Xiao Chen kehilangan seluruh keluarganya akibat sebuah rumor tentang Buku Racun Legendaris yang sebenarnya tidak pernah ada. Keserakahan sekte-sekte besar dan para pendekar buta membuat darah tak bersalah tumpah tanpa ampun.
Dihantam amarah dan keputusasaan, Xiao Chen bersumpah membalas dendam. Ia menapaki jalan terlarang, memilih menjadi pendekar racun yang ditakuti dunia persilatan.
Jika dunia hancur karena buku racun yang tak pernah ada, maka Xiao Chen akan menciptakannya sendiri—sebuah kitab racun legendaris yang lahir dari kebencian, kematian, dan dendam abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Gerbang Sembilan Kesengsaraan
Markas Besar Aliansi Pusat tidak dibangun di atas tanah biasa. Ia berdiri di atas Puncak Awan Putih, sebuah gunung yang dikelilingi oleh jurang tak berdasar dan hanya memiliki satu akses masuk: Jembatan Pelangi Surga.
Namun, hari ini jembatan itu tidak memancarkan cahaya pelangi. Sebaliknya, jembatan itu telah berubah menjadi medan pembantaian statis yang dikenal sebagai Formasi Sembilan Kesengsaraan.
Xiao Chen berdiri di ujung jembatan. Angin gunung yang tajam menerpa jubahnya, namun udara di sekitarnya tetap diam,
ditekan oleh aura ungu yang keluar dari pori-porinya. Di depannya, sembilan gerbang batu berdiri berjejer sepanjang jembatan, masing-masing dijaga oleh seorang pendekar Ranah Langit tingkat puncak.
"Langkahmu berakhir di sini, Arsitek Maut!" Suara itu menggelegar dari gerbang pertama. Penjaganya adalah seorang pria raksasa dengan zirah perunggu tebal, memegang gada yang dialiri listrik.
Xiao Chen tidak menanggapi gertakan itu. Matanya hanya tertuju pada puncak gunung, di mana ia bisa merasakan kehadiran energi Ranah Raja Roh yang sedang mengawasinya dari kejauhan. Baginya, sembilan penjaga ini hanyalah kerikil di jalanan.
"Bai, kau lapar?" bisik Xiao Chen.
Ular perak itu mendesis, tubuhnya berkilat seolah-olah mengerti bahwa pesta besar akan segera dimulai.
Xiao Chen mulai melangkah. Begitu kakinya menyentuh lantai jembatan, formasi aktif. Ribuan anak panah cahaya meluncur dari langit-langit gerbang pertama.
Xiao Chen tidak menghindar. Ia hanya mengangkat tangannya, dan uap racun ungu membentuk pusaran di sekelilingnya, menelan semua anak panah itu dan mengubahnya menjadi abu sebelum menyentuh jubahnya.
Pria raksasa berbaju perunggu itu meraung, mengayunkan gadanya. "Terima ini! Goncangan Bumi Kilat Guntur!"
Gada itu menghantam lantai jembatan dengan kekuatan yang mampu meruntuhkan bukit. Namun, Xiao Chen hanya melompat ringan, mendarat tepat di atas gada tersebut. Sebelum pria raksasa itu bisa menarik senjatanya, Xiao Chen melepaskan satu sentuhan di dahi perunggu sang penjaga.
"Seni Racun: Embun Pemutus Saraf."
Seketika, petir yang menyelimuti gada itu berbalik warna menjadi ungu dan merambat masuk ke dalam zirah perunggu. Pria raksasa itu tidak sempat berteriak; tubuhnya yang besar membeku, lalu meledak dari dalam menjadi ribuan kepingan perunggu yang telah terkorosi.
Xiao Chen terus berjalan melewati gerbang kedua, ketiga, dan keempat tanpa henti. Setiap penjaga mencoba teknik yang berbeda—mulai dari ilusi, serangan mental, hingga serangan pedang cepat—namun semuanya berakhir sama: mereka mati oleh racun yang tidak mereka sadari kapan masuk ke dalam tubuh mereka. Ada yang mati karena menghirup udara yang lewat di dekat Xiao Chen, ada yang mati karena menyentuh bayangannya.
Saat mencapai gerbang ketujuh, situasi berubah. Tiga penjaga terakhir berdiri bersama, membentuk formasi segitiga. Mereka bukan lagi pendekar biasa, melainkan para Tetua Inti Aliansi yang telah hidup ratusan tahun.
"Cukup pembantaian ini!" teriak salah satu tetua yang memegang kipas besi. "Kau telah membunuh ribuan murid kami! Apakah dendammu tidak pernah puas?!"
Xiao Chen berhenti sejenak, menatap mereka dengan mata yang kosong namun menusuk. "Puas? Kalian bicara tentang kepuasan setelah merampas nyawa orang tuaku demi selembar kertas kosong? Dunia kalian dibangun di atas tumpukan mayat orang-orang lemah yang kalian injak. Aku hanya datang untuk meratakan tanahnya."
Xiao Chen merentangkan kedua tangannya. Di bawah kakinya, jembatan batu itu mulai retak, dan dari celah-celahnya keluar cairan hitam yang mendidih.
"Ranah Langit: Domain Lautan Empedu Hitam!"
Cairan hitam itu naik seperti gelombang tsunami, menelan gerbang ketujuh hingga kesembilan. Ketiga tetua itu mencoba bertahan dengan perisai energi gabungan, namun racun Xiao Chen kali ini berbeda. Ini adalah hasil olahannya dari Bunga Salju Beracun dan esensi dari sepuluh pendekar Ranah Langit yang ia bunuh sebelumnya.
"Perisai kita meleleh! Bagaimana mungkin?!" teriak tetua dengan kipas besi saat melihat senjatanya hancur menjadi debu hitam.
"Karena aku tidak menyerang energi kalian," suara Xiao Chen terdengar tepat di telinga mereka, meski ia berdiri sepuluh meter jauhnya. "Aku meracuni niat bertarung kalian."
Seketika, ketiga tetua itu merasakan ketakutan yang luar biasa. Mental mereka hancur sebelum tubuh mereka disentuh. Mereka jatuh berlutut, menangis darah, sementara cairan hitam itu perlahan-lahan melahap mereka masuk ke dalam kegelapan.
Xiao Chen kini berdiri di depan gerbang utama Markas Besar Aliansi. Jembatan di belakangnya telah hancur, tidak menyisakan satu pun musuh yang hidup. Pakaiannya masih rapi, tak setetes pun darah musuh mengenai dirinya—karena semua musuhnya telah berubah menjadi cairan atau abu.
Tiba-tiba, gerbang besar setinggi tiga puluh meter itu perlahan terbuka. Sebuah tekanan yang sangat berat, berkali-kali lipat lebih kuat dari Ranah Langit, menghantam medan perang. Seorang pria paruh baya dengan jubah emas murni keluar. Langkah kakinya membuat gunung itu bergetar.
Inilah Pemimpin Aliansi Pusat, Kaisar Langit Qin, seorang ahli Ranah Raja Roh.
"Kau benar-benar monster yang unik, anak muda," ucap Qin dengan suara yang tenang namun berwibawa. "Sembilan Penjaga Kesengsaraan habis dalam waktu kurang dari satu dupa. Sayangnya, perjalananmu harus berakhir di hadapanku."
Xiao Chen tidak gentar. Ia justru mengelus kepala Bai di lengannya dan membuka halaman terbaru di bukunya. Halaman itu masih kosong, menanti nama besar untuk dituliskan.
"Ranah Raja Roh..." Xiao Chen menyeringai, sebuah ekspresi yang jarang ia tunjukkan. "Aku penasaran, apakah darah seorang raja memiliki rasa yang sama dengan rakyat jelata saat berubah menjadi racun."
Aura ungu gelap Xiao Chen meledak, bertabrakan dengan aura emas milik Qin. Langit di atas Puncak Awan Putih terbelah menjadi dua warna: emas yang agung dan ungu yang mematikan. Pertempuran yang akan menentukan nasib dunia persilatan baru saja dimulai.
Silat Nusantara • Kultivasi • Dunia Purba • Dimensi
MC tidak naif.
Kekuatan dibangun dari raga, napas, dan kehendak.
👉 Jika suka progres nyata & cerita panjang,
jangan lupa favorit & komentar.