Pernikahan rahasia. Ciuman terlarang. CEO dingin yang jatuh pada gadis tomboy.
Benny, seorang CEO yang anti wanita dan memilih hidup sendiri, terpaksa menikah dengan Cessa—putri sahabatnya yang berusia delapan belas tahun. Pernikahan mereka dimulai sebagai kontrak penuh aturan: tanpa cinta, tanpa sentuhan, tanpa perasaan.
Namun satu ciuman menghancurkan segalanya.
Tinggal serumah membuat batasan runtuh, kecemburuan tumbuh, dan hasrat berubah menjadi dosa. Saat Cessa mencintai tanpa ragu, Benny justru berperang dengan prinsip, moral, dan ketakutan terbesarnya: jatuh cinta pada wanita yang seharusnya tak boleh ia miliki.
Ini bukan kisah cinta yang aman.
Ini kisah tentang memilih perasaan… atau menghancurkan hidup sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiisan kasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
“Buktikan, Bukan Janji”
Pagi di rumah nenek terasa berbeda.
Cessa duduk di meja makan kecil dekat jendela, menatap halaman yang basah oleh embun. Secangkir teh di depannya sudah dingin. Sejak subuh, ia belum menyentuh apa pun. Kepalanya penuh. Dadanya juga.
Tentang kata jatuh cinta yang semalam diucapkan Benny.
Ia tidak bodoh. Ia tahu betapa beratnya kata itu keluar dari mulut pria seperti Benny. Tapi justru karena itu, ia tidak bisa menerimanya dengan mudah.
Cinta bukan kalimat, pikir Cessa. Cinta itu tindakan.
Langkah kaki terdengar dari arah ruang tamu.
Benny muncul. Kemeja biru muda, lengan digulung rapi. Wajahnya masih tampak lelah, tapi matanya… berbeda. Tidak lagi menghindar. Tidak lagi dingin.
“Kamu belum makan?” tanyanya.
Cessa menggeleng. “Belum lapar.”
Benny mengangguk, lalu menarik kursi dan duduk berhadapan dengannya. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Jarak yang hati-hati.
“Aku mau anter kamu ke kampus,” katanya.
Cessa menatapnya. “Kenapa?”
“Karena aku mau,” jawab Benny jujur.
Cessa terdiam beberapa detik. Lalu berdiri. “Aku siap lima menit.”
Tidak ada senyum. Tidak ada penolakan. Tapi juga tidak ada pelukan.
Dan Benny tahu—ini belum apa-apa.
Di perjalanan, mereka hampir tidak berbicara. Radio mati. Kota bergerak seperti biasa. Cessa menatap keluar jendela, sementara Benny fokus menyetir, menahan keinginan untuk terus meliriknya.
“Aku nggak akan maksa kamu balik hari ini,” ucap Benny akhirnya. “Ambil waktu.”
Cessa menoleh. “Kenapa kamu berubah?”
Benny tersenyum tipis. “Karena aku capek pura-pura.”
Jawaban itu sederhana. Tapi tidak kosong.
Mobil berhenti di depan kampus.
“Pulang sendiri,” kata Cessa sambil membuka pintu. “Aku mau belajar di perpustakaan.”
Benny mengangguk. “Aku jemput kalau kamu mau.”
Cessa berhenti sejenak. Lalu berkata pelan, “Kabarin aja.”
Pintu tertutup.
Dan Benny duduk beberapa detik di dalam mobil, menyadari satu hal penting:
Kepercayaan tidak datang bersama pengakuan.
Kepercayaan harus dibangun ulang.
Siang itu, Benny tidak kembali ke kantor.
Ia langsung menuju rumahnya. Rumah yang kini terasa seperti medan perang kecil—antara kebiasaan lama dan keputusan baru. Ia membersihkan ruang tamu, merapikan dapur, mengganti seprai kamar tamu.
Bukan karena ingin terlihat baik.
Tapi karena ia ingin berubah.
Ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi email masuk—undangan makan malam bisnis. Dengan nama yang membuat alisnya mengernyit.
Diana Prameswari.
Partner bisnis. Dewasa. Elegan. Dan—yang paling penting—wanita yang selama ini digosipkan dekat dengannya.
Benny menatap undangan itu lama.
Dulu, ia akan datang tanpa ragu. Netral. Profesional. Tidak ada yang perlu dijelaskan pada siapa pun.
Sekarang?
Ia menghela napas dan mengetik balasan singkat.
> Maaf, saya tidak bisa hadir. Kita jadwalkan ulang di jam kerja.
Tombol kirim ditekan.
Benny menyandarkan punggung ke kursi.
Ini bagian dari pembuktian, pikirnya. Bukan pengorbanan. Pilihan.
Sore hari, Cessa duduk di perpustakaan, mencoba fokus pada buku di depannya. Tapi pikirannya terus melayang. Tentang Benny. Tentang pagi tadi. Tentang caranya berbicara tanpa memaksa.
Ponselnya bergetar.
Nama Ben muncul.
Cessa menghela napas sebelum membuka pesan.
> Ben:
Aku di rumah.
Kalau kamu mau pulang, aku masakin makan malam.
Cessa menatap layar lama.
Ia tidak membalas.
Beberapa menit kemudian, pesan lain masuk.
> Ben:
Kalau belum mau, nggak apa-apa.
Aku tunggu.
Kata tunggu itu membuat dadanya menghangat—dan perih di saat yang sama.
Cessa menutup buku. Menghela napas. Lalu berdiri.
Malam turun perlahan saat Cessa tiba di rumah Benny.
Lampu ruang tengah menyala hangat. Aroma masakan tercium dari dapur. Benny berdiri di sana, sedikit kikuk, mengenakan celemek yang jelas baru pertama kali ia pakai.
“Kamu pulang,” katanya.
“Iya.”
Mereka duduk makan. Tidak canggung. Tidak juga romantis. Tapi tenang.
“Besok aku ada presentasi,” kata Cessa tiba-tiba. “Satu kelas.”
“Penting?” tanya Benny.
“Iya.”
“Aku antar.”
Cessa menatapnya. “Aku nggak minta.”
“Aku tahu,” jawab Benny. “Aku nawarin.”
Cessa tersenyum tipis. Hampir tak terlihat.
Setelah makan, Cessa berdiri. “Aku tidur di kamar tamu.”
Benny mengangguk. “Aku tahu.”
Ia berhenti sejenak. “Cessa.”
“Iya?”
“Aku nggak akan sentuh kamu kalau kamu nggak mau,” kata Benny pelan. “Aku nggak akan paksa kamu balik seperti dulu.”
Cessa menatapnya lama.
“Itu yang seharusnya kamu bilang dari awal,” ucapnya.
Pintu kamar tamu tertutup.
Namun malam itu, Cessa tidak mengunci.
Dan itu… sudah cukup sebagai langkah kecil.
Keesokan paginya, Benny benar-benar mengantar Cessa ke kampus.
Tidak ada larangan. Tidak ada ancaman. Tidak ada nada posesif.
Hanya satu kalimat sebelum Cessa turun dari mobil.
“Aku bangga sama kamu.”
Cessa terdiam.
Ia menutup pintu tanpa berkata apa-apa.
Namun langkahnya lebih ringan.
Sore harinya, gosip meledak di kantor Benny.
Foto lama muncul kembali. Tentang dirinya dan Diana. Media mulai berspekulasi. Sekretaris panik. Telepon berdering tanpa henti.
“Pak, kita harus klarifikasi,” kata sekretaris.
Benny mengangguk. “Siapkan pernyataan.”
“Isi?”
Benny menatap layar ponselnya. Foto Cessa tersenyum kecil pagi tadi terlintas di kepalanya.
“Katakan aku sudah menikah,” jawab Benny tegas. “Dan aku setia.”
Sekretaris terdiam. “Pak… itu akan jadi sorotan besar.”
“Aku tahu.”
Sore itu, berita menyebar cepat.
CEO Dingin Akui Pernikahan Rahasia.
Nama Benny ada di mana-mana.
Dan tentu saja… sampai ke ponsel Cessa.
Cessa membaca berita itu di halte kampus.
Dadanya berdebar.
Ia tidak menyangka Benny akan melangkah sejauh itu—tanpa memintanya, tanpa mendiskusikannya.
Ponselnya bergetar.
> Ben:
Aku bilang yang sebenarnya.
Kalau kamu marah, aku minta maaf.
Cessa menatap layar lama.
Ia tidak marah.
Ia… takut.
Takut berharap lagi.
Ia mengetik pelan.
> Cessa:
Kamu serius?
Balasan datang cepat.
> Ben:
Aku nggak akan main-main lagi.
Cessa menutup mata.
Air mata menggenang.
Benny mulai membuktikan, bukan sekadar berjanji.
Namun semakin terang ia melangkah… semakin besar badai yang menunggu.