Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Pelabuhan Lama, Luka Lama
Angin laut di Pelabuhan Lama berhembus kencang, membawa aroma garam, karat, dan pembusukan. Tempat ini adalah sisa-sisa kejayaan industri yang kini hanya menjadi kuburan bagi kontainer-kontainer kosong yang ditumpuk secara serampangan seperti labirin raksasa. Cahaya lampu merkuri yang berkedip-kedip memberikan kesan horor, menciptakan bayangan panjang yang seolah bergerak di setiap sudut.
Aruna melangkah keluar dari mobil sedan hitam yang ia kendarai sendiri. Ia mengenakan jaket taktis hitam yang pas di tubuh, celana kargo, dan sepatu bot militer. Di balik jaketnya, terselip pistol compact dan dua belati keramik yang ia sembunyikan di balik pinggang. Rambutnya diikat sangat kencang, menyembunyikan mikrofon kecil yang terhubung langsung ke telinga Dante dan Enzo di pusat komando.
"Aku sudah di titik masuk," bisik Aruna hampir tak terdengar.
"Hati-hati, Aruna. Kami kehilangan visual satelit karena badai elektromagnetik di area itu. Julian Thorne menggunakan pengacau sinyal," suara Dante terdengar statis dan cemas di telinganya. "Enzo dan timnya sudah berada di radius dua ratus meter, tapi mereka tidak bisa mendekat tanpa memicu alarm. Kau sendirian di dalam sana."
"Aku mengerti. Tetap pantau frekuensi ini," jawab Aruna tegas.
Ia melangkah masuk ke dalam labirin kontainer. Suara langkah kakinya yang berat di atas aspal yang retak adalah satu-satunya suara selain deburan ombak. Aruna memegang senjatanya di depan dada, matanya bergerak cepat memindai setiap celah. Ia bukan lagi Aruna yang gemetar saat melihat darah; ia adalah pemangsa yang sedang mencari mangsanya.
Tiba-tiba, suara tawa yang sangat ia kenal bergema melalui pengeras suara yang dipasang di beberapa sudut pelabuhan.
"Kau berani juga, Saudari. Aku hampir terkesan," suara Elena terdengar mengejek. "Teruslah berjalan ke arah dermaga nomor 4. Ayah kita sedang menunggumu dengan napas yang semakin pendek."
Aruna terus bergerak. Ia melewati sebuah kontainer merah yang terbuka, dan seketika ia merasakan ada pergerakan di belakangnya. Tanpa menoleh, Aruna melakukan gerakan yang diajarkan Enzo: ia merunduk rendah, berputar, dan melepaskan tembakan ke arah sosok yang menerjangnya.
Bang!
Seorang pria bersenjata terjatuh, memegangi kakinya yang tertembak. Aruna tidak berhenti untuk memastikan kondisinya; ia segera berlari menuju tumpukan kontainer yang lebih tinggi untuk mencari posisi strategis.
"Satu jatuh," ucap Aruna pada Dante.
"Bagus. Tapi jangan biarkan mereka memancingmu ke area terbuka," balas Dante.
Aruna sampai di Dermaga 4. Di bawah lampu sorot tunggal yang menggantung di derek tua, ayahnya—Hadi Kirana—terikat di sebuah kursi kayu. Wajahnya penuh luka memar, kepalanya tertunduk. Di sampingnya stood Elena, memegang pistol yang diarahkan tepat ke pelipis pria tua itu.
"Berhenti di sana, Aruna!" teriah Elena. "Letakkan senjatamu di lantai, lalu tendang ke arahku."
Aruna berhenti sekitar sepuluh meter dari mereka. Ia menatap ayahnya yang perlahan mendongak. Mata pria tua itu berkaca-kaca saat melihat Aruna.
"A-Aruna... pergilah... ini jebakan..." suara Hadi parau dan pecah.
"Diam, Tua Bangka!" bentak Elena, memukul kepala Hadi dengan gagang pistolnya.
"Hentikan, Elena!" teriak Aruna, suaranya menggelegar di dermaga yang sepi itu. "Kau menginginkan aku, bukan dia. Lepaskan dia sekarang."
Elena tersenyum licik. "Aku menginginkan flashdisk itu. Mana bendanya?"
Aruna mengeluarkan sebuah benda perak dari sakunya. "Ada di sini. Tapi aku ingin bukti bahwa dia benar-benar ayahku. Bagaimana aku tahu ini bukan orang lain yang kau beri topeng silikon?"
Elena tertawa. "Kau selalu curiga, ya? Ayah, katakan padanya sesuatu yang hanya kalian berdua yang tahu. Ceritakan tentang boneka beruang itu."
Hadi menelan ludah dengan susah payah. "Di dalam dada beruang itu... ada foto ibumu yang aku simpan sebelum mereka membawaku pergi... aku bilang itu jantungnya..."
Air mata hampir jatuh dari mata Aruna, namun ia segera mengeraskan hatinya. Itulah konfirmasi yang ia butuhkan. Namun, Aruna menyadari sesuatu. Posisi kaki Elena sedikit janggal, dan ada bayangan kecil di belakang kontainer tepat di sebelah kanan dermaga.
"Enzo, ada penembak jitu di Sektor 3. Jam dua dari posisiku. Ambil dia sekarang," bisik Aruna sangat pelan.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara pelan pfttt dari senapan sniper yang menggunakan peredam. Bayangan di belakang kontainer itu tumbang tanpa sempat melepaskan tembakan.
Elena tersentak. "Apa itu?!"
"Itu adalah pesan dari Dante," ucap Aruna, suaranya dingin seperti es. "Kau pikir aku benar-benar datang sendiri? Julian Thorne mungkin punya teknologi, tapi Dante punya loyalitas."
Elena menjadi panik. Ia menarik Hadi berdiri dan menjadikannya tameng manusia. "Mundur! Atau aku akan meledakkan kepalanya sekarang!"
"Jika kau membunuhnya, kau tidak akan pernah mendapatkan apa yang kau cari," Aruna melangkah maju perlahan, tangannya tetap memegang flashdisk. "Kau tahu, Elena, Julian tidak pernah berniat membiarkanmu hidup setelah tugas ini selesai. Kau terlalu banyak tahu. Kau pikir kenapa dia mengirimmu sendirian ke sini tanpa pasukan tambahan yang kuat? Dia sedang membersihkan rumah."
Kata-kata Aruna mulai merasuki pikiran Elena. "Kau bohong! Julian menjanjikanku kebebasan!"
"Sama seperti dia menjanjikan kebebasan pada Satria? Sama seperti dia menjanjikan kedamaian pada Marco? Julian hanya mencintai angka, Elena. Dan saat ini, angkamu sudah mencapai nol."
Aruna melihat celah saat Elena sedikit melonggarkan cengkeramannya pada Hadi karena terpengaruh oleh keraguan. Dalam satu gerakan kilat yang ia latih siang dan malam bersama Dante, Aruna menarik belati keramik dari balik pinggangnya dan melemparkannya.
Belati itu meluncur cepat, menyayat lengan Elena yang memegang pistol.
Elena menjerit, senjatanya terjatuh. Aruna segera menerjang maju. Ia memberikan tendangan keras ke perut Elena, membuatnya terpelanting menjauh dari Hadi. Aruna segera memotong tali yang mengikat ayahnya dengan belati lainnya.
"Ayah, lari ke arah mobil hitam di ujung dermaga! Sekarang!" perintah Aruna.
"Tapi kau—"
"LARI!"
Hadi berlari dengan langkah tertatih-tatih. Sementara itu, Elena bangkit berdiri, wajahnya penuh amarah dan kebencian. Ia mencabut pisau lipat dari sakunya.
"Kau pikir kau sudah menang, Aruna?!" Elena menerjang Aruna.
Kedua saudara kembar itu terlibat dalam pertarungan tangan kosong yang brutal di tepi dermaga. Mereka adalah cerminan satu sama lain—satu digerakkan oleh kasih sayang dan tanggung jawab, yang lain digerakkan oleh trauma dan dendam. Aruna berhasil menangkis serangan pisau Elena, memutar lengan saudaranya, dan menghantamkan punggung Elena ke dinding kontainer.
"Aku tidak ingin membunuhmu, Elena!" teriak Aruna. "Kau adalah saudaraku!"
"Aku tidak punya saudara!" Elena meludah ke wajah Aruna. "Aku hanya punya musuh!"
Elena mencoba meraih pistol yang jatuh di lantai, namun Aruna lebih cepat. Ia menendang pistol itu hingga masuk ke dalam air laut. Elena kemudian mencoba melompat ke arah Aruna untuk mencekiknya, namun suara helikopter tiba-tiba terdengar di atas mereka.
Lampu sorot raksasa menyorot dermaga. Itu bukan helikopter Dante. Itu adalah helikopter Julian Thorne.
"Target teridentifikasi. Bersihkan area," suara dari pengeras suara helikopter itu terdengar dingin.
Rentetan tembakan mesin mulai menghujani dermaga. Julian benar-benar sedang melakukan pembersihan total. Dia tidak peduli siapa yang mati—Aruna, Elena, atau Hadi. Baginya, mereka semua adalah saksi yang tidak perlu.
"Lari ke kontainer!" teriak Aruna sambil menarik tangan Elena.
Elena tertegun sejenak. Aruna baru saja mencoba menyelamatkan nyawanya, meskipun Elena mencoba membunuhnya beberapa detik yang lalu. Mereka berdua melompat ke balik tumpukan baja tepat saat peluru-peluru menghancurkan lantai beton di tempat mereka berdiri tadi.
"Kenapa kau membantuku?" tanya Elena, napasnya tersengal.
"Karena aku tidak ingin menjadi monster seperti mereka," jawab Aruna. Ia menatap ke arah helikopter itu. "Enzo, di mana kau?! Kami butuh dukungan udara!"
"Kami sedang mencoba menembus jammer mereka, Nyonya! Bertahanlah!"
Aruna menatap Elena. "Dengarkan aku. Kita harus bekerja sama jika ingin keluar dari sini hidup-hidup. Kau tahu cara kerja sistem keamanan Julian. Apa kelemahan helikopter itu?"
Elena menatap Aruna lama, lalu senyum miring muncul di wajahnya yang berdarah. "Tangki bahan bakar cadangannya ada di bagian bawah ekor. Hanya butuh satu tembakan presisi."
Aruna memberikan pistolnya kepada Elena. "Kau yang menembak. Aku yang akan mengalihkan perhatian mereka."
"Kau gila? Kau akan mati!"
"Lakukan saja, Saudari. Anggap ini sebagai penebusan dosamu padaku."
Aruna berlari keluar dari persembunyian, berteriak sambil melambaikan tangan ke arah helikopter, memancing mereka untuk memfokuskan tembakan padanya. Peluru-peluru mengejarnya, menghancurkan apa pun di sekitarnya. Aruna berguling di bawah deretan truk tua.
BANG!
Satu tembakan presisi dari Elena mengenai sasaran. Helikopter itu berguncang hebat saat api mulai keluar dari bagian ekornya. Pilot kehilangan kendali, dan helikopter itu jatuh meledak ke dalam laut beberapa ratus meter dari dermaga.
Keheningan kembali menyelimuti pelabuhan. Aruna keluar dari bawah truk, tubuhnya penuh debu dan luka gores. Ia mencari Elena, namun Elena sudah menghilang. Hanya tertinggal pistol Aruna yang tergeletak di lantai dengan selembar kain kecil yang bertuliskan: "Jangan cari aku. Hutangku sudah lunas."
Aruna terduduk di lantai dermaga yang dingin. Ia merasa lelah luar biasa. Ia berhasil menyelamatkan ayahnya, ia berhasil bertahan hidup, namun ia menyadari bahwa dunianya tidak akan pernah sama lagi.
Enzo dan pasukannya tiba beberapa saat kemudian, bersama dengan Dante yang turun dari mobil dengan langkah tergesa-gesa. Dante langsung memeluk Aruna, tidak peduli pada luka-lukanya sendiri.
"Kau aman... syukurlah kau aman," bisik Dante.
Aruna bersandar di dada Dante, namun matanya menatap ke arah laut di mana helikopter itu tenggelam. "Aku menyelamatkan Ayah, Dante. Tapi aku kehilangan bagian dari diriku di sana."