Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 - Pangeran Desa
“Jaga manehna sing hade, nya Gi. Ulah nepi ka cerai siga artis-artis di TV. Nikah teh salah sahiji ibadah anu gede atuh... (Jaga dia baik-baik ya, Gi. Jangan sampai cerai kayak artis-artis di tv. Pernikahan itu salah satu ibadah yang besar atuh)" kata Eyang Imas memberi nasihat.
“Muhun, Eyang. Geus ah, Eyang gancang sare ka ditu. Ieu geus peuting pisan. Abdi oge rek geura sare! (Iya, Eyang. Sudah ah, Eyang cepat tidur sana. Ini sudah larut malam. Aku juga mau segera tidur!)"
Eyang Imas mengangguk. Dia segera masuk ke dalam kamarnya. Sementara Ogi memutuskan untuk membersihkan diri ke kamar mandi. Tak peduli kalau waktu saat itu menunjukkan jam dua dini hari. Ogi juga harus menyelesaikan sholat yang tertinggal karena tak bisa melakukannya dalam perjalanan tadi.
Arisa masih tertidur lelap sekali. Dia terbangun saat Ogi membangunkannya.
Perlahan Arisa membuka matanya. Dia langsung merubah posisi menjadi duduk karena kaget dirinya sudah berada di kamar seseorang.
"Loh, kita udah sampai, Kang?" tanya Arisa.
"Iya atuh, Neng..." jawab Ogi. Dia terlihat mengenakan sarung dan peci di kepalanya. Ogi baru selesai sholat subuh.
"Kapan? Kenapa nggak bangunin aku sih?" protes Arisa.
"Eneng tidurnya kelihatan nyenyak. Akang nggak tega banguninnya," tutur Ogi.
"Terus tadi malam kita tidur satu ranjang?" tukas Arisa yang sudah merasa gugup duluan.
"Enggak atuh, Neng. Akang tidur di bawah. Kan Akang sudah janji bakalan jagain Neng Arisa. Janji ya harus ditepati atuh, Neng..."
Arisa akhirnya tersenyum. Sekarang dia paham kenapa ayahnya sangat mengagumi sosok Ogi. Ternyata orangnya benar-benar bisa dipercaya, lalu membuat siapapun merasa nyaman saat bersamanya.
"Neng mau sholat subuh dulu?" tanya Ogi.
Arisa langsung menggeleng. Dia dan keluarganya tidak terlalu religius. Status agama mereka hanya sebatas pernyataan di KTP.
"Ya udah atuh. Aku nggak bakalan maksa," ucap Ogi sembari berdiri. Dia lalu melepaskan sarungnya.
"Eh! Jangan! Jangan!" Arisa langsung berseru heboh. Takut melihat penampilan vulgar dari Ogi.
Namun Ogi tak peduli dan tetap melepas sarungnya.
"Astaga!" Arisa langsung menutup wajahnya dengan dua tangan. Namun dari balik jari-jemarinya, dia mengintip Ogi.
Ogi terkekeh. Dari balik sarung itu, dia mengenakan celana pendek. Membuat Arisa langsung memalingkan wajah karena malu.
"Nggak usah panik, Neng. Aku pakai celana atuh. Nggak telanjang. Tapi mau telanjang pun kayaknya nggak masalah. Kan kita udah halal," imbuh Ogi.
"Eh enggak ya! Kayaknya kita harus tambahkan perjanjian lagi! Nggak boleh buka pakaian atau telanjang saat di depan satu sama lain!" tegas Arisa.
"Iya, iya..." Ogi tersenyum menggelengkan kepala. Lesung pipit di kedua pipinya jadi tampak jelas.
Arisa menatap Ogi. Ia terpana sejenak. Entah kenapa dia baru sadar ternyata lelaki itu memiliki paras tampan dan manis.
"Akang! Kang Ogi! Kenapa Akang tega sama Lilis, Kang?!"
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar rumah. Membuat Ogi dan Arisa langsung beranjak keluar kamar. Terutama Ogi.
Eyang Imas juga tampak berjalan menuju pintu depan. Padahal dia tadi sedang sibuk memasak.
“Ya ampun. Éta Lilis, Gi. Kamari sonten manéhna ogé kitu waktu ngadéngé anjeun geus nikah, (Ya ampun. Itu Lilis, Gi. Kemarin sore dia juga begini pas dengar kamu udah menikah)" ujar Eyang Imas.
"Aku akan bicara baik-baik sama dia," balas Ogi.
"Udah bangun, Neng Geulis? Aku neneknya Ogi. Panggil saja Eyang Imas. Ogi sudah memberitahuku agar bicara sama kamu pakai Bahasa Indonesia." ekspresi Eyang Imas berubah jadi ramah saat bicara dengan Arisa. Jelas dia sangat menerima kehadiran Arisa sebagai istri cucunya.
"Halo, Eyang. Aku Arisa..." Arisa mencium punggung tangan Eyang Imas.
"Mohon dimaklumi ya, Neng. Di desa ini Ogi udah kayak pangeran desa. Jadi jangan heran kalau ada banyak gadis yang patah hati karena pernikahannya. Terus kalau ada yang jahatin kamu, langsung bilang ke Eyang ya? Biar nanti Eyang yang ngurus," kata Eyang Imas.