NovelToon NovelToon
Dibalik Tumpukan Digit

Dibalik Tumpukan Digit

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:407
Nilai: 5
Nama Author: Syintia Nur Andriani

Judul: Di Balik Tumpukan Digit
Deskripsi:
Pernikahan Arini dan Reihan yang dulunya penuh hangat dan tawa kini mendingin di dalam sebuah rumah mewah yang megah namun terasa hampa. Terjebak dalam ambisi mengejar status dan kekayaan, Reihan perlahan berubah menjadi orang asing yang hanya mengenal angka dan prestasi kerja. Di tengah kemewahan yang melimpah, Arini justru merasa miskin akan kasih sayang. Novel ini mengisahkan perjuangan seorang istri yang berusaha meruntuhkan tembok "kesibukan" suaminya, menagih janji pelukan yang hilang, dan membuktikan bahwa dalam sebuah pernikahan, kehadiran lebih berharga daripada sekadar kemakmuran materi. Sebuah drama domestik yang menyentuh tentang titik jenuh, kesepian di tengah keramaian, dan upaya menemukan kembali detak cinta yang sempat mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syintia Nur Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Ratu yang Bangkit dari Abu

Bab 7: Ratu yang Bangkit dari Abu

Pelecehan emosional dari ayahnya dan klaim posesif yang kasar dari Reihan semalam telah mengubah sesuatu di dalam diri Arini. Benih kesedihan yang selama ini ia pupuk dengan air mata telah mengering, digantikan oleh bara hitam yang mengeras. Jika dunia menganggapnya sebagai alat, maka ia akan menjadi alat yang paling tajam dan mematikan.

Pagi itu, Arini tidak bangun sebagai istri yang memohon pelukan. Ia bangun sebagai seorang pembalas.

Saat Reihan masih di kamar mandi, ponsel Arini bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk. Isinya adalah serangkaian foto: Reihan dan Bianca di sebuah kamar hotel mewah, tampak sedang berbincang sangat dekat, dengan tangan Bianca yang bersandar di paha Reihan.

“Dia tidak akan pernah benar-benar mencintaimu, Arini. Kau hanya jaminan hutang ayahmu. Sementara aku? Aku adalah masa depannya.” — Bianca.

Arini menatap foto-foto itu tanpa setetes pun air mata. Ia justru tersenyum kecil—senyuman yang dingin dan asing. Ia menghapus pesan itu, lalu berjalan menuju cermin besar di kamar mereka. Ia memulas bibirnya dengan lipstik merah darah yang tajam, mengenakan gaun hitam ketat yang memamerkan lekuk tubuhnya, dan memakai perhiasan berlian paling mahal yang pernah dibelikan Reihan.

Reihan keluar dari kamar mandi, mengenakan handuk di pinggangnya. Ia terpaku melihat perubahan penampilan Arini. "Mau ke mana kau dengan pakaian seperti itu? Aku tidak mengizinkanmu keluar rumah hari ini."

Arini berbalik, menatap Reihan dengan pandangan yang membuat suaminya itu bergidik. Tidak ada lagi cinta yang memelas di mata itu. Hanya ada kekosongan yang berwibawa.

"Aku bukan lagi tawananmu, Reihan," suara Arini tenang namun penuh penekanan. "Dan aku bukan lagi pion ayahku. Jika kau ingin menghancurkan keluarga Dirgantara, kau tidak akan bisa melakukannya sendirian. Kau butuh aku."

Reihan tertawa meremehkan, meski matanya tak lepas dari pesona baru Arini. Ia mendekat, mencoba mengintimidasi dengan jarak. "Kau? Apa yang bisa dilakukan seorang istri yang hanya tahu cara menunggu di meja makan?"

Arini maju satu langkah, menempelkan tubuhnya ke dada bidang Reihan yang masih basah. Ia berjinjit, berbisik tepat di telinga suaminya dengan suara yang serak dan menggoda, namun mengandung racun.

"Aku tahu di mana ayahku menyimpan buku besar 'dana gelap' yang ia gunakan untuk menyuap orang-orang Dirgantara. Aku juga tahu kode akses akun luar negeri milik Bianca yang ia gunakan untuk menilep uang perusahaan. Jika kau ingin mereka bertekuk lutut, aku adalah kuncinya."

Tangan Reihan secara otomatis mencengkeram pinggang Arini, tarikan napasnya menjadi berat. Campuran antara gairah yang terpicu oleh kecantikan Arini dan rasa haus akan informasi itu membuatnya tak berkutik. "Apa maumu sebagai imbalannya?"

"Aku mau kau hancurkan ayahku sampai dia memohon di kakiku," desis Arini, jemarinya mencakar pelan punggung Reihan. "Dan aku mau kau buat Bianca merangkak di jalanan tanpa sepeser pun uang. Setelah itu selesai... aku yang akan memutuskan apakah kau layak untuk tetap berada di sampingku atau tidak."

Reihan menatap Arini seolah baru pertama kali melihatnya. "Kau benar-benar anak Surya Atmadja. Darahnya mengalir kental di nadimu."

"Dan kau akan mencintai setiap tetes darah itu, Reihan," jawab Arini sambil menarik wajah Reihan untuk sebuah ciuman yang dalam, menuntut, dan penuh dengan aura kekuasaan.

Siang harinya, Arini melakukan langkah pertamanya. Ia tidak pergi ke mall, melainkan mendatangi kantor pusat Dirgantara Group. Dengan aura yang begitu mengintimidasi, ia melewati meja resepsionis tanpa izin dan langsung menuju ruangan Bianca.

Bianca sedang menyesap kopi saat Arini masuk. "Oh, si malang datang berkunjung? Mau menangis lagi karena foto semalam?"

Arini meletakkan sebuah map di meja Bianca. "Buka."

Bianca membukanya dengan malas, namun wajahnya seketika pucat pasi. Di dalamnya ada detail transaksi pengalihan dana ke sebuah yayasan fiktif di Cayman Islands atas namanya.

"Bagaimana kau..."

"Aku bukan istri bodoh yang hanya diam di rumah, Bianca," Arini mencondongkan tubuh, menatap Bianca dengan tatapan predator. "Kau pikir Reihan tidak tahu? Dia tahu segalanya. Dia hanya menungguku untuk memberikan izin untuk menghancurkanmu. Dan tebak apa? Aku baru saja memberikannya."

Arini kemudian merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel lama milik ayah Reihan. "Dan ini... adalah bukti bahwa ayahmu dan ayahku bekerja sama membunuh Hendra Wijaya. Jika ini sampai ke publik, saham Dirgantara tidak akan hanya anjlok, tapi akan dihapus dari lantai bursa."

"Kau gila! Kau akan menghancurkan suamimu dan ayahmu juga!" teriak Bianca panik.

"Aku tidak peduli," ucap Arini dengan tawa yang dingin. "Aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan. Tapi kau? Kau punya harga diri, kekayaan, dan kecantikan palsumu itu. Aku akan mengambil semuanya."

Arini berbalik pergi, meninggalkan Bianca yang gemetar ketakutan. Saat berjalan di lobi, Arini melihat Reihan sedang berdiri di sana, memperhatikannya dari jauh. Reihan tampak tertegun melihat bagaimana istrinya yang dulu lemah kini bisa menggetarkan gedung pencakar langit itu hanya dengan satu kunjungan.

Malam itu, saat mereka kembali ke rumah, suasana tidak lagi penuh dengan isakan kesepian. Arini duduk di kursi kerja Reihan, memegang gelas wine merah, sementara Reihan berdiri di depannya, tampak siap menerima instruksi.

"Mulai besok, kita akan mainkan permainan ini dengan caraku," ucap Arini.

Reihan mendekati Arini, berlutut di depannya, dan mencium tangan Arini dengan penuh pengabdian yang baru—sebuah campuran antara nafsu, rasa takut, dan rasa hormat yang mendalam. "Jadilah ratuku dalam kehancuran ini, Arini."

Semangat balas dendam Arini kini berkobar lebih besar dari apa pun. Ia akan membakar semua orang yang telah mengkhianatinya, bahkan jika ia harus berdiri di tengah api itu sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!