Suaminya berkhianat, anaknya di tukar dan dihabisii. Selama lima tahun dia merawat anak suami dan selingkuhannya yang bahkan tinggal satu atap dengannya berkedok sebagai pengasuh.
Bahkan dirinya diracuni oleh pelayan kepercayaannya. Ratih, berakhir begitu tragis. Dia pikir dia adalah wanita paling malang di dunia.
Namun nasib berkata lain. Ketika dia membuka mata, dia berada tepat dimana dia akan melahirkan.
Saat itu Ratih bersumpah, dia akan membalas suaminya yang brengsekk itu. Dia akan mengambil bunga dari setiap perbuatan suami dan semua yang telah menyakitinya dan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Canggung
Fandi mengacak rambutnya, dia kesal sekali. Melihat mobil yang dikendarai oleh bibi Erma dan Sarah pergi. Fandi juga masuk ke dalam mobilnya.
Niatnya adalah mengejar Sarah. Dia harus minta maaf pada Sarah, atau semua rencananya akan berantakan.
"Siall! Ratih saja tidak mempermasalahkan! tapi kalau aku tidak minta maaf, dia bisa memberikan bukti aku menipu Ratih. Tidak bisa! aku harus mengejarnya!"
Fandi pun buru-buru menghidupkan mesin mobilnya. Dia harus mengejar Sarah dan minta maaf.
Jika bibi Erma memberitahukan yang sebenarnya pada Ratih. Bukan hanya resiko cerai saja yang akan dia terima nanti. Dia juga bisa masuk penjara karena sudah menipu Ratih selama ini.
Mobil Fandi melaju cukup kencang. Meninggalkan rumah sakit.
**
Sementara itu di rumah ayah dan ibunya. Ratih merasa lebih tenang berada di tempat itu. Dia bisa membebaskan anaknya berlari kesana-kemari, tanpa khawatir Sarah akan berhasil mendekatinya. Atau Fandi dan bibi Erma membawanya pada Sarah.
Bahkan malam ini, Rafa tidur dengan ayah dan ibunya. Ratih sebenarnya merasa kesepian, tapi tidak masalah. Hanya dua malam setiap minggunya juga. Dia harus memberikan kesempatan pada orang tuanya lebih banyak untuk bersama cucu mereka bukan?
Karena di kehidupan yang lalu, Ratih bahkan begitu kejam pada orang tuanya. Sampai tidak mengijinkan mereka bersama dengan Naufal. Tapi, setelah dia tahu Naufal bukan anaknya. Dia juga tidak menyayangkan apapun. Kalau ingat semua yang terjadi di masa lalu. Sebenarnya Ratih kesal sekali pada tiga orang jahat itu. Mereka sudah membuat Rafa menderita.
Merasa belum mengantuk, Ratih pun keluar dari kamarnya, menuju balkon kamar yang cukup luas.
Dia menatap rumah orang tuanya itu. Dimana dia dan Ben dulu tumbuh bersama. Mereka suka belajar di taman. Lebih tepatnya Ben belajar, dan Ratih sibuk menggangu Ben. Atau sengaja menyembunyikan sepatu Ben, supaya Ben mau main petak umpet dengannya.
Ratih terdiam, kenapa dia kembali ingat pada Ben? dan foto itu?
Pandangan Ratih kembali tertuju ke dekat pintu gerbang. Sebuah mobil masuk ke dalam pekarangan rumahnya. Dan itu mobil Ben.
Ratih memperhatikan dari balkon. Dia pikir, mungkin Ben ada perlu dengan ayahnya. Tapi begitu keluar dari dalam mobil, Ben segera menoleh ke arah Ratih berdiri.
Deg
Ratih tertegun diam. Kenapa pria itu menatapnya lama sekali? bahkan berjalan ke arah taman samping, supaya bisa lebih dekat dengan balkon kamar Ratih itu.
'Kenapa dia kemari?' batin Ratih yang entah kenapa menjadi gugup.
Bahkan gerakan tangan Ratih, mulai menunjukkan kalau dia sungguh merasa gugup.
"Nyonya, kenapa ponselmu mati?" tanya Ben dari bawah.
"Ah, ponsel?" Ratih sungguh tidak bisa menyembunyikan kalau dia canggung.
Ratih ingat, dia sengaja mematikan ponsel supaya Fandi tidak menghubunginya.
"Habis daya" jawab Ratih sembarang.
"Turunlah!" kata Ben yang langsung duduk di bangku taman di bawah balkon.
"Kenapa aku harus turun? kamu kan bisa naik!" bantah Ratih.
Ben melirik ke arah Ratih. Dan pria itu berdiri, lalu bersiap memanjat ke arah balkon.
Ratih terkejut, matanya membulat. Ben benar-benar baik ke balkon dengan kemampuannya yang cukup menakjubkan.
Brakk
Langkah kakinya menyentuh lantai balkon kamar Ratih, dan berdiri tepat di depan Ratih.
"Ka...kamu!"
"Katamu aku harus naik!" sela Ben.
"Memangnya tidak bisa pakai tangga? bagaimana kalau kamu jatuh dan terluka?" keluh Ratih.
"Kamu sangat peduli padaku, ya?"
Blush
Ratih memalingkan wajahnya ke arah taman.
"Siapa yang peduli?" sanggah Ratih lagi.
"Aku tadi dari rumah sakit, dan disana..."
"Kamu sakit?" sela Ratih.
Ben menghela nafas, sampai bahunya terangkat dan turun dengan cepat.
"Masih berbohong, katamu tidak perduli?" tanya Ben lagi.
"Jangan ge'er, siapa yang perduli padamu. Aku perduli pada asuransimu. Kan ayahku yang bayar!" bantah Ratih lagi.
Ben menundukkan pandangannya. Rasanya dia memang terlalu berharap saja. Mana mungkin Ratih perduli padanya, yang dia perdulikan hanya Fandi, Fandi dan Fandi. Mana ada sedikit saja waktu dan pikiran Ratih akan perduli pada Ben.
"Aku tahu, yang kamu perdulikan hanya Fandi" ujar Ben pelan.
Ratih menoleh, kenapa dia merasa Ben sangat sedih.
"Maaf! aku hanya bercanda. Kamu juga sudah bekerja keras untuk perusahaan. Bahkan sering membantuku, aku minta maaf!" kata Ratih yang merasa ucapannya tadi menyinggung Ben.
"Aku akan pulang!" kata Ben yang mau memanjat pagar pembatas balkon.
Tapi Ratih menahannya.
"Heh, kenapa lewat situ..."
Brukk
Tarikan Ratih terlalu mengejutkan Ben, hingga keduanya malah jatuh di lantai balkon itu dengan posisi Ben berada di bawah Ratih.
Duk
Bahkan kedua kening mereka berbenturan, untung Ben dengan cepat meletakkan telapak tangannya di depan kepala Ratih. Jika tidak, pasti benturannya akan cukup keras dan menyakitkan.
Sayangnya, meski tidak terjadi benturan yang cukup keras. Tetap saja posisi mereka sangat ambigu.
Dan tatapan keduanya saling mengunci. Bahkan Ben merasa, sama sekali tidak ingin waktu kembali berjalan.
"Ratih..."
Deg deg deg
Jantung Ratih berdebar begitu kencang. Setelah dia mendengar Ben menyebut namanya. Bukan sapaan nyonya, seperti biasanya.
"Aku..."
"Ratih!"
"Ibu!"
Ratih buru-buru bangkit, di mendengar suara ibunya di depan pintu, lalu membuka pintu.
"Ratih..."
Ben dan Ratih sama-sama bangkit dan merapikan diri mereka.
"Kamu disini rupanya Ben? ibu lihat mobilmu di luar, tapi kamu tidak ada!"
"Iya nyonya, ada masalah penting yang harus aku katakan pada nyonya Ratih!" kata Ben pada Maya.
"Begitu ya? baiklah. Oh ya Ratih, malam ini biar Rafa tidur sama ibu ya. Dia masih main sama ayah kamu. Mungkin mereka akan begadang. Ben, kalau terlalu malam. Kamu juga bisa menginap. Mengemudi di larut malam, tidak baik. Apalagi kamu sudah bekerja seharian. Menginap saja ya! Ambil sendiri selimutnya di ruang laundry!"
"Baik nyonya!"
Maya pun segera keluar dari tempat itu, dari kamar Ratih.
Ratih dan Ben saling lirik, setelah kejadian tadi. Tapi Ratih tidak mau menunjukkan kecanggungannya pada Ben.
"Tadi kamu bilang ada masalah? masalah apa?" tanya Ratih.
"Tadi saat di rumah sakit. Aku lihat suami kamu! mungkin kamu tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan. Tapi, bukan hanya aku yang melihat. Niko juga, suami kamu, datang ke rumah sakit bersama seorang wanita. Dan wanita itu adalah sekertaris barunya di kantor, mereka beratnya tentang poli kandungan!"
"Benarkah?" tanya Ratih seolah mendengar kabar yang bagus.
Ben mengernyitkan keningnya.
"Kamu tidak marah?" tanya Ben merasa heran.
***
Bersambung...
Harusnya kau rehat sejenak, ambil waktu sebanyak mungkin, itu yg kau butuhkan untuk saat ini..
Bukan ujug² memutuskan untuk mengundurkan diri..
Meninggalkan Ratih, wanita yang sangat kau cintai..
Sampai hati bila kau memilih pergi meninggalkan Rafa, anak biologis mu sendiri..
Setiap kesalahan masih bisa di perbaiki..
Namun penyesalan akan kau ingat sampai mati..
Bila kau menyia²kan kesempatan untuk mendapatkan Ratih kembali..
Ben, moga bisa kau fikirkan hal ini.. 😊
Sarah mu itu sudah cinta buta..
Hingga tak mampu menggunakan logika nya..
Hanya mengandalkan perasaan, yg membuat nya terlihat bodoh di mata pria..
Bagai 💩, begitu jatuh ke sungai, langsung nganyut mengikuti arus air nya..
Meskipun itu membahayakan dirinya..
Asalkan ganteng, dan di manfaatkan doang tak masalah baginya.. 😁
Kalau gak kepo, berarti tetangga introvert namanya..
Kalau gak ingin di sapa, ya tinggal di kuburan saja kalian berdua..
Kan sepi tuh di sana.. 🤭
Memberikan ide pada Fandi untuk menjual Sarah pada lelaki buaya..
Yakin cuma jadi teman minum & cium² saja..?
Sepertinya tidak, pasti Sarah di suruh melayani nya juga.. 🤭
Kira² apa yang terjadi di bab selanjutnya yaa..?
Yukk ahh., Kita lanjutkan baca bab berikutnya.. 🏃♀️🏃♀️🏃♀️
Mereka harus banyak mengalah..
Harus minta maaf, walaupun pada wanita nya tak ada salah..
Agar amarah wanita tak makin parah..
Sebab ego wanita tak bisa di balas dengan amarah..
Cukup dengar omelan nya, minta maaf, peluk dia dan jangan kembali kamu berbuat ulah.. 😁
Udah lah lu mokondo.. Hidup sudah nyaman, justru main perempuan..
Itu kan Wong Edyan namanya..
Sekarang jadi penyesalan.. Terlambat.. ! 😏
Orang seperti mu pun tak layak untuk di pertahankan Ratih..
Karena selain gak becus dalam pekerjaan, lu juga gak tipe lelaki yg gak bisa di andalkan.. Jadi, sudah sepantasnya kau di campakkan..🤣🤣
Rafa anak Ratih bukan anakmu 🤭