NovelToon NovelToon
Cinta Berlabuh Satu Pelabuhan

Cinta Berlabuh Satu Pelabuhan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Wilis

Kaniya, seorang wanita muda yang berani, menolak perjodohan yang diatur oleh orang tuanya. Dia kabur dari rumah dan mencari perlindungan di perusahaan tempatnya bekerja. Di sana, dia bertemu dengan atasannya, Agashtya, yang juga kabur dari perjodohan orang tua. Mereka berdua bekerjasama untuk menjaga rahasia masing-masing, tapi suatu malam, mereka tak sengaja tidur bersama.

Beberapa bulan kemudian, mereka berdua terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang dijodohkan oleh orang tua mereka tak lain adalah mereka sendiri. Kaniya dan Agashtya harus menghadapi kenyataan bahwa mereka telah jatuh cinta, tapi adakah kesempatan bagi mereka untuk bersama? Dan apa yang terjadi ketika adik mereka, Bintang dan Shanaya, juga saling jatuh cinta satu sama lain?

Kaniya dan Agashtya duduk di ruang kantor, mencoba memahami situasi mereka.

"Apa bapak percaya ini?" tanya Kaniya, suaranya hampir tidak terdengar

Agashtya menggelakkan kepalanya. "Saya tidak tahu apa yang harus dikatakan. Aku tidak pernah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Cinta Dan Dusta

Agashtya dan timnya kembali ke ruang casting setelah istirahat makan siang.

Dion memulai acara kembali, "Baik, kita lanjutkan lagi ya. Sebelum kita mulai, saya ingin mengumumkan bahwa ada perubahan pada dewan juri. Dokter Bintang, silahkan masuk dan bergabung dengan kami..."

Bintang, dengan senyum cerah, masuk ke ruang casting dan disambut oleh Agashtya.

"Dari tadi loe kemana aja?" Tanya Agashtya, sambil berdiri untuk menyambut Bintang

Bintang tersenyum hangat, "Maaf bhai, gue baru selesai dinas di klinik. Gue gak bisa kabur dari sana hahaha...biasa ada pasien dadakan tadi..."

Agashtya menepuk bahu Bintang, "Gak apa-apa, loe sekarang udah dateng. Gue butuh pendapat loe di sini..."

Dion menambahkan, "Ya, dokter Bintang akan bergabung sebagai dewan juri hari ini. Silahkan, dokter, duduk di kursi yang sudah disiapkan..."

Bintang duduk di kursi yang sudah disiapkan, dan Dion memulai acara kembali.

"Baik, kita lanjutkan lagi. Peserta berikutnya, silahkan maju ke podium..."

Agashtya memandang Bintang, "Loe siap menilai, dok?"

Bintang tersenyum, "Siap, gue gak sabar lihat mereka secara gue yang bakal jadi lawan mainnya kan kalo ada yang terpilih buat gantiin Sherly..."

Dion memanggil peserta berikutnya, seorang gadis muda dengan rambut panjang dan senyum cerah. "Baik, peserta berikutnya, silahkan maju ke podium. Nama kamu...?"

Gadis itu maju ke podium, "Saya Rina Tamara Putri, pak..."

Dion tersenyum, "Baik, Rina. Silahkan tunjukkan kemampuan kamu..."

Rina memulai penampilannya, dan dewan juri mulai memperhatikan. Agashtya, Vania, Harris, Avantikha, dan Bintang yang memberikan penilaian mereka dengan seksama.

Bintang memperhatikan Rina dengan mata yang tajam, 'Hmm, menarik...' gumamnya dalam hati

Rina menyelesaikan penampilannya, dan dewan juri mulai memberikan penilaian.

Vania yang pertama, "Rina, kamu memiliki bakat yang besar. Tapi, perlu sedikit kerja keras untuk mengasah emosi dan ekspresi..."

Harris menambahkan, "Saya setuju dengan Vania. Kamu memiliki potensi, tapi perlu lebih banyak latihan..."

Avantikha tersenyum, "Saya suka penampilan kamu, Rina. Kamu memiliki keunikan yang membuat kamu menonjol..."

Agashtya memandang Rina, "Kamu memiliki kemampuan yang baik, Rina. Tapi, perlu lebih banyak kerja keras untuk menjadi yang terbaik..."

Bintang yang terakhir, "Rina, kamu memiliki bakat yang besar. Saya ingin melihat kamu lebih berani dan lebih ekspresif. Kamu bisa lebih baik lagi..."

Rina mendengarkan penilaian dewan juri dengan wajah yang serius, mencoba menyerap setiap kata yang diucapkan.

Setelah Bintang selesai, Dion tersenyum dan berkata, "Baik, terimakasih Rina. Kamu bisa pergi dulu dan tunggu hasilnya di luar ya..."

Rina mengangguk dan berjalan keluar dari panggung, sementara Dion memanggil peserta berikutnya.

"Baik, peserta berikutnya, silahkan maju ke podium. Nama kamu...?"

Seorang pemuda dengan rambut yang agak panjang dan senyum percaya diri maju ke podium. "Saya Arman, pak," ucapnya dengan suara yang mantap

Dion tersenyum, "Baik, Arman. Silahkan tunjukkan kemampuan kamu. Apa yang akan kamu tampilkan hari ini?"

Arman tersenyum dan mulai berbicara, "Saya akan menampilkan monolog dari drama 'Hamlet' karya Shakespeare, pak. Saya akan memerankan peran Hamlet..."

Dion mengangguk, "Baik, silahkan mulai..."

Arman mengambil napas dalam-dalam dan mulai, "To be or not to be, that is the question..." Suaranya yang dalam dan ekspresif membuat dewan juri memperhatikan dengan seksama

Arman melanjutkan monolognya dengan penuh emosi, "Whether 'tis nobler in the mind to suffer the slings and arrows of outrageous fortune, or to take arms against a sea of troubles, and by opposing end them..."

Dewan juri memperhatikan dengan seksama, beberapa di antaranya mengangguk mengikuti irama monolog. Bintang tampak sangat fokus, matanya tidak berkedip.

Arman menyelesaikan monolognya dengan sangat baik, dan dewan juri memberikan aplaus yang meriah.

Dion tersenyum, "Wah, Arman, kamu benar-benar membawa Hamlet ke kehidupan nyata ya!"

Agashtya menambahkan, "Kamu memiliki bakat yang besar, Arman. Tapi, aku ingin tahu, apa kamu bisa menyanyikan lagu Armaan Malik? Coba nyanyikan satu buah lagunya untuk saya, kamu tahu kan saya berkebangsaan India..."

Arman tersenyum, "Hmm, saya coba, pak. Tapi, jangan berharap terlalu tinggi ya..." Jawabnya sedikit diisi dengan candaan

Bintang tertawa, "Saya gak tahu siapa yang lebih baik, Arman sebagai aktor atau Armaan Malik sebagai penyanyi ayo coba mulai lagu apa saja yang kamu ketahui dari Armaan Malik!"

Arman membersihkan tenggorokannya dan mulai menyanyikan "Main Hoon Hero Tera" dengan suara yang merdu:

"Aankhon ke panno pe

Maine likha tha sau dafaa

Lafzon mein jo ishq tha

Hua naa hothon se bayaan..."

Dewan juri memperhatikan dengan seksama, mata mereka tertuju pada Arman. Suaranya yang emosional membuat suasana menjadi lebih intens.

"Kyun be-aawaaz hoon

Meri khamoshiyan hain sazaa...

Dil hai yeh sochta

Phir bhi nahi pataa

Kis haq se kahun bataa

Ke Main Hoon Hero Tera..."

Arman menyanyikan lagu dengan penuh perasaan, membuat dewan juri terpesona. Bintang bahkan mulai mengetuk-ngetuk kaki mengikuti irama lagu.

Arman melanjutkan menyanyikan lagu dengan lebih intens:

"Raahon mein bhi, har kadam

Main tere saath chala

Haathon mein kamu haath magar

Phir bhi rahaa faasla...

Seene mein hain chhupe

Ehsaas pyaar ke

Bin kahe tu sun le zaraa...

Dil hai yeh sochta

Phir bhi nahi pataa

Kis haq se kahun pataa..

Ke main hoon hero tera..."

Dewan juri memberikan aplaus yang meriah setelah Arman selesai menyanyikan lagu.

Dion tersenyum, "Wah, Arman, kamu benar-benar membawa lagu itu ke hadapan para dewan juri, Arman kamu luar biasa!"

Agashtya tersenyum, "Arman, kamu sudah menunjukkan kemampuan vokalmu. Sekarang, bisa kamu memainkan gitar dan menyanyikan lagu yang sama?"

Arman mengangguk dan mengambil gitar yang ada di samping panggung. Dia mulai memainkan intro lagu "Main Hoon Hero Tera" dengan gitar, lalu mulai menyanyikan lagu itu lagi dengan suara yang lebih merdu dan gitar yang menyertainya.

Bintang tersenyum, "Wah, Arman, kamu multi-talenta! Gitar dan vokal yang sangat baik. Kalo boleh tahu kamu berasal dari mana Arman?"

Arman tersenyum bangga, "Saya berasal dari Medan bang..."

Agashtya menambahkan, "Wah jauh juga ya dari Medan kesini hanya untuk test casting atau sudah lama tinggal di Jakarta? Kamu benar-benar membawa lagu itu ke level lain dengan gitar. Saya suka..."

Arman tersenyum dan menjawab dengan santun, "Saya sudah hampir tiga tahun merantau di Jakarta ini bang..."

Agashtya pun manggut-manggut dengan jawaban Arman itu, "Ok selamat berjuang ya Arman semoga sukses..."

Dion mengangguk, "Ya, penampilanmu sangat impresif, Arman. Kami sangat puas dengan apa yang kamu tunjukkan hari ini..."

Tiga juri lainnya, yaitu Avantikha, Vania, dan Harris, memberikan penilaian mereka.

Vania tersenyum, "Arman, kamu memiliki bakat yang luar biasa. Saya sangat suka penampilanmu!"

Avantikha menambahkan, "Kamu memiliki kepercayaan diri yang tinggi, Arman. Itu sangat penting dalam industri hiburan..."

Harris mengangguk, "Ya, kamu memiliki potensi yang besar, Arman. Aku berharap bisa melihat lebih banyak dari kamu di masa depan..."

Dion tersenyum dan merangkum penilaian para juri, "Baik, terima kasih atas penilaian dari para juri. Arman, kamu telah menunjukkan kemampuan yang luar biasa dan memiliki potensi yang besar. Kami akan pertimbangkan hasilmu dan akan diumumkan nanti. Terima kasih atas penampilanmu!"

Proses test casting berlanjut dengan peserta demi peserta menampilkan kemampuan mereka, dari menari, bernyanyi, bermain musik, hingga berakting, dengan juri yang terus memberikan penilaian dan komentar.

...****************...

Proses test casting akhirnya berakhir tepat pukul 20.00 malam, dengan peserta terakhir yang menampilkan kemampuan mereka.

Dion tersenyum, "Baik, itu adalah peserta terakhir. Terima kasih atas partisipasi kalian semua. Kami akan mengumumkan hasilnya dalam beberapa hari ke depan tetap semangat yah dalam menunggu hasilnya. Demikianlah acara kami tutup selamat berjumpa kembali dilain waktu kembalilah kerumah masing-masing dengan selamat..."

Setelah peserta terakhir meninggalkan panggung, Agashtya menarik napas lega dan menggosok-gosok matanya yang mulai lelah.

"Hari ini sungguh melelahkan, tapi menyenangkan," ucapnya sambil tersenyum kepada Bintang yang sedang membereskan barang-barang

"Aku harus kembali ke ruang kerja, ada beberapa hal yang harus ku ambil disana..."

Agastya melangkah masuk ke ruangannya yang sunyi, matanya langsung tertuju pada Kaniya yang sedang membereskan tumpukan kertas di mejanya.

"Kaniya, boleh saya masuk?" dia bertanya sambil tersenyum lembut

Kaniya menoleh, mata coklatnya berbinar. "Boleh, Pak Agashtya. Saya cuma membereskan sedikit dokumen..."

Agashtya mengangguk, "Saya juga sudah selesai. Mau pulang bareng saya? Saya bawa mobil..."

Kaniya tersenyum, "Tidak usah repot-repot pak saya sudah memesan taksi online..."

Agastya menggelakkan kepalanya pelan, "Taksi? Tidak, tidak, tidak. Saya yang antar kamu, kan lebih aman. Lagipula, anggap saja ini sebagai penebusan rasa bersalah saya terhadap kamu..."

Kaniya tersenyum lembut, "Tapi Pak Agashtya......"

Agastya memotong, "Saya janji, saya tidak akan menggabungkan urusan kerja dengan hal pribadi. Saya cuma ingin mengantar kamu pulang dengan aman. Kamu sudah capek seharian, saya tidak mau kamu naik taksi sendiri ok sekali ini saja..."

Kaniya menatap Agastya sejenak, lalu menghempaskan napas. "Baiklah, pak Agashtya. Terima kasih..."

Agastya tersenyum lebar, "Nah gitu dong dari tadi..."

Agastya memutar kunci mobilnya, dan mesin merespons dengan dengungan lembut. Kaniya duduk di sebelahnya, mata terarah ke luar jendela, menikmati pemandangan kota yang mulai gelap.

Agastya tidak bisa tidak menatapnya, Kaniya yang cantik dengan rambut yang diikat ekor kuda begitu sempurna.

Dia tidak tahu apa yang membuatnya begitu tertarik, tapi dia tidak bisa mengalihkan pandangannya tanpa sadar sebuah senyuman terukir di bibir tipisnya yang dihiasi kumis tipis.

Mereka saling terdiam satu sama lain, hanya suara mesin mobil yang mengisi keheningan. Agastya tidak bisa tidak menatap Kaniya lagi, dia ingin tahu apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu.

Apakah dia juga merasakan hal yang sama? Apakah dia juga merasa ada sesuatu yang tidak biasa di antara mereka?

Kaniya merasakan tatapan Agastya dan tiba-tiba dia tersentak, jantungnya berdetak lebih cepat tanpa alasan yang jelas. Dia tidak tahu apa yang membuatnya merasa seperti itu, mungkin karena dia belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya.

Dia belum pernah berpacaran, dan dia tidak tahu bagaimana cara menghadapi perasaan yang tidak biasa ini.

Agastya menyadari bahwa Kaniya menatapnya, dan dia tersenyum lembut, mencoba menyembunyikan kebingungannya itu.

"Aa...maaf...saya cuma memikirkan apa yang akan kita makan malam ini, ah...maksud saya adalah saya ingin mengajak kamu makan malam sebentar saja mau kan?" Agashtya berkata asal, mencoba mengalihkan perhatian

Kaniya tersenyum, suaranya sedikit bergetar. "Aa...oh...iya Pak boleh..." Jawabnya tergagap

Agastya menatap Kaniya lagi, dan kali ini, dia tidak bisa tidak merasa ada sesuatu yang berbeda.

Agastya tersenyum, "Bagus, aku tahu ada restoran Italia yang enak di dekat sini..."

Dia memarkir mobilnya di depan restoran yang elegan, dan Kaniya tidak menolak ketika dia menawarkan untuk membukakan pintu.

Mereka masuk ke restoran, dan Agastya meminta meja di pojok yang tenang. Kaniya duduk, dan Agastya memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua.

"Aku pesan pasta carbonara dan pizza margherita, kamu suka?" Agashtya bertanya dengan lembut

Kaniya mengangguk, "Ya saya suka, pak Agashtya..."

Mereka duduk berhadapan, dengan lilin di atas meja yang memberikan cahaya lembut. Agastya tersenyum, mencoba memecahkan keheningan.

"Kamu terlihat cantik hari ini, Kaniya..."

Kaniya tersipu, "Terima kasih, pak Agashtya. Anda juga terlihat tampan..."

Suasana canggung mulai terasa, tapi Agastya tidak membiarkan itu berlangsung lama. Dia mulai bercerita tentang pekerjaannya, dan Kaniya mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka berdua tertawa, dan suasana mulai terasa lebih santai.

Tepat ketika makanan tiba, Agastya bertanya, "Kaniya, apa impianmu? Apa yang kamu ingin capai dalam hidup ini?"

Kaniya menatap Agastya, dan untuk sejenak, dia lupa untuk bernapas. "Saya...sayq ingin menjadi bintang aktris terkenal suatu hari nanti..." dia menjawab,  dengan suaranya yang lembut

Agastya tersenyum, "Wah saya yakin kamu bisa melakukannya. Kamu sangat berbakat..."

Mereka berdua melanjutkan perjalanan pulang setelah makan malam yang menyenangkan. Agastya membisikkan lagu favoritnya di radio, dan Kaniya tersenyum, mencoba menikmati suasana yang nyaman.

Tiba-tiba, Kaniya berbicara, "Pak Agashtya, turunkan saya di depan sana, ya? Rumah yang bercat hijau itu..."

Agastya menatap Kaniya, sedikit curiga. "Rumah bercat hijau? Kamu tidak tinggal di sana, kan?"

Kaniya tersenyum lembut, "Iya Pak Agashtya itu rumah saya ehehehe..."

Agastya tidak bisa menolak, dia menghentikan mobil di depan rumah yang ditunjuk oleh Kaniya.

"Baiklah, Kaniya. Saya antar kamu sampai sini saja..."

Kaniya tersenyum, "Terima kasih, Pak Agashtya. Sampai jumpa besok ya..."

Agastya menatap Kaniya, merasa ada sesuatu yang tidak beres. Tapi dia tidak bisa menahan Kaniya, dia hanya tersenyum dan melambaikan tangan.

"Sampai jumpa besok juga, Kaniya..."

Agastya menunggu Kaniya memasuki rumah bercat hijau itu, tapi dia tidak melihat Kaniya masuk ke dalam. Dia menunggu beberapa saat, lalu menggelakkan kepalanya, "Mungkin aku terlalu curiga kepadanya, efek terlalu banyak nonton drama pendek mungkin jadi otakku gak sinkron banget..."

Agastya memutar mobilnya dan pergi, meninggalkan Kaniya yang masih berdiri di depan rumah tetangganya itu.

Setelah mobil Agastya tidak terlihat lagi, Kaniya tersenyum dan berlari terbirit-birit menuju rumahnya yang mewah, yang terletak hanya beberapa langkah dari sana.

Tetangga Kaniya, seorang wanita tua yang bernama Ibu Siti, terbangun oleh suara langkah kaki yang cepat. Dia membuka pintu rumahnya dan melihat ke luar, tapi tidak ada siapapun di depan pintu.

"Siapa ya?" dia bertanya kepada dirinya sendiri, sambil memandang ke kiri dan kanan

Ibu Siti melihat ke arah rumah Kaniya, tapi tidak ada tanda apa-apa. Dia menggelakkan kepalanya, "Mungkin aku salah dengar kali ya efek sudah tua ini..."

Ibu Siti kembali ke dalam rumahnya, meninggalkan pintu yang kini sudah dikuncinya kembali.

Kaniya membuka pintu rumahnya dan masuk dengan terguncang, dia tidak bisa tidak tersenyum.

"Aku berhasil menyembunyikannya yeay," dia berbisik kepada dirinya sendiri, sambil melepaskan napas lega

Bu Anindika, ibu Kaniya, yang duduk di ruang tamu sembari menunggu kepulangan suaminya, memandang Kaniya yang baru saja masuk rumah dengan ekspresi girang.

"Kaniya, apa yang kamu sembunyikan?" dia bertanya, suaranya lembut tapi tegas

Kaniya tersentak, mencoba menyembunyikan senyumnya. "Gak ada apa-apa, Ma. Aku cuma... cuma jalan-jalan aja ehehehe..."

Bu Anindika menatap Kaniya dengan tajam.

"Kaniya, mama tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Apa itu?"

Kaniya menggelakkan kepalanya, "Gak ada, ma. Aku serius Kaniya gak bohong suwer..." Jawabnya sembari menunjukkan dua jarinya

Bu Anindika tersenyum, "Kaniya, mama tahu kamu. Kamu tidak bisa menyembunyikan apa-apa dari mama..."

Kaniya mencoba mengalihkan perhatian ibunya, "Mah, aku capek, mau tidur dulu, ya? Byeee mamah..." dia berkata sambil berjalan menuju tangga dengan gaya khasnya yang kekanak-kanakan

Bu Anindika tersenyum, "Ok, Kaniya. Tapi kita akan bicara lagi tentang ini besok, ya?"

Kaniya mengangguk, "I-iya, ma..." dia menjawab singkat, lalu berlari naik ke kamarnya

Bu Anindika tersenyum, "Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu, Kaniya. Aku akan cari tahu apa itu..." Gumam bu Anindika masih tak percaya begitu saja

Bersamboo...

Visualnya Arman...

Visualnya Agasthya dan Kaniya...

1
Yogitha Ratnajyoti ❤
mkin seru nih thor 😍🔥
Mutiara Wilis 🌹: Terimakasih... 🙏😍🌹
total 1 replies
Yogitha Ratnajyoti ❤
knp hrs bohong soal identitas dirinya sih greget dehhh
Mutiara Wilis 🌹: Hehehe...😆🙃🤭
total 1 replies
Yogitha Ratnajyoti ❤
wah agashtya nya ganteng thor 😍
Yogitha Ratnajyoti ❤: owh...
total 2 replies
Yoyoh Tania
si alex udh plng tau aja yh thor, korban dracin dia mah 🤭
Mutiara Wilis 🌹: Iya kak, dia suka nonton melolo kali wkwkwk... 😆🙃🤭
total 1 replies
Yoyoh Tania
ngefans nih sm karakter alex gokil orgnya 🤭
Yoyoh Tania
Kaniya unik tapi gesit yh kk thor 🤭
Mutiara Wilis 🌹: Hehehe...iya kak...🤭
total 1 replies
Yoyoh Tania
izin mampir yh kk thor, cmngutz 💪🔥
Mutiara Wilis 🌹: Monggo, silahkan kak, makasih kak 🙏😍🌹
total 1 replies
Anto D Cotto
menarik
Mutiara Wilis 🌹: Terimakasih paman 🙏
total 1 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Mutiara Wilis 🌹: Belum ada ide lagi om 🙏🙃
total 1 replies
fatih faa
visual kaniya mana thor
Mutiara Wilis 🌹: Ada kak di bab bagian hasil casting
total 1 replies
Luvita Sari
Si alex gokil ya thor asal nyelonong aja kayak tronton 🤣🤭
Mutiara Wilis 🌹: Hehehe...iya 😆🙃
total 1 replies
Ana Maria
seru nih thor lnjt
Mutiara Wilis 🌹: Makasih kak 🙏🤭🌹
total 1 replies
Luvita Sari
hdir thorrr
Luvita Sari: Urwell kak
total 2 replies
Anonymous
rajin banget thor, Shanaya belum tamat, eh ini ada yang baru😍
Mutiara Wilis 🌹: Terimakasih, boleh asal santun 🙏😅
total 3 replies
Desti31
Ciee karya baru nih🤭
Mutiara Wilis 🌹: Wkwkwk iya double biar gak kehilangan ide tengah jalan di selang seling 😆🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!