Jatuh cinta pada anak tiri seiring nya waktu karena istri selingkuh terus menerus?! padahal... Renzo Draja adalah pria mapan.. bagaimana konflik mereka dan cara Renzo Draja mengatasi nya?
Setelah bercerai dengan istri nya, entah bagaimana caranya Nias Wiliam yaitu mantan istri nya Renzo Draja mendapatkan uang, sedangkan Renzo Draja nyaris menguasai semua bisnis di kota.
Setelah bercerai, Renzo di perintahkan untuk kencan buta dengan para wanita pilihan Ayah Renzo Draja, yaitu Jhonson Draja.
Gaskeun mampir baca novel ku cuyy!
[Karya Official Wulan.Chanz]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wuna.Chanz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Tamu
"Dia pengacara cerai gue, buat ke pengadilan", Ucap Renzo, membuat Arka mengangguk paham sekarang, Ayden segera berjalan ke arah Herman, merangkul bahu nya, Herman menatap ke Ayden dengan tatapan bingung.
"Yo Man, lo harus selesain tugas lo dari Renzo hari ini juga, dia bayar lo lima ratus juta bro! gue ulangin! LIMA RATUS JUTA!!!", Ucap Ayden, membuat Herman tercengang, menatap ke arah Renzo dengan bingung.
"W-Wa?! seriusan Tuan?! lima ratus juta?!", Tanya Herman dengan kebingungan, Renzo mengangguk santai nya, Zelia terkekeh kecil, berjalan ke samping Renzo.
"S-Siap Tuan, apa tugas nya?", Tanya Herman, Renzo berjalan ke arah sofa, duduk di sofa, menunjuk sofa di hadapan nya membuat Herman segera berjalan ke sofa dan duduk di sofa itu.
"Aku mau cerai sama Nias, tapi harus selesai sekarang pengadilan nya, aku bayar kamu lima ratus juta, secara tunai", Ujar Renzo, membuat Herman berbinar.
"Aku bakal secepat kilat Tuan, aku tangani sekarang", Jawab Herman, Renzo mengangguk puas.
"Man, bagi dua ya uang nya?", Ucap Ayden dengan jahil.
...****************...
Waktu berganti dari pagi ke malam hari, Renzo menunggu dengan sabar sembari membaca dokumen kerja di ruang tamu dan secangkir kopi yang menemani, selain itu, Jessy juga menemani Renzo, Renzo menutup dokumen lalu menaruh nya di atas meja, menghela nafas.
"Itu aja untuk malam ini Tuan, saya akan bantu merapihkan meja", Ucap Jessy tersenyum sopan, Renzo hanya mengangguk santai.
"Ya-ya, lakukan aja", Jawab Renzo dengan santai, Jessy mengangguk, merapihkan dokumen dan alat kerja Renzo dengan tertata rapih.
"Daddy?", Panggil Zelia, membuat Renzo menoleh ke sumber suara, melihat Zelia yang membawakan makan malam.
"Sesuai taruhan kita, Baby masakan makanan selama... Dua bulan, ini Daddy", Ucap Zelia menaruh makan malam nya di meja, Renzo tertawa kecil mengingat taruhan mereka.
"Aah benar juga, Daddy aja lupa tentang taruhan kita", Jawab Renzo sembari tersenyum jahil.
"Semoga Daddy suka", Ucap Zelia dengan tersenyum, baru saja Renzo mau makan, Ayden menelpon Renzo.
"O-Oh, sebentar Baby", Ucap Renzo, Zelia mengangguk, duduk di samping Renzo.
"Halo Den?", Tanya Renzo pada Ayden yang berada di sebrang telpon.
"Halo Ren, ini pengurusan nya udah selesai, kalau sidang nya lo mau ngadain gak?", Tanya Ayden.
"Gak usah lah, perlu apa lagi?", Tanya Renzo dengan santai nya.
"Yaudah kalau gitu, tinggal lo tanda tangan aja, terus tanda tangan nya si Nias", Jawab Ayden.
"Oke, bawa ke sini", Ucap Renzo, lalu Renzo mematikan telpon nya, menghela nafas lega.
"Aah akhirnya Baby, Daddy cerai sama Nias", Ucap Renzo pada Zelia sembari tersenyum lega, Zelia mengangguk, tepuk tangan pela.
"Yee! selamat Daddy! Baby jadi ikut senang", Jawab Zelia, Renzo mengangguk setuju, lalu mengambil kembali makan malam nya yang berada di piring.
"G-Gimana Daddy? enak gak?", Tanya Zelia dengan takut.
"Enak kok Baby, Baby hebat", Jawab Renzo dengan senyuman, lanjut makan dengan lahap, Zelia menghela nafas lega mendengar jawaban Renzo, terdengar bell mansion.
Ding-Dong~
Renzo dan Zelia menoleh ke arah pintu.
"Masuk!", Ucap Renzo dengan keras, pelayan berlari kecil ke arah pintu, mau membuka pintu nya tetapi pintu itu terbuka dengan sendiri nya, pelayan terkejut takut melihat Jhonson dan Vione, Renzo juga ikut agak terkejut, Zelia hanya tersenyum antusias yang terkendali saat melihat Jhonson dan Vione.
"E-Eh? Ayah, Bunda? ada apa datang? kok gak kabarin Renzo?", Tanya Renzo lalu menaruh piring nya yang sudah setengah ludes, Zelia tetap tersenyum.
"Kita perlu ngobranin sesuatu yang penting, Nak", Ucap Jhonson dengan tegas sembari berjalan masuk bersama Vione, setelah mereka berdua masuk, pelayan yang sebelum nya terkejut menutupkan pintu mansion, Renzo mengangguk, setuju.
"Iya, Ayah, Bunda, silahkan duduk", Ajak Renzo, lalu Jhonson dan Vione duduk di sofa sebrang nya Renzo.
"Tentang cerai kamu, udah di urusin?", Tanya Vione, Renzo mengangguk.
"Udah, sekarang mau di antarin surat cerai nya, terus tinggal tanda tangan aja", Jawab Renzo, Vione mengangguk puas dengan senyuman yang langsung tertera setelah mendengar informasi itu.
"Terus, kamu berencana nikah lagi kan?", Tanya Jhonson dengan tajam nya, Renzo terdiam sejenak.
* Tunggu, apa maksud Ayah sama kata-kata kan? kayak nya Ayah berharap gue nikah lagi deh, tapi... aah gak tau lah, gue mau nya sih gak nikah *
Debat Renzo dalam hati dan geram, bell mansion berbunyi lagi.
Ding-Dong~
Pelayan barusan berlari lagi ke arah pintu, membukakan pintu, menunjukkan Ayden bersama Herman, Ayden tersenyum bahagia.
"Renzo! gue sama Herman udah selesai! ayo kasih kita uang lima ratus juta nya!", Ucap Ayden dengan ceria sembari mengangkat tangan kanan nya ke atas yang memegang surat cerai, suara ceria nya Ayden mengundang tatapan Renzo, Zelia, Jhonson dan Vione ke arah nya, Ayden terkejut, langsung menurunkan tangan nya saat melihat tatapan Jhonson yang tajam itu.
"E-Eh.. Om Jhonson.. Nyonya Vione, e-ehehe", Sapa Ayden dengan gugup, Jhonson menatap kembali ke Renzo.
"Nak, lima ratus juta? untuk apa?", Tanya Jhonson dengan terkejut mendengar nominal itu, Renzo menoleh ke Jhonson.
"Ya itu Ayah, bayar pengacara", Jawab Renzo dengan santai.
"Bayaran nya besar banget, ekslusif kah?", Tanya Jhonson, Renzo mengangguk.
"Ya, biar di tanganin secepat nya, Renzo gak mau lama-lama", Jawab Renzo sembari menjelaskan, Jhonson mengangguk, lalu menatap kembali ke Ayden.
"Masuk", Perintah Jhonson, membuat Ayden segera menarik lengan Herman, menuntun nya masuk ke ruangan, pelayan menutup lagi pintu nya.
"M-Makasih O-Om", Jawab Ayden dengan gugup.
"Mana, liat dong", Ucap Vione mengulurkan tangan nya, Ayden segera bergerak cepat untuk menyerahkan surat cerai nya ke tangan Vione sembari membungkuk, lalu Vione menerima nya dan menatap surat cerai.
"Benar.. tinggal tanda tangan aja", Ucap Vione.
"Bunda jadi penasaran sama keadaan nya Nias", Ucap Vione sembari tertawa kecil, menyerahkan kembali surat cerai nya ke Ayden.
"Selingkuhan nya Nias yang bayar biaya lahiran nya", Ucap Renzo dengan santai, Ayden menerima kembali surat cerai dengan membungkuk juga, lalu berdiri tegap lagi, berdiri di samping nya Zelia.
"Ayah sama Bunda nya Renzo serem gak Baby Zelia?", Bisik Ayden hanya untuk Zelia.
"Sshh om, jangan gitu", Jawab Zelia, membuat Ayden terdiam dengan cemberut.
"Oh selingkuhan nya yang bayar? siapa sih selingkuhan nya?", Tanya Vione, menyipitkan mata.
"Sahabat dia sendiri si Arka, terus kata nya sih, Nias yang bayar dia sebesar satu miliar", Jawab Renzo, Jhonson tertawa kecil, sedangkan Vione tercengang mendengar itu.
"Ayah udah tau nak", Jawab Jhonson dengan santai nya.
"Wah, Bunda gak sangka", Ucap Vione, Renzo mengangguk.
"Jessy, mana uang lima ratus juta nya?", Tanya Renzo ke Jessy yang berdiri di belakang sofa Renzo.
"Iya Tuan, aku bawain", Jawab Jessy lalu bergegas ke bawah meja yang tersedia celah untuk menaruh barang, Jessy menarik dua koper yang berisi uang, lalu mengangkat nya, Zelia segera meraih piring yang menghalangi, menyerahkan nya ke Ayden.
"Apa lagi Baby Zelia?", Tanya Ayden dengan bingung tetapi tetap memegangi nya, lalu Zelia yang memegangi surat cerai, Jessy menaruh dua koper uang itu ke meja yang di bagian kosong, lalu membukakan koper nya menunjukkan uang lima ratus juta itu, Herman tercengang, Ayden berbinar bahagia.
"Ini uang nya, boleh di hitung ulang kalau gak yakin ini lima ratus juta", Ucap Renzo dengan santai nya.
"T-Tidak perlu Tuan, terima kasih banyak!", Ucap Herman dengan bahagia, Jessy mengangguk lalu menutup kembali dua koper itu, Herman langsung menerima dua koper nya dengan antusias.
"Wey Man! bagi dua lah!", Ucap Ayden dengan kesal, Herman tertawa lalu pergi keluar.
"Makasih Tuan Draja!", Saut Herman dengan bahagia nya, pelayan membukakan pintu untuk Herman pergi keluar.
"Berarti besok kita harus ke rumah sakit buat tanda tangan nya Nias", Ucap Jhonson, Renzo menatap ke Jhonson.
"Iya Ayah, mau gak mau, tapi biar Renzo sama Zelia aja yang ke sana", Jawab Renzo, Zelia mengangguk setuju.
"Baby gak keberatan kalau malam ini aja Daddy", Ucap Zelia, Renzo berbinar mendengar itu lalu menoleh ke Renzo.
"Beneran Baby?", Tanya Renzo, Zelia menoleh, tersenyum, mengangguk setuju.
"Makasih Baby, mau sekarang aja?", Tanya Renzo, meraih tangan Zelia.
"Ayo aja Daddy, Baby gak keberatan", Jawab Zelia, Renzo segera berdiri, menatap ke Jhonson dan Vione.
"Ayah, Bunda, aku mau selesaikan ini sekarang", Ucap Renzo dengan serius.
-Bersambung-