𝘛𝘳𝘢𝘨𝘦𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝙈𝙤𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙂𝙡𝙤𝙧𝙮—𝘖𝘳𝘨𝘢𝘯𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘞𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘦𝘭𝘪𝘵𝘦 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘸𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢.
𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘯𝘥𝘰𝘮 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶— 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘢.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
왕신 ー 26
...왕신...
Di tengah perjalanan setelah pulang dari mengunjungi Noh Samsik, Shin menghentikan laju mobilnya di tepi ngarai rendah tidak banyak kendaraan melintas lalu.
Ponsel dikeluarkan untuk mengangkat panggilan seseorang, Lim Suyu.
“Ya, Bu Pimpinan.”
📞; “....”
“Bisa kupastikan aku akan tiba di sana sebelum malam.”
Panggilan ditutup, laju dilejitkan. Perjalanan Daegu - Seoul akan cukup memakan waktu.
Semoga tidak ada-ada saja seperti kemacetan mengular atau demo pegawai pabrik memenuhi jalan.
Meski tidak begitu lancar adanya, Shin selalu menepati janji. Sekarang jam lima sore dan dia sudah ada di mansion kediaman Lim.
Para pelayan muda cekikikan melihatnya melintasi lorong menuju ruang utama Lim Suyu, terlebih saat Shin melempar senyumnya yang seindah haebaragi. Akhirnya pengawal gagah dan tampan itu kembali juga, cicit girang mereka.
Meninggalkan kesan para pelayan, pintu kembar tinggi di ujung koridor sudah di depan mata. Saat terbuka, yang didapati Shin pertama kali adalah paras kaku milik Han Taeja.
“Ma-masuklah. Pimpinan sudah menunggumu di dalam," Taeja mempersilakan, suara kaku nyaris tidak bisa disembunyikan.
Hanya anggukan tipis, Shin lalu mendorong langkah untuk memasuki wilayah kerja Lim Suyu yang keamanannya sangat dijaga ketat oleh Han Taeja, dan dia tidak begitu peduli pada sikap pengacara itu.
Han Taeja merasa beku saat pria itu menepuk pundaknya sekilas dengan senyum sambil melewatinya. Dalam beberapa jam, dunianya dijungkirbalikkan.
“Sial,” rutuknya setengah menggeram. “Seharusnya kemarin aku tidak mengikutinya. Ketidaktahuan jauh lebih baik dibanding aku harus sampai terlihat bodoh seperti ini.”
Dengan tidak tahu apa pun, dia akan tetap bisa memperlakukan Shin seperti pengawal yang biasanya. Sekarang mengutuk diri pun tak bisa menghindari betapa nyalinya sudah terintimidasi hanya dengan melihat sorot matanya saja.
Hal yang membuat Han Taeja gelisah, bagaimana caranya membawa sikap biasa saja di saat ke depannya pertemuan mereka akan semakin intens.
“Hah!” kesahnya lalu menyusul setelah menutup kembali pintu.
Di dalam, Shin sudah duduk setelah menyapa singkat dan hormat pada Lim Suyu.
“Kau sudah makan?” tanya wanita itu, tak ragu menunjukkan perhatiannya.
Mau basa basi atau bukan, Shin hanya perlu menjawab, “Sekitar empat jam lalu di rumah pamanku.”
“Kau bisa makan dulu jika masih lapar.”
“Tidak perlu, Bu Pimpinan. Terima kasih. Sayuran hutan dari Daegu cukup membuat perutku kenyang, mungkin akan kuat sampai lima jam ke depan."
Lim Suyu terkekeh tipis. “Baguslah.” Tatapannya mencuat pada Han Taeja yang baru saja berdiri di sebelah Shin.
“Ada apa denganmu, Pengacara? Kau terlihat pucat?”
“Tidak, tidak apa-apa, Bu Pimpinan. Cuaca hari ini sedikit membuat tak nyaman.” Dia beralasan, tak lupa sambil mengusap tengkuknya dengan sapu tangan bercorak tutul.
Untuk mengakui bahwa dia terganggu dengan kehadiran Shin, rasanya terlalu memalukan, bukan?
Lim Suyu skeptis, terutama saat lirikan mata Han Taeja nampak tak baik terhadap Wang Shin. Dia bukan orang bodoh yang tak paham, sesuatu pasti disembunyikan rekan sekaligus pengacara pribadinya itu ... juga Wang Shin. Apakah mereka berselisih lagi?
Sudah pasti begitu, pikir Lim Suyu. Dari awalーmungkin hingga saat ini, Han Taeja masih belum bisa percaya Wang Shin.
“Kurasa kau sedikit kurang sehat. Sebaiknya kau beristirahat di kamarmu.”
“Tidak mungkin! Anda 'kan akan pergi ke pertemuan, dan aku harusー”
“Aku bisa pergi bersama Wang Shin!” pungkas Lim Suyu. “Lagi pula acaranya hanya seperti itu saja. Tak akan lama sampai aku membutuhkan nasehat pengacaraku.”
Shin tersenyum samar, sementara Han Taeja tergagap dengan pilihan wanita itu.
“Taeja!"
“Ya!”
“Beristirahatlah.”
Jika sudah begitu, memaksa akan tidak berarti. Lim Suyu bernilai absolut.
Akhirnya wanita itu akan pergi bersama Shin, sesuai ketetapannya.
Acara itu hanya makan malam antar para pemegang saham, tapi banyak kesan yang bisa saja menjadi tekanan bagi Lim Suyu. Han Taeja melepas mereka dengan perasaan cemas. Masalahnya Lim Suyu memiliki banyak lawan yang mungkin saja memojokkannya.
Meskipun sudah tahu Wang Shin bukan orang biasa, tetap saja posisinya di samping Lim Suyu hanya seorang pengawal. Pasti tidak banyak yang bisa dilakukannya selain hanya diam berdiri di sudut.
“Sial! Seharusnya aku tidak bersikap bodoh tadi!” rutuknya menyesali dengan sangat kelakuannya, lalu menatap mobil yang mulai meninggalkan pekarangan dari balik kaca dalam kamarnya.
_
Lim Suyu cukup terkejut dengan Wang Shin yang dengan santai memutar musik di dalam mobilnya.
“Aku melihat Anda terlalu tegang," celetuk Shin, menyindir ekpresi yang selintas diraih penglihatannya melaui spion. “Seperti bayi, musik klasik mungkin bisa memberi Anda sedikit ketenangan.”
“Aku bukan bayi!”
“Bagaimana kalau jaz atau rock?”
“Terlalu berisik!”
“Nostalgia?”
“Aku takut terseret."
“Kalau begitu dangdut?”
Ng? Malah setengah diplototi.
“Baiklah, tidak semua saja. Suara deru angin jalanan lebih indah kedengarannya.”
Tidak ditanggapi. Lim Suyu memanfaatkan itu untuk menilai lelaki yang usianya mungkin sedikit di bawah Han Taeja.
Semakin terbiasa melihat sikap semacam itu, semakin membuat Lim Suyu penasaran siapa Shin sebenarnya.
“Apa yang membuat Nyonya berpikir datang ke acara seperti ini?”
Celetuk tanya Shin mengentak pandangan Lim Suyu. Meski hanya sebagian wajah Shin yang nampak, Suyu bisa merasakan lelaki itu sedang menelisiknya.
“Aku hanya penasaran, apalagi yang akan mereka inginkan.”
“Apakah ada hubungannya dengan dokumen CEO Kwon yang Anda tolak tempo hari?”
“Bisa itu, atau bisa jadi yang lainnya. Aku ingin menilai jelas wajah mana saja yang sudah resmi berbelot.”
“Aku akan membantu Anda menemukannya.”
Lim Suyu terkesiap, sebelum kemudian tersenyum tipis. “Kalau begitu mohon bantulah aku.”
“Tentu.”
Selebihnya sepi, perjalanan yang hanya memakan waktu 35 menit itu sudah berakhir.
Shin turun lebih dulu untuk membukakan pintu, setelahnya berjalan bersama menapaki paving block memanjang untuk sampai di tempat acara makan.
Menapaki koridor, hentak sepatu membentur lantai terdengar nyaring, tempat pertemuan itu ada di ujung. Khusus kaum aristokrat yang fasilitasnya tak sederhana.
Semakin dekat, sudah terdengar obrolan renyah dari ruangan tujuan.
Dua penjaga pintu kiri dan kanan merunduk hormat pada Lim Suyu, sebelum kemudian membukakan pintu.
“Dia ikut denganku,” kata Lim Suyu memberitahu saat dua penjaga menahan Shin agar tak ikut serta masuk ke dalam ruangan.
Mereka mengangguk tipis, namun melotot saat wajah Shin memberi tatapan kecil yang rasanya seperti tikam belati. “Apa-apaan wajah itu?”
Aroma kelam memenuhi udara saat Lim Suyu menarik kursi untuk dia duduki. Wajah-wajah menyuguhkan raut ramah dibarengi ucapan selamat datang dengan suara hangat. Keramahan yang jika dirasa secara benar, tersirat tombak yang siap menikam kapan saja.
Shin menyisi ke tepi untuk berdiri tegak. Di sana ada pula seorang pengawal wanita yang ditugaskan salah satu kepala. Sedikit menegang saat Shin berdiri di sebelahnya. Tidak ada percakapan.
Di satu kursi, Kwon Minho sibuk menyesap segelas brendi, pandangannya terbuang, tak ingin bertemu tatap dengan kakak tirinya.
Pembicaraan dibuka serius oleh seorang pemegang saham salah satu bidang industri di LC group.
Lim Suyu tak banyak bicara, hanya diam mendengarkan oceh mereka dengan senyuman tipis sambil sesekali menyesap minuman tehnya.
Sampai kedatangan seseorang membuat keadaan jadi berubah.
“Maaf, aku terlambat. Jalanan cukup padat sampai mobilku sulit bergerak.” ーKwon Mina, adik tiri perempuan Suyu.