NovelToon NovelToon
Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sekretaris
Popularitas:38.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"

"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"

"Halah paling juga nanti kamu nyesal"

Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sampai di Bali

Mobil Range Rover hitam itu meluncur membelah jalanan pagi menuju Bandara Soekarno-Hatta. Nana fokus di balik kemudi, sesekali melirik spion tengah. Di sana, Abian duduk dengan gaya bos besar, kakinya bersilang, dan pandangannya tertuju sepenuhnya pada layar ponsel di tangannya.

"Anu, Pak..." panggil Nana memecah kesunyian.

Abian tidak mendongak, jempolnya masih sibuk menggeser layar. "Apa?"

"Bapak bilang kita berangkat jam delapan, tapi saya baru sadar... saya belum beli tiket pesawat untuk kita berdua, Pak. Apa tidak apa-apa kalau kita beli go show di bandara? Tapi biasanya jam segini sudah penuh, apalagi ke Bali," tanya Nana dengan nada khawatir.

Abian akhirnya menurunkan ponselnya sedikit, menatap punggung kepala Nana melalui spion tengah dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Tenang saja. Saya sudah membeli tiketnya," jawab Abian pendek.

Nana mengernyitkan dahi. "Oh? Bapak beli sendiri? Sejak kapan Pak? Biasanya kan saya yang urus semua urusan administrasi perjalanan Bapak."

Abian kembali fokus ke ponselnya. "Semalam. Saya tidak mau menunggu kamu yang mungkin masih sibuk menangisi mantan pacarmu itu sampai lupa memesan tiket."

Nana mendengus pelan, wajahnya memanas. "Dukun dari mana sih dia ini, kok tahu saja aku habis nangis," batin Nana kesal.

"Terima kasih kalau begitu, Pak. Jadi kita naik maskapai apa? Biar saya tahu harus parkir di terminal berapa," tanya Nana lagi.

"Terminal dua. Dan jangan banyak tanya lagi, fokus saja menyetir."

Nana hanya bisa menghela napas panjang dan bergumam tanpa suara, "Sabar Nana, sabar. Untung ganteng, kalau tidak sudah aku turunkan di pinggir tol."

......................

"Tunggu, Pak. Maksud Bapak... Bapak sudah beli tiketnya masing-masing?" tanya Nana memastikan.

Abian mengangguk pelan sambil merapikan lengan kemejanya. "Iya. Saya di kelas First Class. Dan kamu... saya sudah pesankan di kelas ekonomi. Baris paling belakang kalau tidak salah, dekat toilet."

Nana melongo. "Bapak serius? Bapak tega membiarkan asisten Bapak duduk di paling belakang dekat toilet, sementara Bapak duduk di kursi yang bisa jadi tempat tidur?"

Abian membuka pintu mobil, keluar dengan gaya angkuh. "Tentu saja. Kamu itu asisten, Haruna, bukan istri saya. Lagipula, di ekonomi kamu bisa berbaur dengan rakyat lainnya, kan? Siapa tahu ada pria yang lebih baik dari Rian di sana."

Nana menggeram dalam hati. Ia membanting pintu mobil meskipun pelan karena takut disuruh ganti rugi dan menyusul Abian dengan menyeret koper.

Saat sampai di depan konter, Abian menyerahkan ponselnya dengan santai. Petugas menyapa Abian dengan sangat hormat, layaknya raja.

"Ini tiket kamu," ucap Abian sambil menyodorkan selembar kertas hasil print ke arah Nana.

Nana menerimanya dengan lemas. Ia melihat detailnya.

"Pak... ini kalau pesawatnya goyang, saya yang paling terasa lho. Bapak tidak kasihan sama saya?"

Abian menatap Nana datar. "Haruna, anggap saja itu latihan mental. Kalau kamu tidak tahan guncangan pesawat, bagaimana kamu mau tahan guncangan hidup sama saya?"

"Bapak jahat banget! Setidaknya kasih saya kelas bisnis biar saya bisa istirahat sebelum rapat," keluh Nana dengan bibir mengerucut.

Abian melangkah pergi menuju jalur Fast Track khusus penumpang VIP tanpa menoleh. "Selamat menikmati suara mesin pesawat di belakang, Haruna. Kita bertemu di bagasi Bali nanti. Jangan sampai hilang."

Nana menatap punggung Abian yang menjauh dengan penuh dendam. "Dasar bos pelit! Awas ya."

Setelah penerbangan yang memakan waktu hampir dua jam, Nana keluar dari garbarata dengan langkah gontai. Rambutnya sedikit acak-acakkan, dan wajahnya kuyu karena tidak bisa tidur akibat suara bising mesin pesawat di baris paling belakang. Belum lagi bayi di kursi sebelah yang menangis sepanjang jalan.

Sementara itu, di pintu keluar terminal kedatangan, Abian sudah berdiri dengan sangat segar. Mengenakan kacamata hitam bermerek dan kemeja linen yang tetap licin, ia tampak seperti model majalah yang baru saja turun dari panggung catwalk.

"Lama sekali, Haruna. Kamu jalan kaki dari Jakarta?" ejek Abian saat melihat Nana mendekat dengan koper yang diseret malas.

"Bapak tidak tahu perjuangan di baris 39E ya? Rasanya seperti duduk di atas mesin!" keluh Nana sambil mengusap lehernya yang kaku.

"Sudah, jangan mengeluh. Mobil sudah siap di depan," ucap Abian tanpa simpati.

Mereka keluar menuju area parkir VIP. Sebuah Toyota Alphard hitam yang mengkilap sudah menunggu dengan supir yang membukakan pintu dengan hormat. Nana langsung duduk di kursi baris kedua yang empuk, rasanya ingin menangis saking nyamannya setelah tersiksa di kursi ekonomi.

"Pak," panggil Nana saat mobil mulai melaju membelah jalanan Bali yang panas.

 "Nanti setelah sampai hotel, saya langsung ke penginapan saya saja ya? Bapak kasih tahu saja alamatnya, saya akan naik ojek ke sana."

Abian yang sedang sibuk melihat berkas di tabletnya hanya melirik sekilas. "Penginapan apa?"

"Lho, kan Bapak cuma pesan tiket ekonomi untuk saya. Saya pikir Bapak juga memesankan saya losmen atau penginapan murah di pinggiran untuk menghemat biaya kantor," sahut Nana jujur.

Abian mendengus pelan, hampir terdengar seperti tawa pendek yang tertahan. "Jangan berpikiran rendah begitu tentang perusahaan saya, Haruna. Tenang saja, kamar hotelmu sudah saya pesan. Sama dengan saya."

Mata Nana langsung membelalak. Ia menoleh ke arah Abian dengan ekspresi horor. "M-maksud Bapak... satu kamar? Bapak mau berbuat mesum ya di Bali?"

Abian menutup tabletnya dengan suara tak yang keras, lalu menatap Nana tajam dari balik kacamata hitamnya. "Jangan terlalu percaya diri. Maksud saya, hotelnya sama dengan saya. Hotel bintang lima di depan pantai. Kamu punya kamar sendiri di sebelah kamar saya. Saya tidak mau repot mencarimu kalau saya butuh jadwal rapat."

Nana mengembuskan napas lega, meski wajahnya masih sedikit memerah karena salah paham. "Oh... syukur deh kalau begitu. Saya pikir Bapak mau modus."

"Modus pada asisten yang wajahnya sudah seperti kamu.?" sindir Abian sambil kembali ke tabletnya.

"Saya masih punya selera, Haruna."

Nana mendelik kesal, tapi dalam hati ia bersyukur. Setidaknya ia tidak harus tidur di penginapan murah tanpa AC.

1
Alissia
papa🤣🤣
Alissia
cie Abian suka sama Haruna tapi gengsi🤣
Alissia
omongan Abian kayak sambel level setan🤣
Alissia
yang asli paling bosnya itu suka sama Haruna tapi gensi segede gaban🤣
Alissia
palingan bosnya itu cemburu,kalau Nana punya pacar bosnya julid dengan Nana dan karena bosnya itu jomblo, iri dengan Nana yang memiliki pacar di katai tukang galon
🤣😭
Fitria Syafei
KK cantik mantaf 🥰🥰 terimakasih 😘
Asyatun 1
lanjut
Redmi Nam
thor GK sabar liat Abian bucin kenana
update nya jangan lama" dunk
Pa Muhsid
raka dan naufal seperti nya akan perang rudal, gitu ga sih
Asyatun 1
lanjut
Ani
jangan jangan yang dijodohin sama Shopia si Raka temannya Abian
Aidil Kenzie Zie
nyawa anaknya udah diincar musuh masih aja bapaknya main kucing-kucingan dikasih apartemen mewah gitu
apa yang dijodohkan sama Sofia temannya Abian🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
kok bawa-bawa ayahnya Bian aturan kan kamu sendiri yang tawarin apartemen ke Nana.biar Nana respect sama kamu
partini
lah Kaito gitu amat
Redmi Nam
thor lama banget nunggu Abian nyatain perasaanya ke nana
Aidil Kenzie Zie
si Raka main tebak-tebakan
Risma Surullah
haruna bar bar tapi bodoh
Ani
makanya jangan ngeyel udah di ingatkan juga.. udah kayak gitu ingat juga sama Abian 😤😤😤😤
Redmi Nam
kanebo kering mulai banyak pesaing nich..
Redmi Nam
Abian udah kerjasama dengan ayah haruna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!