Hana, seorang anak yang tertukar pada saat dilahirkan, akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Namun, ia tak pernah menyangka, perasaan bahagia, kehidupan manis dengan orang tua, semuanya hanya harapan palsu semata. Ia diambil hanya untuk reputasi orang tua. Diabaikan, ditindas, bahkan mati pun tidak dipedulikan.
Jiwanya tidak menerima kematian, ia menoreh takdir pada langit, meminjam jiwa yang kuat.
Jiwa seorang Ratu hebat dari kerajaan Amerta, terpanggil untuk membalaskan dendam Hana. Jiwa leluhur yang terusik oleh derita sang penerus. Pewaris kehormatan dari kerajaan agung Amerta.
Nasib semua orang pun berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Di tengah malam buta, ban mobil Alan berdecit keras di depan gerbang kokoh villa di perkebunan teh. Alan keluar dengan cepat, membanting pintu cukup keras dan bergegas lari mendekati gerbang.
"Hana!" Ia memanggil dengan suara cukup keras, tapi tak ada sahutan dari dalam villa.
Lampu taman temaram, kegelapan mendominasi. Tak ada pergerakan di halaman, maupun di dalam villa. Tempat tersebut terlihat seperti kosong tak ada penghuni.
Hans berjalan pelan mendekat, menatap bangunan tinggi di dalam pagar yang kokoh itu.
"Tempat ini memang terpencil, jauh dari kota. Kamera pengawas di jalan tak akan menjangkau tempat ini, tapi apa di sini benar-benar ada orang? Terlihat sepi," gumam Hans seraya menatap sekeliling yang dipenuhi pohon pinus dan perkebunan teh.
"Tidak mungkin! Hana pasti di sini!" ujar Alan meyakinkan dirinya.
"Hana! Bi Sum! Tolong buka!" Alan kembali berteriak memanggil penghuni villa.
Ia tahu meskipun Hana tak ada di sana, tapi Bi Sum selalu ada. Ia ditunjuk langsung oleh nenek untuk merawat villa itu.
"Tuan Muda, sepertinya memang tidak ada siapapun di sini. Lampu villa mati, hanya lampu taman saja yang masih menyala," ucap Hans mendekati gerbang besi menatap lebih jauh.
Sementara di dalam villa, Bi Sum yang mendengar suara langkah turun dari lantai tiga bergegas menghampiri. Ia tak berani membukakan gerbang tanpa seizin Hana juga tak berani membangunkan gadis itu.
"Nona!" Ia berdiri dengan kepala tertunduk begitu Hana tiba di lantai dasar. Sikapnya tenang dan tidak mudah panik.
"Siapa yang berteriak di luar gerbang, Bi?" tanya Hana dengan ekspresi dingin yang mengintimidasi. Ia tak suka waktu istirahatnya terganggu.
"Itu ... tuan muda Alan, Nona. Apakah saya harus membukakan pintu?" ucap Bi Sum berhati-hati.
"Kakak pertamaku?" Hana memastikan.
Bi Sum menganggukkan kepala. Hana melangkah pelan mendekati jendela, diikuti Bi Sum dari belakang. Ia membuka tirai, mengintip dari celah yang gelap. Samar ia melihat dua orang berdiri di depan gerbang villa. Hana tersenyum sinis, kemudian menutup kembali gerbang dan pergi ke kamarnya.
"Jangan bukakan dia pintu! Biarkan saja di sana!" tegasnya sebelum meninggalkan lantai dasar dan kembali ke loteng.
"Baik, Nona!" Bi Sum dan yang lainnya kembali ke kamar, begitulah mereka bekerja.
Sejak melayani nenek dulu, mereka tak akan pernah membukakan pintu untuk siapapun tanpa seizin majikan sekalipun itu adalah anggota keluarga Haysa. Mereka akan mentulikan telinga apapun yang mereka dengar.
Hana duduk di ranjang, membuka laptop yang tersedia di sana dan terhubung dengan kamera pengawas di seluruh villa. Berbekal ingatan dan kemampuan Hana, ia bisa menjalankan benda itu.
"Dunia ini memang canggih. Tak perlu menyewa mata-mata untuk dapat mengetahui kejadian di luar jangkauan kita. Lihat saja apa yang akan aku lakukan kepada kalian," gumam Hana seraya turun dari ranjang dan mendekati sebuah lemari kuno di ujung ruangan.
Ia membuka lemari itu dan menemukan sebuah panah kecil di dalamnya. Dulu, ia pun suka sekali menggunakan panah seperti itu saat ikut berburu dengan Kaisar. Hana mengambil panah tersebut dan memasangnya di tangan. Ia menyelinap keluar, berjalan di dalam kegelapan.
Hana memanjat tembok tinggi di belakang villa, dan merayap naik ke sebuah pohon tinggi di sana. Dari puncaknya, ia bisa melihat mereka berdua.
"Aku ingin menguji kekuatan panah ini. Apakah sesuai dengan ekspektasi ku?" katanya seraya mengarahkan tangan kirinya ke depan, ia membidik Alan dan Hans.
Hana tersenyum sinis saat target terkunci, kemudian melepaskan busur dengan cepat. Alan tak menyadari datangnya bahaya, tapi Hans yang berpengalaman dalam militer mempunyai insting yang lebih kuat.
"Tuan Muda, hati-hati!"
Sling!
Trang!
Hans menarik Alan menjauh dari gerbang, tangannya sigap menangkis panah kecil yang datang hingga menabrak besi gerbang.
"Sial!" Hana mengumpat, turun dengan cepat. Lalu, kembali memanjat dinding villa tanpa suara. Tubuhnya yang mungil memudahkannya untuk bergerak meski luka-luka di tubuh masih terasa sakit.
"Siapa yang menyerang?" Hans berlari ke arah panah itu datang.
Hutan pinus di belakang villa, tapi tak menemukan apapun di sana. Alan mengejar, berdiri di sampingnya, melilau ke segala arah mencari siapa yang mengincar mereka.
"Tidak ada apapun di sini, mungkin sudah melarikan diri," ucap Alan disetujui Hans.
Mereka kembali ke gerbang depan, memutuskan untuk masuk ke dalam mobil. Menunggu pagi datang.
"Tempat ini tidak aman. Aku khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi kepada Hana jika dia tinggal di sini," ucap Alan mengutarakan kekhawatirannya.
"Sepertinya tadi itu penduduk yang sedang berburu di hutan. Tempat ini sangat terpencil, tidak menutup kemungkinan para penduduknya masih primitif," ujar Hans mengingat rumah-rumah yang didirikan di sepanjang menuju villa adalah rumah panggung yang terbuat dari kayu, hanya sebagian kecil saja rumah yang dibangun permanen.
Hans menelisik panah kecil yang dipungutnya sebelum masuk ke dalam mobil.
Syut!
Prang!
"Awas!"
Kali ini, panah itu menembus kaca mobil mereka. Menancap di kursi mobil dengan sebuah daun yang menempel. Beruntung Alan menarik Hans dengan cepat. Jika tidak, maka dahi pemuda itu yang akan menjadi tempat mendarat anak panah.
Alan mencabut anak panah tersebut dan mengambil daunnya.
PERGI DARI SINI!
"Pergi dari sini?"
hai jalang gk tau diri lo