Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.
Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.
Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.
Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7: Cermin Hati dan Iblis Batin
Gerbang batu kuno menuju "Hutan Ilusi" terbuka dengan suara gemuruh berat.
Di balik gerbang itu, bukan pepohonan hijau yang menyambut, melainkan kabut ungu pekat yang berputar-putar seperti makhluk hidup. Tidak ada suara burung atau angin. Hanya keheningan yang menekan gendang telinga.
"Waktu kalian adalah satu batang dupa," suara Instruktur menggema, dingin dan tanpa emosi. "Barang siapa yang kehilangan kesadaran, akan dikeluarkan paksa oleh formasi. Barang siapa yang bisa berjalan sampai ke ujung, lolos."
Ribuan calon murid melangkah masuk dengan ragu.
Wang Jian, yang berdiri di barisan depan, mendengus meremehkan. "Hanya ilusi mental? Bagi Tuan Muda ini yang telah memakan Pil Penenang Jiwa sejak kecil, ini hanyalah permainan anak-anak."
Ia melangkah masuk dengan angkuh.
Li Wei berjalan di belakang, jauh dari kerumunan elit. Xiao Lan berjalan di sampingnya, wajahnya pucat.
"Li Wei, aku... aku takut," bisik Xiao Lan. "Mereka bilang hutan ini memunculkan ketakutan terbesarmu."
Li Wei menatap kabut itu. Wajahnya tenang, tapi tangannya mengepal erat hingga kukunya memutih.
"Ketakutan hanyalah bayangan," kata Li Wei pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada Xiao Lan. "Jika kau tidak lari darinya, dia tidak bisa mengejarmu."
Mereka melangkah masuk.
Seketika, dunia berputar.
Langkah pertama, kabut menebal.
Langkah kedua, suara Xiao Lan menghilang.
Langkah ketiga, Li Wei sendirian.
Dunia di sekelilingnya berubah. Kabut ungu memudar, digantikan oleh pemandangan yang sangat ia kenal. Pemandangan yang menyakitkan mata karena keindahannya yang mengingatkan kejadian tragis.
Desa Sungai Jernih.
Matahari bersinar cerah. Anak-anak berlarian mengejar ayam. Paman Zhang si pandai besi sedang memukul logam dengan irama tang-tang-tang yang akrab.
"Wei'er! Kau sudah pulang?"
Suara itu.
Jantung Li Wei berhenti berdetak sesaat. Ia berbalik perlahan.
Di depan gubuk kayu reyot mereka, seorang wanita dengan senyum lembut sedang melambaikan tangan. Di sampingnya, seorang pria paruh baya sedang mengasah cangkul.
Ibu. Ayah.
"Ibu..." suara Li Wei tercekat. Kakinya gemetar.
"Kenapa diam saja di situ?" Ayahnya tertawa renyah. "Ayo masuk. Ibumu memasak sup ayam hutan favoritmu. Lupakan soal menjadi kultivator. Hidup sederhana di desa sudah cukup bahagia, bukan?"
Li Wei melangkah maju tanpa sadar. Kehangatan ini... kedamaian ini... inilah yang ia inginkan. Inilah surga yang direnggut darinya. Bagian kecil dari hatinya berbisik: Tinggallah. Lupakan dendam. Lupakan kultivasi yang menyakitkan. Di sini kau bahagia.
Tangan Li Wei terulur ingin menyentuh wajah ibunya.
Namun, tepat sebelum jarinya menyentuh pipi itu, Li Wei berhenti.
Matanya melirik ke pinggangnya sendiri. Di sana, tergantung pisau karat yang masih memiliki noda darah kering bandit. Rasa dingin dari gagang pisau itu nyata.
"Ini palsu," bisik Li Wei. Suaranya bergetar menahan tangis.
Senyum ibunya kaku. "Apa yang kau katakan, Nak? Ini nyata. Kami di sini."
"Kalian sudah mati," kata Li Wei, air mata menetes di pipinya, tapi tatapannya mulai menajam. "Aku mengubur kalian dengan tanganku sendiri. Aku merasakan dinginnya tubuh kalian."
Dunia bergetar. Langit biru retak seperti kaca pecah.
"Anak durhaka!" Wajah ayahnya tiba-tiba berubah. Kulitnya meleleh, matanya melotot keluar.
Bwuush!
Api hitam menyembur dari tanah. Desa yang damai itu seketika berubah menjadi neraka. Jeritan tetangga memenuhi udara.
Ilusi itu tidak lagi menggoda dengan kebahagiaan. Sekarang, ia menyerang dengan trauma.
Di hadapan Li Wei, adegan itu terulang lagi. Pemimpin Bandit Gunung Hitam berdiri di sana, memegang kepala ayahnya yang terpenggal.
Tapi kali ini, kepala ayahnya berbicara.
"Ini salahmu, Wei'er..." kepala itu mendesis, darah menetes dari lehernya. "Kau lemah. Karena kau lemah, kami mati. Kau bersembunyi seperti tikus saat kami disembelih."
"PENGECUT!" jerit ibunya yang tergeletak dengan pedang di punggung.
"TIDAK!" Li Wei jatuh berlutut, memegangi kepalanya. Rasa bersalah yang selama ini ia tekan di alam bawah sadarnya meledak keluar.
Inilah Iblis Batin (Heart Demon).
Ilusi bandit itu tertawa, tubuhnya membesar menjadi raksasa setinggi tiga meter. Ia mengangkat kakinya untuk menginjak Li Wei.
"Kau sampah! Akar Roh Lima Elemen? Kau akan selamanya menjadi sampah! Menyerahlah! Mati saja di sini dan minta maaf pada orang tuamu!"
Tekanan mental itu begitu kuat hingga Li Wei merasa tulangnya akan remuk. Di dunia nyata, tubuh Li Wei gemetar hebat, keringat dingin membasahi jubahnya, dan darah mulai menetes dari hidungnya.
Giok Dao Abadi mulai memanas, siap untuk campur tangan melindungi tuannya.
Tapi Li Wei menahannya.
Tidak. Jika aku mengandalkan Giok untuk ini, aku tidak akan pernah maju.
Di dalam ilusi, saat kaki raksasa itu turun, Li Wei berhenti berteriak.
Ia mendongak. Matanya merah, bukan karena takut, tapi karena amarah yang dingin.
"Kau benar," kata Li Wei pelan.
Kaki raksasa itu berhenti satu inci dari wajahnya.
Li Wei berdiri perlahan. Ia menatap hantu orang tuanya yang menyalahkannya, lalu menatap raksasa bandit itu.
"Aku memang lemah saat itu," akuinya. Suaranya stabil. "Aku memang bersembunyi. Dan karena kelemahanku, kalian mati."
Menerima kenyataan adalah bentuk pertahanan terkuat.
"Tapi..." Li Wei mencabut pisau mental di dalam jiwanya. "Rasa bersalah ini bukan rantai yang mengikatku. Ini adalah bahan bakar yang membakarku."
Aura di sekitar Li Wei berubah. Bukan aura Qi, tapi aura Tekad.
"Orang tuaku tidak akan pernah menyalahkanku. Mereka mati melindungiku agar aku bisa hidup. Bayangan yang menyalahkanku ini... hanyalah ketakutan pengecut dalam diriku sendiri!"
Li Wei menatap raksasa bandit itu.
"Dan kau... kau hanyalah memori dari orang mati."
Li Wei melompat. Tanpa teknik, tanpa Qi, hanya dengan kekuatan pikiran murni.
Ia menerjang ke arah raksasa itu. Ilusi itu mencoba memukulnya, tapi Li Wei menembus tangan itu seolah asap.
"ENYAH DARI PIKIRANKU!"
Li Wei menebas leher raksasa itu.
PRAAANG!
Dunia ilusi itu pecah berkeping-keping seperti cermin yang dihantam batu. Api neraka padam. Mayat-mayat menghilang. Suara tawa bandit lenyap.
Li Wei kembali berdiri di tengah kabut ungu. Namun kali ini, kabut itu tampak takut padanya, menyingkir dari jalannya.
Pikirannya jernih. Hatinya terasa ringan, seolah beban batu besar baru saja diangkat. Ia tidak melupakan kesedihannya, tapi ia tidak lagi dikendalikan olehnya.
Li Wei menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah maju.
Di luar Formasi, di alun-alun.
Dupa baru terbakar setengah.
Banyak murid yang sudah dikeluarkan paksa, berteriak-teriak histeris memanggil ibu mereka atau lari ketakutan dari monster yang tidak terlihat.
Bahkan Wang Jian, si jenius, terlihat berlutut di tanah dengan wajah pucat dan keringat bercucuran, berjuang melawan ilusinya sendiri.
Tiba-tiba, di pintu keluar formasi, sesosok bayangan muncul.
Langkahnya tegap. Napasnya teratur.
Para Tetua di atas bangau tersentak kaget.
"Keluar secepat ini?" Tetua jubah abu-abu menyipitkan mata. "Siapa itu? Apakah dia memiliki artefak pelindung jiwa?"
"Tidak," jawab Tetua lainnya. "Lihat matanya. Itu mata seseorang yang telah melihat neraka dan berjalan melewatinya."
Li Wei berjalan keluar dari kabut. Ia melihat sekeliling, melihat kekacauan murid lain, lalu melihat dupa yang masih panjang.
Ia berjalan ke tepi, duduk bersila, dan mulai bermeditasi untuk memulihkan tenaga mentalnya.
Beberapa saat kemudian, Wang Jian keluar dengan napas tersengal-sengal, wajahnya tampak seperti baru saja melihat hantu. Ia mengira dialah yang pertama.
Namun saat ia melihat Li Wei sudah duduk tenang di sana, seolah sudah menunggu lama, wajah Wang Jian berubah menjadi topeng kemarahan dan ketidakpercayaan.
"Si Sampah itu..." geram Wang Jian, tangannya gemetar. "Bagaimana mungkin tekadnya lebih kuat dariku?"
Li Wei membuka matanya perlahan, menatap Wang Jian sekilas, lalu menutupnya kembali. Tatapan itu bukan lagi tatapan perlawanan, tapi tatapan ketidakpedulian. Seolah Wang Jian tidak lagi layak menjadi ancaman di matanya.
Di kejauhan, di atas panggung tinggi, seorang wanita cantik dengan jubah tetua berwarna biru langit Tetua Puncak Bunga menatap Li Wei dengan minat.
"Akar Roh Lima Elemen, tapi memiliki Hati Dao yang kokoh seperti batu karang," gumamnya. "Anak ini... menarik."