkin bisa buka usaha lg. usaha dulu kn warisan dr ortunya
Maria Magdalena Indarti
ngapain cari Hana
Maria Magdalena Indarti
Bima karna mendekat
Maria Magdalena Indarti
congrats Hana welcome Aditya Saka
Maria Magdalena Indarti
suka Hana punya harga diri
Maria Magdalena Indarti
semangat Hana
Niza Neza
bima ini bener2 bodoh kelewat goblog. akar masalahnya ada pd clarisa. hrsnya beresin clarisa dulu trs diri sendiri eeehh ini malah mau cari yg tdk mungkin sesuayu yg sdh di buang dn di hina serta di injak2 harga dirinya mau dia pungut krmbali ..wees ra sudiiii...
Maria Magdalena Indarti
dasar laki-laki ga waras
Niza Neza
laki2 macam bima ini menang gak ada obatnya. semua hal tentang keburukan manusia ada dlm diri bima. obatnya hanya 1 mati
Maria Magdalena Indarti
suami durhaka. ga waras
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!